Kelingking dan Hal-hal yang Tak Selesai
Pagi tadi saya mengalami kecelakaan kecil di Jalan Rappocini, Makassar. Motor dengan motor.
Sekitar pukul tujuh pagi saya antar James ke bandara naik motor. Saat hendak menyalip sebuah mobil lewat sisi sebelah kanan, ada sepeda motor melaju kencang dari jalur berlawanan. Jarak kami sempit sekali. Terjadi serempetan tipis. Tidak ada yang terjatuh. Tapi kelingking kaki kanan saya jadi korban.
Saat difoto rontgen di RSI Faisal, ada sedikit bagian yang patah pada kelingking itu. Dokter menyarankan untuk operasi. Saya menolak. Pasti mahal biayanya. Dan makan waktu banyak. Saya minta digips saja agar bisa keluar secepatnya. Dokter bilang kelingking akan dibersihkan terlebih dahulu, dijahit, lalu dibebat. Saya juga harus disuntik antibiotik dan anti-tetanus, serta makan obat selama dua minggu. Saya setuju.
Sekarang setelah dibebat saya malah kesulitan untuk mengenakan alas kaki. Kaki kanan membengkak kalau dipakai jalan. Rasanya saya butuh bantuan kruk untuk berjalan. Sepanjang bertanya kepada teman-teman di Makassar, saya belum menemukan pinjaman.
Kelingking patah ini otomatis menambah kesusahan hidup di Makassar. Saya jengkel sekali karena belakangan ini banyak hal terjadi di luar kendali saya, di luar harapan-harapan saya. Mengecewakan. Dan kelingking patah menyempurnakan keadaan. Saya jadi tak bisa berjalan keluar kos sendirian. Saya terpaksa merepotkan teman-teman, cuma untuk urusan rokok dan makan.
Saya orang asing di Makassar. Baru dua bulan tinggal. Kenapa ini harus terjadi sekarang?
Information
You’re reading “Kelingking dan Hal-hal yang Tak Selesai”
- Published:
- 4 Dec 2012
- Category:
- Notes
- Tags:
- hidup, James Filemon, kecelakaan, kesusahan, Makassar, perjalanan, Rappocini


2 Comments
Jump to comment form | comments rss [?] | trackback uri [?]