satria.anandita.net a finish line seeking

29/06/08

Keluarga berkunjung

Personal

Keluarga

Dari kiri ke kanan: Budiono, Arya Adikristya Nonoputra, Evan Adiananta Nonoputra, David Adhyaprawira Nonoputra, Ester Sukarsih, Satria Anandita Nonoputra. (Foto oleh Geritz F. R. Bataragoa)

M

ESKI WAKTU TEMPUH SALATIGA-SURABAYA HANYA TUJUH JAM naik bus, aku pulang ke Surabaya hanya sekali dalam setahun. Terakhir Desember 2007. Itupun hanya dua-tiga hari. Aku tak senang berlama-lama di Surabaya. Selain panasnya yang minta ampun, kehidupan di sana tak seenak di Salatiga. Sumpek pol!

Sudah jarang pulang, frekuensi kontak dengan keluarga pun hanya kadang-kadang. Aku tak suka kalau terlalu sering kontak dengan bapak-ibu. Dua bulan sekali adalah frekuensi yang pas (mungkin juga berlebihan), menurutku.

Kangen? Tidak.

Aku lebih senang sendirian di Salatiga, daripada bareng keluarga di Surabaya. Aku bukan bayi.

Kalau bareng keluarga di Salatiga? Biasa saja (mungkin malah bisa bikin aku tersiksa).

Keluargaku tiba di Salatiga pada 25 Juni 2008 malam — bertepatan dengan ulang tahun Arya, adikku yang tertua kedua. Mereka sedang liburan dan akan berkunjung ke beberapa famili di Jawa Tengah. Aku katakan pada bapakku, kalau ingin ketemuan, datang ke kampus saja, ke kantor Scientiarum. Aku sedang menyunting naskah berita Kiko tentang hari jadi XT FM, sebuah radio mahasiswa yang manajemennya berada di bawah Senat Mahasiswa Fakultas Teknik Elektro dan Komputer UKSW.

Aku ngobrol cukup banyak dengan ibuku. Mulai soal pendidikan di sekolahan, keluarga, sampai gereja. Adik-adikku lebih banyak diam. Sudah ngantuk, katanya. Sedangkan bapakku keluar lagi, cari-cari penginapan.

Ibuku adalah alumnus Satya Wacana, lulus pada 1988. Ia belajar psikologi pendidikan dan konseling. Bapakku juga pernah belajar elektro di Satya Wacana pada 1977, namun tak lulus. Ia akhirnya lulus sarjana dari Universitas 17 Agustus 1945, mengambil jurusan ekonomi.

“Ibumu isih kritis ngono kok Sat,” komentar Titus, yang waktu itu sempat mendengar obrolan aku dengan ibuku.

Keluargaku hanya dua malam di Salatiga. Setelah itu mereka meneruskan perjalanan ke Semarang. Tapi malam ini mereka mampir Salatiga lagi untuk mengantar Evan, adikku yang tertua. Evan ada janji ketemuan dengan dua temannya di Salatiga.

Sebelum bapak-ibu dan kedua adikku yang lain meninggalkan Salatiga, kami sempat berfoto bersama. Dari foto itu aku sadar, aku yang sekarang jauh lebih tambun daripada dulu, ketika aku baru mulai kuliah (tahun 2006).

Bahagianya di Salatiga! :D


3 comments

Salatiga is the best!


Sure it is!


Gravatar

juliend
10/07/08

tenane Sat?
he3


Leave a comment

Standarisasi penulisan berita di Scientiarum · Berwisata jurnalisme