Kera Sakti

Di sebuah tembok ada tertulis, “Bangun pagi adalah kewajiban, tidur pagi adalah kebebasan.” Apa maksudnya dan siapakah penulisnya, tidaklah penting. Saya menulis ini karena di sebuah tembok tertulis begitu.

Berdasarkan pengalaman, tiap pagi orang bisa bangun lebih dari sekali. Sedangkan tidur pagi, belum tentu bebas tiap hari. Tapi mau setiap hari atau setahun sekali, orang tidak mungkin tidur kalau tidak bangun-bangun. Maksudnya, tidak mungkin tidur kalau tidak pernah bangun, dan tidak mungkin bangun kalau tidak pernah tidur. Harus tidur dulu baru bisa bangun, dan bangun dulu baru bisa tidur. Kalau inginnya bangun terus, maka orang harus siap tidur selamanya.

Seperti tidur dan bangun yang saling berkelindan, demikianlah kebebasan dan kewajiban. Orang tak mungkin bebas tanpa kewajiban, dan tak mungkin hidup tanpa kebebasan. Di sini kita ingat ajaran Multatuli bahwa kewajiban manusia adalah menjadi manusia. Bukan menjadi binatang yang datang menumpang makan, lalu berak di atas piringnya.

Konon, salah satu kodrat manusia adalah mengusahakan hari esok yang lebih baik. Esok harus lebih baik dari hari ini, dan hari ini harus lebih baik dari kemarin. Kalau kemarin kita gagal, hari ini kita bukan manusia kemarin. Ini pandangan evolusioner, jadi ukuran baik dan buruknya mengikuti evolusi. Tidak mungkin seekor kera dibilang lebih baik dari seorang manusia, kecuali kera itu sakti. Manusia bisa bertahan di banyak medan karena punya teknologi. Monyet mungkin sudah punah kalau tidak dilindungi.

Jadi, kata kuncinya mungkin “adaptasi”. Orang bebas beradaptasi menjadi apapun, sesuai kewajiban masing-masing. Kalau gagal beradaptasi, seleksi alami tak dapat dihindari. Sekali lagi, ini pandangan teori evolusi. Kalau menurut ajaran agama, tentu beda lagi. Kadang saya berpikir, sesungguhnya agama itu bukti bahwa manusia pernah menjadi kera. Sayangnya bukan kera sakti.