Kindam

Tak lama setelah menyandang status mahasiswa baru di Fakultas Ekonomi UKSW, saya terlibat sebuah rerasan sore dengan beberapa mbakyu angkatan. Mereka semua setahun lebih tua dari saya, dan begitu gayeng membahas gosip-gosip seputar perkuliahan. Saya, karena belum punya banyak pengalaman kuliah, lebih banyak diam mendengar, atau bertanya.

Entah bagaimana (dan kenapa) topik obrolan sempat menyinggung matakuliah Makroekonomi ampuan Konta Intan Damanik. Rasanya waktu itu salah satu dari mereka memang sedang mengambil matakuliah tersebut. Saya sudah lupa cerita tentang matakuliah itu, tapi saya masih ingat apa kata mereka soal dosen pengampunya: super duper killer. Menurut mereka, diajar oleh Konta adalah pengalaman yang harus dimiliki setiap mahasiswa FE. “Buat ngelatih mental,” kata salah seorang dari mereka. Dan yang lain mengiyakan. Itu bulan September 2006.

Ketika semester dua datang, saya tahu bahwa matakuliah Makroekonomi ampuan Konta dibuka. Tanpa pikir panjang, saya mendaftarkan diri sebagai peserta matakuliah tersebut. “Siap-siap aja, Sat,” kata salah satu mbakyu sambil cengengesan, tatkala tahu saya mendaftar di kelas Konta.

Ah, siapa takut?

Konta lebih suka dipanggil dengan inisial KID ketimbang “Bu Konta”. Ia selalu masuk kelas tepat waktu, dan hampir tak pernah menoleransi keterlambatan. Dia akan mengusir mahasiswa yang datang setelah doa pembukaan mulai ia panjatkan. Dia juga akan mendepak keluar mahasiswa yang ketahuan mengenakan sandal. Saya agak lupa, tapi rasanya salah satu peserta kelas itu pun pernah dikeluarkan karena tak sanggup menjawab pertanyaan.

Mungkin karena memang sudah tua, dan merasa diri sebagai salah satu tokoh paling senior di FE, KID sering menuturi mahasiswanya dengan wejangan-wejangan. Mulai dari soal pertanggungjawaban mahasiswa terhadap orangtua yang membayari uang kuliah, soal seberapa layak kami menggaji pembantu di rumah … hingga soal kemampuan berbahasa Inggris.

Memang, seluruh bahan kuliah Makroekonomi kami ditulis dalam bahasa Inggris. Bagi KID, kemampuan berbahasa Inggris adalah wajib bagi para mahasiswa dahulu, sekarang, dan sampai selamanya. Pernah suatu kali ia bercerita. Tatkala baru saja bergabung dengan Satya Wacana pada akhir dekade 70-an, ia langsung diutus Sutarno, rektor waktu itu, untuk mewakili UKSW menghadiri sebuah upacara di salah satu negara di Eropa — saya lupa negara mana. Padahal waktu itu, kenang KID, kartu identitas pegawai UKSW untuknya belum selesai dibuat. Itu semua karena saya bisa berbahasa Inggris, katanya. Dari kabin pesawat, KID melihat keindahan pegunungan Alpen menjelang senja.

“Sejak saat itu, saya sudah berkeliling ke lebih dari empat puluh negara atas nama Satya Wacana.”

Kadang standar KID terasa begitu tinggi, sehingga kami hampir mustahil menjangkaunya. KID menuntut kami agar membaca koran Kompas setiap hari. Tetapi dasar malas, handout saja belum tentu kami baca. Apalagi buku teks. Apalagi koran. Ujung-ujungnya, kami akan kesulitan mengikuti kuliah, dan membuat KID murka. Kalau sudah begitu, dia akan memaki-maki kami sambil mengulang-ulang sejumlah kisah masa lalu; bahwa dulu mahasiswa FE UKSW begini dan begitu, bisa ini bisa itu, rajin baca buku, dan sebagainya.

Ya, saya tahu KID pernah mengecup wajah akademik UKSW masa lalu yang mengkilat. Akan tetapi, bukankah masa kini bukan masa lalu? Bisakah kita memperbaiki masa kini dengan memakinya atas nama masa lalu?

Di sisi lain, saya jatuh iba setiap kali menyaksikan kemarahan KID. Bukan apa-apa, saya memang selalu kuatir jika melihat seorang lansia meledak-ledak membuang tenaga. Apalagi KID berkata bahwa pengabdian pascapensiunnya di FE bukanlah semata-mata atas dasar keinginannya. KID tidak butuh FE, tapi FE yang butuh KID. Begitu kira-kira tuturnya. Dia berkoar tentang gaji dolar, yang didapatnya dari menjual jasa konsultasi kepada lembaga-lembaga keuangan internasional ternama. Dia adalah dosen berpendidikan strata satu yang mendapat penghargaan keprofesoran dari salah satu universitas tertua di Asia. Itulah sebagian kisah heroisme intelektual yang pernah dipaparkannya. Maka pada saat itu juga, persenyawaan aneh antara rasa iba dan kagum mendorong saya untuk sebaik mungkin mengikuti kuliahnya, hingga akhirnya ia menorehkan nilai C di transkrip nilai saya.

Rasanya perlu diakui sekali lagi di sini, bahwa Konta Intan Damanik pernah menjadi sosok perempuan inspiratif dalam kehidupan akademik saya. Saya memahlawankan dia. Karena itulah, tatkala hidup saya sempat terlunta-lunta di Salatiga, saya pergi menemuinya. Saya mendengar bahwa KID biasanya terlibat dalam proyek-proyek penelitian. Maka hari itu saya memohon untuk diberi pekerjaan agar bisa mendapat sedikit uang. Setelah menyodorkan segelas air untuk saya, dia meminta maaf, lalu dengan sopan mengatakan bahwa ia tak bisa membantu apa-apa. Tak ada proyek apapun, katanya.

Saya agak kecewa. Tapi pengalaman tersebut menyempatkan saya untuk melihat karakter lain dari dosen super duper killer ini. Ada kemampuan interpersonal yang hangat pada dirinya.

Ketika sudah punya uang untuk membeli matakuliah lagi, saya mendaftar di kelas KID yang lain: Ekonomi Internasional. Beberapa kakak angkatan mengatakan, kelas-kelas kuliah KID di tingkat lanjut sudah tidak sehoror di tingkat dasar. Tetapi sial, semester itu kami kuliah bersama beberapa mahasiswa dari Jerman. KID pun mengeras. Lebih keras daripada Makroekonomi semester sebelumnya. Standar-standarnya meninggi, meninggalkan jangkauan kami di bawah. Dan sewaktu kami tak memenuhi ekspektasinya, dia memarahi kami habis-habisan, di depan orang-orang Jerman itu.

Performa buruk kami di kelas mungkin memang terlihat memalukan di hadapan para tamu Jerman, tetapi kemarahan KID saya lihat tak pernah membawa perubahan signifikan. Ia tak pernah menaikkan harga diri kami dengan apresiasi positif. Ia bahkan tak pernah membantu memperbaiki rancahan argumen-argumen kami. Hampir semuanya dibanting dengan sempurna. KID, tampaknya, sudah begitu yakin dengan caranya mengajar. Dengan bangga, ia bercerita tentang bagaimana seorang bekas mahasiswanya pada tahun 80-an datang ke kantornya suatu hari. Orang ini baru saja menamatkan studi doktoral di luar negeri dan mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya pada KID karena telah mengajarnya dengan keras.

“Kalau bukan karena Ibu, saya tidak akan jadi seperti sekarang,” kata KID menirukan orang tersebut.

Pada akhirnya, saya tak pernah menuntaskan matakuliah Ekonomi Internasional itu. Saya keluar kuliah pada pertengahan semester dan memutuskan untuk mendidik diri dengan cara saya sendiri. Perjumpaan kami yang terakhir terjadi sekitar setahun yang lalu di Yogyakarta. Sore itu saya melihat KID sedang memilih batik di Malioboro. Kami hanya bertukar sapa sebentar, kemudian saling berlalu pergi. Di sana KID berjalan sendiri, sama seperti ketika ia dikebumikan hari ini.