Kita Terlahir Sebagai Otodidak Abadi

Asal tahu saja, saya sudah berhenti berpikir bahwa murid sekolahan harus mendapat kebebasan belajar sebebas-bebasnya. Kalau masih mau bebas, lebih baik tidak usah sekolah dan belajar sendiri. Bisa di rumah, di jalan, di hutan, di mana saja. Kapanpun dan dimanapun orang selalu bisa belajar kalau mau. Kalau orangnya sudah tidak mau, dipaksa belajar di sekolah juga percuma. Orang tidak bisa belajar dengan baik kalau dipaksa-paksa.

Seingat saya, saya tidak pernah memaksa orang untuk keluar dari sekolah. Kalau menghasut sih iya, bahkan sering, tapi tidak untuk memaksa. Hobi saya memang menghasut orang ke jalan yang benar. Benar dengan segala argumentasinya. Orang boleh tidak setuju dengan saya dan mengajukan argumentasinya sendiri. Kalau tidak pakai argumentasi, itu namanya ngawur. Ikut-ikutan.

Banyak orang sekolah cuma ikut-ikutan. Ikut perintah orangtua, guru, sodara, bahkan kadang agama juga dibawa-bawa. Tentu saja ikut-ikutan juga merupakan pilihan. Ada orang yang memilih dan cocok jadi pengikut, karena otaknya sudah terlalu bego untuk berpikir dan ambil keputusan secara mandiri. Tidak punya argumentasi. Kalaupun punya, argumentasinya asal comot sana dan sini, hingga akhirnya terbiasa melakukan plagiasi. Kalau sudah begini, kita tidak perlu tanya lagi kenapa kasus jiplak-menjiplak begitu marak di perguruan tinggi, terutama dalam hal penulisan skripsi.

Supaya tidak jadi penjiplak kelas teri, sejak dini orang musti dilatih mengambil keputusan secara mandiri, termasuk untuk urusan sekolah. Sekolah atau tidak sekolah adalah urusan orangnya sendiri. Tidak benar-benar sendiri memang, karena biasanya ada orangtua yang membiayai. Tapi orang-orang tua biasanya sok menggurui, menakut-nakuti anak untuk tetap sekolah meskipun si anak sudah tidak betah dan mau muntah. Mereka ini selalu bilang bahwa anak-anak harus sekolah karena dari sononya tidak bisa belajar mandiri. Harus disuruh-suruh dan dipaksa-paksa supaya mau belajar. Dalam pada itu, si anak akhirnya dididik untuk jadi robot sekolahan. Inisiatifnya dibikin mati.

Padahal kalau kita mau jujur menengok ke belakang, pada dasarnya setiap orang terlahir sebagai otodidak abadi. Waktu masih kecil orang suka mencoba segalanya. Anak kecil selalu ingin tahu. Arwahnya penasaran. Tapi setelah besar kebanyakan orang jadi makin malas tahu. Kenapa? Karena dalam proses coba-coba masa kecil itulah intervensi orangtua datang dengan segala macam aturan yang sudah membudaya. Anak tidak boleh ini-itu dan harus begini-begitu. Tidak boleh tanya macam-macam, apalagi soal perintah agama dan larangan Tuhan. Kalau si anak melawan, maka si orangtua marah besar. Ini indoktrinasi namanya. Dan cara terkutuk ini dipertahankan bertahun-tahun sampai si anak gede. Maka alhamdulillah, berkat indoktrinasi ini, ada anak yang tumbuh jadi penakut, ada yang malah jadi pemberontak. Mungkin yang pemberontak itu muncul karena doi sudah capek tinggal dalam ketakutan. Jadi doi melawan. Melawan orangtuanya, sekaligus melawan segala macam otoritas yang sudah membudaya dan memuakkan.

Bagi para pemberontak, belajar adalah perkara gampang. Kalau tidak difasilitasi, mereka bisa cari jalannya sendiri. Yang kasihan adalah para penakut, karena mereka merasa butuh aturan dan tuntunan dari otoritas tertentu seperti guru. Para penakut butuh tuntunan otoritas karena mereka takut salah. Padahal takut salah sendiri sudah salah. Tapi mereka tetap takut salah karena mungkin pengalaman masa kecilnya traumatik. Kalau aku salah, orangtuaku marah. Waktu sudah gede pikirannya berubah sedikit: kalau aku salah, semua orang marah. Pengalaman dimarahi, dalam memori anak kecil, sangat tidak menyenangkan. Dan itu terbawa sampai mereka besar. Besar badannya doang. Pikirannya tetap saja kecil dan terbelakang.

Jadi kalau ada yang bilang bahwa dari sononya anak-anak harus dipaksa sekolah supaya mau belajar, tentu saja itu isapan jempol belaka. Kita musti bisa bedakan antara yang natural dan kultural. Kultural artinya bikinan manusia. Sintetik. Apakah belajar di sekolah adalah sesuatu yang natural atau kultural? Apakah dari sononya anak-anak memang harus belajar di sekolah?

Buat saya sendiri, belajar itu aktivitas natural. Sudah ada sejak kita kecil. Metodenya yang paling alami adalah dengan coba-coba mengalami. Mencari pengalaman. Sifatnya eksperimental. Dan itu bisa muncul sendiri tanpa perlu disuruh-suruh orangtua. Justru dengan intervensi orangtua dan pengaruh budaya yang sewenang-wenang, akhirnya belajar tidak lagi begitu natural. Belajar diartikan sebagai membaca buku. Belajar diartikan pergi ke sekolah. Belajar menjadi kegiatan yang sempit, kaku, dan menyesakkan. Hasilnya banyak murid sekolahan malas belajar. Karena belajar ala sekolahan memang tidak enak.

Buat yang sudah tahu bahwa belajar di sekolah itu tidak enak, dan merasa harus segera keluar dari sekolah, saya himbau supaya jujur kepada diri sendiri dan orangtua. Memang tidak mudah. Tapi orang akan sulit sekali jujur pada orang lain kalau dengan dirinya sendiri sudah tidak jujur. Padahal yang namanya kejujuran itu penting buat proses belajar. Tanpa kejujuran, orang cuma akan menipu dirinya sendiri. Sama seperti orang yang percaya bahwa sekolah mencerahkan masa depan.