Kita Terlahir Sebagai Otodidak Abadi

Asal tahu saja, saya sudah berhenti berpikir bahwa murid sekolahan harus mendapat kebebasan belajar sebebas-bebasnya. Kalau masih mau bebas, lebih baik tidak usah sekolah dan belajar sendiri. Bisa di rumah, di jalan, di hutan, di mana saja. Kapanpun dan dimanapun orang selalu bisa belajar kalau mau. Kalau orangnya sudah tidak mau, dipaksa belajar di sekolah juga percuma. Orang tidak bisa belajar dengan baik kalau dipaksa-paksa.

Seingat saya, saya tidak pernah memaksa orang untuk keluar dari sekolah. Kalau menghasut sih iya, bahkan sering, tapi tidak untuk memaksa. Hobi saya memang menghasut orang ke jalan yang benar. Benar dengan segala argumentasinya. Orang boleh tidak setuju dengan saya dan mengajukan argumentasinya sendiri. Kalau tidak pakai argumentasi, itu namanya ngawur. Ikut-ikutan.

Banyak orang sekolah cuma ikut-ikutan. Ikut perintah orangtua, guru, sodara, bahkan kadang agama juga dibawa-bawa. Tentu saja ikut-ikutan juga merupakan pilihan. Ada orang yang memilih dan cocok jadi pengikut, karena otaknya sudah terlalu bego untuk berpikir dan ambil keputusan secara mandiri. Tidak punya argumentasi. Kalaupun punya, argumentasinya asal comot sana dan sini, hingga akhirnya terbiasa melakukan plagiasi. Kalau sudah begini, kita tidak perlu tanya lagi kenapa kasus jiplak-menjiplak begitu marak di perguruan tinggi, terutama dalam hal penulisan skripsi.

Supaya tidak jadi penjiplak kelas teri, sejak dini orang musti dilatih mengambil keputusan secara mandiri, termasuk untuk urusan sekolah. Sekolah atau tidak sekolah adalah urusan orangnya sendiri. Tidak benar-benar sendiri memang, karena biasanya ada orangtua yang membiayai. Tapi orang-orang tua biasanya sok menggurui, menakut-nakuti anak untuk tetap sekolah meskipun si anak sudah tidak betah dan mau muntah. Mereka ini selalu bilang bahwa anak-anak harus sekolah karena dari sononya tidak bisa belajar mandiri. Harus disuruh-suruh dan dipaksa-paksa supaya mau belajar. Dalam pada itu, si anak akhirnya dididik untuk jadi robot sekolahan. Inisiatifnya dibikin mati.

Padahal kalau kita mau jujur menengok ke belakang, pada dasarnya setiap orang terlahir sebagai otodidak abadi. Waktu masih kecil orang suka mencoba segalanya. Anak kecil selalu ingin tahu. Arwahnya penasaran. Tapi setelah besar kebanyakan orang jadi makin malas tahu. Kenapa? Karena dalam proses coba-coba masa kecil itulah intervensi orangtua datang dengan segala macam aturan yang sudah membudaya. Anak tidak boleh ini-itu dan harus begini-begitu. Tidak boleh tanya macam-macam, apalagi soal perintah agama dan larangan Tuhan. Kalau si anak melawan, maka si orangtua marah besar. Ini indoktrinasi namanya. Dan cara terkutuk ini dipertahankan bertahun-tahun sampai si anak gede. Maka alhamdulillah, berkat indoktrinasi ini, ada anak yang tumbuh jadi penakut, ada yang malah jadi pemberontak. Mungkin yang pemberontak itu muncul karena doi sudah capek tinggal dalam ketakutan. Jadi doi melawan. Melawan orangtuanya, sekaligus melawan segala macam otoritas yang sudah membudaya dan memuakkan.

Bagi para pemberontak, belajar adalah perkara gampang. Kalau tidak difasilitasi, mereka bisa cari jalannya sendiri. Yang kasihan adalah para penakut, karena mereka merasa butuh aturan dan tuntunan dari otoritas tertentu seperti guru. Para penakut butuh tuntunan otoritas karena mereka takut salah. Padahal takut salah sendiri sudah salah. Tapi mereka tetap takut salah karena mungkin pengalaman masa kecilnya traumatik. Kalau aku salah, orangtuaku marah. Waktu sudah gede pikirannya berubah sedikit: kalau aku salah, semua orang marah. Pengalaman dimarahi, dalam memori anak kecil, sangat tidak menyenangkan. Dan itu terbawa sampai mereka besar. Besar badannya doang. Pikirannya tetap saja kecil dan terbelakang.

Jadi kalau ada yang bilang bahwa dari sononya anak-anak harus dipaksa sekolah supaya mau belajar, tentu saja itu isapan jempol belaka. Kita musti bisa bedakan antara yang natural dan kultural. Kultural artinya bikinan manusia. Sintetik. Apakah belajar di sekolah adalah sesuatu yang natural atau kultural? Apakah dari sononya anak-anak memang harus belajar di sekolah?

Buat saya sendiri, belajar itu aktivitas natural. Sudah ada sejak kita kecil. Metodenya yang paling alami adalah dengan coba-coba mengalami. Mencari pengalaman. Sifatnya eksperimental. Dan itu bisa muncul sendiri tanpa perlu disuruh-suruh orangtua. Justru dengan intervensi orangtua dan pengaruh budaya yang sewenang-wenang, akhirnya belajar tidak lagi begitu natural. Belajar diartikan sebagai membaca buku. Belajar diartikan pergi ke sekolah. Belajar menjadi kegiatan yang sempit, kaku, dan menyesakkan. Hasilnya banyak murid sekolahan malas belajar. Karena belajar ala sekolahan memang tidak enak.

Buat yang sudah tahu bahwa belajar di sekolah itu tidak enak, dan merasa harus segera keluar dari sekolah, saya himbau supaya jujur kepada diri sendiri dan orangtua. Memang tidak mudah. Tapi orang akan sulit sekali jujur pada orang lain kalau dengan dirinya sendiri sudah tidak jujur. Padahal yang namanya kejujuran itu penting buat proses belajar. Tanpa kejujuran, orang cuma akan menipu dirinya sendiri. Sama seperti orang yang percaya bahwa sekolah mencerahkan masa depan.

Conversation

  1. Sekolah itu penting. Mungkin kalo tidak sekolah, bangun siang, begadang tiap hari, siang tidur lagi, tidak efektif. Memang tergantung pribadi masing-masing yang dibentuk secara tidak langsung oleh keluarga (orang tua), toh kalaupun dipaksa orang tua untuk disiplin di rumah misalnya, apakah itu harus dipertimbangkan lagi untuk jadi penakut atau pemberontak?

    Sekolah tetap penting, hanya di negara ini sistemnya yang perlu dirubah, tidak kolot seperti sekarang ini (atau seperti tulisan anda sebelumnya). Di sekolah pun tetap bisa jadi pemberontak, untuk memberontak sistem yang kolot itu. Bukankah seperti pepatah “Give a man a fish and you will feed him for a meal, but teach a man how to fish and you will feed him for life” :D

  2. Halo sob,

    Kalo udah tau begadang dan bangun siang tiap hari itu bikin hidup nggak efektif, dan kita pengen hidup kita jadi efektif, menurutku solusinya adalah memperbaiki pola tidur. Bukan bersekolah. Justru mestinya pola tidur dibenerin dulu, baru kita sekolah. Bukan kita sekolah untuk benerin pola tidur.

    Tapi memang, bisa juga pendekatan terakhir itu yang dipake. Karena sekolah, kita jadi terpaksa bangun pagi. Karena terpaksa bangun pagi, akhirnya nggak begadang lagi. Terus poinnya dimana? Bisa bangun pagi tiap hari? Kalo udah bangun pagi tiap hari apa so pasti hidup jadi lebih efektif?

    Kadang-kadang begadang itu juga punya efektivitas tersendiri. Buat aku pribadi, banyak ide nulis justru muncul selewat malam hari, waktu aku lagi bener-bener sendiri, tiada yang menemani. Tulisan yang kamu komentari ini adalah hasil begadang sendiri juga tempo hari.

    ~

    Logika umum selalu menganggap bahwa disiplin itu baik. Lantas karena disiplin itu (dianggap) baik, kita jadi harus lakukan itu setiap hari, dan kalo perlu dipaksa gitu? Pertanyaannya: kenapa kita perlu dipaksa? Dipaksa orang laen pula. Kenapa kita ga bisa lakukan itu sendiri? Terus siapa yang akan paksa orang yang memaksa kita? Apakah kita juga, orang laen lagi, atau dirinya sendiri? Ada banyak banget paksaan kalo sesama orang udah saling memaksa, dan masih ditambah memaksa dirinya sendiri lagi. Aku agak ga berselera sama hidup yang kayak gitu. Gak lucu.

    Buat aku pribadi, hidup gak perlu terlalu banyak paksaan. Sebabnya karena hidup itu sendiri udah merupakan satu paksaan. Nggak ada orang yang memilih untuk dilahirkan hidup-hidup. Tau-tau udah ceprot aja. Tau-tau udah mengoek. Mungkin tangisan bayi itu bisa ditafsirkan sebagai bentuk protes si bayi karena udah dipaksa hidup, entah oleh (si)apa.

    Terus kenapa kita gak bunuh diri aja? Toh hidup cuma terpaksa. Ini pertanyaan filosofis paling dalem kayaknya. Albert Camus, orang yang novel “The Outsider”-nya pernah kamu baca itu, dulu pernah menyataken bahwa persoalan terbesar filsafat adalah kenapa manusia gak bunuh diri. Aku nggak tau gimana pergumulan hidup Camus sampe dia bisa bikin kesimpulan kayak gitu. Aku cuma tau ada kesimpulan Camus itu setelah baca bukunya Arief Budiman soal Chairil Anwar.

    Kalo menurut pergumulanku sendiri, aku gak (atau belum) bunuh diri karena aku merasa masih punya “ketakutan” untuk bertemu ajal. Bukan ajalnya, melainkan pertemuannya. Kenapa “takut”? Karena sampe sekarang kondisiku masih sehat walafiat. Belum ada tanda-tanda mo mati dalam waktu dekat. Jadi kalo aku bunuh diri sekarang, hampir bisa dipastikan bahwa aku harus melalui proses yang amat sangat menyakitkan untuk bisa memaksa diriku mati. Inilah yang aku gak mau. Aku gak mau memaksa diriku mati sekarang, karena aku tau bahwa terpaksa hidup itu udah ga enak. Apalagi terpaksa mati. Kalo bisa milih cara mati, aku bakalan pilih mati tanpa harus kesakitan. Pokoknya mati aja. Dan itu nggak bisa terjadi kalo emang belum waktunya.

    Lebih dari itu, aku belum serius mau bunuh diri karena aku masih terbelenggu rasa penasaran sama hidup. Aku bilang terbelenggu karena aku gak bisa lepaskan rasa penasaran itu dari dulu sampe sekarang. Dalam pandanganku, hidup itu membosankan sekaligus menawan. Membosankan karena banyak “lagu lama” diulang-ulang. Tapi banyak juga “lagu baru” diciptakan dan bikin kesengsem orang. Paradoks inilah yang sampe sekarang masih bikin aku penasaran. Aku jadi pengen tau sebanyak mungkin, belajar sebanyak mungkin. Selama masih hidup, aku pengen sebanyak mungkin merasakan. Pada titik inilah aku merasakan bahwa hidup ternyata bukan hanya paksaan, tapi juga anugrah. Anugrah terindah. Ini paradoks lagi. Bikin aku penasaran lagi. Jadi (terpaksa) pengen hidup lagi. Sialan.

    Karena hidup sendiri udah merupakan satu paksaan, maka bagi orang-orang yang merasa masih kurang paksaan, bolehlah paksaan itu ditambah satu lagi, yakni dengan memaksa diri sendiri. Bisa jadi inilah kadar paksaan yang pas buat hidup. Dua paksaan saja cukup. Kalo gak bisa memaksa diri sendiri (misal: untuk disiplin) ya gak usah dipaksakan. Kalo kita memaksa untuk bisa memaksa diri sendiri biar bisa disiplin, maka jumlah paksaan udah nambah dua. Totalnya jadi tiga sama paksaan hidup. Bikin hidup tambah susah aja.

    Pedahal itu baru untuk satu hal (dhi: kedisiplinan) dan baru mencakup urusan dengan diri sendiri, belum orangtua dan orang laen. Bisa kita bayangkan betapa banyaknya paksaan kalo orangtua suka memaksa anaknya, dan sesama orang saling memaksa, setiap hari dan untuk setiap hal. Bayangan ini sendiri udah jadi kenyataan di mana-mana. Dunia yang kita huni sekarang adalah dunia yang penuh sesak oleh paksaan. Makanya brengsek. Pada titik inilah aku merasakan dorongan untuk bunuh diri lagi. Tapi aku juga masih pengen hidup karena di antara yang jelek-jelek itu aku masih temukan satu-dua keindahan, misalnya perempuan. Makin lama aku hidup, makin banyak pula keindahan-keindahan laen aku temukan (gak cuma perempuan) dan terus bikin aku penasaran. Barangkali aku akan hidup sampai akhirnya aku betul-betul bosen, puas, dan muak sama keindahan-keindahan duniawi. Kalo udah gitu, mungkin aku baru bisa mati dengan tenang. Arwahku gak penasaran.

    Jadi kalo dipaksa untuk disiplin sama orangtua, aku kira aku akan memberontak juga. Berontaklah, dan kamu akan temukan hal-hal baru yang terus merangsang gairah hidup. Kalo kita cuma jadi penakut dan ikut tradisi, kita cuma akan mengulang-ulang “lagu lama” yang membosankan. Mending mati aja kalo kayak gitu. Gak ada gunanya kita hidup tanpa gairah.

    Bukan berarti kedisiplinan itu nggak penting. Sebagai orang yang in(ter)disipliner, aku merasa kedisiplinan juga penting. Tapi jauh lebih penting untuk mengembangkan kedisiplinan oleh diri sendiri dan tanpa paksaan. Alasannya ya itu tadi: aku agak ga berselera sama hidup yang penuh sesak oleh paksaan, apalagi paksaan orang laen. Kalo masih mau memaksa-maksa, sebaiknya orang memaksa dirinya sendiri aja.

    Contoh. Dengan menjawab komentarmu secara panjang-lebar gini, sesungguhnya aku sedang mendisiplinkan diriku sendiri untuk bertanggungjawab atas wacana yang sudah aku gulirkan lewat tulisan. Kalo ada orang komentar di tulisanku, maka sebagai penulis aku merasa bertanggungjawab untuk menanggapi komentar yang masuk. Nggak kayak Saam Fredy yang asal lempar wacana terus pergi gitu aja. Itu nggak bertanggungjawab menurutku. Indisipliner.

    Tapi bisa jadi, orang kayak Saam Fredy itu punya standar kedisiplinannya sendiri sebagai penulis. Paling sedikit, aku liat dia berusaha mendisiplinkan dirinya sendiri untuk nulis catatan hariannya yang paling jiwa dan melegenda di seantero Satya Wacana. Lepas dari mutu catatannya yang menurutku sering nggak mutu, si Saam udah membuktikan dirinya sebagai salah satu bloger Salatiga yang paling produktif sepanjang masa. Barangkali memang inilah pilihan pribadinya sebagai penulis yang patut kita hormati.

    Dalam hal-hal semacam itu tentu ada unsur paksaannya juga. Dengan menjawab komentarmu secara panjang-lebar, aku memaksa diriku untuk berpikir lebih jauh soal gagasanku tentang sekolah dan kebebasan. Dengan menulis catatan harian kebanggaannya, Saam Fredy mungkin memaksa dirinya untuk membuat catatan harian itu sebagai catatan harian beneran (baca: terbit tiap hari). Itu bisa keliatan dari model tulisannya yang sering terasa dipaksakan.

    Tapi yang terjadi juga nggak selamanya gitu. Misal: aku nggak selalu menjawab komentar masuk (apalagi secara panjang-lebar gini) meski aku sendiri menetapkan standar bahwa kedisiplinanku sebagai penulis salah satunya adalah menjawab komentar pembaca. Dalam hal ini kita bisa liat bahwa ternyata aku juga bisa memberontak dari standar-standar atau nilai-nilai yang sudah aku pilih sendiri. Aku bisa memberontak terhadap diriku sendiri. Sebabnya karena aku kadang bisa bosen dan muak sama diriku sendiri. Kenapa bisa gitu? Karena memang bisa. Itu aja. Aku belum temukan jawaban laen yang lebih keren dari itu. Apa kamu berminat bantu mencarikan? Enggak juga, kan?

    ~

    Soal perubahan sistem pendidikan (dhi: sekolah) yang kamu katakan, aku sendiri udah nggak terlalu bernafsu kayak dulu. Ngapain repot-repot ngubah sistem pendidikan kalo orang-orangnya emang pada gak mau berubah? Lebih baik bikin sistem pendidikan sendiri di luar yang udah ada, biar bisa dipake buat diri sendiri.

    Dan bener juga katamu: di sekolah pun kita tetep bisa memberontak. Banyak murid sekolah adalah pemberontak, termasuk aku (dan mungkin kamu). Aku sendiri udah merasa cukup lama memberontak dari dalam sistem. Udah bosen. Sekarang saatnya memberontak dari luar dengan bikin sistem “tandingan”. Aku agak setuju sama Anies Baswedan dan program Indonesia Mengajar yang dia bikin: daripada mengutuk kegelapan, lebih baik nyalakan lilin. Meski cara dia “menyalakan lilin” beda dari caraku, aku agak setuju sama ungkapan Anies yang satu itu.

    Aku bilang agak setuju, karena kadang “mengecam kegelapan” juga perlu, supaya orang yang punya lilin tapi belom mau nyalain, bisa tergerak untuk nyalakan lilin yang doi punya. Dalam hal ini, aku udah menyalakan lilin buat diriku sendiri, dengan bikin sistem sendiri. Aku gak tau apakah lilinku ini berguna buat orang laen apa enggak. Dan aku gak terlalu peduli. Yang penting aku sudah merasa terbantu banyak dengan sistemku, cara belajarku.

    Itulah sebabnya tadi aku tulis sistem “tandingan”. Tandingan dalam tanda kutip karena aku gak sungguh-sungguh bermaksud menandingi sistem yang udah ada. Yang udah ada biarkan aja tetap ada. Kalo masih ada orang yang mau masuk jurang gara-gara kegelapan sistem itu, itu urusan orangnya sendiri. Yang jelas aku gak mau masuk jurang kayak dorang. Aku udah nyalakan lilin dan bisa liat jalanku sendiri. Kalo ada orang laen yang kemudian merasa terbantu dengan lilinku, aku senang. Aku lebih seneng lagi kalo orang laen itu mau nyalakan lilinnya sendiri, karena setiap orang dari sononya emang udah punya lilin.

    Lilin itu adalah otak kita masing-masing. Bisa nyala kalo dipake berpikir. Lilin itulah yang selama ini sengaja dipadamkan sekolah supaya orang enggak bisa mikir. Guru sekolahan selalu sok nyuruh-nyuruh kita mikir, pedahal aslinya kita cuma disuruh menghapal. Kalopun disuruh mikir, mikirnya harus sesuai selera guru. Harus ikut jalan pikiran si guru, supaya orang bisa tetep nurut kalo disuruh bayar SPP plus segala tetek-bengek sekolahan. Kalo udah bayar dan nurut, maka orang dijanjikan bisa lulus dengan ijasah dan dapet kerja. Pedahal sekarang ijasah mulai nggak laku di mana-mana.

    Yang tetep laku di mana-mana itu cuma kemampuan. Dan kita cuma bisa kembangin kemampuan kalo kita mau mikir pake otak, bukan pake dengkul. Kalo orang mikir pake otak, orang bisa belajar dan kembangin kemampuannya sendiri tanpa harus tergantung sama sekolah. Orang bisa jadi otodidak abadi. Inilah yang tidak diinginkan oleh sekolah karena nanti bisnisnya terancam. Mau tidak mau, sekolah memang harus tetap melanggengkan bisnis pembodohan massal. Pepatah “Give a man a fish and you will feed him for a meal, but teach a man how to fish and you will feed him for life” itu cuma dipake buat goyang patah-patah di sekolah. :D

  3. Terima kasih untuk jawaban yang panjang Sob, aku cukup kaget dengan jawaban yang detail itu hihi..

    Soal begadang dan bangun pagi itu hanya sebagian dari efek jika tidak sekolah. Karena kupikir apa yg dilakukan remaja jika dia tidak sekolah. Di SMA ku dulu, anak-anak sekolah paling sering nongkrong, dan kebanyakan nongkrong itu gak jelas untuk apa, hanya duduk di trotoar sebelah warung rokok, dan ngorbol “gak penting”, mksdnya nggak ada obrolan yang setidaknya menghidupkan lilin yang kamu maksud. Padahal nongkrong itu ga ada yang maksa, keinginan pribadi, malah terlihat memberontak dari sekolah yang melarang berkumpul dan merokok menggunakan seragam, juga memberontak dari orang tua yang bersikap sama misalnya. Itu sudah terjadi pada saat sekolah, apalagi kalau gak sekolah?

    Dampak nyata yang terjadi karena tidak sekolah adalah anak-anak berpakaian hitam ketat bolong-bolong, rambut berwarna aneh yang berdiri-diri, dan wajah yang bolong juga karena tindikan di sana-sini. Alesan yang klasik saat ditanya, itu adalah mode atau ciri khas satu genre musik. Padahal jika ditanya lagi, apa mereka ngerti jenis musik itu, jawabannya ga tau. Faktanya, mereka hanya ikut-ikutan dari orang lain, dan kehendak bebas mereka yang melenceng itu menjadikan mereka seperti orang asing di masyarakat, mungkin orang pun takut untuk bertanya pada mereka misalnya. Kupikir disini pentingnya disiplin. Memang banyak alat lain selain sekolah, sekolah hanya batu loncatan, dengan catatan sistem sekolah itu baik dan tidak kolot. Sekolah yang bukan pasar.

    Disamping itu aku setuju soal kebebasan memilih, tidak ada unsur paksaan. Persis seperti Sartre bilang kita ini dikutuk untuk hidup bebas. Maka bebaslah memilih apa yang baik untuk dilakukan. Persis juga seperti kamu bilang, mengembangkan kedisiplinan oleh diri sendiri, tanpa paksaan. Disiplin kupikir adalah pagar dalam kebebasan itu. Walaupun jujur aja, terlalu disiplin pun memuakan hihihi.. Apalagi terlalu memaksakan diri sendiri..

    Kalo soal pertanyaan Camus kenapa manusia ga bunuh diri? Aku masih ga tau dan belum mau tau, karena aku masih pengen hidup dengan menikmati keindahan-keindahan ini . Walaupun ada orang bilang, manusia harusnya lebih takut hidup dari pada kematian, hahaha..

  4. first of all, i like your few recent articles about education. glad people are still concerned about this.

    saya pernah baca di majalah Time, ttg pendidikan di finland. bagaimana pendidikan di sana dinilai lebih baik dibanding di negara2 asia dan US. probably there’s much more to improve.

    pemerintah emphasize belajar di sekolah mgkn karena secara general anak perlu ke sekolah. tapi yang perlu bisa take closer look memang ortu. ortu seharusnya lebih bisa melihat bakat dan kebutuhan anak. apakah anak perlu disekolahkan atau malah perlu dimodali uang untuk buka bisnis. tentunya, ga bisa digeneralisasi juga. kalau anak pengen keluar sekolah n jd boyband, belum tentu itulah yg terbaik. many cases i saw that someone who is no good at music, should go to school instead of being boysband wannabe. but i’m not saying he/she should quit on music.

    sepupuku dulu pernah bilang sama ortunya, kalau dia ga sanggup melanjutkan sekolah. kalau ga salah dia sekolah sampai SMP. dia cuma minta dibuatkan rumah dan dimodali buat usaha jualan rujak. sampai sekarang masih jualan rujak dan sangat laris. well, bukan urusan jadi sarjana ato jualan rujaknya, tapi saya cukup amazed dg keyakinan dia.

    btw, websitemu yg direktif lambat sekali dibuka dari sini. pindahin server di US saja, ato pakai cloudflare.com. hehe

  5. Menyoal paksaan, menurut pengalaman saya itu motivasi nomor satu. Buruk awalnya, tapi lama-lama saya sadar kalau itu metode belajar yang efektif buat saya. Kesimpulannya, paksaan efektif buat orang yang kekurangan motivasi. hahaha

    Kesadaran kita waktu kecil terbatas sih ya. menurut saya orang tua yang punya peranan penting untuk mengarahkan. Dan, mungkin ada beberapa orang tua juga yang sejak awal sadar dengan kebebasan anaknya karena pengalaman orang tua itu sendiri di masa mudanya, tapi mungkin dorang menghindari spekulasi. Jadi akhirnya anaknya dimasukkan aja ke sekolah hingga dia menemukan kesadarannya. Kalau sdh begitu, solusinya, kita perlu tahu dimana masa-masa kritis seorang anak terus diarahkan. Di masa2 kritis itu dia mulai menemukan hobinya, bukan talentanya ya. karena saya belum pernah melihat seseorang tahu talentanya sebelum dia benar2 berhasil. Sementara, sih, ini visiku kalau punya anak. Tapi masih mungkin berubah.

    kayaknya tulisan ini bagus untuk dijadikan bahan diskusi ibu2 yang nganter anaknya masuk TK. siapa tahu ada satu dua ibu yang “terangsang”. :))

  6. Aku merasa diskusi ini makin kritikal. Haha.

    Voor Tian: Trims sob, buat input soal kelakuan anak-anak di SMA-mu dulu, yang kira-kira merupakan kelakuan anak-anak di SMA-ku juga, dulu. Kamu ber-SMA di Bandung, aku di Surabaya. Jadi pikirku, apa yang terjadi di belahan barat dan timur Jawa (dulu) ini bisalah kita anggap sebagai contoh yang cukup representatif untuk kelakuan anak remaja di Jawa (dulu) jika bolos sekolah–bukan tidak sekolah. Dan karena dulunya itu masih beberapa tahun dari sekarang, maka mungkin banget contoh kita masih relevan buat hari ini. Sip?

    Kita semua tau bahwa hidup ini nggak sekali jadi. Hidup adalah proses, begitu pula dengan hidup bebas. Orang perlu belajar menggunakan kebebasan agar bisa hidup bebas dengan benar. Kalo orang nggak pernah belajar menggunakan kebebasan, sudah mustahil doi bisa hidup bebas dengan benar. Kalo orang nggak pernah bisa hidup bebas dengan benar, maka yang muncul adalah ekses-ekses negatif kebebasan.

    Jadi, kalo kita liat anak-anak SMA yang bolos sekolah kerjanya cuma nongkrong sama ngobrol ngalor-ngidul gak jelas, itu bisa dianggap sebagai ekses negatif kebebasan yang sedang mereka pilih dan jalani. Di sini aku inget kata-kata Romo Joannes Oei Tik Djoen (salah satu tokoh di balik pendidikan bebas de Britto) soal ekses negatif kebebasan. Singkatnya, Romo Oei bilang bahwa ekses negatif adalah “lampu merah yang positif”, yang berguna untuk mengungkap ketidakberesan. Saat ketidakberesan sudah terungkap jelas, maka jalan untuk perbaikan lebih mudah dicari.

    Anggaplah bolos dan nongkrong gak jelas adalah pilihan yang salah, negatif, keliru, dan seharusnya tidak dilakukan. Kalo kita mengacu pada Romo Oei lagi, bahwa pilihan yang keliru adalah ekses negatif yang tampak, maka Romo Oei bilang justru ekses itu harus diberi kesempatan untuk menampakkan diri, karena dengan begitu kita bisa tau lebih jelas bahwa ada yang nggak beres, entah itu di lingkungan sekolah atau keluarga maupun masyarakatnya. Jadi, tindakan bolos dan nongkrong gak jelas oleh anak SMA itu sebetulnya hanyalah “produk” ketidakberesan yang lebih besar di lingkungan sosialnya. Misal: lembaga sekolah yang isinya cuman indoktrinasi, robotisasi, dan dehumanisasi; keluarga yang disharmonis dan berantakan; masyarakat yang semakin komunal, irasional, dan melecehkan kebebasan individual.

    Dengan dasar itulah aku maklum kenapa banyak anak SMA akhirnya lebih suka bolos dan nongkrong gak jelas. Lha wong sekolahnya sendiri gak beres, keluarganya sendiri gak beres, dan masyarakatnya sendiri gak beres. Pedahal, kita tau bahwa anak SMA yang masih remaja, secara psikologis, perkembangannya juga belom beres. Jadi kalo yang nggak beres-beres itu digabungin jadi satu, jangan harap muncul yang baik-baik saja. No way.

    Oleh sebab itu, kalo orang nggak pengen anak-anaknya pada bolos sekolah terus nongkrong gak jelas, menurutku solusinya adalah memperbaiki keluarganya dulu, kemudian sekolahnya, kemudian baru masyarakatnya. Kalo semua sudah oke, jumlah pembolos sekolahan tentu bakal turun dengan sendirinya. Nggak perlu dilarang bolos segala, dan dipaksa sekolah segala. Pemaksaan itu merupakan cara binatang, enggak manusiawi, dan karenanya malah memperkuat praktik dehumanisasi di sekolah, yang justru memperburuk keadaan.

    Orang justru perlu kebebasan karena dengan kebebasannya itulah orang belajar bertanggungjawab. Dari ateis macem Sartre, sampai pastor macem Romo Oei, semuanya percaya bahwa kebebasan secara alami sudah terikat dengan tanggungjawab. Orang bebas bertindak, dan kemudian setelah itu mau tidak mau harus mempertanggungjawabkan tindakannya. Orang mau tidak mau memang “konsekuensialis”. Mungkin inilah disiplin yang kamu maksud sebagai pagar kebebasan? Soal kembar siam kebebasan dan tanggungjawab sudah aku coba urai pada tulisanku yang Tiga Jam di Kolese de Britto.

    Nah, pertanyaannya sekarang: mungkinkah perbaikan dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat itu terjadi?

    Aku belom berani menjawab pasti. Pendekatanku sederhana aja. Keluarga, sekolah, dan masyarakat itu lembaga-lembaga sosial yang terdiri dari orang-orang. Karena itu, supaya lembaganya bener, orangnya musti bener dulu. Inilah tanggungjawab pribadi kita sebagai orang: memperbaiki diri kita sendiri dari waktu ke waktu.

    Setelah itu belum cukup sampai di situ. Kalo orangnya udah bener, perlu dipikirkan bagaimana komposisi orang tertentu bisa bergabung membentuk lembaga sosial yang sehat dan manusiawi, mulai dari yang terkecil (misalnya keluarga) sampai dengan yang terbesar (misalnya masyarakat). Ukuran “sehat dan manusiawi” bisa macem-macem, yang penting bisa dipertanggungjawabkan kepada sesama manusia (yang sama dasar kemanusiaannya). Yang begini ini aku pikir hanya mungkin terjadi kalo orangnya udah bener duluan.

    Komentarku sebelumnya soal perubahan sistem sekolah itu fatalistik. Aku bilang sekolah sudah mutlak nggak diperlukan, dan menutup kemungkinan perbaikan sistem di sana. Nah, sekarang aku membuka kembali diriku terhadap kemungkinan itu. Aku bilang bahwa sistem sekolah (sebagai lembaga sosial) masih mungkin diperbaiki. Persepsi tiap orang tentang tingkat kesulitan perbaikannya tentu beragam. Aku sendiri memandang sistem persekolahan di Indonenong ini udah sedemikian busuk dan parah karena isinya cuman indoktrinasi, robotisasi, dan dehumanisasi. Kalo tiga hal ini saja dihilangkan dari sekolah, aku optimis bahwa sekolah bisa berguna lagi buat kemanusiaan. Yang perlu kita ingat, perubahan sistem tidak gampang karena sistem punya kelembaman yang perlu didobrak dengan energi tinggi plus konstan. Tidak bisa tinggi saja dan tidak bisa konstan saja. Harus tinggi dan konstan. Apalagi kebusukan sistem persekolahan di Indonenong sudah menahun dan direkayasa banyak manusia. Itulah fakta riil yang harus kita hadapi kalo mau bikin perubahan. Tentu tidak mudah, tapi juga mungkin tidak terlalu sulit kalo kita bisa petakan masalah sejelas-jelasnya dan punya strategi pemecahan yang pas. Perlu riset.

    Pilihan lain yang tidak kalah susahnya dengan itu adalah keluar saja dari sekolah. Percaya deh. Haha.

    Gitu ya sob.

    Voor Yosafat: Hello Yos, thank you for liking my few recent articles about education. Your responses towards my articles always have contributions in making my understandings richer, including this one.

    Aku udah baca artikel dari Time itu. Menarik banget. Dalem banyak hal aku setuju sama Finlandia. Kalo kamu tau ada informasi lebih lanjut soal eksperimen di Thailand itu, tolong berbagi denganku ya.

    Kemudian, aku setuju bahwa pendidikan tidak bisa digeneralisasi. Di sinilah pentingnya kebebasan. Setiap anak (bersama ortunya) musti memilih dengan bebas (tidak terpaksa) model pendidikan yang paling tepat buat si anak. Bisa jadi, model yang tepat tidak ditemukan dalam sekali percobaan. Bisa jadi pula, model yang tepat baru ditemukan setelah percobaan bertahun-tahun dan melewati banyak kali kegagalan. Siapa tau? Setiap orang harus mencari tau untuk dirinya masing-masing. Nggak bisa digeneralisasi. Dalam proses coba-coba itu tentulah keyakinan sangat penting. Sepupumu termasuk yang punya keyakinan itu dan berhasil, menurutku.

    Soal website Direktif itu, ntar aku obrolin dulu sama temen-temen di sana. Thanks inputnya nggih.

    Voor James: Kamu kurang motivasi apa, bro? Panggil Andrie Wongso ato Tung Desem Waringin aja kalo gitu. Ato harim.

    Visimu menarik juga, dan realistik, mungkin karena realitas itu makin dekat ya. Haha. Kalo udah gitu, urusan merangsang ibu-ibu mungkin udah enggak seleluasa jaman dulu–ato justru tambah pakar karena su terbiasa dengan ibu-ibu.

  7. Jujur saya baru tahu sekarang kalau ternyata metode pembelajaran kita saat sekolah dulu sangat tidak efektif unutk perkembangan ke depan. Mengapa demikian, bulan lalu saya mendapatkan sebuah pelajaran tentang metode belajar yang efektif; MIND MAP atau Peta Pikiran, yang menggabungkan kata-kata dengan gambar, dan ternyata saat ini di Indonesia lagi sedang marak-maraknya, seperti yang dilakukan oleh komunikasi.org.
    Padahal si pencipta teori Mind Map sudah sejak lama dan penerapannya di Indonesia tergolong lambat. Metode ini pun sudah lama diterpakan di negara tetangga kita yakni australia, sedangkan di Indonesia masih tergolong langka, kalaupun ada pasti mahal. Jadi wajar bila anak-anak kita esok akan semakin mahal untuk menempuh pendidikan formal.

  8. Pingback: Nasgor Pecas Ndahe by Satria Anandita

Leave your thought