Konsep Dasar Berlian Porter

Berlian Porter (Porter’s diamond) adalah model yang diciptakan oleh Michael Porter untuk membantu kita dalam memahami konsep keunggulan kompetitif (competitive advantage) suatu negara yang semakin populer dalam dunia yang semakin mendewa-dewakan kompetisi saat ini.

Berbeda dengan konsep keunggulan komparatif (comparative advantage) yang menyatakan bahwa suatu negara tidak perlu menghasilkan suatu produk apabila produk tersebut telah dapat dihasilkan oleh negara lain dengan lebih baik, unggul, dan efisien secara alami, konsep keunggulan kompetitif adalah sebuah konsep yang menyatakan bahwa kondisi alami tidaklah perlu untuk dijadikan penghambat karena keunggulan pada dasarnya dapat diperjuangkan dan ditandingkan (dikompetisikan) dengan berbagai perjuangan/usaha. Dan keunggulan suatu negara bergantung pada kemampuan perusahaan-perusahaan di dalam negara tersebut untuk berkompetisi dalam menghasilkan produk yang dapat bersaing di pasar.

Kembali ke berlian Porter. Berlian ini terdiri dari empat determinan utama yang membentuk model seperti berlian. Dalam hubungannya, keempat determinan ini saling menguatkan satu sama lain. Unsur-unsur ini adalah sebagai berikut: kondisi faktor produksi, kondisi permintaan, industri-industri yang berkaitan dan mendukung, dan strategi, struktur, dan persaingan perusahaan.

Kondisi faktor produksi dibagi menjadi dua, yaitu yang biasa dan yang terspesialisasi. Yang biasa adalah faktor-faktor produksi yang diwarisi secara alami seperti kekayaan sumber daya alam (SDA), tanah, dan tenaga kerja yang belum terlatih. Sedangkan yang terspesialisasi adalah faktor-faktor produksi yang tidak terdapat secara alami, melainkan harus diciptakan terlebih dahulu. Contoh dari faktor produksi yang terspesialisasi adalah teknologi dan tenaga kerja yang terlatih. Kondisi faktor produksi dikatakan baik apabila jumlah faktor produksi yang dimiliki ada banyak dan perbandingan antara faktor produksi biasa dengan faktor produksi terspesialisasi adalah proporsional. Semakin baik kondisi faktor produksi yang dimiliki oleh perusahaan-perusahaan di dalam suatu negara, maka akan semakin kompetitif negara tersebut.

Kondisi permintaan dikatakan dapat menaikkan kompetitivitas apabila kondisi permintaan tersebut adalah mutakhir (sophisticated). Yang dimaksud dengan permintaan mutakhir di sini adalah kecenderungan untuk selalu menuntut, menuntut, dan menuntut agar produk yang dihasilkan terus diinovasi supaya bisa memuaskan kebutuhan para demander. Cara kerja kondisi permintaan dalam menaikkan kompetitivitas dapat dianalogikan dengan analogi kusir, cambuk, dan kuda. Produsen/perusahaan di sini diibaratkan sebagai kuda yang harus menghasilkan tenaga kuda, sedangkan demander/konsumen diibaratkan sebagai kusir yang menikmati tenaga kuda yang dihasilkan oleh kuda tersebut. Cambuk adalah perumpamaan untuk kondisi permintaan dari demander/konsumen. Asumsikan bahwa kuda dikatakan semakin kompetitif apabila kuda tersebut dapat menghasilkan tenaga kuda yang semakin besar. Apabila kusir menghendaki tenaga kuda yang lebih besar agar kuda dapat berlari lebih cepat, maka sang kusir tinggal menggunakan cambuknya untuk memaksa sang kuda agar menghasilkan tenaga yang lebih besar. Ini bisa disebut “memaksa,” namun juga bisa disebut “merangsang.” Alhasil kuda akan menghasilkan tenaga yang semakin besar, yang berarti kompetitivitas kuda tersebut akan meningkat pula.

Selanjutnya adalah industri-indsutri yang berkaitan dan mendukung. Kompetitivitas dapat meningkat apabila industri-industri yang berkaitan dan mendukung memusatkan diri mereka dalam satu kawasan. Hal ini akan menghemat biaya komunikasi, ongkos gudang penyimpanan, ongkos transportasi, serta akan meningkatkan arus pertukaran informasi. Sebagai contoh adalah hubungan antara pabrik tempe dengan petani kedelai. Apabila jarak antara lahan pertanian kedelai dekat dengan pabrik tempe, maka hal ini akan menghemat ongkos transportasi oleh karena jarak yang dekat. Ongkos gudang penyimpanan juga dapat direduksi oleh petani kedelai karena hasil panen kedelai tidak perlu disimpan terlebih dahulu di gudang karena dapat langsung dikirim ke pabrik untuk langsung diolah. Dari segi komunikasi juga akan menguntungkan karena jarak yang relatif dekat berakibat biayanya akan menjadi relatif murah. Hal ini akan meningkatkan arus pertukaran informasi di antara petani kedelai dengan pabrik tempe, sehingga akan meningkatkan pengembangan produk masing-masing. Petani kedelai akan mengetahui kedelai macam apa yang paling dibutuhkan oleh pabrik tempe, sedangkan pabrik tempe juga akan mengetahui dan dapat memilih jenis kedelai mana yang paling cocok dengan orientasi produksinya dan bagaimana cara mengolahnya, sehingga kualitas produksi tempe juga dapat menjadi lebih optimal. Berbagai macam keuntungan ini diyakini dapat meningkatkan kompetitivitas perusahaan.

Yang paling akhir adalah strategi, struktur, dan persaingan perusahaan. Strategi dan struktur yang diterapkan perusahaan akan menentukan kompetitivitasnya. Hal ini lebih menyangkut kepada konteks waktu dan budaya dimana perusahaan itu berada. Tidak semua perusahaan cocok menggunakan strategi dan struktur tertentu. Perusahaan dituntut agar dapat menerapkan strategi dan struktur yang paling tepat dengan keadaan yang dialami agar dapat survive terhadap kondisi sekitarnya. Selain itu, persaingan antarperusahaan juga dapat meningkatkan kompetitivitas perusahaan karena dengan adanya persaingan, maka dipastikan akan ada usaha ekstra dari perusahaan untuk meningkatkan daya saingnya agar dapat, sekali lagi, survive dalam kompetisi.

Selain keempat determinan di atas, masih ada dua unsur lagi yang berada di luar berlian Porter, namun kedua unsur ini memiliki pengaruh pada keempat determinan tersebut. Kedua unsur tersebut adalah pemerintah dan kesempatan.

Pemerintah dapat memengaruhi keempat determinan di atas lewat kebijakan-kebijakannya. Sebagai contoh adalah pemerintah dapat mengorganisir industri-industri yang saling mendukung dan memiliki keterkaitan dengan memfasilitasi berdirinya kawasan berikat, sentra dagang, sentra kerajinan, dan lain-lain.

Unsur kesempatan memberikan dampak yang cukup signifikan pada keempat determinan berlian Porter, meskipun unsur yang satu ini tidak dapat diprediksi dengan tepat keberadaan dan pergerakannya. Sebagai contoh, bencana alam yang tidak terduga seperti banjir lumpur panas di Porong, Sidoarjo mengakibatkan sejumlah industri di sana menjadi lumpuh dan kehilangan kompetitivitasnya. Akan tetapi, hal ini malah merupakan sebuah keuntungan bagi usaha yang bergerak di bidang kerajinan tanah liat karena ternyata lumpur Sidoarjo ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku berkualitas super bagi produk-produk tanah liat. Selain berkualitas tinggi, lumpur ini juga terdapat dalam jumlah yang luar biasa banyak. Hal ini yang menyebabkan kompetitivitas usaha kerajinan tanah liat meningkat.