Work

Media dan Pemberdayaan Masyarakat

Satria Anandita Nonoputra
Pengembangan Fasilitator Pemberdayaan Masyarakat

D

alam proses demokratisasi masyarakat, media yang netral dianggap memiliki peran strategis yang ideal karena dapat memfasilitasi terjadinya ruang publik (public sphere) bagi pembentukan opini publik tanpa ada satu pihak manapun yang mendominasi.

Media dapat menjembatani kesenjangan informasi antarpihak, mengurangi jumlah informasi asimetris. Itu sebabnya mengapa media sering disebut sebagai pilar keempat dalam demokrasi, mendampingi eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

Kesenjangan informasi sendiri erat kaitannya dengan pemberdayaan masyarakat. Salah satu cara memberdayakan suatu masyarakat adalah dengan membuka akses informasi seluas-luasnya kepada masyarakat tersebut, agar mereka bisa mendapatkan informasi-informasi yang sekiranya berguna dan dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan taraf hidupnya masing-masing. Dengan dasar ini pula berdiri begitu banyak telecenter yang saat ini dipakai untuk kepentingan pemberdayaan masyarakat di daerah-daerah.

Namun, dalam perkembangannya, media-media saat ini lebih cenderung mengedepankan logika bisnis daripada logika sosial. Donny Gahral, seorang filsuf dari Universitas Indonesia, pernah mengatakan bahwa aspek komunikasi yang diusung oleh media saat ini tidak lagi berkutat pada kebenaran, melainkan lebih kepada praktek-praktek persuasi demi kekuasaan ekonomi dan politik.

Advertorial merupakan salah satu produk dari pergeseran logika ini. Berasal dari penggabungan kata advertensi dan editorial, teknik pengiklanan ini ingin mengaburkan batas-batas antara kebenaran dan promosi, sehingga audiens sulit membedakan mana iklan mana berita. Ujung-ujungnya, teknik ini diharapkan dapat mendongkrak daya persuasi sebuah iklan lewat penyusupan kaidah-kaidah jurnalisme.

Pasokan berita yang digulirkan terus menerus tanpa henti berdasarkan naluri konsumsi audiens juga merupakan bentuk pengkhianatan halus terhadap logika sosial, yang seharusnya dikedepankan media. Media cenderung lebih rela melayani nafsu audiens untuk melahap sajian-sajian gosip, sinetron, reality show, dan sebangsanya, daripada memberikan sajian-sajian yang memuat unsur edukasi yang memberdayakan. Kalau dicermati, hampir 70 persen sajian media saat ini hanya berkutat pada isu-isu selebriti, kekerasan, pornografi, dan politik harian (Kompas, 11 Juni 2007). Orientasi media hanya terfokus pada pencapaian angka-angka statistik yang fantastis untuk mengejar rating dan duit dari setiap spot iklan.

Di tengah disorientasi yang dialami oleh media seperti saat ini, nafas media alternatif yang mengusung nilai-nilai edukatif yang memberdayakan sangat diperlukan, terutama dalam konteks pemberdayaan masyarakat. Bukan untuk mengalahkan media-media dengan muatan hedon — karena hal tersebut adalah utopis dan tidak realistis, melainkan hanya untuk mengimbanginya saja.

Teknologi internet mampu untuk memfasilitasi hal ini karena dengan internet, untuk membuat sebuah media alternatif adalah sesuatu yang sangat mudah dilakukan. Media tersebut dapat berupa web statis, blog, milis, maupun forum. Terserah, ada banyak alternatif yang bisa dipilih.

Mau beralasan bahwa muatan yang edukatif cenderung sulit “dijual” karena tidak menarik?

IlmuKomputer.com bisa dijadikan contoh. Media pembelajaran elektronik ber-platform blog ini bisa tetap eksis dan terus berkembang, meskipun muatan yang diusung berkutat pada teknologi informasi dan pendidikannya, sesuatu hal yang sering dianggap njlimet alias rumit oleh banyak orang. Dari sisi kemanfaatan pun, IlmuKomputer.com sudah diakui dunia. Terbukti dari penghargaan yang dianugerahkan PBB pada acara World Summit on Information Society tahun 2003 di Jenewa, Swiss.

Posted by STR on Monday, 26 November 2007, in his Work column.

No comments yet. Say something!


Leave a Comment

Ingin Buat Universitas IlmuKomputer.com · Berbeda