Hari ini aku sempat iseng membuka Flexible Learning UKSW, salah satu situs pembelajaran elektronik milik kampusku. Situs itu menggunakan Moodle sebagai platform mesin penggeraknya. Sebetulnya, aku lebih suka platform blog WordPress untuk platform situs pembelajaran elektronik, seperti yang ada di Jaringan Pengetahuan Satya Wacana dan IlmuKomputer.com. Sistem manajemen konten WordPress aku lihat lebih bebas daripada sistem manajemen kursus Moodle. Belajar tak perlu pakai kelas, course creator, dan sebagainya. Tapi ya sudah. Wong UKSW maunya pakai Moodle. Mau gimana lagi?
Aku masuk log ke FLearn UKSW pakai nama pengguna dan kata sandi milik Kiko, salah satu wartawan Scientiarum. Aku sendiri tak punya akses log karena matakuliah Produksi Iklan Cetak yang aku ambil semester ini di FISIPOL tak menggunakan FLearn sebagai komplemen perkuliahan.
Kemarin, Kiko telah memberitahu aku nama pengguna dan kata sandinya. Ini baru namanya teman. Hehehe …. Jadi bisa kuliah gratis nih! :)
Begitu masuk log, aku langsung mencari menu matakuliah dari Fakultas Teknologi Informasi. Lalu aku pilih jurusan sistem informasi. Di sana ada matakuliah Knowledge Management yang diampu Johan Tambotoh, orang yang pertama kali mengenalkan manajemen pengetahuan kepada aku.
Aku masuk ke matakuliah itu dan sempat membaca-baca materi pertamanya, yang disajikan dalam bentuk PDF.
Dari materi itu, aku mendapat informasi bahwa manajemen pengetahuan muncul karena adanya tantangan-tantangan dalam era perekonomian pengetahuan. Era ini adalah kelanjutan dari era-era perekonomian sebelumnya: era pertanian dan era industri.
Apa saja tantangannya?
Ada kolaborasi, inovasi, adaptasi, penguasaan teknologi dan pasar, serta pengelolaan aset-aset intelektual perusahaan. Lima tantangan ini harus dijawab kalau sebuah perusahaan ingin eksis dalam persaingan era pengetahuan seperti sekarang.
Kalau keunggulan kompetitif pada era pertanian diperoleh dengan kepemilikan tanah yang luas, maka, pada era pengetahuan, keunggulan kompetitif diperoleh dengan kepemilikan jaringan pengetahuan yang luas. Itulah sebabnya, keberhasilan organisasi dalam melakukan kolaborasi pengetahuan dan pengelolaan aset intelektual menjadi salah satu bagian vital untuk meningkatkan daya saing.
Kedua hal tersebut akan memampukan sebuah organisasi untuk menciptakan inovasi, beradaptasi dengan dinamika persaingan, dan mengetahui apa yang harus diperbuat untuk menguasai teknologi dan kemauan pasar.
Nah, kolaborasi pengetahuan dan pengelolaan aset intelektual dapat dilakukan dengan memanfaatkan teknologi informasi. Tapi, tanpa teknologi informasi pun, kolaborasi dan pengelolaan pengetahuan tetap dapat dijalankan. Mereka tidak tergantung dengan keberadaan teknologi informasi, tapi akan lebih baik dan mudah jika keduanya digarap dengan teknologi informasi.
Kok bisa? Ya bisa.
Empat tahap dalam manajemen pengetahuan adalah internalisasi, sosialisasi, eksternalisasi, dan kombinasi.
Internalisasi adalah proses peresapan pengetahuan ke dalam pikiran. Dalam proses ini, pengetahuan eksplisit (kelihatan, biasanya dalam bentuk simbol dan kode) diubah ke dalam bentuk tasit (tak kelihatan). Contoh internalisasi adalah membaca buku, cetak maupun digital. Buku cetak tentu tak perlu dihadirkan dengan teknologi informasi. Sedangkan buku digital atau elektronik memerlukan teknologi informasi.
Sosialisasi sama saja. Proses ini kan intinya sama dengan saling bertukar pengetahuan lewat komunikasi dua arah. Kalau komunikasi dua arah itu dilakukan dengan tatap muka, jelas tak perlu teknologi informasi. Ngomong saja langsung. Tapi kalau komunikasi dua arah dilakukan lewat sambungan internet atau telepon (misalnya), maka jelas bahwa teknologi informasi menjadi dibutuhkan.
Eksternalisasi pun begitu. Salah satu cara untuk mengeluarkan pengetahuan tasit menjadi eksplisit adalah dengan menulis. Kalau menulisnya pakai pensil di atas selembar kertas, ya tak perlu teknologi informasi. Tapi kalau menulis di blog seperti yang aku lakukan sekarang, ya perlu teknologi informasi.
Kombinasi apalagi. Padha wae. Cari-cari referensi buku di perpustakaan kuno tak perlu pakai teknologi informasi kan? Tinggal susuri rak-rak buku dan pilih buku yang cocok. Tapi, kalau di perpustakaan online, pasti pakai teknologi informasi. Buku-buku dicari pakai sistem katalogisasi otomatis yang memudahkan pencarian. Pengunjung perpustakaan tinggal mengetik nama pengarang atau judul buku, lalu nomor indeks buku muncul di layar. Nomor indeks tinggal diberikan pada pustakawan, dan buku yang dicari pun langsung bisa di tangan.
Jadi, teknologi informasi itu penting untuk manajemen pengetahuan. Tapi ia bukan segalanya.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Duis placerat turpis quis mi mollis imperdiet. Integer luctus suscipit placerat.
1. aprilia citra dewi
31/03/2009 05:11 amshalom, moga mas satria senantiasa diberkati Tuhan dan menjadi journalis yang luarrr biasa. Imanuel