Kurikulum Berbasis Ketakutan

Di tengah sumpeknya gerbong kereta api ekonomi, saya menguping sebuah pembicaraan. Ada dua perempuan paruh baya sedang ngobrol soal rute perjalanan. Salah satu dari mereka menyebut urutan stasiun dari Bangil hingga Jember dengan saksama. Yang satunya lagi takjub alias terheran-heran.

“Kok masih hapal gitu to, mbakyu?” tanya si takjub.

“Dulu guru saya galak banget. Kalo murid nggak hapal, bisa kena pukul. Guru saya keras kalo ngajar,” jawab si hapal.

“Pantes. Makanya masih hapal. Saya dulu juga gitu. Kalo ada murid nakal dan malas belajar, dipukul pakai penggaris sampai kapok. Berarti pendidikan jaman dulu itu malah lebih bagus, ya, ketimbang sekarang? Sekarang anak-anak sekolahan sudah pada kurang ajar!”

“Lho, iya! Jaman dulu gurunya keras-keras. Muridnya pada takut semua. Nggak ada yang berani ngelawan. Tapi justru gara-gara takut itu malah jadi rajin belajar. Makanya saya masih hapal sampai sekarang.” Sedetik kemudian mukanya si hapal agak kelihatan bangga.

Saya kepingin ngakak dengar obrolan itu. Tapi berhubung saya bukan anak sekolahan lagi, saya pantang berbuat kurang ajar. Saya diam saja. Diam seribu bahasa. Saya ambil botol air dan minum seteguk, lantas mengalihkan pandangan ke luar jendela.

Di sana saya mencoba berhitung. Kira-kira ada berapa banyak orang yang bernasib sama kayak kedua orang ini, belajar karena ketakutan?

Semilyar?

Dua milyar?

Mungkin milyaran?

Saya sendiri pernah mengalami rasanya belajar karena ketakutan. Takut dimarahi guru. Takut dimarahi orangtua. Takut tidak dibelikan mainan. Takut tidak boleh keluar rumah. Takut diejek teman. Dan saat beranjak kuliah ketakutan saya bertambah. Takut tidak lulus kuliah. Takut tidak dapat gelar sarjana. Takut tidak dapat pekerjaan. Takut bermasa depan suram. Takut tidak dapat ijab sah. Takut mati sendirian. Macam-macam. Rasanya nggak enak pokoknya.

Mungkin saya tidak sendirian. Mungkin Anda juga mengalami apa yang dulu saya rasakan. Mungkin seharian pun tidak akan cukup untuk selesaikan daftar panjang ketakutan-ketakutan dalam belajar. Hampir sepanjang masa belajar di sekolah, saya dikontrol oleh ketakutan.

Saya katakan hampir karena memang tidak selamanya saya belajar karena ketakutan. Saya masih bisa ingat saat kelas 4 SD saya dan beberapa teman janjian untuk bawa buku atlas setiap hari. Pas jam istirahat datang, kami main tebak-tebakan. Kalau saya menyebut nama satu tempat di kawasan tertentu, maka tugas teman saya adalah menemukan tempat itu. Kadang pencarian sebuah tempat begitu sulit, karena butuh ketelitian dan memakan habis waktu istirahat, namun kami semua selalu merasa tertantang. Tidak ada menang dan kalah dalam permainan itu. Pernah beberapa kali kami coba mencatat siapa yang paling sering menyebut tempat yang tak bisa ditemukan. Namun akhirnya kami lupa mencatat karena keasikan memindai peta.

Tidak terasa, pengetahuan kami soal peta meningkat. Memang tidak berdampak apa-apa pada nilai kami, karena pelajaran peta buta sudah lewat. Tapi siapa peduli? Yang penting kami merasa senang. Dalam pikiran kecil saya sebagai anak SD, jauh lebih penting merasa senang daripada mendapat nilai bagus. Nilai bagus tidak selalu membuat saya senang. Kadang malah membosankan.

Saya tidak tahu pasti kenapa dulu kami senang main tebak-tebakan peta. Kalau buat saya sendiri, itu seperti jalan-jalan. Dari perbedaan warna, saya membayangkan kontur suatu daratan. Dengan bantuan legenda, saya membayangkan berbagai infrastruktur. Sisanya, ya, saya karang-karang sendiri. Orang-orangnya, pohon-pohonnya, binatangnya. Karena ada banyak peta dalam atlas, saya bisa pindah-pindah negara semudah membalik telapak tangan. Saya memulai perjalanan keliling dunia cuma sama bayangan. Imajinasi. Kebebasan.

Dan tidak ada ketakutan di situ. Mungkin itu sebabnya lambat laun, setelah saya kuliah, saya kembali berpikir seperti anak SD. Saya belajar apa yang memang saya senang. Yang tidak senang, ya, saya buang. Persetan amat sama kurikulum. Apa gunanya kurikulum kalau ternyata cuma mengerangkeng orang dalam ketakutan? Takut tidak lulus. Takut tidak dapat nilai bagus. Takut tidak sesuai standar (inter)nasional.

Hidup dalam ketakutan sama saja dengan tidak hidup. Apa gunanya punya gelar sarjana kalau dapatnya cuma gara-gara takut nggak bisa kerja? Apa gunanya seseorang memperoleh seluruh dunia tapi kehilangan nyawanya?