Lagu Kesayanganku

Aku pernah mendengar bahwa jika ada bagian tubuhmu diamputasi, kau akan tetap merasakannya ada di tempat semula selama beberapa waktu. Kupikir itu agak aneh, namun kemarin lusa aku membuktikan kebenarannya.

Sejak beberapa hari lalu aku memakai headset kemanapun, dan nyaris kapanpun. Kuputar lagu Bibo No Aozora milik Ryuichi Sakamoto nonstop. Ini kebiasaan baru bagiku, dan aku merasa agak tak nyaman. Selama ini aku sendiri selalu beranggapan bahwa orang yang suka pakai headset sambil jalan itu norak dan individualis. Aku tak mau jadi salah satu dari mereka. Tapi setelah mempertimbangkan ulang, rasanya tak semua orang punya anggapan sepertiku. Mungkin mereka hanya akan cuek. Maka headset kupasang terus, meski sedang diskusi di kelas kuliah.

Setelah tiga hari, baru aku benar-benar merasa terbiasa dan nyaman. Bibo No Aozora mungkin sekali adalah melodi terindah di planet ini. Aku bersyukur menemukannya ketika nonton filem Pathology. Lagu ini dipakai saat adegan Dr. Ted Grey mengotopsi mayat tunangannya yang jadi korban pembunuhan. Adegan itu merangkak lambat. Ada darah, namun tak menjijikkan, malah romantis. Air muka Ted yang datar dan tegar dalam adegan itu seolah memindah beban tangisan dari pundaknya ke pundak penonton.

Hidup jadi terasa lambat dalam alunan lagu ini, juga cepat. Kau akan merasa satu detik telah diperpanjang menjadi beberapa detik. Namun tatkala menengok jam, kau akan sadar bahwa satu detik itu telah memakan waktu tiga hingga empat kali lebih banyak dari yang semestinya. Di bawah pengaruh lagu ini, sensitivitas menguat di satu titik sambil melemah di titik lain. Kau jadi lebih peka terhadap tubuhmu, nafasmu, namun eksistensi liyan di sekitarmu jadi lebih samar. Buatku, ini mengasyikkan. Aku tidak terlalu peduli dengan sekitar.

Kemarin lusa aku jadi sopir seharian buat Pak Ian. Dari Salatiga, ia minta diantar ke Borobudur, lalu Bandara Adi Sucipto di Jogja. Aku mengantarnya bersama beberapa teman. Itu adalah kali pertama Pak Ian datang ke Borobudur selama di Indonesia. Semula dipikirnya bahwa ia tak akan naik ke puncak candi. Namun tiap kali naik satu tingkat, tingkat atasnya terlihat sangat dekat, hingga akhirnya ia naik terus. Pak Ian bilang umurnya sudah 65 tahun.

Aku lupa membawa headset. Jadi, Bibo No Aozora di ponsel tak kuputar karena menurutku akan mengganggu orang lain di mobil. Lagipula kualitas suara ponselku jelek. Lagipula sekarang aku lebih suka mendengarkan lewat headset; rasanya seperti kena injeksi langsung ke pusat kepalamu.

Setelah meninggalkan Jogja, dan setiap orang di mobil tinggal diam, aku menyopir sendirian. Terasa ada headset terpasang di telinga kiriku dan Bibo No Aozora terputar pelan. Kuraba telinga untuk memastikan, namun nihil. Kutanya pada teman-teman, “Ada yang putar lagu?” Mereka jawab tidak. Putaran melodi itu sangat nyata, meski pelan. Ia menghilang begitu temanku di belakang memutar musik keras lewat ponselnya. Seingatku, bagian kiri belakang kepalaku terasa agak sakit hingga tiba kembali di Salatiga.

Semalam sebelum ke Borobudur aku sempat cerita soal lagu itu ke Nia. Lalu kutanya apa lagu yang lagi disenanginya sekarang. Dia jawab, Broken Vow. Saat kucari di Google, ternyata ada dua versi: Josh Groban dan Lara Fabian. Beda dua versi itu cuma pada kata “his” dan “her” di lirik. Nia lebih suka yang versi Lara Fabian, karena liriknya lebih pas buat cewek. Kutanya Nia apakah dia punya versi instrumental Broken Vow, dan dia jawab tidak. Belakangan aku lebih suka dengar lagu tanpa lirik. Kupikir itu membuka ruang lebih lebar untuk pemaknaan si pendengar. Aku merasa Bibo No Aozora adalah lagu tentang solitarianisme, sementara Kumas bilang itu lagu sedih. Baru belakangan kuketahui bahwa judul lagu itu berarti “langit biru yang indah”. Sama juga dengan Broken Vow, kurasakan melodi lagu ini bicara soal optimisme, tapi judulnya bilang ini lagu patah hati.

Dulu, waktu masih sering tidur sendiri di Scientiarum, aku suka sekali lagu Ready for a Fall dari PJ Olsson. Itu lagu patah hati, tapi aku lebih merasa itu lagu soal solitarianisme. Dengan mendengar lagu itu, aku merasa sendirian dan tidak sendirian dalam waktu yang sama. Sendirian karena memang faktanya begitu; tidak sendirian karena pelantun lagu itu mungkin merasakan hal yang sama. Sekarang aku tidak terlalu peduli lagi dengan lagu itu. Sama dengan Bibo No Aozora, kupikir aku sudah mulai bosan. Setiap kali menyukai sesuatu (atau seseorang) aku selalu berpikir akan menyukainya dalam intensitas yang sama secara konstan untuk selamanya, padahal tidak.

Bagaimana denganmu? Adakah lagu yang sedang kamu suka (atau tidak suka) sekarang? Berikan alasannya. Haha.