Lenyap Bersamamu

Yang ada hari itu hanyalah Tuhan, air terjun, kamu, dan aku. Ralat. Air terjun, kamu, dan aku. Ralat. Kamu dan aku. Maaf, ralat. Kamu. Yang ada hari itu hanyalah kamu. Sedangkan dimana aku, aku tak tahu. Mungkin hilang tersesat di mata coklatmu.

Dan kunikmati tiap detik kehadiranmu, nonaku. Yang memercik bersama pecahan-pecahan air terjun itu. Kunikmati tiap getar suaramu, nonaku. Yang mengalir bersama riak air sepanjang waktu. Air hidup, katamu.

Di situ kaubilang perasaan itu fluktuatif tak tentu. Dan aku memang tak mampu mencintai secara konstan untuk seumur hidupku. Namun jika aku mampu, aku ingin memilihmu, nonaku. Tanpa ragu.

Di setapak itu, dengan pasangan-pasangan kekasih kita bertemu. Kulempar pandangan padamu, dan kau tersenyum padaku. Tak tahukah kamu, bahwa tanganku mulai rindukan tanganmu?

Dan lagu Shania Twain yang kaunyanyikan, kuharap itu untukku. Kaubalas SMS orang-orang yang menanyakan kelenyapanmu hari itu, sambil bergumam bahwa kita lebih baik tak usah kembali. Nonaku, kuingin tinggal lenyap bersamamu.

Leave a Comment




  • Recently Written

    • Indonesia Mencari BakatBakat apa? Yang bagaimana? Yang menghibur? Apa itu hiburan? Siapa yang berhak menentukan bahwa sesuatu...
    • Mencoba MengertiKehidupan adalah puisi. Bisa dibaca, tapi sulit dimengerti. Berbahagialah mereka yang mengerti arti kehidupan.
    • Penangkal DosaAndai waktu itu Hawa lakukan itu, mungkin dia tidak akan sampai termakan bujukan ular dan...