Memberontak Dengan Keindahan

Dulu saya baca kalimat itu dalam sebuah edisi majalah Basis. Sudah lupa maksudnya apa. Tapi habis dengar-dengar lagunya John Lennon yang Imagine jadi ingat lagi kalimat itu. Memberontak dengan keindahan.

Pikir-pikir soal pemberontakan jadi ingat istilah “Pemberontakan G30S/PKI”. Banyak orang percaya, PKI pernah memberontak terhadap pemerintahan Soekarno pada 30 September 1965. Padahal kalau dipikir-pikir, cerita ini tidak masuk akal. Buat apa PKI memberontaki Soekarno kalau waktu itu Soekarno sudah mesra sekali dengan Blok Timur? Buat apa PKI memberontak kalau waktu itu PKI adalah partai paling berkuasa di Indonesia?

Pemberontakan, atau pembangkangan, lebih cocok dikenakan pada gerakan yang menentang kekuasaan. Masak yang berkuasa menentang kekuasaan? Masak PKI menentang pemerintahan Soekarno, yang notabene kekuasaannya sedang mereka pegang? Justru lebih tepat kalau dibilang bahwa PKI diberontaki pada 30 September 1965. Soalnya, dari peristiwa malam itu, ratusan ribu orang PKI langsung dituduh tanpa bukti sebagai pemberontak dan kemudian dibunuhi.

Kalau sekarang saya sebut lagunya Lennon adalah bentuk pemberontakan dengan keindahan, itu lebih karena liriknya. Kedua baru musiknya.

Pikirkan saja liriknya pada bait pertama: Imagine there’s no heaven / It’s easy if you try / No hell below us / Above us only sky / Imagine all the people living for today.

Di situ Lennon mengajak—lebih tepatnya menghasut—orang untuk mempertanyakan kepercayaan umum bahwa sorga dan neraka itu ada; bahwa Tuhan selama ini ada di atas langit; dan bahwa orang hidup untuk meraih sebuah masa depan, yang letaknya jauh—kadang jauuuh sekali hingga disebut akhirat. Akhir kehidupan. Akhir segalanya.

Kalau mau dibilang Lennon itu ateis atau agnostik, silakan. Emang kenapa? Yang lebih menarik adalah cara Lennon memberontak. Ia tidak perlu menegangkan urat saraf untuk bilang tidak pada kepercayaan umum. Ia cuma mengajak—lebih tepatnya menghasut—orang untuk “imagine”. Bayangkan.

Beda dengan memberontak, menghasut tidak cuma bisa dikenakan pada gerakan yang menentang kekuasaan. Gerakan yang mendukung kekuasaan pun bisa menghasut. Menghasut orang untuk ikut mendukung kekuasaan. Ikut menerima kepercayaan umum. Ikut-ikutan. Contoh sederhana: Banyak orang terhasut cerita bahwa PKI pernah memberontak terhadap pemerintahan Soekarno pada 30 September 1965. Yang menghasut adalah penulis buku sejarah sekolahan, dengan perantaraan para guru yang wajib digugu dan ditiru sampai termehek-mehek di kelas.

Di sinilah kelihatan pentingnya peran dunia pendidikan, yakni untuk menghasut masyarakat dan memasyarakatkan hasutan. Masyarakat dihasut agar tetap bego dan mudah dikendalikan, supaya jalannya kekuasaan makin mulus, bebas hambatan. Dan salah satu aktor utama program nasional penghasutan masyarakat ini siapa lagi kalau bukan negara.

Makanya pada bait kedua Lennon menghasut: Imagine there’s no countries / It isn’t hard to do / Nothing to kill or die for / And no religion too / Imagine all the people living life in peace.

Banyak orang mengira kita butuh negara supaya segalanya jadi teratur, aman, damai, dan sejahtera. Tidak galau dan kacau-balau. Padahal yang selama ini bikin perang-perangan sampai perang dunia adalah negara. Yang memperkaya banyak orang dengan memiskinkan lebih banyak lagi manusia adalah negara. Yang menembaki rakyatnya sendiri di Papua juga negara. Nama lengkapnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Jadi, cuma idiot yang bilang bahwa negara dibutuhkan untuk mencipta kedamaian. Mencipta kesengsaraan malah iya. Karena nggak ada ceritanya negara menyejahterakan warganya. Setiap warga negara harus mengusahakan nasibnya sendiri-sendiri supaya bisa sedikit tenang hidupnya. Kemerdekaan 1945 konon hanya mengganti satu penjajah yang seribu mil jauhnya dengan seribu penjajah yang satu mil jauhnya.

Hal-hal seperti ini tidak bisa diakui orang-orang yang sudah bego termakan hasutan negara lewat dunia pendidikan. Di sekolah orang cuma diajari bela negara, bejatnya tidak—karena semua juga sudah tahu, maklum, dan diam-diam mendukung. Toh, setelah lulus sekolah pun, orang berbondong-bondong membikin negaranya makin bejat, sadar atau tidak.

Orang yang terhasut agama sama saja. Mereka pikir agama diperlukan sebagai tuntunan supaya orang jadi baik, rukun, dan cinta damai. Omong kosong. Apa orang sudah nggak bisa mikir pakai otaknya sendiri bahwa membunuh itu jahat? Bahwa perang itu merugikan? Dan bahwa korupsi bikin bejat negara? Justru semakin orang dituntun, mereka semakin giat korupsi, perang jihad, sampai tega membunuhi PKI yang dianggap ateis demi Allah. Kenapa? Karena otaknya semakin nggak terpakai. Keburu terhasut sih.

Inilah sebabnya lagu Imagine begitu penting, karena masih banyak orang mudah terhasut kepercayaan umum, yang belum tentu sehat. Lennon tidak. Maka ia memberontak. Dengan keindahan pula. Tapi seindah apapun lagu Lennon dan sebagus apapun pesannya soal perdamaian, sampai hari ini masih bisa kita temukan orang yang menuduh Imagine sebagai lagu pemujaan setan belaka. Wajarlah, namanya juga terh-ASU-t.