Mencoba Mengerti

Ada teman SMS begini: “Kehidupan adalah puisi. Bisa dibaca, tapi sulit dimengerti. Berbahagialah mereka yang mengerti arti kehidupan.”

Dan kenapa untuk bahagia saja orang harus lebih dulu mengerti arti kehidupan? Apakah kehidupan ini punya arti? Kalau punya, apakah harus dimengerti? Lantas apa itu kebahagiaan? Apa hubungannya dengan arti kehidupan?

Dan apa pula itu arti? Apa itu kehidupan? Apa itu mengerti? Tulisan ini bisa saja dibaca, dan disalahmengerti. Apakah karena sulit dimengerti? Ini bukan puisi. Kalau mengerti tulisan ini saja tidak bisa, apa masih mungkin mengerti arti kehidupan? Dan bagaimana mungkin?

Mungkin? Apa sebetulnya arti kata ini? Ketiadaan kepastian? Apa itu kepastian? Tertutupnya kemungkinan? Apa yang pasti di dunia ini? Tuhan? Adakah orang yang mengerti Tuhan? Dan seberapa mudahkah Tuhan dimengerti, kalau dibandingkan dengan tulisan ini? Apa itu Tuhan? Haruskah dijawab pertanyaan ini? Dan kenapa tidak harus, atau harus tidak?

Apakah Tuhan memang untuk dimengerti? Apakah tulisan ini untuk disalahmengerti? Kalau menulis bahwa Tuhan tidak ada, dianggap tidak percaya Tuhan. Kalau menulis Tuhan ada, maka dianggap percaya pada Tuhan. Sebetulnya, apa itu percaya? Apakah percaya bisa dianggap sama dengan mengerti? Apakah percaya Tuhan berarti sama dengan mengerti Tuhan?

Kalau percaya sama dengan mengerti, maka kita bisa menulis SMS baru: “Kehidupan adalah puisi. Bisa dibaca, tapi sulit dipercaya. Berbahagialah mereka yang percaya arti kehidupan.” Tapi kalau tidak, kenapa ada banyak orang percaya Tuhan yang masih merasa mengerti Tuhan? Apakah Tuhan butuh dipercaya? Apakah Tuhan butuh dimengerti?

Manusialah yang butuh dimengerti. Manusialah yang butuh dipercaya. Butuh dimengerti karena mereka tidak mengerti diri mereka sendiri. Butuh dipercaya karena mereka tidak percaya diri. Maka mereka mulai percaya kepada Tuhan, karena mereka anggap Tuhan paling mengerti. Padahal, bagaimana mereka mengerti bahwa Tuhan mengerti? Apakah mereka mengerti Tuhan? Apakah mereka mengerti bahwa Tuhan adalah Yang Tak Dapat Dimengerti? Yang Tak Terjangkau Pikiran? Yang Tak Terselami?

Kalau Tuhan memang tidak terjangkau pikiran, buat apa terus menerus dipikirkan? Buat apa Tuhan dihadirkan tanpa henti ke dalam pikiran lewat beragam konsep dan dogma agama, lewat kotbah dan dakwah para pemuka? Buat apa?

Buathukmu?