Mencobai Teori Kebetulan

Belakangan ini aku sedikit “resah” melihat kelakuan beberapa mahasiswa Satya, yang dengan seenak jidatnya membenarkan (atau menyalahkan) sesuatu atas dasar teori-teori (tentang) kebenaran, tanpa sedikitpun menguji kebenaran teori itu sendiri.

Ini ibarat menudingkan (dengan pasti) sebuah tuduhan mencuri kepada seorang anak, dan langsung menjatuhkan hukuman kepadanya, semata-mata karena ayahnya dulu juga pernah mencuri — buah jatuh tak jauh dari pohon, kata orang. Sekalipun tak pernah ada bukti bahwa anak itu telah mencuri, atau anak itu benar-benar (dalam faktanya) tak pernah mencuri, penuding tuduhan dan penjatuh hukuman itu tetap ngeyel dengan penilaian mereka sendiri.

Aku akui, aku sendiri selama ini — meski selalu terdorong keinginan untuk membenarkan diri sendiri — punya kecenderungan secara sadar untuk bersepakat dengan teori korespondensi. Aku akan sepakat dengan pernyataan “Ester Sukarsih melahirkan Satria Anandita”, jika terdapat fakta bahwa Ester Sukarsih (memang) melahirkan Satria Anandita. Apa yang aku sebut dengan “fakta” sendiri adalah segala sesuatu yang an sich, yang keberadaannya tak tergantung pada kesadaran manusia. Fakta bahwa Ester Sukarsih pernah melahirkan Satria Anandita tak akan pernah bisa berubah (ataupun terhapus), sekalipun semua orang berpikir bahwa Satria Anandita lahir dari sebongkah batu. Fakta bisa saja terlupakan, atau tertutupi kebohongan, namun ia tak pernah hilang.

Kecenderunganku pada teori korespondensi mungkin saja tidak semata-mata apriori. Sejauh yang aku lihat, empat teori kebenaran lainnya akan banyak bersandar pada teori ini, meski mungkin nanti, di akhir naskah ini, muncul beberapa ketampakan bahwa teori korespondensi juga bergantung pada teori-teori tersebut secara teratur.

Kini aku beranjak dulu pada teori koherensi, yang menyatakan bahwa suatu pernyataan menjadi benar ketika ia sesuai atau koheren (secara logis) dengan pernyataan benar yang telah diketahui sebelumnya. Di sinilah mulai tampak ketergantungan teori koherensi pada teori korespondensi, karena … dengan cara apakah pernyataan yang sebelumnya itu dapat diketahui kebenarannya? Setidaknya dengan dua cara: melihat kesesuaian pernyataan itu dengan pernyataan benar yang lebih sebelumnya lagi dan atau … melihat kesesuaian pernyataan itu dengan fakta!

Contoh. Pernyataan “Satria Anandita adalah putra genetis Ester Sukarsih” akan menjadi benar hanya jika sebelumnya telah ada pernyataan benar yang berbunyi “Ester Sukarsih melahirkan Satria Anandita”, “Ester Sukarsih mengandung Satria Anandita sejak embrio hingga fetus”, dan “Satria Anandita bukanlah bayi tabung”.

Pernyataan “Ester Sukarsih melahirkan Satria Anandita” bisa dicek kebenarannya dengan melihat kesesuaiannya dengan kebenaran pernyataan “Ester Sukarsih mengandung Satria Anandita sejak embrio hingga fetus”, dan atau dengan melihat fakta empiris bahwa Ester Sukarsih (memang) melahirkan Satria Anandita; begitu pula pembuktian kebenaran dari pernyataan “Ester Sukarsih mengandung Satria Anandita sejak embrio hingga fetus”. Namun untuk pernyataan “Satria Anandita bukanlah bayi tabung”, karena tak tersedia pernyataan benar yang lebih lampau, kebenarannya hanya dapat dibuktikan dengan melihat pada fakta bahwa Satria (memang) bukan bayi tabung. Kejadian sebenarnya bisa saja lebih kompleks dari ini. Misalnya, Satria Anandita adalah bayi tabung, namun tetap merupakan putra genetis Ester Sukarsih, karena sel ovum pembentuk embrio itu berasal dari Ester Sukarsih. Tapi untuk kemudahan pembahasan, hal-hal seperti ini aku lewati saja.

Tidak semua pengandaian teori koherensi semulus contoh di atas, dimana pernyataan-pernyataannya koheren satu sama lain, dan faktual. Ketika ada kelalaian verifikasi antara pernyataan dan fakta, maka kemungkinan rangkaian pernyataan itu untuk melenceng dari fakta jadi makin besar — meski ini mungkin bukanlah masalah buat pembenaran menurut teori ini.

Contoh. Entah bagaimana, para embriolog di laboratorium mengambil sebuah embrio — yang bukan berasal dari sel ovum milik Ester Sukarsih — dari sebuah sistem kultur sel berisi ribuan embrio lain, lalu menanamnya dalam rahim perempuan itu, hingga dia mengandung selama sekitar sembilan bulan sepuluh hari, dan akhirnya melahirkan anak yang diberi nama Satria Anandita. Tak seorangpun mengetahui fakta ini, bahkan para embriolog yang merasa telah bekerja sesuai prosedur operasi standar (yang serba ketat). Ester Sukarsih dan suaminya pun tidak mendapat firasat aneh sama sekali. Mereka justru bersyukur karena mengira bahwa sepuluh bulan yang lalu mereka telah datang menyetor benih ke laboratorium terbaik di negerinya, yang tidak pernah gagal dalam melayani kliennya — sampai tiba giliran mereka.

Jika kasusnya seperti itu, apakah pernyataan “Satria Anandita adalah putra genetis Ester Sukarsih” benar? Aku cenderung untuk mengatakan tidak.

Aku harap tidak ada yang keberatan dengan contoh pengandaian di atas, yang sepenuhnya fiksi. Namun jika ada pendukung teori koherensi yang merasa tak puas, dan menuntutku untuk memberi contoh pengandaian lain (yang faktual), maka aku akan dengan senang hati menunjukkannya sebagai bukti bahwa ternyata teori koherensi masih membutuhkan legitimasi fakta untuk “menghasilkan” kebenaran.

Saudara kandung teori koherensi adalah teori konsensus. Dari lima teori kebenaran yang aku tahu, mungkin teori inilah yang paling digemari mahasiswa Satya dalam membenarkan pendapat mereka; dengan mengatakan bahwa sesuatu menjadi benar jika telah diterima dan diyakini oleh sekelompok orang (atau masyarakat) sebagai kebenaran — hasilnya adalah konsensus-konsensus dalam bentuk aturan sosial, institusi sosial, dan sebagainya. Dalam hal ini, masyarakat tersebut akan menilai benar-salah sesuatu yang hendak diterima itu berdasarkan perspektif tertentu tentang realitas, yang telah mereka terima terlebih dahulu secara apriori. Perspektif tertentu itulah yang disebut dengan paradigma atau world view.

Paradigma (atau world view) itu tadi mungkin bisa menjadi tambahan “sumber kebenaran” buat teori koherensi, sehingga pernyataan benar yang telah diketahui sebelumnya tidak hanya diketahui lewat kesesuaiannya dengan pernyataan benar yang lebih lampau, atau dengan fakta, tapi juga dengan paradigma kelompok tertentu. Makin banyak orang yang menyepakati “kebenaran” itu, makin kukuh pula posisinya sebagai yang (dianggap) benar. Tapi apakah seluruh paradigma benar-benar diterima secara apriori belaka?

Dulu paradigma fisika klasik (mekanistik) Newtonian didewa-dewakan untuk memahami realitas fisis. Tapi awal abad lalu, setelah sekelompok fisikawan menemukan realitas fisis dunia subatomik, paradigma klasik itu gugur dan digantikan oleh paradigma modern (kuantum). Ini bukti bahwa sebuah paradigma tidak bisa semata-mata diterima sebagai kebenaran secara apriori. Bagaimanapun, ia masih perlu konfirmasi realitas … korespondesi dengan fakta!

Teori yang keempat, teori pragmatis, juga tak bisa lepas dari kebutuhan akan legitimasi fakta. Teori pragmatis menyatakan bahwa sesuatu adalah benar jika ia memberi manfaat terhadap kehidupan manusia. Manfaat (atau mudarat) itu sendiri akan muncul dalam bentuk fakta, bukan?

Demikian pula teori yang terakhir, teori performatif. Sekalipun teori ini disebut-sebut sebagai opposite theory dari teori korespondensi, ia tetap membutuhkan fakta sebagai pembukti. Teori ini menyatakan bahwa sebuah proposisi adalah benar jika ia bisa menciptakan realitas yang dinyatakannya, dan bukan menyatakan realitas yang sudah ada. Tapi bukankah realitas tercipta itu sendiri adalah fakta? Proses penciptaan realitas juga sudah merupakan fakta tersendiri.

Kebenaran adalah kesesuaian dengan fakta saja, bukan? Semata-mata fakta, kalau kata iklan Suara Merdeka. Dan bukan sekadar katanya (yang mayoritas).

Tapi bagaimana caranya mengetahui fakta (yang tersurat, tersirat, maupun tertumpuk di bawah fakta-fakta atau kebohongan lain)? Bagaimana caranya merengkuh fakta objektif, yang an sich itu tadi, masuk ke dalam abstraksi pikir manusia yang subjektif sebagai hampiran realitas?

Setiap orang punya tiga alat penahu: indra, pikir, dan hati (yang bukan lever). Pilihan yang hanya terhadap tiga alat ini mungkin akan terkesan individualis bagi para epistemolog sosial, yang mengakui pula keabsahan “pengetahuan kolektif” dalam bentuk catatan lisan maupun tertulis. Biar saja. Bagiku, penting bagi seseorang untuk mengetahui sendiri, dan tidak hanya berdasarkan katanya (orangtua, orang pintar, kitab suci, de el el). Sebenarnya, belakangan aku juga mulai kenal intuisi sebagai alat penahu, tapi karena belum jelas, aku undurkan dulu dari pembahasan ini.

Orang yang membaca tulisan ini dengan sungguh-sungguh akan menggunakan ketiga alat tadi: indra, pikir, dan hati. Tulisan ini adalah sebuah fakta yang mencoba menggambarkan fakta lain, yakni pemikiran yang ada di otakku sekarang. Tulisan ini bukanlah pemikiranku. Ia hanyalah catatan tentang pemikiranku. Omongan dengan yang diomongkan sudah berbeda, bukan?

Dengan indra penglihatannya, pembaca akan membaca aksara demi aksara pada naskah ini. Fakta pertama tertangkap. Lalu dengan pikir, orang akan mengikuti uraian ini dan mencoba menangkap makna yang aku maksud. Dengan hati, orang akan mencoba merasakan emosiku yang ikut tumpah dalam tulisan ini, rasa “resah” ini. Jika dua hal tersebut terjadi sempurna, maka fakta kedua akan tertangkap seratus persen. Semuanya terjadi pada saat ini, karena tahu memang terjadi sekarang, di sini, dan begini. Kalau nanti, itu namanya rancangan, impian, atau harapan. Jika telah lampau, maka telah menjadi ingatan, kenangan, pengalaman, atau catatan. Manusia memang suka merancang masa depan, dan mengenang masa lalu.

Jelas?

Semoga jelas, karena setelah ini aku akan beringsut kepada hal-hal yang lebih samar. Karena ternyata ada keterbatasan pada tiga alat penahu individual. Dan karena itulah, teori korespondensi tidak menjadi yang tunggal.

Dengan mata normal telanjang, layar laptop di hadapanku tampak datar dan kompak sama sekali. Tak tertembus. Tapi bagi setitik virus yang menempel di layar ini, mungkin ia akan tampak seperti bangunan tak rata dan berongga, yang bisa dilewati seenaknya. Maka aku butuh mikroskop, jika ingin melihat keadaan yang “sebenarnya”. Indra manusia bisa “menyesatkan”.

Pikir juga tak luput dari kesalahan. Nalar punya keterbatasan. Maka dunia mendengar seorang Chaitin berkisah tentang “batas-batas matematika”, dan Einstein menyatakan bahwa matematika pengejar kepastian pada dasarnya sedang melepaskan diri dari kenyataan. Makin dekat matematika dengan kenyataan, makin tak pastilah ia. Logika memang tak sepenuhnya bisa mengikuti gejala sebab-akibat alam — apalagi menafsirkannya! Karena itulah kaum Buddhis mengosongkan pikir dari pikiran, sebagai jalur alternatif memahami realitas yang pada dasarnya nonverbal, nonabstrak. Karena kosong adalah isi, dan isi adalah kosong. Dalam keterisian pikir oleh pikiran, manusia melihat lebih sedikit realitas. Karena pikiran adalah polutan kesadaran.

Hal yang sama berlaku pula untuk hati manusia, yang suasananya berubah-ubah tak tentu. Dalamnya lautan bisa diukur, tapi hati orang siapa yang tahu?

Kemampuan penahu individual yang terbatas inilah yang akhirnya membuat teori korespondensi membutuhkan teori-teori kebenaran yang lain. Maka komunitas pelajar Kawruh Jiwa mengenal junggringan, kandha-takon alias tanya-jawab (tanpa guru tanpa murid, tanpa larangan tanpa amaran). Orang-orang kampus mengenal kegiatan semacam ini sebagai diskusi. Dalam manajemen pengetahuan, ia diistilahkan “sosialisasi” dan “kombinasi”. Para jurnalis mengenalnya dengan istilah “verifikasi”.

Sains berupaya mengakomodir kebutuhan ini dalam kerangka metode ilmiah: induksi-deduksi-validasi. Fakta teramati (korespondensi) boleh diinterpretasi secara induktif-deduktif (koherensi, konsensus), lalu divalidasi ulang (koherensi, konsensus, pragmatis, performatif). Manajemen pengetahuan mengenal model spiral yang terdiri dari eksternalisasi, kombinasi, internalisasi, dan sosialisasi. Kalau mau pengetahuan berkembang, ya spiral ini diputar terus. Dan putarannya tak akan pernah berhenti, seperti halnya rantai induksi-deduksi-validasi tadi. Mau tahu kenapa?

Karena dengan berbagai macam usaha seperti itu, manusia belum luput juga dari kesalahan! Fakta yang sebenarnya tak akan pernah terengkuh masuk seratus persen ke dalam abstraksi pikir manusia. Ia an sich, bukan? Ia bagaikan kaki langit yang diam, namun selalu menjauh bila terkejar. Secanggih apapun sains, ia hanya bisa memberi manusia hampiran kenyataan, dan bukan kenyataan itu sendiri. Dan karena bersifat hampiran, maka ada keterbatasan. Keterbatasan punya konsekuensi logis berupa kerendahhatian. Sayangnya manusia tak selamanya rasional. Andia, dunia pun mengenal kesombongan, kecongkakan, de el el ….

Serta penghakiman manusia oleh manusia lain.

Suatu Minggu sore, aku berjalan kaki keliling kota. Aku melihat ada banyak orang, banyak tempat, banyak urusan. Setiap orang sibuk dengan urusan masing-masing di tempat masing-masing. Aku sendiri sibuk memperhatikan mereka dari tempatku. Sedetik kemudian, aku sadar akan kayanya kenyataan. Warna-warninya elok melebihi lukisan pikiran. Sekonyong-konyong aku ingat wejangan Ki Wagiman, bahwa kasih tidak menghakimi. Ia hanya butuh melihat, menerima kenyataan, dan mengerti. Ialah alasan paling mendasar untuk terus belajar. Belajar artinya menerima kenyataan, kenyataan yang kaya itu. Maka orang Jawa mengenal ungkapan “sugih tanpa bandha” alias “kaya tanpa harta (material)”.

Masak sih?