Mendadak Mendidik

Daripada ngomong sinetron tidak mendidik, mending ngomong sama asbak. Kok bisa sinetron tidak mendidik? Apanya yang tidak mendidik?

Justru sinetron itu sangat mendidik. Mendidik orang untuk cengeng, untuk menikam teman dari belakang, untuk mengada-adakan permusuhan, dan untuk menjalani hidup sebagai drama murahan.

Jangan dikira pendidikan itu yang baik-baik saja. Buktinya, di sekolah dulu saya dapat yang namanya pelajaran MAFIA. Pelajaran ini sangat kejam karena diajarkan secara paksa dan membosankan oleh guru-guru yang kelakuannya mirip pemain sinetron. Rugi orangtua bayarin saya sekolah. Saya sendiri lebih rugi lagi karena harus buang waktu mendekam dalam penjara pikiran. Secara kita akhirnya tahu bahwa kita perlu sekolah supaya kita tahu sekolah tidak diperlukan. Ngehek.

Daripada capek-capek ngomong sinetron tidak mendidik, lebih baik matikan TV, pergi keluar jalan-jalan, pacar-pacaran, tidur-tiduran. Kalau enggak ya itu tadi, ngomong sama asbak. Tidak perlu sampai curhat di koran, apalagi jadi aktivis antisinetron yang ikut gerakan, seperti gerakan “Koin Yang Ditukar” dua tahun lalu. Ngoyoworo. Percuma. Ngehek! Kalau bener ngumpulin koin bisa mengganti gaji pemain sinetron, lha mbok bikin sinetron baru yang tidak ngehek — daripada koinnya cuma dipakai buat menyantuni pemain sinetron yang ngehek. Anies Baswedan saja tahu, daripada mengutuki kegelapan, lebih baik kita nyalakan terang. Bukankah begitu? Bukan.

Sinetron mungkin membawa pengaruh buruk bagi kehidupan orang. Tapi jangan lupa, sinetron juga mungkin cuma cerminan dari kenyataan hidup orang. Orang-orang yang ngomong sinetron tidak mendidik itu, apa hidupnya sudah lebih baik dari cerita sinetron? Kalau sudah, tentu mudah sekali mencari ide cerita baru, supaya cerita sinetron Indonesia tidak itu-itu saja dan mengada-ada.

Tapi dari kelas sinetron sampai film layar lebar, saya belum pernah dapat sinema Indonesia yang bagus beneran. Moralnya membosankan karena dibikin terlalu vulgar. Saya selalu berasa ikut kelas PPKn kalau nonton film Indonesia. Pergulatan nilainya dangkal. Cetek. Masih mending nonton Avengers. Makhluk seperti Hulk saja paham bahwa untuk bisa mengendalikan amarah, dia harus merasakan amarah itu sepanjang waktu. Beda sama film Indonesia yang cuma bisa bilang, “Kamu jangan suka marah-marah. Marah itu enggak baik. Temennya setan. Musuhnya Allah.”

Masyaoloh, Allah aja sampai disuruh ikut main film. Ngehek.

Daripada nonton film Indonesia, mending nonton bokep kalau saya. Nggak usah pusing-pusing, dan lebih mendidik. Pesan utamanya jelas. Make love not war!

Conversation

Leave your thought