Mendidik Manusia

Mendidik manusia tentu berbeda dari mendidik kambing. Kambing bukan manusia dan manusia bukan kambing, dan sebangsanya. Meskipun di kitab-kitab yang dianggap suci ada tertulis bahwa manusia itu seperti babi, keledai, serigala, domba, serigala berbulu domba, dan sebagainya, manusia tetaplah manusia. Dan kalau mau dididik juga mestinya pakai cara-cara manusia, bukan kambing.

Bagaimana caranya?

Tentu perlu tahu dulu apa itu manusia. Dan untuk tahu apa itu manusia, kita tidak harus baca buku-buku antropologi, biologi, antropobiologi, psikologi, dan logi-logi. Kalau kita yakin bahwa diri kita masih manusia—bukan jelmaan hewan, robot, atau jin—maka yang perlu kita lakukan adalah melihat ke dalam diri kita dan memahaminya. Di sanalah akan kita temukan kemanusiaan kita (kalau masih manusia).

Di sana pula kita akan lihat bahwa ternyata manusia itu bisa ngantuk, bisa lapar, bisa bosan, bisa semangat, bisa sedih, dan macam-macam. Kalau sudah ngantuk, tidurlah—bukan belajarlah. Kalau lagi lapar, makanlah—bukan belajarlah. Kalau bosan, bercintalah—bukan belajarlah. Kalau sudah semangat, baru belajarlah. Soalnya ada tertulis bahwa untuk segala sesuatu ada waktunya, untuk setiap hal di bawah langit ada saatnya. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal. Ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk. Ada waktu untuk merobek, ada waktu untuk menjahit. Ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai. Dan segala sesuatu indah pada waktunya.

Begitu pula kita dan pendidikan. Ada waktu untuk bermain, ada waktu untuk belajar. Ada juga waktu untuk malas, dan setiap kali waktu itu tiba, kita berhak untuk ngomong terus terang bahwa kita sedang malas, tidak ingin ini-itu, tidak ingin begini-begitu. Kita selalu berhak malas dan akan terus berhak sampai malas itu pergi dengan sendirinya. Tidak usah pura-pura baik dengan mengusir kemalasan. Malas itu bagian dari hidup, dan kalau kita usir, kehidupan juga lambat laun akan mengusir kita. Kita bisa mati selagi masih hidup.

Apakah sesederhana itu?

Tentu saja sesederhana itu. Apakah Anda mau yang rumit?

Kalau Anda mau yang rumit, maka jalani saja pendidikan formal yang membosankan itu. Patuhi sistem beserta perangkat aturannya. Kuliah 144 SKS selama empat tahun (atau lebih). Senin masuk kelas filsafat dan kewarganegaraan, Selasa kelas makroekonomi dan ekonomi internasional, Rabu kelas bahasa Mandarin, Kamis kelas manajemen keuangan dan penganggaran, Jumat kelas perekonomian Indonesia, dan sederet aktivitas rutin lain.

Anda harus masuk kelas filsafat, meski Anda sedang tidak ingin berfilsafat. Anda harus masuk karena Anda harus. Harus saja, tanpa perlu dipertanyakan. Dan kalau Anda tidak mengikuti keharusan itu, Anda berdosa. Bukankah pendidikan kita hari ini tidak beda jauh dari agama? Ada terlalu banyak syariat dan dogma. Kalau tidak ini-itu, tidak bisa masuk surga. Kalau tidak begini-begitu, tidak bisa jadi sarjana. Sistem pendidikan kita sudah setali tiga uang dengan sistem kepercayaan.

Anda tidak perlu bermimpi bahwa roda pendidikan kita sedang berputar mendukung jalannya demokratisasi. Justru dunia pendidikan adalah dunia yang tidak ada demokratisnya sama sekali. Dunia Facebook malah jauh lebih demokratis. Kalau Anda mau belajar berdemokrasi, lebih baik Anda main Facebook daripada masuk kelas kewarganegaraan. Di kelas, Anda cuma akan dijejali dengan teori dan konsep demokrasi, tapi di Facebook Anda akan dapat kesempatan untuk langsung berdemokrasi.

Tanpa teori.

Dan kenyataannya memang kita tidak butuh banyak teori dan dalil untuk menjalani hidup sehari-hari. Bukankah dalil yang terutama itu cuma kasih? Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

Mengasihi manusia kira-kira sama artinya dengan memperlakukan manusia selayaknya manusia. Jadi kalau si manusia sudah capek dan butuh istirahat, maka berilah waktu untuk istirahat. Bahkan mesin pun butuh istirahat. Kalau tidak, bisa rusak. Dan manusia bisa sakit plus stres. Sakit dan stres itu tidak enak. Kalau demi mematuhi sistem saja kita belajar sampai sakit dan stres, itu artinya kita belum mengasihi diri kita sendiri. Dan kalau kita belum mengasihi diri sendiri, bagaimana bisa mengasihi orang lain?

Kita sama-sama tahu bahwa sistem pendidikan kita tidak manusiawi. Kita berusaha menyangkalnya setiap hari, tapi setiap hari pula kita merasakan ketidakmanusiawiannya. Para guru dan orangtua memaksa anaknya belajar—dengan cara halus dan kasar. Si anak terpaksa belajar meski sudah capek dan bosan. Dan masyarakat tetap saja melihat bahwa kian hari anak sekolahan makin kurang ajar. Tidak bisa dinasihati pakai bahasa manusia. Bisanya dengan kekerasan. Padahal, murid-murid tidak bisa lagi dinasihati pakai bahasa manusia justru karena mereka sudah terbiasa dididik dengan cara-cara bukan manusia—apakah pemaksaan itu manusiawi?

Tapi kita juga sama-sama tahu bahwa sistem itu sudah tak terhindari. Jika kita keluar dari sistem, maka yang kita dapat adalah pengasingan. Cuma orang yang betul-betul radikal yang berhasil dapat pengakuan, dan tidak semua orang bisa radikal—entah karena bawaan lahir atau pengaruh lingkungan.

Akhirnya, kebanyakan orang memilih untuk tetap tinggal di dalam. Di antara mereka masih ada yang sok aktivis dan berseru, “Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan!” Tapi seruan itu tinggal jadi lirik klasik yang hanya asyik dilagukan tanpa dilakukan.

Mereka yang tinggal sebisa mungkin menyesuaikan diri dengan sistem yang tak manusiawi agar secepat mungkin meraih kebebasan. Namun saat mereka lulus beberapa tahun kemudian, mereka mendapati bahwa diri mereka telah “terinstitusionalisasi” sedemikian rupa. Perlu waktu dan usaha besar untuk mengembalikan kemanusiaan mereka, sementara perusahaan-perusahaan hanya mau mempekerjakan manusia—bukan robot atau lainnya. Itulah kenapa angka “pengangguran terdidik” kita sebegitu tingginya.

Ada yang keliru dalam sistem pendidikan kita, dan itu perlu diubah, meski tak seringan membalik telapak tangan. Bila berat, pelan-pelan saja.