satria.anandita.net a finish line seeking

31/07/08

Mengajar di inkubator bisnis Disperindag Jateng

Personal
S

EHARIAN INI AKU JADI INSTRUKTUR PELATIHAN perdagangan elektronik di Semarang. Ini kegiatan punya Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Tengah. Peserta yang ikut sekitar limabelas orang, kebanyakan praktisi usaha kecil menengah (UKM). Mereka ada yang dari Rembang, Wonosobo, Jepara, Ungaran, Semarang …. Dinas Perindustrian ingin UKM Jawa Tengah bisa memanfaatkan teknologi informasi untuk memajukan perdagangannya.

Pelatihan diadakan di inkubator bisnis Dinas Perindustrian, di daerah Sampangan, Semarang Selatan. Aku sempat kaget ketika tahu jadwal pelatihan direncanakan dari jam delapan pagi hingga empat sore. Jeda istirahat hanya sejam, yakni jam duabelas sampai jam satu. Aku pikir, tak ada gunanya mencekoki peserta dengan materi selama itu. Otak manusia punya batas waktu untuk belajar rata-rata 120 menit.

Aku baru memulai pelatihan jam sembilan. “Pak Teguh,” staf inkubator bisnis Dinas, minta jadwal pelatihan diundur karena banyak peserta belum datang. Aku maklum, para peserta banyak dari luar Semarang. Mereka juga sibuk sebagai pengusaha.

Aku berusaha mengenal peserta satu persatu. Aku ingin menciptakan hubungan baik agar komunikasi bisa enak dan lancar. Aku mengenalkan diri lebih dulu. Jimmy, mahasiswa Fakultas Teknologi Informasi UKSW yang jadi asisten instruktur, juga aku minta memperkenalkan diri. Aku lantas minta setiap peserta mengenalkan nama diri, nama perusahaan yang mereka wakili, dan asal mereka. Dari situ, aku bisa mengembangkan percakapan singkat dengan setiap peserta, menjalin keakraban.

“Usaha saya pengalengan makanan.” Trisila Juwantara menerangkan bisnisnya. Dia mengaku dari Wonosobo.

“Wah, berarti produksi carica dong Pak?” tanyaku.

“Iya, itu salah satunya.” Trisila bilang, dia mengelola Yuasa Food, perusahaan pengalengan makanan di Wonosobo yang memroduksi sirup carica bermerek Buavica. Aku sendiri adalah penggemar sirup carica.

Setelah berkenalan, aku minta para peserta membuat dirinya senyaman mungkin. Aku persilakan mereka mengudap, minum, dan bahkan makan. Mereka juga tak perlu duduk di belakang komputer terus, boleh jalan-jalan. Pokoknya bebas, senyaman mungkin. Aku percaya belajar dan bekerja akan lebih efektif ketika perasaan nyaman dan senang.

Meski telah mencairkan suasana dengan perkenalan dan “pembebasan,” aku agak grogi ketika hendak menyampaikan materi, yaitu pembuatan akun di situs PayPal.

Dulu aku memang sempat belajar pemasaran internet, periklanan internet, dan sebagainya (secara otodidak). Tapi area belajarku lebih fokus pada search engine optimization ketimbang online trading, yang mencakup mekanisme pembayaran faktur secara online. Paypal sendiri adalah situs penyedia jasa otomatisasi pembayaran faktur secara online yang memanfaatkan kartu kredit. Namun bagaimana rincinya aku belum tahu.

Maka mulailah aku meraba-raba saat itu juga.

Aku minta para peserta membuka www.paypal.com dan mendaftarkan satu akun PayPal bagi diri mereka. Aku beri mereka contoh pengisian formulir pendaftaran secara kilat. Jimmy keliling kelas untuk membantu para peserta yang kesulitan. Sembari menunggu mereka selesai, aku menjelajah internet dengan Google, menggali informasi mekanisme kerja Paypal dan manfaat-manfaatnya.

Sekitar setengah jam kemudian, para peserta telah berhasil membuat akun PayPal masing-masing. Mereka mulai banyak tanya.

“Mas, apa gunanya PayPal untuk toko saya?” tanya Zhakiah, salah satu peserta.

Zhakiah adalah pemilik toko Marwa, yang memperdagangkan “produk-produk muslim” seperti makanan khas Timur Tengah (kurma, kacang Arab, kismis, tiin, dan zaitun), busana muslim, serta macam-macam cinderamata dari Timur Tengah. Sejak awal Juni 2008, toko Marwa telah memiliki situs web yang berfungsi sebagai portal transaksi dagang.

Zhakiah lantas dengan bangga mendemonstrasikan kemampuan portal tersebut. Mulai dari bagaimana pembeli datang, memilih barang, mengorder, mencetak faktur, dan membayar.

“Bayarnya manual via ATM?” tanyaku pada Zhakiah.

“Iya.”

“Nah, kalau lewat PayPal, pembeli bisa langsung bayar tanpa harus ke ATM.”

“Lha terus?”

“Ya via online aja. Jadi kalau Ibu punya (akun) PayPal, itu bisa dipasang di website Ibu. Nanti pembeli bisa pilih, kalau mereka juga punya (akun) PayPal, mereka bisa bayar langsung ke PayPal Ibu. Kalau mereka nggak punya, ya berarti bayarnya manual lewat ATM.”

“Oo … jadi mereka juga harus punya (akun) PayPal?” tanya Zhakiah. Aku mengiyakan.

Pertanyaan yang ditanyakan Zhakiah muncul beberapa kali dari peserta lain. Ini karena pertanyaan Zhakiah tak aku bahas di depan kelas. Aku mendatangi peserta satu-satu. Inilah enaknya kelas kecil. Banyak mengobrol, makin akrab. Meski instruktur harus lebih punya kesabaran menghadapi setiap pribadi unik peserta.

Ada juga pertanyaan yang dibahas di depan kelas, karena pertanyaan dilontarkan saat aku lagi berada di depan. Kebanyakan soal teknis. Karena aku menjawab dari tempatku, maka peserta yang lain pun mendengar dan ikut bicara. Tapi yang merasa tak butuh, ya tak mendengar, asyik dengan komputer di depannya. Ini manusiawi.

Hanya dalam tempo dua jam, materi selesai. Aku menjawab semua pertanyaan peserta dengan tuntas. Dari pengalaman ini aku membuktikan, kelas yang bebas dan santai jauh lebih kritis dalam bertanya, daripada kelas yang dikekang banyak aturan. Diskusinya pun jauh lebih menyenangkan. Aku lalu teringat Konta Intan Damanik, dosenku di Fakultas Ekonomi UKSW. Dia ingin para mahasiswa di kelasnya kritis dan berani bicara, tapi cara dia mengajar kasar sekali, banyak marah, banyak aturan. Akhirnya, kelas jadi seperti kuburan.

.

A

KU MINTA PESERTA YANG MASIH BERMINAT BELAJAR untuk membuka www.oscommerce.com. Yang tak berminat, silakan buka yang lain (Friendster mungkin). Aku ingin mengenalkan osCommerce pada mereka, sebagai persiapan pelatihan esok hari, yang akan dipandu Hendro Steven Tampake, dosen FTI UKSW. OsCommerce adalah sebuah mesin situs sumber terbuka yang khusus untuk membangun portal dagang elektronik. Jadi ceritanya, setelah ikut dua hari pelatihan ini, para peserta diharapkan bisa membuat “toko online” masing-masing. OsCommerce jadi “toko”-nya, PayPal jadi “bank”-nya.

Sesaat sebelum jam istirahat, Johan Tambotoh — dosen FTI UKSW yang memintaku jadi instruktur pelatihan ini — menelepon. Aku terangkan, semua materi telah selesai. Bahkan aku sudah sempat jelaskan sedikit soal osCommerce. Tapi Johan ingin sesi setelah istirahat tak kosong. Setelah bicara sebentar, kami sepakat untuk memberi “materi tambahan” tentang pembuatan blog.

Rupanya ada beberapa peserta yang sudah punya blog. Setelah berembug sebentar, kami putuskan untuk belajar Blogger, layanan bloging milik Google. Blogger kami nilai paling bisa dikustomisasi meski gratisan.

Sesi siang ini sama seperti sesi pagi. Aku perlihatkan panduan kilat pembuatan blog, setelah itu aku dan Jimmy keliling kelas untuk membantu peserta, menjawab pertanyaan, dan sebagainya. Setelah semua blog peserta jadi, aku minta mereka bikin satu posting, isinya terserah. Bebas.

Lalu mereka mulai tanya-tanya soal bagaimana menyisipkan gambar, melakukan format huruf, mengubah tata letak blog, mengubah warna, dan seterusnya. Kelas yang bebas justru punya inisiatif lebih tinggi daripada kelas yang “terlalu dipasangi rel.” Aku sudah beberapa kali memberi pelatihan blog, di dalam maupun luar kampus. Tapi kelas tak pernah seaktif hari ini, karena biasanya aku akan menentir kelas dari awal sampai akhir. Aku capek, peserta capek.

Banyak yang aku pelajari hari ini. Tidak cuma soal PayPal dan perdagangan elektronik. Yang paling berharga adalah aku bisa punya perspektif baru yang lebih tajam soal bagaimana mengajar dan belajar.


3 comments

weleh2 STR…
hebat sekali kau jadi instruktur segala…

Sukses ya bro..

sedikit masukan:
IMO, setiap orang punya preferensi sendiri dalam melakukan apapun.. termasuk mengajar. Jadi kalau STR suka dengan “membebaskan”, mungkin itu metode yang nyaman bagi Anda, tapi bukan berarti itu metode yang paling baik kan?
mengenai KID, walaupun metodenya seperti itu, tapi masih tidak selalu kelas seperti kuburan kok, saya pernah mengalaminya sendiri..
FYI, KID sekarang sudah lebih toleran dan ramah dalam mengajar lho…

hehhehe


Dobleh yang baik,

Baiklah, “kuburan” hanya metaforaku saja. Setidaknya, ketika aku ikut kuliah KID, aku melihat banyak mayat hidup duduk di samping dan depan-belakang. :P

Aku senang dengar kabar bahwa dia sudah lebih toleran. Semoga nanti aku bisa buktikan sendiri di kelas.


Gravatar

ricky
14/10/08

trus bealajar dan berkarya sat, saya tahu kamu punya potensi yang sangat bagus…GBU


Leave a comment

Ulang tahun di Merbabu · Poin, apatisme, kegiatan