Mengelola Bakat PNS: Belajar dari Sumba Timur

Saya bukan orang Sumba. Juga belum pernah ke Sumba. Tapi saya beruntung punya beberapa teman orang Sumba. Dari mereka saya mendapat banyak cerita. Salah satunya soal almarhum Umbu Mehang Kunda, bupati Sumba Timur dari tahun 2000 hingga 2008.

Belum pernah saya dengar kesaksian orang yang begitu positif tentang kepala daerah di Indonesia belakangan. Kebanyakan kepala daerah kerjanya cuma keluar-masuk penjara akibat korupsi sehingga pembangunan daerahnya terbengkalai. Umbu Mehang Kunda barangkali berbeda. Dari teman-teman kuliah di Salatiga, saya mendapat gambaran sosok Umbu Mehang sebagai bupati yang becus memimpin dan pro-rakyat. Umbu Mehang dipuji karena, misalnya, pembangunan infrastruktur jalan dan listrik yang pesat di kabupatennya. “Kalau bukan karena Umbu Mehang,” kata Fredy Umbu Bewa Guty, “mungkin Sumba Timur sampai sekarang masih gelap gulita.”

Pujian lain, misalnya, datang karena komitmen Umbu Mehang dalam hal pendidikan. Pada 2008, pemerintah daerah Sumba Timur menetapkan program pendidikan gratis dari jenjang pendidikan dasar hingga menengah. Bagusnya lagi, dana yang dipakai untuk membiayai pelaksanaan program-program itu sebisa mungkin tidak diambil dari APBD, melainkan sumber-sumber dana bantuan dari pusat dan luar negeri. Tampaknya, jejaring Umbu Mehang di Jakarta cukup kuat.

Sebabnya adalah Umbu Mehang pernah menjadi anggota DPR. Selulus kuliah dari Fakultas Pertanian UKSW, Umbu Mehang bekerja sebagai pegawai negeri sipil pada Dinas Perkebunan Provinsi Nusa Tenggara Timur. Pekerjaan ini dijalaninya dari tahun 1976 hingga 1987. Pada 1996 ia menjadi wakil ketua Badan Urusan Rumah Tangga DPR dan sejak tahun 1997 menjadi ketua Komisi III. Tiga tahun kemudian, Umbu Mehang pulang ke Sumba dan menjadi bupati Sumba Timur. Beberapa teman berpendapat, Umbu Mehang sangat disegani—bahkan oleh lawan-lawan politiknya—di Sumba. “Kau baru main di Rihi Eti, Umbu Mehang sudah main di Senayan,” kata Fredy meniru satu ungkapan umum di Sumba Timur. Rihi Eti adalah nama lapangan di Waingapu, ibukota Sumba Timur. Maksudnya, Umbu Mehang bukan politikawan kaliber lokal (Rihi Eti), melainkan nasional (Senayan).

Tapi anggapan ngawur bahwa orang baik cepat mati barangkali ada betulnya. Pada 2 Agustus 2008, harian Kompas memberitakan bahwa Umbu Mehang Kunda meninggal dunia dalam usia 57 tahun karena serangan jantung. Kota Waingapu macet total karena orang-orang ingin ikut mengantar jenazah Umbu Mehang ke kampung halamannya di Rindi. “Kayak dia sudah rajanya Sumba Timur,” kata Fredy. Setahun setelah kematiannya, nama bandara Mau Hau di Waingapu diganti namanya menjadi bandara Umbu Mehang Kunda.

Gajah mati tinggalkan gading, manusia mati tinggalkan nama. Kematian Umbu Mehang Kunda mematahkan pepatah itu. Ia tidak hanya meninggalkan nama, tapi juga warisan intelektual sebuah buku berjudul Manajemen Talenta. Dalam buku inilah, kita mungkin akan temui sedikit jawaban soal bagaimana kiat Umbu Mehang Kunda mengelola organisasi pemerintahan di Sumba Timur.

Manajemen Talenta bisa disebut sesuatu yang tertunda. Pada mulanya ia adalah draf tesis Umbu Mehang Kunda pada Program Pascasarjana UKSW untuk memperoleh gelar magister manajemen. Menurut kata pengantar dari tim redaksi penerbitan buku ini, draf tesis itu sudah selesai ditulis dan siap diuji. Tapi Umbu Mehang berkehendak lain. Ia menunda maju ujian karena sebagian besar teman angkatannya belum selesai menulis tesis. Keputusan ini dipandang oleh beberapa orang sebagai wujud kesetiakawanan Umbu Mehang Kunda. Akhirnya draf tesis yang belum sempat diuji itu diterbitkan secara anumerta dengan judul Manajemen Talenta.

Inti buku Manajemen Talenta sederhana saja, yakni bagaimana mengelola sumberdaya manusia di organisasi pemerintahan Sumba Timur berdasarkan bakat masing-masing manusia. Kalau setiap manusia diberi tugas sesuai dengan bakatnya masing-masing, maka niscaya pekerjaannya akan terlaksana baik. Dan bila pekerjaan-pekerjaan terlaksana baik, maka kinerja organisasi juga akan baik.

Menurut Umbu Mehang Kunda, konsep manajemen talenta diperkenalkan oleh Lance Berger and Associates (LBA) Consulting Group setelah melakukan penelitian selama 25 tahun tentang keunggulan organisasi. Penelitian itu berkesimpulan ada enam kondisi sumberdaya manusia yang harus dipenuhi untuk mencipta dan memelihara keunggulan organisasi: (1) budaya berorientasi pada kinerja; (2) rendahnya tingkat keluar-masuk karyawan; (3) tingginya tingkat kepuasan karyawan; (4) kaderisasi sumberdaya manusia berkualitas; (5) efektifnya investasi pengembangan sumberdaya manusia; (6) seleksi dan evaluasi kinerja karyawan berbasis kompetensi.

“Penelitian tersebut juga menghasilkan kesimpulan sederhana bahwa untuk mengoptimalkan kemampuan dalam mencapai keunggulan yang langgeng, organisasi harus memiliki manajemen talenta yang proaktif dan memiliki cara yang sistimatis untuk melakukan aktivitas-aktivitas manajemen talenta tersebut,” tulis Umbu Mehang pada halaman 39.

Lantas bagaimanakah cara menerapkan manajemen talenta?

Umbu Mehang mengutip pendapat Lance dan Dorothy Berger dalam buku The Hand Book of Best Practices on Talent Management. Di sana tertulis bahwa ada empat langkah operasional bagi penerapan manajemen talenta: (1) mengembangkan skala dan alat-alat penilaian kompetensi karyawan; (2) mengembangkan alat pelatihan dan pengembangan; (3) melakukan evaluasi kinerja karyawan; (4) menyiapkan rencana tindakan.

Dalam rangka melihat penerapan manajemen talenta dan keunggulan organisasi pemerintah daerah Sumba Timur, Umbu Mehang mengumpulkan persepsi 49 orang yang terdiri dari semua pejabat eselon II, eselon III yang memimpin kantor (satuan kerja tersendiri), dan eselon III yang bekerja pada sekretariat daerah Sumba Timur.

Hasilnya adalah kesimpulan bahwa pemerintah daerah Sumba Timur telah melaksanakan langkah-langkah operasional penerapan prinsip-prinsip manajemen talenta. Kesimpulan lainnya mengatakan bahwa pemerintah daerah Sumba Timur adalah organisasi pemerintahan yang unggul, karena telah mempraktekkan pembinaan pegawai yang berorientasi pada kinerja, menekan tingkat keluar-masuk karyawan, dan seterusnya.

Saya kira sumbangan terbesar buku Manajemen Talenta adalah mendaratkan konsep manajemen talenta—yang semula hanya dipakai pada organisasi bisnis—pada organisasi pemerintah daerah Sumba Timur. Saya kira (lagi) tesis Umbu Mehang Kunda akan jadi lebih menarik seandainya ia juga mengumpulkan persepsi para pegawai negeri sipil Sumba Timur—yang jumlahnya sekitar 4.700 pada 2008—untuk menilai keunggulan organisasi dan penerapan manajemen talenta di Sumba Timur. Perlu juga dipikirkan bagaimana cara menilai keunggulan organisasi pemerintah daerah lewat persepsi masyarakat, sehingga penilaian tentang keunggulan organisasi dan penerapan manajemen talenta di Sumba Timur bisa lebih akurat. Tidak hanya dari sudut pandang pejabat eselon dan pemimpin kantor!