Mengubah Soto Menjadi Rawon

Aku bahkan tak dapat mengingat kapan kali terakhir kita makan soto. Juga rawon. Seingatku, kamu justru mengucap kalimat itu saat mengguyur sepiring nasi sop bening dengan separo isi botol kecap, “Mengubah soto menjadi rawon.”

Besar kemungkinan, kita malah belum pernah makan soto dan rawon berdua. Kamu selalu pergi makan soto dengan keluargamu, dan aku dengan teman-temanku. Sedangkan rawon itu, hampir selalu kumakan sendiri pada sebuah persinggahan bus di timur.

Tapi sudahkah kamu kuajak makan soto di tempat satu itu? Di belakang pasar sebuah kota yang kecil di kaki gunung (gunungku!). Jangan mati sebelum makan soto di situ. Datanglah ke sana saat pagi masih menggigil dan nafasmu setebal kabut. Kuah soto akan memberi kelegaan padamu.

Ah, rasanya memang belum pernah kuajak kamu ke sana. Mustahil mengambilmu dari rumah ketika hari masih buta. Mapala, Judika bilang. Dan kita hanya bercinta-cintaan sepanjang siang.

Tapi mungkin aku pernah membawamu sekali, ke sebuah warung di tengah sawah, di kaki gunung itu (gunungku!). Di sana dijual soto yang — meski mahal dan tidak terlalu enak — tetaplah soto. Aku yakin mereka punya cukup kecap untuk membuatmu mengucap, “Mengubah soto menjadi rawon.”

Begitukah?

Aku sungguh tak dapat mengingat kapan terakhir kali kita makan soto. Juga rawon. Apakah di Kafe Betawi? Jika soto Betawi yang hendak dimakan, aku ingin membawamu ke Makassar, ke tempat sobet istimiwir di Jalan Veteran. Coto dan pallu basa di kota ini boleh juga mengganti soto dan rawon di sana. Atau marilah ke Jalan Irian antara jam tiga hingga empat pagi. Kuah sop saudara akan memberimu kelegaan.