Menjawab Catatan Pinggir Nick Wiratmoko

Mas Nick,

Trims catatannya. Inilah yang saya tunggu-tunggu.

Pertama, saya memang tak tertarik untuk membuat satu konsep identitas manusia Satya Wacana secara “umum” karena itu akan jadi “bohong-bohongan” saja. Apanya yang “umum”? Bukankah semuanya penafsiran-reflektif pribadi saja? Atau hanya segelintir orang? Catatan-catatan sumber Notohamidjojo pun hanyalah hasil penafsiran pribadi, tapi kemudian dianggap “umum” dan “sah” untuk komunitas Satya Wacana, semata-mata karena dia adalah “leluhur” kita, lebih dulu ada daripada kita. Pembacaan saya seperti itu. CMIIW.

Maka yang saya coba lakukan kemarin adalah berbagi saja, bahwa saya punya konsep tentang “identitas manusia Satya Wacana” yang begini. Apa pendapat Anda dan bagaimana konsep Anda “sendiri”?

Tentu saja “sendiri”, karena setiap orang punya “kesadaran” yang bisa dipakai buat berpikir “mandiri” secara “bebas”. Menjadi tidak bebas jika kemudian kita dibayang-bayangi oleh katanya dan katanya. Katanya simbah dulu begini, katanya pakdhe dulu begitu.

Memang, mungkin judul makalah saya terlalu bombastis. Mungkin pada judul semestinya ditambahkan tanda dalam kurung: versi Satria Anandita, sebagaimana buku Kreativitas Yang Bertanggungjawab adalah kumpulan manuskrip soal identitas Satya Wacana versi Notohamidjojo. Dalam hal ini Notohamidjojo memang bisa dianggap sebagai simbah kita, pakdhe kita. Nenek moyang orang-orang Satya.

Sehingga jika apa yang Mas Nick harap dari diskusi kemarin adalah pembeberan identitas manusia Satya Wacana secara “umum”, maka jelas saya tak bisa memberikannya. Saya bukan umum, dan umum bukan saya. Saya memang tidak umum. Yang bisa saya bagi hanyalah hasil pergumulan pribadi secara Satria Anandita, yang kemudian saya tuangkan dalam konsep tertulis. Apakah ini “berguna” bagi teman-teman? Semoga. Apakah ini mau dianggap “benar” lalu diterima secara “umum” (seperti punya Notohamidjojo)? Terserah.

Bagaimanapun juga, itu cuma anggapan. Anggapan tentang konsep pula. Anggapan sendiri belum tentu benar. Konsep sendiri kaya akan keterbatasan. Konsep tertulis tentang pergumulan saya jelas lebih miskin daripada pergumulan yang saya alami. Dan karena pergumulan saya terus hidup dan berubah, maka konsep saya juga terus berubah. Itulah sebabnya saya tak ingin memegang teguh konsep apapun dari siapapun, termasuk konsep saya sendiri.

Sekadar informasi, baru hari Sabtu kemarin saya pinjam buku Kreativitas Yang Bertanggungjawab dari Yesaya. Saya pinjam yang bagian pertama saja, karena cukup tebal dan sudah pasti tak akan habis dalam sehari.

Saya seorang pembaca lambat soalnya.

Sengaja baru saya baca Sabtu kemarin — meskipun Frankie Tomasoa, seorang alumni FE UKSW angkatan 1994, pernah sarankan saya untuk baca buku Notohamidjojo itu sebelum bicara dalam diskusi kemarin — karena dulu saya sempat bilang pada Yesaya bahwa saya mau “coba-coba”. Coba-coba menginterpretasi makna Satya Wacana “sendirian”, tanpa “bantuan” buku Notohamidjojo maupun filsuf lain yang dia tawarkan waktu itu. Saya tulis sendirian dalam tanda kutip karena nyatanya dalam berproses saya tak pernah sendirian. Selalu ada pengaruh lingkungan.

Dan ternyata setelah saya baca-baca, memang ada perbedaan antara Satria Anandita (mahasiswa calon drop-out ini) dengan almarhum Oeripan Notohamidjojo (doktor kehormatan yang sekaligus rektor magnifikus pertama itu). Dan karena kami berdua sudah merupakan dua pribadi yang berbeda, maka wajar kalau konsep kami soal Satya Wacana juga beda.

Perbedaan paling frontal ada pada pemaknaan Satya Wacana, yang artinya “setia pada Firman Tuhan” itu. Notohamidjojo bilang bahwa Alkitab itulah Firman Tuhan. Dasarnya apa? Saya tidak tahu, mungkin belum menemukan. Yang terang, dalam karangan Menyegani Tuhan Itulah Pangkal Segala Pengetahuan yang termuat dalam buku itu, Notohamidjojo tidak memberi penjelasan apapun untuk pendapatnya tersebut. Klaim saja bukan?

Dan memang itulah klaim yang jamak kita temui dalam Kekristenan.

Kalau cuma klaim, saya juga bisa. Saya bisa klaim bahwa Alkitab bukan Firman Tuhan tanpa ba-bi-bu ngalor-ngidul dari A sampai dengan Z, dan selesai sudah makalah saya. Saya tidak akan kembali pada Kekristenan lagi untuk selama-lamanya. Tapi lantas dimana pertanggungjawaban akal saya kalau begitu? Kita punya akal, kan? Kenapa tidak dipakai?

Karena akal kita terbatas. Begitu kata orang-orang, termasuk para simbah dan pakdhe, juga budhe, juga Pak Tua yang nangkring terus di pikiran saya.

Tapi karena intuisi saya mengatakan bukan di sini batasnya, ya saya lanjutkan saja pencarian saya.

Dalam pencarian itu saya menemukan bahwa ternyata Alkitab bukanlah Firman Tuhan. Argumentasinya sudah saya beberkan panjang lebar dalam makalah kemarin. Alkitab hanyalah buku sejarah bagi saya. Dan karena Alkitab hanyalah buku sejarah, bagaimana kita mau buktikan benar-salahnya? Tidak bisa. Kita hanya bisa percaya. Wong semuanya sudah lewat, dan peristiwa-peristiwanya tidak kita alami sendiri. Kita hanya bisa memercayai Alkitab sama seperti kita memercayai buku sejarah dan koran-koran. Isi koran itu bisa dibilang catatan sejarah juga, sejarah kontemporer.

Dan percaya itu melulu sebuah pilihan. Kita bisa pilih untuk percaya atau tidak percaya pada, misalnya, kesaksian Alkitab soal penyaliban dan kebangkitan Yesus. Dan keputusannya bisa diambil dengan atau tanpa argumentasi. Kebanyakan orang akan ambil keputusan secara asal dan ikut-ikutan saja. Emang gue pikirin, mungkin begitu batin mereka. Dibatin saja, dan tidak usah bicara keras-keras. Karena kalau keras-keras dan didengar orang, nanti mereka bisa dicap ikut-ikutan, tidak punya prinsip, dan lain-lain. Padahal mereka memang cuma ikut-ikutan alias percaya buta.

Kalau tidak mau percaya buta, ya pakai argumentasi. Teladannya sudah diberikan Josh McDowell dan Ahmed Deedat lewat perdebatan mereka di Afrika Selatan pada Agustus 1981. Rekaman debat itu ditulis dalam sebuah transkrip, Was Christ Crucified? judulnya. Contoh lokal juga ada. Bisa dibaca pada tulisan Petrus Wijayanto soal Yesus mati Rabu sore dan bangkit Sabtu petang, lengkap bersama ringkasan kronologinya.

Tapi itu semua tidak membuktikan apa-apa, karena cuma katanya. Bacaan-bacaan itu cuma kata-kata (dan gambar). Mana faktanya? Ya tidak ada alias sudah lewat, karena memang peristiwa faktual penyaliban dan kebangkitan adanya dua ribu tahun yang lalu. Itu pun kalau ada. Kalau enggak? Semua serba kalau. Semua serba mungkin. Dan bacaan-bacaan itu memang hanya menunjukkan seberapa besar kemungkinan peristiwa-peristiwa itu telah ada dan terjadi. Ujung-ujungnya kita cuma bisa percaya (kalau mau percaya).

Beriman (kalau mau beriman).

Di sinilah akal saya menemui batasnya. Dan saya memutuskan untuk pakai jurus Lompatan Iman. Tapi sebelum lompat ada syaratnya. Saya harus merapal mantra: “Saya percaya ada orang bernama Yesus Kristus yang hidup dua ribu tahun yang lalu. Dia mati disalib, kemudian bangkit lagi.” Setelah itu saya lompat. Hop!

Sekadar informasi, lompatan saya cukup tinggi karena dulu sempat jadi anak basket.

Lompat kemana? Ya ke sini saja. Tidak ke mana-mana. Yang barusan saya lakukan adalah vertical jump. Ketika masih SMA, saya bisa nggandhol di ring basket cukup dengan melompat vertikal saja, tanpa lari. Tapi berhubung setelah kuliah saya malas olahraga, jadi yang barusan itu saya cuma sentuh jaringnya, setelah itu mendarat lagi. Dan rasanya juga biasa-biasa saja. Tidak “merinding” seperti ikut KKR yang “penuh dengan urapan Rohul Kudus”. Tidak pula “terharu biru” seperti sesi pengakuan dosa ibadah gerejawi. Dan juga tidak sama dengan “semangat” sesi-sesi praise and worship.

Namun tetap ada sensasi tersendiri.

Tadi waktu saya lompat, jantung saya berdebar-debar. Dag-dig-dug dag-dig-dug. Setelah mendarat kembali dengan selamat, debar jantung itu juga masih terasa, namun berangsur-angsur normal. Yang tinggal hanyalah “getaran”. Getaran iman. Saya merasakan bahwa saya punya iman. Sesuatu yang bertahun-tahun kandas dan koyak karena hunjaman dogma agama Kristen, kini mulai hidup lagi.

Saya bilang “lagi” karena iman itu memang sudah saya punya sejak kecil. Anak kecil seperti saya tahu Yesus itu baik. Tapi kenapa pengikutnya seram-seram? Mereka bicara soal suci dan dosa, sorga dan neraka, malaikat dan setan. Dan mereka suka pakai jubah hitam kayak hakim-hakim lalu naik ke mimbar, dan memberikan penghakiman bahwa ini “sesat”, itu “tidak sesuai dengan kehendak Tuhan”, dan sebagainya. Pokoknya serem. Tapi habis yang serem-serem, tiba-tiba suasana berubah jadi pesta pora. Orang-orang menyanyi semangat, tepuk tangan, ada organ tunggal. Pokoknya meriah. Suasana dari ekstrim ke ekstrim itu bikin saya syok berkali-kali. Saya menangis karena takut, dan tak ada orang tahu atau mau tahu. Tapi itu semua masa lalu bagi saya.

Kini iman saya hidup lagi, bergetar lagi. Bukan karena saya melompat tadi. Tapi karena sekarang saya sadar bahwa dunia yang saya hadapi bukanlah sesuatu yang pasti. Semua datang dan pergi, bergerak, berubah bentuk, owah lan gingsir, namun tetap dalam satu kesatuan. Alam semesta ini dinamis binti statis. Dan karena tak ada yang pasti, maka yang saya hadapi hanyalah kemungkinan-kemungkinan. Kemungkinan mengandung risiko. Risiko inilah yang mencumbu iman saya hingga akhirnya bergetar lagi. Hidup lagi. Bernafas lagi.

Berhadapan dengan kemungkinan membuat saya merasa bodoh. Saya merasa bodoh karena saya tahu bahwa saya tidak tahu. Saya tidak tahu apa yang berada tersembunyi di balik kemungkinan-kemungkinan itu. Padahal kemungkinan-kemungkinan adalah realitas kehidupan yang harus saya hadapi hari demi hari, detik demi detik. Akhirnya, karena saya sadar bahwa saya tidak tahu, sedangkan saya butuh tahu, maka saya mencari tahu. Bukan tahu isi, tahu pong, apalagi tahu gimbal, tapi pengetahuan.

Jadi itulah gunanya iman yang hidup dalam getaran. Selama iman saya masih bergetar, saya tahu bahwa ada risiko. Ada risiko berarti ada kemungkinan. Ada kemungkinan berarti ada misteri, ada ketidaktahuan. Dan dalam ketidaktahuan, saya butuh belajar. Mencari pengetahuan, merancah ilmu. Inilah nisbah antara iman dan ilmu.

Saya mencari pengetahuan dengan pertanyaan. Itulah sebabnya anak kecil seperti saya suka sekali bertanya. Karena mereka punya iman yang hidup dalam getaran! Iman itu mempertanyakan, bukan malah menghindari pertanyaan — karena pertanyaan tak hanya menyiratkan ketidakpercayaan, tapi juga kepercayaan. Jika saya tidak percaya pada seseorang, lantas kenapa saya mau bertanya kepadanya, mencari pengetahuan darinya? Apakah saya sedang mencari informasi yang saya sendiri tak dapat percayai?

De omnibus dubitandum. Ragukan segala sesuatu, pertanyakan segala sesuatu. Itulah cara orang beriman belajar. Pertanyakan segala sesuatu termasuk iman itu sendiri. Darimanakah iman itu berasal?

Sudah saya bilang tadi, iman muncul karena keterbatasan akal. Dan keterbatasan akal muncul karena kita menyadarinya. Saya sadar akal saya terbatas. Saya tahu saya punya akal yang terbatas. Darimanakah datangnya kesadaran itu? Darimanakah datangnya pengetahuan itu?

Aku tahu bahwa aku punya akal terbatas. Ada aku yang tahu dan aku yang punya akal terbatas. Apakah aku yang tahu bahwa aku punya akal terbatas adalah aku yang punya akal terbatas?

Lewat analogi yang saya berikan kemarin, tampak bahwa yang mengetahui beda dari yang diketahui. Yang mengetahui tidak sama dengan yang diketahui. Sehingga aku yang tahu aku punya akal terbatas tidak sama dengan aku yang punya akal terbatas. Ada dua aku dalam diri saya. Dan lewat argumentasi yang berputar ke mana-mana, saya menunjukkan bahwa ternyata sosok “aku yang tahu” itulah Tuhan sendiri. Tuhan ada dan tinggal dalam diri kita, dan karenanya Tuhan senantiasa beserta kita. Tapi apakah kita sadar akan keberadaan-Nya?

“Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji.” Itu kata-kata Paulus dalam 2 Korintus 13:5. Kali ini saya sepakat dengan rasul itu.

Orang yang menyadari keberadaan Tuhan di dalam dirinya, tahu bahwa kesadaran itu sendiri berasal dari Tuhan, dan bukan sebaliknya. Dan karena Tuhan adalah penyebab kesadaran, maka yang perlu kita lakukan hanyalah mengarahkan pikiran kepada-Nya, menangkap Firman Tuhan. Berdoa. Tuhan hanya sejauh doa. Berdoa bukan berarti lipat tangan dan tutup mata lalu mulut berkomat-kamit. Berdoa adalah menjaga pikiran agar tetap sadar di sini dan saat ini juga. Dan karena saya selalu sadar, maka doa saya tidak putus-putus seperti nafas saya juga tidak putus-putus. Itulah sebabnya ada perkataan: doa adalah nafas orang percaya.

Aku sadar bahwa aku tidak tahu. Aku sadar bahwa aku butuh tahu. Itulah contoh Firman Tuhan yang saya dapat setiap hari. Karena Tuhan tahu bahwa Satria tidak tahu, dan Tuhan juga tahu bahwa Satria butuh tahu, maka Tuhan menitahkan Satria untuk mencari tahu. Dan karena Satria mengarahkan pikirannya kepada Tuhan, maka dia menangkap Firman itu. Lalu dia memilih menjalankan titah itu, menjalankan Firman itu dengan setia. Satya Wacana. Satria pergi mencari tahu, dan dia mendapatkan pengetahuan. Jadi benarlah kata-kata Sulaiman dalam Alkitab Terjemahan Baru terbitan Lembaga Alkitab Indonesia, bahwa takut akan TUHAN, menyegani TUHAN, adalah permulaan pengetahuan. Tapi itu baru permulaan. Pengetahuan sendiri didapat ketika kita tidak lagi menyegani TUHAN, tetapi menjalankan Firman dengan setia. Satya Wacana. Setia pada Firman TUHAN.

TUHAN dan bukan Tuhan, karena Alkitab LAI memang membedakan keduanya. Tuhan hanyalah terjemahan bahasa Indonesia untuk lord, kurios, adonai, yang artinya kurang lebih adalah “majikan/tuan”. Sedangkan TUHAN adalah terjemahan yang dipakai untuk menggantikan nama Yahweh, yang memiliki makna eksistensial sebagai “Yang Ada”. Dalam konsep filsafat Kawruh Jiwa yang saya kutip kemarin, roh Yang Ada inilah yang dikenal sebagai sosok Tuhan dalam diri manusia, aku yang tahu, Aku Tukang Nyawang. Aku Tukang Memperhatikan. Dan Tuhan memang selalu memperhatikan umat-Nya bukan? Tapi apakah umat-Nya sadar bahwa sedang diperhatikan? Dan jika sadar, apakah umat tersebut mau memperhatikan perhatian Tuhan juga?

Yahweh adalah Tuhan yang dikenal Israel pada masa Perjanjian Lama. Sesembahan Abraham, Ishak, dan Yakub, juga Musa. Lalu di Perjanjian Baru kita mengenal seorang Nazaret bernama Yesus Kristus, yang mati disalib, lalu bangkit, dan terangkat ke sorga di depan publik. Yesus Kristus punya nama Ibrani, Yeshua Hamasiach. Yeshua berasal dari frasa “Yahweh shua” yang artinya “Yahweh adalah keselamatan”. Sehingga di sini saya menyimpulkan bahwa Yesus itu sendiri adalah Yahweh yang mengambil rupa manusia, untuk melaksanakan karya keselamatan bagi dunia. Dan karena Yesus adalah Yahweh dan Yahweh itu kudus, maujud dalam roh, maka Dia hadir dalam diri manusia sebagai Roh Kudus. Ketiganya ada dalam satu. Mereka tidak pisah, melainkan pilah. Esa. Maka saya percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Apa betul demikian?

De omnibus dubitandum. Ragukan segala sesuatu, pertanyakan segala sesuatu. Termasuk konsep saya sendiri. Karena dengan mempertanyakanlah kita jadi tahu bahwa konsep tersebut dibikin Satria Anandita atas dua dasar: tahu dan tidak tahu. Ada yang didapat langsung lewat pengalaman empiris. Ada yang disimpulkan dengan rasio. Tapi sebagian ada juga yang hanya percaya kata buku, kata dokumen-dokumen sejarah, dan kata orang-orang. Jadi konsep Satria tidak sepenuhnya didasarkan pada pengetahuan, tapi ada juga unsur kepercayaan.

Yang namanya percaya itu tidak tahu. Andia, orang percaya macam Satria adalah orang yang tidak tahu alias hanya mengira tahu. Dalam beberapa hal soal Yesus dan Yahweh, Satria sedang mengira tahu sejarah. Dan yang namanya mengira tahu itu belum tentu benar, meski juga belum tentu salah. Namanya juga kira-kira. Selalu ada kemungkinan. Kemungkinan mengandung risiko. Dan risiko kembali menggetarkan iman. Ternyata Satria masih perlu terus belajar dan belajar. Karena masih belajar, maka Satria tidak ingin menghakimi.

Lantas dimanakah penghakiman Satria atas identitas Satya Wacana versi Notohamidjojo, seperti yang dituduhkan itu?

Saya bahkan tidak menyinggung nama Notohamidjojo sama sekali dalam makalah kemarin. Yang saya paparkan hanyalah kesatyawacanaan riil yang saya alami masa kini dan kesatyawacanaan idiil yang saya pandang baik pada masa kini juga. Das Sein und das Sollen. Yang saya sorot adalah Satya Wacana pada dirinya sendiri, pada frasa “satya wacana”. Dan tidak pada Notohamidjojo ataupun yang lain-lain.

Tapi kenapa seolah-olah ada asosiasi antara Satya Wacana dan Notohamidjojo? Apakah Notohamidjojo identik dengan Satya Wacana? Ataukah hanya dianggap identik? Kalau iya, apakah anggapan itu sudah benar? Atau hanya dianggap benar?

Kembali pada soal coba-coba. Makalah kemarin adalah hasil coba-coba saya, dan Yesaya Sandang adalah saksinya. Dia menyaksikan saya belajar lewat proses coba-coba tersebut. Dan ternyata setelah dicoba, muncul perbedaan antara Satya Wacana versi Satria Anandita dengan versi Oeripan Notohamidjojo. Ini menunjukkan bahwa ada kemungkinan-kemungkinan lain dalam pemaknaan Satya Wacana, di luar paham Notohamidjojo.

Saya tidak lupa dengan Pak Noto, dan orang-orang juga tidak lupa mengingatkan. Motivasi saya kemarin murni coba-coba. Jadi trims boewat Mas Nick karena sudah ikut mengingatkan, karena Yesaya memberi saya waktu seminggu untuk revisi makalah ini. Dalam revisi nanti saya tidak akan tidak mencantumkan pemikiran Notohamidjojo, beserta kritik saya.

Sesungguhnya, revisi itu sedang saya cicil lewat tulisan ini. Boleh ya? :)

Kedua, saya tidak ingin membahas visi dan misi Satya yang telah ada sekarang. Buat apa? Wong pemahaman soal identitas Satya Wacana-nya saja sudah beda. Padahal mestinya, orang bicara identitas dulu, baru visi-misi. Sama seperti kesadaran yang ada terlebih dahulu mendahului pemikiran.

Pemikiran lahir dari kesadaran dan bukan sebaliknya. Karena kita sadar, akhirnya kita berpikir siapa kita, darimana kita berasal, dan kemana kita akan pergi. Dari berpikirlah kemudian kita mendapat pemahaman, dan pemahamanlah yang menyadarkan kita jika arah yang sedang kita tuju keliru. Maka ada dua kesadaran di sana: yang asali dan turunan.

Ketiga, soal creative minority. Dalam makalah saya kemarin memang tidak tersurat konsep minoritas kreatif tersebut. Namun secara tersirat sudah saya sebutkan bahwa kalau kita sadar akan identitas kita, kita akan mencari pengetahuan dengan sendirinya. Kita sadar bahwa kita tidak tahu dan butuh tahu, maka kita mencari tahu.

Yang namanya tahu itu terjadinya di sini, sekarang, dan begini. “Tahu”, tapi tentang masa depan berarti cuma rancangan. “Tahu”, tapi tentang masa lalu artinya cuma ingatan. Saya tuliskan di situ, bahwa manusia memang suka merancang masa depan dan mengingat-ingat masa lalu. Tidak ada yang salah dengan ketiganya. Kadang kita memang butuh rancangan, maka salah satu fungsi manajemen adalah perencanaan, perancangan. Dan dalam rancangan tersebut ada prediksi-prediksi yang didasarkan pada asumsi-asumsi tentang masa depan. Manusia memang cuma bisa berasumsi karena kenyataan di masa depan belum diketahui.

Begitu pula masa lalu. Yang ada hanyalah ingatan tentang masa lalu, dan bukan masa lalu itu sendiri. Kita tidak dapat menghadirkan masa lalu itu pada masa kini, sekarang. Karenanya, ada banyak orang bernostalgia untuk mengenang masa lalu. Dan kalau kebablasan, nostalgia bisa jadi nostalgila. Orang bisa gila karena mengharapkan masa lalu yang telah tiada. Padahal yang tiada itu tidak bisa diharapkan. Yang bisa diharapkan hanyalah yang ada. Saat ini, di sini, dan begini.

Sehingga kalau kita sadar kita tidak tahu dan butuh tahu, kita akan hidup di masa kini untuk mencari tahu. Untuk belajar. Belajar artinya menerima dan memahami kenyataan. Kenyataan yang ada sekarang. Dan sudah saya tuliskan di sana waktu itu, bahwa kreativitas adalah sifat alamiah manusia yang melekat karena berpikir ketika menghadapi masalah atau tantangan. Masalah adanya saat ini dan tantangan adanya di masa depan. Jadi ketika kita hidup pada masa kini, kita akan melihat keberadaan masalah sebagai bagian dari kenyataan yang sedang kita hadapi. Ketika kita melihat masalah, kita dapat mengetahui masalah. Ketika kita mengetahui masalah, kita dapat memahami masalah. Dan ketika kita memahami masalah, kita bisa memberikan solusi yang tepat sasaran. Solusi itu sendiri bisa ada karena kita selalu sadar dan belajar. Inikah yang dimaksud minoritas kreatif?

Hal yang sama juga berlaku bagi tantangan. Karena kita hidup di masa kini secara sadar, maka kita bisa merunut kejadian ke depan sesuai hubungan sebab-akibat, dan membuat prediksi, ramalan. Berdasarkan ramalan ini, kita kemudian merancang sesuatu untuk mempersiapkan diri. Merancang artinya menghasilkan rancangan. Menghasilkan adalah bentuk kreativitas. Kreativitas yang bertanggungjawab?

Sekadar informasi, saya tidak tertarik untuk mengonfrontasikan Islam dan Kristen dalam pemaknaan kata “minoritas” dalam frasa “minoritas kreatif”. Apa itu Islam? Apa itu Kristen? Agama saja bukan? Dan pemeluknya juga sama-sama manusia. Bagi saya, dikotomi Islam-Kristen tidak lagi bermakna. Tapi kalau “minoritas” tersebut diinsafi dari kenyataan bahwa jumlah orang yang sadar lebih sedikit daripada yang belum sadar, saya cenderung sepakat.

Pemahaman seperti ini tidak berangkat dari iman terhadap Alkitab. Orang yang sadar tidak akan menganggap isi Alkitab sebagai Firman Tuhan, karena dia sadar isi Alkitab hanyalah kata-kata. Dan kata-kata bukanlah fakta. Karena kata-kata bukan fakta, maka di antaranya bisa saja terdapat perbedaan. Ketika kita mendasarkan iman kita pada kesaksian Alkitab, maka itu sama saja dengan memberi cek iman kita secara cuma-cuma kepada para penulis Alkitab, para penerjemah Alkitab, para editor Alkitab, dan … percetakan Alkitab. Itulah sebabnya, orang Kristen kebanyakan akan kebakaran jenggot jika Alkitab kena kritik, karena kritik itu akan langsung mengena pada dasar iman mereka. Namun itu tidak terjadi pada orang Kristen yang telah sadar.

Orang yang telah sadar akan membawa iman mereka pada dasar paling hakiki dari diri mereka sendiri, yakni roh Tuhan yang memang telah ada dan akan selalu ada dalam dirinya sendiri. Dan jika Tuhan ada di dalam kita dan kita di dalam Tuhan, siapakah lawan kita? Pendeta berani?

Orang yang telah sadar justru akan membawa imannya keluar untuk menghadapi kenyataan, menghadapi kemungkinan-kemungkinan. Untuk belajar. Untuk menghadapi pertanyaan. Dan menjawab pertanyaan.

Saya tidak menganggap bahwa Alkitab bukanlah buku penting. Alkitab penting sebagai rujukan sejarah. Tapi ketika Alkitab ditempatkan secara konsekuen pada otoritas tertinggi, dasar iman Kristen, maka semua akan kacau balau. Bagaimanapun juga isi Alkitab hanyalah kata-kata, konsep. Sedangkan konsep diturunkan dari kenyataan. Ketika kenyataan selalu berubah, dan konsep tidak berubah, bisakah relevan? Ada banyak konsep Alkitab yang tidak lagi relevan untuk kehidupan sekarang. Baca saja kitab Imamat, dimana dikisahkan bahwa Yahweh memberikan syariat-syariat kepada Musa. Apakah kita mau anggap kitab itu sebagai Firman Tuhan? Kalau dianggap Firman Tuhan, berarti harus dijalankan mutlak. Kalau tidak, berarti kita tidak setia. Secara Tuhan sendiri yang kasih petunjuk gitu loh.

Tapi kalau kita mau bilang bahwa perintah kitab Imamat tidak perlu dijalankan karena tidak lagi relevan, sementara di sisi lain kita klaim Alkitab sebagai Firman Tuhan, berarti ada Firman Tuhan yang tak lagi relevan. Jika ada Firman Tuhan yang tidak relevan, berarti Tuhan tidak lagi relevan. Kenapa kita tidak jadi ateis saja? Jawabannya adalah karena kita tidak konsekuen.

Pada jaman Musa, memang mungkin sekali Yahweh menurunkan syariat-syariat lewat firman-Nya. Dan karena firman itu memang ada waktu itu, maka relevan pada saat itu juga. Tapi untuk kita yang hidup di jaman sekarang, firman itu sudah tidak ada lagi. Yang ada hanyalah catatan firman yang terkumpul dalam kitab Imamat itu. Karena cuma catatan, catatan masa lalu pula, maka jelas relevansinya patut dipertanyakan. Dan kita tidak bisa mempertanyakan dalam kondisi fanatik.

Fanatisme kita terhadap Alkitab pada dasarnya memperkecil kemungkinan kita untuk mendapat Firman Tuhan yang relevan dengan masa kini dari keberadaan-Nya yang saat ini, di sini, dan begini lewat kesadaran kita.

Jika kita fanatik konsekuen terhadap Alkitab, maka kita menjadi fundamentalis Alkitab. Menghakimi. Ini salah, itu benar. Ini suci, itu dosa. Ini sesat, itu berkat. Dan ketika kita menghakimi, kita sebenarnya tidak sedang belajar.

Apakah kasih menghakimi? Apakah Yesus pernah suruh orang tulis Alkitab?

Saya tidak bicara agama, tapi bicara spiritualitas. Dan saya “terpaksa” bicara spiritualitas karena bicara identitas memang tidak bisa lepas dari spiritualitas. Apa yang rohani membentuk identitas yang utuh bersama-sama dengan yang jasmani.

Agama adalah produk budaya lokal, sementara spiritualitas adalah sesuatu yang universal. Sama seperti kesadaran yang juga ada pada diri setiap manusia dan kasih yang tinggal dalam rasa. Agama Kristen yang masuk ke Indonesia adalah produk budaya Yahudi, Yunani, serta Barat. Begitu juga Alkitab.

Akulah jalan, dan kebenaran, dan hidup. Itu catatan sabda Yesus yang saya temukan di Injil Yohanes. Bukankah itu berarti orang bisa saja bertemu Yesus dalam casing non-Yahudi? Karena identitas Yahudi Yesus seperti dalam deskripsi Alkitab memang cuma perwujudan saja, dan bukan hakikat. Mungkin itulah sebabnya Universitas Harvard berani mengganti mottonya, dari yang semula adalah veritas Christo et ecclesiae (truth for Christ and Church) menjadi veritas saja, kebenaran saja. Karena kebenaran adalah sesuatu yang universal, namun casing Yahudi Yesus adalah produk budaya lokal. Jika kesaksian Injil Yohanes benar dan Yesus tidak sedang bohong, bukankah orang-orang yang mencari kebenaran pada akhirnya akan bertemu Yesus?

Maka bagi saya, Kristenisasi paling berhasil adalah yang tidak lagi menancapkan salib, apalagi mendogmakan ajaran Alkitab. Kristenisasi paling murni adalah yang membuat manusia sadar. Sadar bahwa segala sesuatu di dunia ini berubah dan tidak dapat diugemi. Karena sadar bahwa tidak ada yang dapat diugemi, maka dirinya tidak lagi melekat pada keduniawian, termasuk isi Alkitab. Yang dipegang teguh hanyalah roh Tuhan di dalam dirinya, yang memberi kesadaran, yang tak lain adalah hakikat Yesus dan Yahweh itu sendiri, yang dalam konsep filsafat Kawruh Jiwa dikenal sebagai Aku Tukang Nyawang. Aku Sejati. Yang Ada.

Apakah benar demikian? De omnibus dubitandum.

Keempat, saya tidak berhasil mencerna poin kedua Mas Nick soal tiga elemen identitas tersebut. Mohon dijelaskan ulang secara lebih sederhana, please?

Kelima, jika ingin melihat hubungan antara creative minority dengan “menyegani Yang Ada”, maka silakan tengok kembali uraian di atas soal eksistensi Yang Ada sebagai sumber kesadaran dan pengetahuan sebagai produk kesadaran.

Keenam, saya kok belum melihat perbedaan signifikan antara MKDU ranah fakultas dan lintas fakultas ya? Mungkin karena saya belum pernah mengalami sendiri yang lintas fakultas sehingga tidak punya referensi pembanding. Sekadar informasi, kelas kuliah tak lagi bermakna buat saya. Yang sebetulnya juga ingin saya propose kemarin adalah sistem belajar tanpa kelas kuliah, apalagi rel gaftar alir yang kelewat deterministik itu. Sayang waktunya terbatas. Sekadar informasi (lagi), saya merasa kelas kuliah lebih banyak mengajarkan kesabaran ketimbang ilmu di bidang studi kita masing-masing.

Ketujuh, saya sendiri tidak yakin bahwa sistem universitas dibangun atas dasar Tri Dharma Perguruan Tinggi. Saya tidak punya keyakinan untuk hal ini sehingga tidak bisa jawab.

Kedelapan, saya sepakat jika topik ini dilanjutkan pembahasannya dengan tinjauan dari berbagai sudut pandang narasumber yang berbeda. Dan memang itulah yang saya katakan di awal bukan? Apanya yang umum? Bukankah semuanya cuma hasil penafsiran-reflektif pribadi? Saya sudah katakan kata saya, lalu apa kata Anda? Ide diskusi panel boleh juga, dan kayaknya kita bakal diskusi sehari semalam deh.

Sekali lagi trims boewat Mas Nick atas catatan tertulisnya karena saya jadi bisa menjawab secara tertulis juga. Sebenarnya saya lebih suka diskusi tertulis ketimbang lisan, karena saya agak tidak terbiasa ngomong panjang lebar.

Dan mumpung saya lagi revisi, adakah kritik lainnya?

Salam,
STR

22 Comments

  1. Halo Sat,

    Lama tidak ngikuti posting dan diskusi di blog ini. Saya salut atas banyak hal yang dikemukakan dalam posting ini, menunjukkan pergulatan pikir dan rasa-mu maju untuk seseorang se-usia-mu. Namun, perkenankan saya mengajukan beberapa poin pandangan saya untuk mendapatkan tanggapan atau didiskusikan lebih jauh.

    Pertama, tentang pandanganmu tentang Alkitab. Saya juga setuju, Alkitab adalah sebuah kitab sejarah, sejarah sebuah bangsa (Israel, Perjanjian Lama) dan sejarah sebuah komunitas baru (Kristen, Perjanjian Baru). Dua sejarah ini sangat erat terkait, di antaranya di samping dalam line ke-suku2-an yang sama, juga bisa dilihat konfirmasi isi Perjanjian Lama di dalam Perjanjian Baru.

    Namun, kitab sejarah ini tampaknya harus dilihat secara berbeda dari kitab sejarah lain. Bukan sekedar mendeskripsikan apa yang terjadi, tetapi merefleksikan secara iman. Bukan sekedar mencatat apa yang dilakukan, tetapi membuat confessions. Dari antara refleksi dan pengakuan yang dibuat dalam catatan sejarah itu adalah relasi bangsa Israel itu adalah dengan Tuhannya. Catatan: Israel telah membangun satu tradisi baru dalam konteks masyarakat zamannya. Keluar dari tradisi bangsa-bangsa di sekelilingnya yang ber-tuhan banyak (paganisme), Israel hanya mengenal atau mengaku satu, yakni Tuhan atau juga disebut dengan ragam nama lainnya berdasarkan tradisi-tradisi dan bahasa-bahasa lokal, termasuk Allah. Saya sengaja menyebut nama Allah untuk menunjukkan tidak tabunya saya menggunakan nama itu, untuk merujuk pada Tuhan yang saya percayai sebagai yang berkuasa atas hidup saya. Kalau dengan begitupun salah, saya tahu Dia mengampuni saya, karena hati saya hanya terangkat pada Dia. Kita masih bisa melanjutkan debat tentang hal ini, sebagaimana di posting yang lain, tetapi rasanya biar kita fokus di tema ini deh.

    Soal posisi Alkitab sebagai buku sejarah, ulasan-ulasan seputar sejarah dalam Alkitab membuktikan bahwa ia ditulis termasuk di dalam konteks sosial politik yang tidak selalu satu, utuh. Para teolog atau mahasiswa teologia mengenal sumber-sumber Y, E, P, dan D dalam pembentukan Alkitab. Belakangan, khususnya untuk Perjanjian Baru pun muncul sumber-sumber baru (seperti Dead Sea scrolls atau kalau tidak salah disebut sumber Q, Qumran dan sumber-sumber non Kristen seperti karya sejarah milik Josephus, ahli sejarah Yahudi di abad pertama). Dengan, sumber yang berbeda-beda, para analis dokumen kuno, khususnya milik bangsa Israel menunjukkan bahwa apa yang ditulis dalam sumber-sumber itu tidak jarang bersifat “saling bertanding”, tidak selalu berarti saling meniadakan, tetapi ingin menunjukkan derajad pentingnya pengungkapan dari sudut pandangnya. Tabrakan isi tidak jarang terjadi, sehingga mungkin orang seperti Ahmed Deedat memang gampang untuk persoalkan inkonsistensi dalam Alkitab. Dalam sejarah Israel misalnya, analisis terhadap sumber2 itu menunjukkan bahwa kehidupan Israel sebagai bangsa, bahkan para pemimpinnya, juga ada dalam ketegangan-ketegangan yang kemudian berimplikasi melahirkan versi penulisan yang berbeda-beda. Namun, oleh editor atau redaktur tertentu, Alkitab perjanjian lama telah disatukan dan mengalami banyak penyelarasan dari perbedaan2 perspektif yang bersumber dari masing-masing sumber itu. Namun, kalau kita pembaca Alkitab yang kritis, mungkin masih akan menemukan perbedaan-perbedaan itu. Buku2 tertentu seperti yang ditulis oleh John Shelby Spong juga mengritik dari sudut ini dan berupaya untuk meluruskan cara pandang kita tentang Alkitab. Namun, di tengah perbedaan-perbedaan itu, Alkitab menceritakan sejarah bangsa Israel dan komunitas Kristen sebagaimana adanya, paling tidak apa yang diyakini mereka ada atau terjadi. Ada banyak pihak mengajukan keberatan, tetapi proses koroborasi (pengujian dengan membandingkan dengan ragam sumber, termasuk dengan sumber2 eksternal) menunjukkan bahwa kebenaran cerita-cerita utama bisa dipercaya. O ya, saya kira perlu dimention bahwa ada pandangan bahwa ada cerita dalam Alkitab yang diyakini para ahli lebih merupakan model kiasan, bukan cerita sebenarnya, di antaranya cerita Ayub. Sumber tertentu menyebutnya sebagai ditulis oleh sumber di luar sumber2 Y, E, P, dan D, disebut sebagai sumber protests.

    Nah, saya pribadi lebih menghargai sebuah cerita “natural” sebagaimana pengakuan pada Alkitab sebagai sebuah buku sejarah, daripada menganggapnya terlalu suci sedemikian rupa sehingga isinya selalu benar dan karenanya kita harus percaya secara literal. Saya kira posisi Alkitab tidak demikian, sekali lagi dalam pandangan saya.

    Satu hal menarik soal Alkitab adalah pembuktian keselarasan urutan cerita penciptaan Alkitab dengan temuan-temuan ilmiah, terlepas dari ada juga perdebatan atas kesimpulan itu. Penulis buku Genesis Enigma, Prof. Andrew Parker, di atas temuan keselarasan itu, mencoba menganalisis apakah penulis kitab Kejadian khususnya tentang penciptaan adalah seseorang yang telah ter-informasi oleh ilmu pengetahuan modern ketika menuliskan cerita penciptaan yang mengisi bagian terdepan Alkitab. Namun, dari analisis atas sumber-sumber di atas, waktu penulisan, dan konteks zamannya, si penulis itu berkesimpulan, TIDAK, model penciptaan versi Alkitab tidak diinformasi oleh pengetahuan modern tentang penciptaan alam semesta. Karena itu, pertanyaannya, bagaimana mungkin model urutan penciptaan serupa dengan temuan-temuan ilmiah?

    Sekali lagi, terlepas dari perdebatan2, bagi saya, hal seperti itu ikut menjelaskan kenapa Alkitab bukan sebuah buku sejarah biasa. Dia dilahirkan dari suatu perenungan dan konteks penulisan yang khusus, walaupun ia juga merefleksikan keadaan zaman dan berisi muatan-muatan kultural yang kental. Dalam suasana yang demikian, inspirasi ilahi bisa memberi pengaruh pada isi tulisan itu, daripada sekedar ditulis di atas logika intelektual belaka. Karena itu, sekalipun mengritik, banyak analis kritis Alkitab tetap menempatkan buku itu sebagai sesuatu yang lebih dari sekedar bukti sejarah, yang terus dikaji.

    Kedua, soal Notohamidjojo dan penulisan sejarah dan landasan filosofis UKSW. Lagi-lagi, soal sejarah dan refleksi, penulisan dan penerimaan cara pandang. Well, saya setuju, apa yang diterima secara resmi oleh UKSW adalah sebuah versi pandang dari seorang anak manusia bernama Oeripan Notohamidjojo. Karena itu, sah-sah saja anak zaman yang berbeda seperti seorang Satria Anandita pun merasa punya “hak” untuk melakukan interpretasi makna eksistensial Satya Wacana menurut versinya.

    Namun, itu tidak berarti bahwa lalu apa yang disusun Notohamidjojo dan yang diterima secara formal oleh UKSW adalah sebuah subjektivitas belaka dan karenanya perlu diragukan representasinya terhadap sejarah hidup UKSW. Pertama, saya kira kita tidak boleh melupakan konteks historis yang melingkupi lahir dan berkembangnya Satya Wacana, apa yang terus digumuli oleh orang seperti Notohamidjojo dan yang kemudian melahirkan suatu dokumen yang kini disebut visi – misi atau dulu lebih suka disebut idealisme Satya Wacana atau dibukukan sebagai buku, misalnya Kreativitas yang Bertanggungjawab. Bagi saya, karya pak Noto itu lahir di atas kesadaran eksistensial yang riil, makna diri sebagai institusi Kristen sebagaimana mereka yang bergumul di kala itu. Bukan mau membanding2kan secara ngawur, namun saya menilai ada beda posisi Satria yang kini juga mencoba dan telah berefleksi dengan posisi Notohamidjojo yang dulu juga mencoba dan telah berefleksi. Posisi Notohamidjojo adalah, kepadanya telah dipercayakan hidup sebuah lembaga untuk dibentuk, dipelihara, dan dikembangkannya. Pada tingkat tertentu, dia punya sesuatu sebagai resiko di tangannya dalam membentuk karakter lembaga yang dipimpinnya. Satya Wacana di kala itu suli dilepas dari pengaruh konteks sosial politik nasional Indonesia yang baru lahir sebagai negara merdeka maupun perkembangan dunia yang dicermati pak Noto, konteks perkembangan universitas-universitas secara universal, serta juga pergumulan gerakan oikomenis dan posisi UKSW sebagai sebuah lembaga Kristen bentukan gereja-gereja, dll. Konsepsi Notohamidjojo tentang UKSW adalah sebuah renungan kontekstual – historis untuk waktu yang tidak pendek. Saya kira pak Noto menulis hingga sekitar tahun 1970 (CMIIW), sejak dipercaya menjadi rektor. Saya kira hal-hal seperti itu jelas membedakan refleksinya dari refleksi seorang Satria, seorang Neil, atau siapapun yang barangkali membangun konsepsi bebas atau relatif tanpa beban.

    Satu hal lain, Notohamidjojo adalah sekaligus pemimpin formal. Apa yang dipikirkan, dirumuskan, dijalankannya telah ikut membentuk karakter UKSW dalam sejarah, untuk waktu yang cukup panjang. Jadi, baik konsepsi di atas kertas, maupun yang manifest dalam tindakan individual, maupun kelembagaan UKSW, itulah yang akhirnya dipercaya diterima sebagai pegangan resmi UKSW karena konsepsi itulah yang manifested dalam sejarah hidup UKSW. Jadi, penerimaan UKSW atas konsepsi milik pak Noto saya kira sesuatu yang wajar bahkan sebuah apresiasi yang sangat pantas.

    Namun, apakah kita tidak berhak melakukan interpretasi atau mengajukan konsepsi kita hari ini? Saya kira jelas itu tidak benar. Kita berhak, sangat berhak. Namun, sebagai sebuah rasionalitas baru tentang eksistensi sebuah lembaga yang sudah makin memapan, tentu konsepsi2 kita perlu mendapat kontestasi, termasuk terhadap konsep UKSW yang formal yang dibentuk dari perenungan Notohamidjojo. Well, secara nyata sebetulnya, kita telah atau sedang membangun konsep diri Satya Wacana melalui hidup saya setiap hari di UKSW. Misalnya, 10 tahun dari sekarang barangkali kita akan temukan wajah Satya Wacana yang lain, beda dari konsep Notohamidjojo, karena komunitas Satya Wacana, termasuk saya dan Satria, bukan saja sedang bermain konsep di aras abstrak, tetapi sedang berbuat hal-hal nyata yang ternyata tidak sejalan dengan konsep formal yang sudah diterima itu. Jadi, antara konsep formal yang diinginkan (dhi. konsep Notohamidjojo) dengan konsep nyata yang hidup dalam perilaku (konsep Satria, Neil, dan mereka yang lain) bisa jadi ada gap, bahkan gap menganga. Tanpa merumuskan secara tertulis, kita sudah melahirkan konsep berbeda, konsep baru, bisa jadi merupakan deviasi atas yang formal. Para peneliti budaya organisasi sudah banyak mendiskusikan fenomena gap budaya formal tertulis vs. budaya yang hidup nyata sehari-hari. Namun, apa yang hidup nyata belum tentu itu yang diinginkan pada tataran ideal. Nah, tentu ini suatu masalah. Ibarat mengaku meyakini A, tetapi perbuatannya Z. Namun, kembali ke soal memikirkan dan merumuskan ulang idealisme UKSW, saya kira itu sebuah tuntutan karena banyak hal berubah dan banyak hal perlu direspon menurut konsep diri yang ada serta mengubah konsep diri yang barangkali sudah kurang tepat.

    Di situlah tahun 2006 yang lalu, ketika Satya Wacana memasuki usia 50 tahun saya mengusulkan diadakannya sebuah forum dialog secara terbuka tentang identitas Satya Wacana, siapa dirinya, mau apa dia, bagaimana melaksanakannya, dan sebagainya. Saya waktu itu memberi nama keren, kalau tidak salah Satya Wacana: A Great Conversation. Sayang, usulan saya untuk diadakannya forum itu tidak diterima pemimpin formal UKSW. Yang dijalankan adalah penulisan buku refleksi perjalanan 50 tahun. Tim buku itu, termasuk saya diminta masuk di dalamnya sekembali dari Sydney, telah berupaya meminta cukup banyak orang yang merepresentasi penggalan sejarah hidup Satya Wacana untuk memaparkan dan merenungkan apa arti Satya Wacana menurut kacamata hidup dan keyakinannya. Sayang tidak semua bisa dan mau berpartisipasi. Namun, cukup banyak cerita berharga bisa kita dapatkan. Sulit untuk mengangkat label universal dari kekhususan refleksi2 pribadi, namun kami akhirnya sepakat untuk menegaskan bahwa pergumulan para aktor sebagaimana dituliskan dalam karya2 refleksi mereka itu atas tantangan dan pergumulan mereka dalam penggalan sejarah Satya Wacana adalah merupakan bentuk dari penegasan jati diri Satya Wacana sebagai creative minority. Tentu kesimpulan itu bisa jadi terburu-buru, karena belum mewakili sejarah yang lebih luas, termasuk interpretasi2 berbeda terhadap fenomena2. Nah, ini memberi ruang bahwa mekanisme refleksi itu tidak boleh berhenti di situ. Dan, karena itu ruang refleksi bagi Satria atau siapapun menjadi terbuka. Namun, baiknya itu dikonteskan dengan hasil-hasil refleksi yang lain. Konfirmasi-konfirmasi yang diperoleh tentu akan membangun sebuah pemahaman bersama, sebuah model umum bagi kita sehingga sebuah kasus refleksi tidak berarti tidak bisa menggenerate sebuah karakteristik general. Ia dapat, sejauh mendapat konfirmasi. Jika tidak, kasus itu akan tenggelam dimakan sejarah.

    Nah, dua konteks percakapan di atas, Alkitab dan UKSW, menurut saya serupa. Jika dalam sejarah muncul interpretasi-interpretasi baru, sanggupkah mereka bertahan? Jika mereka tidak mendapatkan penerimaan yang cukup, ya tentu akan ditolak eksistensinya, sekalipun secara historis mereka ada. Ada banyak interpretasi terhadap sejarah kekristenan muncul, tetapi tumbang karena tidak mampu membuktikan diri mampu mengatasi apa yang diyakini dalam sejarah yang telah dicatat dalam Alkitab. Bahkan, banyak konfirmasi yang terus diberikan untuk membuktikan bahwa Alkitab memuat kebenaran-kebenaran hakiki yang membuatnya tetap layak hidup sampai saat ini, sampai kapanpun. Semoga hal yang sama pula dengan konsep jati diri UKSW, mudah-mudahan pilihan/orientasi eksistensial yang telah diambil Satya Wacana pun mampu terus eksis, sekalipun kekritisan berefleksi di tengah dinamika perubahan sangat diperlukan untuk menguji kembali keyakinan konsep diri yang telah dibangun.

  2. Satria Anandita

    Halo Pak Neil,

    Trims atas pandangan-pandangannya. Perspektif Anda menajamkan perspektif saya. Mungkin inilah yang disebut sebagai “manusia menajamkan manusia”. Dan ternyata kita tidak perlu kelas kuliah untuk conduct penajaman ini. Meski mungkin pendapat ini bisa disanggah juga dengan bilang, “Ah, tapi kan ‘penajaman manusia’ di kelas kuliah sudah beda dari ‘penajaman manusia’ via diskusi blog.”

    Terserah. Suka-suka orangnya.

    Tidak ada poin Anda yang secara khusus ingin saya komentari. Beberapa paparan soal Alkitab (cerita kiasan Ayub, inkonsistensi isi, serta konfirmasi dari sains modern) sudah pernah saya temukan sebelumnya, meski waktu itu tidak sempat saya tulis dalam makalah yang tergesa-gesa. Tapi setidaknya, paparan itu menunjuk pada satu premis yang ingin saya kemukakan: Alkitab bukanlah sebuah buku suci.

    Dan karena Alkitab bukan buku suci, jelas Alkitab bukan Firman Tuhan. Karena Alkitab bukan Firman Tuhan, maka Satya Wacana tidak berarti “setia pada Alkitab”. Karena Satya Wacana tidak setia pada Alkitab, maka Satya Wacana tidak fanatik pada Alkitab.

    Satya Wacana justru harus melakukan kritik terus menerus untuk Alkitab.

    Kritik adalah buah pemikiran kritis. Melakukan kritik berarti melatih pemikiran kritis. Ini setidaknya sudah satu langkah konkret menuju kritis-prinsipil dan kreatif-realistis, seperti yang selalu diidam-idamkan Satya Wacana.

    Cuma itu saja. Soal Pak Noto, saya sepenuhnya sepakat dengan Anda. Perlu ada refleksi kritis yang kita lakukan terus menerus pada hari ini. Ini juga dalam rangka menjaga kesadaran kita atas identitas Satya Wacana yang sedang kita kenakan sekarang. Tapi kalau orang-orang UKSW maunya fanatik dengan Notohamidjojoisme, ya buat apa kita bikin universitas? Mending bikin lembaga bimbingan belajar aja. Dan gak usah pake label Satya Wacana. Namakan saja LBB Notohamidjojo. Selesai.

    Trims, Pak.. :)

  3. Ini komentar iseng: mas Sat kapan akan lulus? he he he… Satya Wacana akan terus ada, tapi masanya mas Sat cukup terbatas. Kan tidak ada gelar “SSW” (Sarjana Satya Wacana)… he he he… sekali lagi ini cuma intermezo just to cheer up your day :))
    Komentar seriusnya sedang disusun :))

  4. Satria Anandita

    Pak Theo,

    Saya maonya lolos saja, tidak usah lulus. Hahahaha..

  5. Slamet Haryono

    Setia kepada Apapun (Namanya) = Tidak Setia ?

    Temans… aku mau sok tau sedikit, sok teoritis, dan sok keminter….mumpung diberi kesempatan, nuwun sewu sak durunge…. :)

    Mahasiswa (Satria) dan pergumulannya
    Salut atas kemampuanmu menuliskan perjalanan, pergumulanmu ketika terjebak dalam suatu institusi pendidikan (UKSW), berusaha mengkritisi (menolak) kondisi-kondisi yang bernuansa kaku, formalitas dan birokratis, tidak seperti yang diharapkan. Kemudian mencari, bertanya-tanya tentang hal-hal mendasar mengenai UKSW, kaitannya sebagai suatu institusi pendidikan. Kebetulan saja seorang yang bernama Satria, dengan susah payah namun tetap bergairah memformulasikannya dalam bentuk tulisan yang bisa baca dan didiskusikan oleh sebagian orang. Saya menduga ada banyak mahasiswa yang juga merasakan ketidaknyamanan dengan model pendidikan yang ada (termasuk UKSW), namun mereka tidak cukup mengerti mengenai maksud dari pendidikan itu apa? dan cenderung pasrah saja dengan segala rutinitas yang sudah dianggap wajar. Masuk kuliah bayar sumbangan, sks, spp setelah itu ikut kelas, diskusi, bikin makalah, tes dan bim salabim keluarlah nilai. Setelah sekian tahun dapat memperoleh gelar sarjana sebagai tiket untuk mencari pekerjaan yang dianggap layak. Untuk membuktikan dugaan saya, baiklah teman-teman dosen atau pemerhati pendidikan silahkan membuat penelitian tentang hal itu, sumangga…

    Perlu terobosan, perlukah Fakultas Alternatif?
    Jika asumsi saya benar bahwa apa yang dirasakan Satria itu juga dirasakan mahasiswa lain pada umumnya. Tentunya Universitas tidak salah jika mulai memikirkan model pendidikan alternatif. Mempertegas ucapan Satria, mungkin perlu adanya “Fakultas Pertanyaan”, dimana mahasiswa dan dosen benar-benar dalam kedudukan yang sama dalam mengembangkan ilmu pengetahuan (magistrorum et scholarium), dosen bukan hanya sebagai reviewer buku kemudian dibuatkan hand out, atau menjadi hakim atas prestasi yang dimiliki oleh mahasiswa melalui nilai yang dikeluarkannya. Sayapun meragukan dengan apa yang dinamakan prestasi yang disimbolisasi dalam IPK.
    Mungkin akan ada yang menjawab bahwa selama ini UKSW juga sudah mempraktikkan hal itu (magistrorum et scholarium), saya masih meragukan. Memang benar ada, dan dipraktekkan tapi sebagai suatu kultur yang dominan sebagai ciri UKSW hm…sekali lagi saya meragukannya. Atau masih juga membela diri bahwa kekurangan itu terkompensasi oleh LK, maksudnya ikut terlibat aktif dalam Lembaga Kemahasiswaan. Tidak salah juga, tapi belakangan saya menganggap bahwa hal ini terkesan menggampangkan, ya seperti main-main saja. Mengikuti tradisi yang sudah-sudah, dengan harapan akan ada mahasiswa yang mendapat “pencerahan” dalam proses-proses tersebut. Di sisi lain teman-teman aktifis LK sudah dianggap miring oleh sebagian civitas academica, karena tidak mampu secara akademis maka lari dari kenyataan sehingga menyibukkan diri di LK. Sudahlah jujur saja…
    Saya tidak melihat adanya urgensi LK harus ada, terkesan hanya sekedar pelengkap yang barangkali pada titik tertentu lebih dianggap pengganggu. Bahkan sempat juga ada pemikiran dari pimpinan Universitas untuk mengkondisikan kegiatan mahasiswa dalam kelompok-kelompok bakat minat saja, sehingga saat itu terkesan LK-nya mlempem…dan terkesan memang sedang dibiarkan mati dengan sendirinya. Ya kalau memang LK sudah tidak menjawab kebutuhan-kebutuhan mahasiswa ya bubarkan saja. Dengan dibubarkannya LK akan sekaligus membuktikan betapa ampuh atau lemahnya pendidikan di UKSW. Apakah lulusannya masih bisa kritis? Apakah para sarjananya masih berhak menyandang “creative minority”? sementara yang masih menyebut-nyebut frasa tersebut hanya segelintir orang saja, terutama aktivis LK.

    Menjadi Manusia Satya Wacana?
    Saya menebak-nebak, spekulasi, mencoba ini-itu untuk mengerti dan berusaha menjadi sarjana yang “creative minority” , waktu itu. Mulai dari ikut persekutuan doa, kelompok pecinta alam, Lembaga Kemahasiswaan, kelopok diskusi, scientiarum sudah aku coba semua, tak lupa kudapan wajib 144 sks. Untung waktu itu belum ada kredit point di Fakultasku, kalau sudah ada dan sisa kredit point-nya dapat diuangkan maka Fakultas akan nombok…ha…ha….
    Itu semua hasil dari proses tebak-tebakan untuk menjadi manusia Satya Wacana. Secara kebetulan, setelah kelulusan saya, intensitas pertemuan dengan Satria, Petrus Wijayanto meningkat. Mulai membahas ini-itu, mempertanyakan ini-itu yang waktu itu sok ber-KJ (kawruh Jiwa). Rupannya wejangan-wejangan Ki Ageng Suryamentaram cukup membantu dalam memahami identitas manusia Satya Wacana. Dimana titik kritisnya adalah ketika bertemu dengan kata “Tuhan” yang dijadikan motto UKSW. Pada gilirannya nama UKSW itu sendiri menuntut konsekuensi manusia UKSW untuk setia pada firman Tuhan. Kalau Tuhannya saja tidak jelas yang mana, apakah saya masih bisa dianggap setia? Mungkin akan dijawab “ Apapun nama Tuhan-nya, minumnya tetap teh botol sosro” ha…ha… bercanda… Maksud saya, bisa saja orang menganggap nama itu tidak penting. Kata setia, ketika kepada siapa saya setia itu tidak dianggap penting. Berarti setia atau tidak setia juga tidak penting?
    Hati-hati, ini juga masalah konsep, namun bukan berarti tidak perlu berbicara konsep. Namun ketika konsep-konsep tersebut sudah dibungkus dalam kepercayaan berarti semakin dipertanyakan kebenarannya. Oleh karena itu perlu nglakoni (menjalani) ya melakukan juga mengamat-amati/menyadari/melihat/mengalami secara personal, bukan sekedar katanya.

    Beberapa kemungkinan UKSW ke depan :
    1. Mengambil Resiko minimum. Berjalan seperti apa adanya sekarang, dengan sedikit perubahan kemasan, sebagai bagian dari strategi pemasaran (menjebak calon mahasiswa untuk masuk UKSW) untuk mempertahankan eksistensi UKSW. Dengan kata lain, UKSW akan seperti garam yang menjadi tawar dan lentera yang ditaruh dibawah gantang.
    2. Moderat. Fakultas dan Progdi berjalan seperti adanya sekarang, tinggal memperkaya dengan berbagai aktifitas tambahan melalui LK, kelompok minat, pelatihan-pelatihan, serta kegiatan sejenis. Kemungkinan ini yang paling mungkin, biar tidak dianggap tidak peduli. Sekali lagi, hasilnya untung-untungan, kalau ada alumni yang sukses ya tinggal di klaim, kalau ada yang gagal ya anggap saja itu resiko dari proses seleksi alam, sudah dianggap wajar. Yang penting jumlah mahasiswa, terutama kontribusi biaya mahasiswa terus meningkat, minimal sama atau seiring dengan nilai tukar rupiah he…he….
    3. Moderat to Extreem. Secara bertahap, proses pembelajaran bukan hanya dua arah, apalagi satu arah tetapi banyak arah, tanpa guru tanpa murid. Semua adalah guru, semua adalah murid dalam mengembangkan ilmu pengetahuan. Mata kuliah, dosen, mahasiswa, metode pembelajaran adalah variabel yang cair. Meski masih dibutuhkan instrumen penilaian, namun diharapkan lulusannya bisa lebih kompetitif. Kendala terbesar justru akan mendapatkan reaksi penolakan dari mahasiswa, karena mereka sudah merasa nyaman dengan kondisi yang tidak nyaman itu.
    4. Ekstrim. “Menjadi garam dan terang dunia” tidak asal beda, tidak sekedar mengganti kemasan “tri/dwi-mester”. Pertanggungjawaban peran dan fungsi UKSW bukan sekedar ke gereja-gereja pendiri/pendukung, tetapi kepada siapa manusia UKSW memutuskan untuk setia. UKSW akan menjadi batu penjuru kebenaran untuk setia kepada (Satya Wacana = Setia kepada Firman Tuhan = Setia kepada Yahweh, lebih daripada sekedar mengkultuskan Alkitab). Tentang setia kepada Firman Tuhan, saya sependapat dengan yang dikemukakan Satria, sehingga saya tidak perlu menjelaskan disini, silahkan baca ulang saja makalah Satria yang pertama.
    Bagian-bagian mana yang harus berubah? Bukan saya yang menentukan, tapi ya manusia-manusia Satya Wacana. Mulailah dengan pertanyaan “ Kepada siapa (Apa) manusia Satya Wacana menaruh kesetiaannya?”

    Salam

    Slamet Haryono

  6. Bella Jacobs

    @ Slamet Haryono: ^_^ seandainya tidak hanya segelintir orang saja yang mampu memahami apa yang satria tuliskan .. hmm .. mungkin tidak sekedar memahami tetapi kemudian mampu menjadi agen perubahan ..
    tapi percuma juga kalau belum tau kemana tujuan perubahan ny ..

    seru kak .. ^_^
    thx buat kesempatan untuk bisa mendengar diskusi dan terlibat didalamnya ..

    pr yang ada sebaiknya mulai dikerjakan !!
    mari pahami arti satya wacana ..

    hayu diskusi lagi ..
    ^_^

  7. Satria Anandita

    @ bella: sadar dulu baru tahu tujuan. jadi, agen perubahan itu pastilah tahu tujuan. dia tahu tujuan karena sadar. dia sadar karena memang selalu ada yang memberi kesadaran (TUHAN sendiri, dan bukan konsep tentang TUHAN).

    jadi, kalo ada agen perubahan gak sadar-sadar dan gak tahu tujuan, itu namanya bukan agen perubahan, tapi agen ikut-ikutan.

  8. Bella Jacobs

    huahahah ..
    ouppzzz ..
    cip ..
    ketika sadar dan tahu kemana harus melangkah maka tidak akan asal “berjalan”
    ^_^

    jangan sampai orang buta menuntun orang buta ..
    ^_^

    thx

  9. Satria Anandita

    ya, betul. makanya gak usah ngikut satria, gak usah mbebek sama satria. jalan aja di sampingnya, supaya jalan yang dia lihat bisa kamu lihat juga. soalnya, kalo kamu jalan di belakang satria, yang keliatan cuma gundulnya doang..

    wuakakakaa..

  10. Bella Jacobs

    huaahahah ..
    iy sat .. kalu aku dibelakang bisa2 ketutup semua jalan ku yang ada didepan .. ^_^

    kelihatan gundul ny kalu aku sama tinggi denganmu .. sayang ny tidak .. hueheheh

    tapi setuju dengan refleksi yang kau ceritakan .. aku yakin banyak yang seperti mu ,,mungkin termasuk aku,, hanya saja berhenti sampai ajang curhat.

  11. Voltaire Talo

    setelah diskusi malam itu, dan beberapa notes mulai muncul ternyata saya semakin bisa melihat kesesuaian apa yang ditulis Satria dalam makalahnya dan notes dari mas Slamet apalagi ketika mencoba meliihat dari segi akademis…

    mungkin kalau kita berbicara tentang kesadaran, maka kesadaran yang dimaksud (Satri dan mas Slamet) sama seperti apa yang Paulo Freire maksudkan dengan kesadaran kritis.. yah mungkin itu yang harus dimiliki oleh manusia-manusia Satya Wacana…

    dan menyangkut kesadaran juga perlu diketahui bahwa yang dinamakan ‘kesadran’ bisa hadir dalam diri individu jika individu secra sadar melakukan refleksi terhadap dirinya sendiri (seperti apa yg dilakukan Satria..n mungkin akan dilakukan oleh saya dan mahsiswa yg lain).. sehingga pertanyaan siapa saya?, darimana saya datang?, dan kemana saya akan pergi? akan menjadi pergumulan individu dalam memahami identitasnya.. dan pertanyaan filsafat seperti itu akan berubah menjadi pertanyaan spiritual.

  12. Satria Anandita

    @ volta: jika begitu, apakah kamu bersedia menuliskan kesamaan2 dan perbedaan2 antara kesadaran yang aku maksud dengan konsep kesadaran kritis freire? aku belom pernah baca freire sama sekali.

  13. kalau makna ’satya wacana’ akan (hanya) mengikuti apa yang sudah dipaparkan oleh Pak Noto, sesuai dengan pemikiran beliau, ya sudah… nggak perlu didiskusikan lagi.. terima saja sebagai Notohamidjojoisme.

    tapi itu khan ‘katanya’ Notohamidjojo, yang mungkin masih perlu dikaji kembali, disesuaikan lagi dengan konteks yang mungkuin sudah berubah dibandingkan dengan ketika Pak Noto mengungkapkan pemikirannya… (karena Pak Noto sudah tiada, tetapi “SATYA WACANA” masih eksis hingga sekarang dan akan tetap ada di masa mendatang, entah sampai kapan)

    tentang ‘Katanya” silakan baca http://pwijayanto.salatiga.biz/?p=355

    (so.. pemikiran Satria dan teman-teman lain tetap perlu untuk semakin memahami SATYA WACANA dari berbagai sudut pandang)

  14. Friends,

    Menerima rumusan2 Notohamidjojo juga bukan berarti tidak ada kerjaan lagi. Ini pandangan yang sangat keliru, menurut saya. Ambil contoh, jika kita terima rumusan profil lulusan UKSW atau salah satu rumusan misi atau atribut visi UKSW, membentuk angkatan pemimpin yang disebut creative minority, maka apa arti creative minority, misalnya, menurut kita di zaman sekarang (silahkan bertanya juga tentang konsep2 lain seperti universitas scientiarum, magistrorum et scholarium, menjadi radar, melakukan pengajaran, pelayanan, membela keadilan, dsbnya). Notohamidjojo meminjam istilah itu (creative minority) dari Arnold Toynbee yang menulis 12 volume “A Study of History,” sebuah studi seputar maju mundurnya 21 peradaban besar di dunia. Saya belum pernah baca sendiri Toynbee dan berharap punya kesempatan membacanya, namun saya kira yang kita bisa terima adalah inti dari konsep, model atau orientasi utamanya dalam konteks yang diangkat, masyarakat dan perubahan. Masyarakat akan stagnan ketika tidak ada orang tertentu dengan karakteristik seperti creative minority itu menghembuskan angin perubahan. Jadi, konsep itu bukan sesuatu yang, misalkan, dikarang-karang semata. Memang sebagai konsep, atau label, ia pasti “dikarang”. Namun, ia diangkat dari realitas empiris yang menurut saya massif (bayangkan anda misalnya menstudikan 21 peradaban dunia). Meminjam istilah itu, pak Noto, menurut saya, diperhadapkan pada kondisi membayangkan mau apa Satya Wacana sesungguhnya setelah dia ada di bumi Salatiga, Indonesia dengan segala konteks dan tantangan di zaman lahir dan mulai bertumbuhnya. Apakah sekedar ada? Satya Wacana lahir karena misi yang diemban, paling tidak oleh sejumlah perancangnya, yang merefleksikan pergumulan orang Kristen atau gereja-gereja di zaman itu. Ingat, UKSW lahir sebagai Perguruan Tinggi Pendidikan Guru. Anda bisa membayangkan kira-kira mengapa demikian. Mengapa juga kemudian menjadi UKSW dengan 3 fakultas, bertambah dengan fakultas2 ilmu pasti alam dan seterusnya. Semua itu tumbuh sebagai respons kontekstual – historis, di atas visi dan dalam konteks misi yang diemban. Jadi, please tempatkan dalam peta yang luas, bukan masalah-masalah mikro internal UKSW semata, misalnya.

    Lebih jauh, konsep serupa creative minority pun diangkat oleh para institutionalists dengan menyebut orang2 seperti itu sebagai institutional entrepreneurs. Saya kira, studi kepemimpinan secara umum menyebut mereka pemimpin, membedakannya dari bos, manajer, atau terserah anda mau sebut apa lagi. Sebutan bisa macam-macam, tetapi kita bertemu pada karakteristik utamanya, ketika mencari siapa penggerak majunya peradaban, organisasi, dan macam-macam. Yang jelas, ada ambisi Satya Wacana untuk bukan membebek he he he (karena itu jangan merasa menjadi bebek atau mau menjadi bebek). Saya sebut ambisi, tapi jangan maknai negatif. Bagi saya itu adalah respon iman, kalau sudah terima yang terbaik, apalagi yang harus kita buat? Duduk enak? Ongkang-ongkang kaki, di tengah tantangan atau masalah2 gereja, masyarakat, dan bangsanya? Well, bayangkan pergumulan iman seorang Notohamidjojo, yang tidak cuma memikirkan diri sendiri, termasuk keselamatan pribadi misalnya.

    Lalu, kita ini hidup dalam dunia yang terus mewariskan banyak hal kepada kita, sejarah, ilmu pengetahuan, kebajikan, kebijaksanaan, dan macam-macam. Berterima terhadap sesuatu yang diwariskan dari masa lalu tidak berarti merendahkan martabat generasi penerus. Kita dan siapapun nanti punya tantangan zamannya sendiri dan menuntut kita merespon semampu kita. Jadi, mari kita fokus pada respon yang harus kita berikan hari ini pada persoalan, tantangan, atau peluang yang di depan mata kita, sambil mengingat apa mandat bagi kita sebagaimana yang diwariskan sejarah.

    Kegagalan, kalau kesimpulannya demikian, Satya Wacana mewujudkan jati dirinya menjadi seperti yang dirumuskan Notohamidjojo bukan berarti dunia kiamat. Misalnya, tidak usah jauh-jauh, ketika kita bertanya konsep magistrorum et scholarium, bayangan Anda kayak apa sih universitas yang merupakan komunitas dosen – mahasiswa, apalagi yang diterangi pengakuan iman seperti semua orang sama di depan penciptanya? Apakah kita merupakan sebuah masyarakat keilmuan yang egaliter, humble, dalam segala aspek kehidupan akademik kita? Belum atau jauh sekali dari situ. Dalam konteks itu, rumusan Notohamidjojo ada dalam konteks pandangan visioner, sesuatu tentang masa depan, sekalipun berupaya diwujudkan pada zamannya. Orang misalnya jarang menjumpai dosen dan mahasiswa bisa bercakap serius atau santai di pinggir jalan, di cafetaria di zaman lalu. Namun, itu wajah normal UKSW, paling tidak pada orang-orang tertentu. Well, saya punya kesempatan berada di Stanford University, misalnya, salah satu universitas papan atas dunia. Saya makan siang di beberapa cafetaria-nya. Perwajahan dosen – mahasiswa bercengkerama seperti itu adalah hal biasa. Di dalam kelas barangkali pun mereka berdebat, itupun tidak aneh. Jadi, itu bukan mimpi, itu salah satu karakteristik perguruan tinggi. Namun, ketika Satya Wacana yang seharusnya berada dalam konteks “makin menjadi” setelah berproses sekian lama tahun hal seperti itu ternyata tidak makin menjadi tetapi muncul jejadian yang lain, marilah kita ajukan pertanyaan2, mengapa, apa yang terjadi, bagaimana terjadinya, kapan, dan barangkali pertanyaan2 yang bisa mengajak kita menganalisis, berefleksi, dan mencari respon kita terhadap deviasi itu. Namun, Notohamidjojo telah memberi kepada kita suatu wajah yang membuat kita bisa mengenal, “oh itu UKSW!”

    Namun, saya tetap terbuka, bisa jadi kita datang dengan konsep atau model baru. Pertanyaannya, konsep atau model apa yang mau ditawarkan? Di atas dasar yang bagaimana ia dibangun. Orang dalam komunitas perguruan tinggi suka menguji sebuah konsepsi, proposisi, model, sebelum diterima. Dan, yang mengujinya pasti mendudukkan dirinya di atas sebuah model pikir yang sudah established, misalnya model jati diri UKSW versi Notohamidjojo, dalam konteks diskusi ini. Itulah kerangka institusional yang ada dan diterima, sebuah model baru pasti akan di-challenge untuk memenuhi syarat2 institusional. Karena itu, kalaupun ada sesuatu yang ditawarkan, akhirnya bisa jadi kita bertanya apa yang beda dari model yang lama? Apakah memang beda? Pertanyaan terakhir ini diajukan untuk mengingatkan kita, bahwa misalnya di dunia studi manajemen, ada banyak konsep/model ditawarkan, tetapi ketika dicari akar atau intinya ya sami mawon. Namun, industri manajemen tidak pernah berhenti me(re-)produksi konsep dan modelnya. Implikasinya, perusahaan2 gonta-ganti konsep bisnis-nya, model manajemen-nya dengan tools ini itu. Namun, ketika kita kritis bertanya, apa sih yang membedakan dirimu dari yang lain, jawaban orang kembali kepada karakteristik2 kunci tertentu yang memiliki sifat lintas waktu, tempat, walau dengan berbagai variasi2 di sana sini. Jadi, dalam cukup banyak, seolah-olah perubahan sangat cepat, fundamental, tetapi dalam banyak hal kita pada akhirnya membenarkan prinsip2 tertentu yang hampir bersifat everlasting. Dengan mengatakan itu, saya tidak bermaksud meniadakan “revolusi”2 dalam sejarah lho.

    Jadi, semangat kita menantang konsep jati diri UKSW yang sudah established menuntut kita juga untuk kritis pada diri sendiri, cara pikir, sumber rujukan, dan sebagainya. Kritis untuk tidak sekedar melihat apa yang di permukaan, baju, atau kosmetik, tetapi melihat jauh ke dalam, mencari esensi-esensi. Nah, di situ saya menilai Satria sedang membongkar-bongkar yang esensi dan menantang sesuatu yang established, walau tentu kepadanya harus juga diajukan pertanyaan-pertanyaan kritis lanjutan.

    Di situ, tantangan untuk Satria atau siapapun, misalnya, selanjutnya adalah, apa kira-kira model/gambaran/citra mental (visi) UKSW yang kalian bayangkan? Jika sampai saat ini kita baru sampai pada kritik kita tentang banyak hal yang tidak/kurang memuaskan di UKSW, atau pada tataran sangat abstrak kita tentang kesetiaan pada Tuhan, apa wujud empirik yang dibayangkan untuk Satya Wacana sebagai sebuah komunitas perguruan tinggi? Kita harus berangkat jauh ke sana, karena kita berhadapan dengan realitas yang sangat konkret. Sekali lagi, yang kita pikirkan adalah sebuah model masa depan yang berangkat dari refleksi kondisi2 empiris kita hari kemarin, ini, dan barangkali hari esok. Universitas macam apa Satya Wacana yang kita inginkan? Komunitas yang relasi atau pergaulan antar komunitas yang macam bagaimana yang kita ingin lihat hari-hari? Misi apa yang harus diemban, ketika kita ingin Satya Wacana eksis terus? Seribu satu pertanyaan bisa kita ajukan, untuk membangun model mental itu. Lalu, kesimpulan akhir kita bagaimana?

    Tanggapan saya yang lain menyusul, Sat.

  15. Satria Anandita

    @ Wit & Neil: Sepakat pangkat empat dengan kata-kata Anda berdua. Dan trims buat Pak Neil atas penajaman perspektif yang kedua, serta terobosan pertanyaan-pertanyaan yang membuat saya berpikir lebih jauh. Saya batalkan poin kedua saya dalam surat untuk Nick Wiratmoko di atas. :)

  16. Theofransus Litaay

    Dari tulisan lama berjudul “merenungkan Creative Minority [Quo vadis academia?]” yang saya tulis tanggal 11 Januari 11, 2007 jam 21:57 malam di Manila, yang waktu itu ditujukan untuk diskusi di milis Alumni UKSW.

    Tulisan ini saya muat di sini untuk memperkaya diskusi yang dibangun oleh Satria Anandita dan kawan-kawan. Semoga bisa memperkaya.

    Istilah Creative Minority sering disalahpersepsikan bahwa idiom ini mengacu kepada persoalan mayoritas-minoritas dalam hal kepemelukan agama di Indonesia. Sehingga memunculkan tafsiran akan kompleks inferioritas yang biasanya melanda kaum minoritas dari suatu masyarakat. Sehingga hal ini juga pernah dipertanyakan oleh beberapa orang dalam suatu seminar di kampus UKSW pada waktu lalu.

    Namun sebenarnya idiom Creative Minority BUKAN dimaksudkan sebagai minoritas agama yang berdaya cipta, melainkan lebih dimaksudkan sebagai kelompok minoritas dalam struktur sosial di masyarakat yang berdaya cipta. Kelompok ini dalam Sosiologi kontemporer sering disebut sebagai Kelas Menengah, sedangkan oleh Dr Notohamidjojo diartikan sebagai minoritas yang berdaya cipta. Dalam pandangan sosiologis lain melihatnya sebagai bagian dari proses modernisasi yang menempatkan manusia pada tugas-tugas profesinya masing-masing (bandingkan dengan ”Division” menurut Durkheim).

    Minoritas yang berdaya cipta adalah sekelompok orang yang karena kekuatan roh dan jiwanya, mampu menggerakkan massa yang pasif menjadi pelaku aktif dalam pembangunan. Mereka adalah bagian dari masyarakat yang terdidik secara akademik, memiliki kepemimpinan, dan aktif melakukan perubahan dalam masyarakat dimulai dari sekitar dirinya. Mereka tidak berada dalam tekanan ekonomi yang berat (kelas bawah) tetapi juga tidak memiliki segalanya (kelas atas). Sehingga mereka relatif mandiri atau otonom dari himpitan ekonomi maupun dari kepentingan mempertahankan sumber-sumber ekonomi.

    Menurut Arnold Toynbee (1889-1975), yang karyanya dikutip oleh pak Noto, Creative Minority adalah inti dari runtuh atau berkembangnya suatu peradaban. Toynbee melakukan penelitian terhadap 21 pusat-pusat peradaban dunia (kemudian dikembangkan menjadi 23) yang sudah runtuh atau masih bertahan, kemudian hasilnya diterbitkan dalam multi seri bukunya berjudul “A Study of History” dimana kesimpulan di atas muncul. Oleh pak Noto, gagasan ini dikembangkan dengan idealisme bahwa jika para lulusan UKSW dapat melakukan perubahan
    dalam masyarakatnya maka termasuk dalam Creative Minority.

    Menurut tafsiran pak Noto, Creative Minority memiliki kemandirian yang tinggi. Tidak tergantung pada negara (mengekor negara), tidak juga menggantungkan diri kepada negara (dependen) bahkan tidak begitu saja tunduk pada apapun kata negara (submisif), tetapi aktif mencari jalan keluar bagi persoalan yang dihadapi dalam masyarakatnya. Jika sebuah masyarakat tidak memiliki orang-orang semacam ini, maka masyarakat akan mandeg, stagnan, dan mungkin runtuh karena yang akan terjadi ialah survival of the fittest dari yang kaya terhadap yang miskin tanpa adanya kelas menengah sebagai cricital group. Kelompok Creative Minority terwujud dalam kelompok-
    kelompok profesional di masyarakat: pengusaha menengah, wartawan, dosen, pengacara, akuntan, guru, dll.

    Richard E Berg-Anderson menjelaskan, bahwa dalam bukunya Arnold Toynbee mengemukakan bahwa “Civilizations arise not because of genetically superior individuals (there are none) or because of favorable geographical environment, but because of a creative response by a minority of individuals to a situation of special difficulty.” Selanjutnya Toynbee menulis, “ A civilization grows and progresses when the responses to external difficulties are internal and spiritual, rather than external and material.” Oleh karena itu, menurut Toynbee, “A civilization breaks down and disintegrates when the creative minority fails to exercise it’s creative power, leading to a withdrawal of the allegiance of the majority, a loss of social unity, and a failure of self-determination.” Toynbee menggunakan istilah Civilization (peradaban) yang memiliki dimensi nilai moral maupun nilai material.

    Toynbee dalam menulis karya-karyanya menolak pandangan Oswald Spengler (The Decline of the West) yang melihat demokrasi sebagai sebuah kelemahan ketimbang kekuatan dan merindukan tokoh pemersatu yang kuat untuk menyatukan masyarakat (pandangan semacam ini kemudian melahirkan Adolf Hitler yang kemudian dicerca oleh Spengler dan Spengler masuk black list Nazi). Spengler memandang peradaban sebagai organisme yang hidup yang lahir, tumbuh, tua dan mati.

    Menurut Toynbee, dalam sebuah peradaban, living organism bukanlah peradaban itu sendiri melainkan manusia yang berada di dalamnya dan membentuk populasi dari masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu, intinya ada pada bagaimana orang-orang dalam masyarakat itu membangun peradabannya.

    Toynbee juga menolak pandangan Spengler yang memandang adanya “siklus hidup” peradaban. Menurut Toynbee skala waktu suatu peradaban adalah unik dan karena itu lebih bersifat open-ended. Yang menarik Toynbee menolak skenario epos kebangkitan peradaban dari tingkat primitif. Dalam pandangan Toynbee, Genesis dari suatu peradaban terjadi pada waktu masyarakat manusia dihadapkan dengan ukuran tantangan (challenge of scale) tertentu yang dimana yang oleh masyarakat sebelumnya tidak mampu diatasi dan oleh masyarakat yang sekarang bisa diatasi. Peradaban yang bertahan adalah peradaban yang tidak hanya mampu berhasil menjawab tantangan awal tetapi untuk itu juga mampu menjawab tantangan berikut yang lahir dari ditanganinya tantangan awal. Peradaban yang semacam ini disebut oleh Toynbee akan tumbuh menjadi peradaban yang dewasa dalam sejarah dunia (menurutnya hanya ada 23 peradaban yang semacam ini, sampai pada waktu karyanya ditulis).

    Jawaban terhadap tantangan dilahirkan oleh satu “Creative minority” (suatu elite) dimana mayoritas (massa) akan secara sukarela mengikutinya setelah melihat cara mereka menjawab tantangan dan jawaban itu berhasil (proses ini disebut oleh Toynbee sebagai “mimesis”). Tantangan yang lahir kemudian, akan dijawab oleh elite yang berikutnya sedangkan yang lalu sudah mundur (baik secara sukarela maupun dipaksa oleh keadaan) dan hanya akan kembali kemudian ketika tantangan baru menuntut mereka mengambil peran Creative minority. Selama semua proses ini berjalan lancar, maka terjadi Growth.

    Tentu saja Toynbee mengakui bahwa Growth bisa berhenti terjadi dan muncullah satu “Time of Troubles” karena elite yang ada berpuas diri dan tidak menangani tantangan baru atau sibuk dengan sisa-sisa kemenangan sebelumnya. Atau jika elite itu memandang bahwa hanya mereka yang sanggup menjawab tantangan berikutnya. Perpecahan akan datang pada saat massa mulai menolak untuk mengikuti teladan para elite dan elite ditempatkan pada posisi menggunakan kekuasaan untuk mewujudkan keinginannya sehingga bukan lagi menjadi “creative minority” melainkan “Dominant Minority” untuk meredam pemberontakan di antara para minoritas. Itulah awal dari Disintegration of the Civilization.

    Diskusi selanjutnya akan lebih panjang lagi, karena menurut Toynbee “dominant minority” itu akan membentuk imperium (disebutnya “universal state”) tetapi tidak langgeng karena orang-orang yang terpinggirkan “external proletariat” dan yang dilarang untuk ambil bagian dalam “universal state” akan meningkatkan tekanan terhadap “universal state”. Sedangkan dari dalam, massa yang ada akan berbalik menjadi “internal proletariat” dibawah semangat agama (bukan politik) yang akan menjatuhkan “universal state” itu sehingga peradaban yang lama menjadi runtuh. Muncul tantangan baru, keruntuhan peradaban, yang membutuhkan respons dari “creative minority” baru dibawah semangat bersama (disebut universal church) untuk memulai Genesis dan Growth dari peradaban baru untuk menggantikan yang lama.

    Pada tahun 1930an, dalam pengamatan Toynbee, hanya ada 5 peradaban dewasa yang tersisa: Barat, Kristen Ortodoks, Islam, Hindu India, dan Timur Jauh (Cina dan Jepang). Dari 5 ini hanya akan tersisa 3 peradaban dewasa, yang 2 memasuki Time of Troubles.

    Keith Renninson membandingkan pandangan Toynbee dengan pandangan ahli filsafat Spanyol bernama Jose’ Ortega Y Gasset (1883-1955) yang pada tahun 1930 menyimpulkan dalam karyanya “The Revolt of the Masses” bahwa peradaban dipecah kedalam : the masses and creative minorities. Renninson mengutip Ortega, bahwa: “The prototype of the mass man is the technocrat or the specialist, the person who knows very well a small corner of the universe, but who is ignorant of the rest. The creative minority is a man of dynamic excellence. This man is a hero in that he exerts his will in service to values and goals that are larger than himself; he lives the noble, rather than the common life, in that he lives it as a discipline for which he constantly trains.”

    Pada waktu pemilu Presiden AS tahun 2000, ada pendukung partai Demokrat yang menempatkan Gore dan kelompoknya sebagai bagian dari “creative minority” yang memperjuangkan tanggung jawab sosial, namun kalah melawan Bush yang membawa jargon tanggung jawab politik berbasis kekuatan adidaya militer.

    Mungkin saya jadi terlalu jauh membandingkan dengan kasus Amerika, tetapi pertanyaan yang sama akan selalu menerpa setiap pemimpin, “What’s your legacy for the next generation?”. Termasuk pemimpin Satya Wacana.

    Jika pada masa lalu Satya Wacana hadir dalam kancah pendidikan Indonesia dengan inovasi sistem SKS (yang belum dikenal dalam peraturan manapun di Indonesia), maka sekarang Satya Wacana menghadirkan sistem Trimester atau Trisemester yang merupakan penajaman (refining) dari SKS. Ini juga merupakan inovasi strategis. Pemerintah belum mengakomodirnya dalam peraturan pendidikan manapun di Indonesia.

    Lalu kalau sekarang hasil-hasil inovasi itu mau dimatikan dari dalam UKSW sendiri dengan menakut-nakuti bahwa tidak diatur dalam peraturan pemerintah, maka jawabannya harus berbentuk pertanyaan “Masihkah kita mau menjadi Creative Minority? Bukankah kita harus melakukan pembaruan terhadap dunia dan bukan menjadi sama dengan dunia yang sudah terbukti gagal dalam membangun mutu pendidikan bangsa kita?”

    Apakah kreativitas layak dimatikan dengan meminjam tangan negara?

    UKSW adalah salah satu saksi kehadiran pelayanan Kristen dalam pendidikan di Indonesia. Relevansi kekristenan di Indonesia secara politik sangat kecil jika lembaga seperti UKSW tidak melakukan inovasi-inovasi yang mampu membawa perubahan positif bagi masyarakat. Oleh karena itu, UKSW perlu berinovasi secara terus menerus.

    Dan oleh karena itu, sebaiknya setiap inovasi dari dalam tubuh UKSW tidak dimatikan di UKSW dengan pendekatan ancaman negara. Negara Indonesia saat ini sudah berada pada era yang lebih terbuka dan demokratis. Setiap inovasi akan diberikan perhatian dan Negara bisa diajak untuk ikut mengembangkan inovasi kita menjadi perubahan bersama. Itulah agenda kita yang lebih penting untuk dikembangkan.

    Maukah kita menjadi ”creative minority” ?

    Salam,
    Theo Litaay
    FH UKSW, Salatiga.
    (3189045)

  17. Nick Wiratmoko

    Bung Theo, catatan ini menjadi penting untuk memberikan sebuah komentar tentang crative minority yang selama ini tidak cukup ruang mendiskusikan. Semoga dengan kontribusi seperti ini, dan juga catatan Bung Neil Rupidara masih akan menyusul komentar tentang “Identitas Manusia Satya Wacana”. Diskusi lewat note dan blog telah bergulir. Bagaimana kita mengantisipasi artikulasi crative minority atau identitas Satya Wacana pada masing-masing penggalan artikulasi Sejarah setelah Pak Noto, misalnya di era Pak Tarno, Pak Willy, Pak JOI, Bung John, Pak KHT? Apakah pemikiran untuk menggali penggalan identitas di zaman berbeda menjadi penting? Jika memang di antara beliau ada kesulitan dalam menyiapkan, apakah mungkin dibentuk smacam tim khusus untuk melakkan inverstugasi/wawancara? Kelompok mana yang memungkinkan untuk untuk memfasilitasi aliran diskursus seperti ini? Apakah dimungkinkan diluaskan arenanya di link kan ke Ikasatya?

    Sekali lg, terima kasih atas pemikiran “creative inority”-nya

  18. Theofransus Litaay

    @ mas Nick: Nanti kita coba ya mas. Kalau saya pikir untuk dies natalis 2010 diterbitkan.

  19. Johan Tambotoh

    Bisakah saya mengartikan bahwa komunitas yg masuk dalam “Creative Minority” adalah kumpulan orang2 berkualitas dalam bidangnya masing2 dengan segala inovasi dan kreativitas yg tanpa henti?

    Jika benar demikian maka sistem yg mampu menjadikan orang2 berkualitas adalah suatu keharusan, terutama bagi UKSW.

  20. Sylvaline Homer

    thnks buat om theo, yang uda bersedia share tulisan ini. sekali lagi, mase ttg ’sendi-sendi’ penting dari uksw…yang gak pernah berhenti u/ dibahas.

    terkait dengan creative minority, saya sih mikirnya simple aja…setelah tau banyak hal, apa yang bisa saya kembangkan u/ papua (sebagai alumni uksw-yang mengilhami prinsip minoritas yang berdaya cipta). karena, seperti yang di utarakan oleh martin luther king, sesuatu menjadi benar..bukan karena BANYAK ORANG yang melakukannya. karena, YANG BANYAK itu belum tentu yang tepat.

    saia semakin mencintai uksw :)

  21. @all

    Perenungan tentang jati diri manusia Satya Wacana tampaknya perlu juga memerhatikan dimensi-dimensi sosiologis-antropologisnya. Kita tidak bisa tolak kenyataan kekayaan latar belakang dari manusia riil Satya Wacana, di luar konsep creative minority. Apa arti menjadi warga Satya Wacana ketika seseorang seperti saya yang berasal dari Kupang, punya orang tua suku campuran, termasuk punya darah Jawa.. atau barangkali yang murni Papua, misalnya… dan sebagainya… ada di tengah-tengah orang dengan ragam latar belakang.

    Sejak Satya Wacana berdiri, 2 identitas penting hendak diembannya. Kata pak RMS Gultom, saat menerima mandat dari Yayasan, pak Noto dititip pesan untuk mengembangkan Satya Wacana dengan ciri keIndonesiaan dan keKristenan. Bagi saya ini, sebuah kesadaran konteks yang luar biasa, sejak berdiri. Oleh karena itu, warga Satya Wacana, mulai dari mahasiswanya, sejak awal memang sudah datang dari berbagai tempat dalam rentang gugusan pulau-pulau Nusantara.

    Namun, ketika datang dengan identitas yang ragam, apakah masyarakat Satya Wacana adalah cuma sekedar komunitas orang dengan ragam latar belakang yang kebetulan kumpul di Salatiga? Tentu tidak salah hanya sekedar menjadi masyarakat plural, masing-masing dengan identitasnya. Itu satu kekayaan. Namun, kalau keragaman itu diikat oleh kenyataan keIndonesiaan dan keKristenan tadi, maka bayangan saya adalah terjadinya transformasi identitas. Satya Wacana adalah sebuah melting pot. Oleh karena itu, salah satu misi Satya Wacana adalah mencari dan menjadi satu model masyarakat yang demokratis etc. Namun, pergumulan tentang hal ini tidak ada belum sampai pada satu titik kesadaran yang tinggi akan identitas bersama plus identitas diri sendiri yang ragam tadi. Mungkin kawan2 senior seperti mas Nick bisa nanti berefleksi dari pengalaman lampau untuk memberi perpektif bagi kita tentang arti Satya Wacana dalam konteks ini.

    Namun, ketika tadi saya katakan kita belum sampai pada satu titik kesadaran yang tinggi, saya berefleksi dari fenomena gesekan-gesekan antar etnis, misalnya, di Satya Wacana dan antara warga Satya Wacana dengan penduduk lokal Salatiga. Ini menunjukkan kegagalan2 transformasi diri. Di saat yang sama, misalnya mahasiswa melalu LK setiap tahun buat Expo Budaya atau apapun namanya sekarang yang mencoba untuk membangun kesalingmengertian secara kultural. Namun, aktivitas ini baru sampai pada level presenting our unique identities, masing-masing dengan atribut budayanya. So what kalau kita ini masing-masing seperti ini dan itu?

    Satu model pikir berkaitan dengan transformasi itu saya kira bisa kita pinjam dari Prof John Titaley soal transformasi identitas keIndonesiaan yang notabene adalah makro-kosmos-nya Satya Wacana. Tinjauan pak John jelas berada pada konteks relasi agama – negara/bangsa sehingga beliau membayangkan bahwa, misalnya, saya yang Kristen ini bukan lagi seorang Kristen yang seolah-olah tidak pernah kenal dan paham saudara-saudara beragama lain sehingga identitas keKristenan saya ya sebuah identitas keKristenan yang asali, saat saya belum pernah kenal dan bersentuhan dengan mereka yang Muslim, Hindu, Budha, dst. Namun, pemahaman identitas keKristenan saya seharusnya, dalam kacamata ini, akan atau telah mengalami transformasi ketika saya ada bersama dan hidup dalam interaksi dengan mereka yang berbeda dari saya.

    Nah, itu yang saya kira satu hal yang perlu menjadi perhatian kita dalam kacamata memahami dan membangun identitas manusia Satya Wacana. Ini harus termanifestasi dalam jargon yang digunakan Satya Wacana, tidak terpisahkan dalam ritual organisasi, dalam pola pikir yang menjauhkan diri dari bentuk-bentuk sikap dan perbuatan yang primordial, dan sebagainya. Itu adalah dan harusnya menjadi identitas kultural Satya Wacana yang setiap orang paham dan melaksanakannya dalam kehidupan hari-hari.

    Ini tentu tantangan yang cukup sulit, walau tentu perjalanan membangun identitas seperti ini pasti kait mengait dengan identitas sebagai creative minority, misalnya. Kalau para institutionalists yang menggunakan istilah institutional entrepreneurs, mereka membayangkan orang2 seperti itu adalah orang2 yang kakinya berpijak pada titik-titik persinggungan berbagai identitas yang di dalamnya memuat banyak logika. Jadi, misalnya, ada logika hidup orang Papua. Ada logika pergaulan orang Dayak. Ada logika sasi orang Maluku. Macam-macam. Nah, keberadaan kita di sebuah komunitas plural harusnya membuat kita biasa hidup atau “nyaman” di tengah2 keragaman logika dan memungkinkan kita untuk bisa meramu logika-logika berbeda untuk bertemu dan menghasilkan logika hibrid. Kemampuan menghasilkan “resep-resep” hidup baru dari hasil percampuran itulah yang memungkinkan para creative minority untuk punya jawaban atau respon terhadap fenomena kemungkinan kemandegan sejarah. Jadi, kenyataan yang plural sebetulnya menguntungkan kita untuk menyemaikan konsep creative minority atau institutional entrepreneurs dengan lebih baik, menurut saya.

    Namun, kita sudah 53 tahun di 2009 ini. Masalah-masalah empiris soal identitas primordial tetap belum selesai. Dulu ketika saya mahasiswa dan berhadapan dengan proses pemilihan rektor, ada muncul statement seperti, “Kali ini rektonya jangan orang luar Jawa lagi..” Statement serupa misalnya muncul tahun ini di Scientiarum, memlesetkan UKSW sebagai Universitas (yang dipimpin oleh) Konco Saking Wetan. Well, sentimen2 yang sebetulnya menabrak kesadaran identitas yang dibangun Satya Wacana sejak mula-mula masih tetap subur, paling tidak di alam bawah sadar kita yang siap sewaktu2 muncul dalam berbagai ekspresi.. ya misalnya kekecewaan calonnya kalah atau dan sebagainya. Jadi, tantangan untuk membangun identitas baru ini tentu rumit. Namun, bagi saya, kita harus mampu mengatasi ini, kalau tidak proyek pembangunan Satya Wacana sebagai sebuah komunitas baru yang mau menjadi contoh akan gagal total. OK, saya harus akui bahwa secara tidak sadar, non formal, pasti sudah terjadi proses2 transformasi. Namun, saya bicara sebuah kesadaran yang eksplisit, karena Satya Wacana jelas membangun pengakuan-pengakuannya pun secara eksplisit.

    OK, mari pikirkan aspek ini juga.

  22. Sat…

    Ini sebuah project menarik di Emory University, melakukan transformasi komunitas (kampus) untuk mengatasi masalah-masalah perbedaan ras (dan barangkali bisa berimplikasi pada sikap terhadap kelompok-kelompok minoritas). Ini bisa menjadi bahan belajar bagi Satya Wacana yang sejak berdirinya sudah mengadopsi semangat menghargai keragaman latar belakang dalam membangun satu komunitas penggerak perubahan.

    http://www.changemag.org/Archives/Back%20Issues/March-April%202008/full-Disenchantment-to-Dialogue.html

Leave a Comment




  • Recently Written

    • Mendidik Manusia - Tentu berbeda dari mendidik kambing. Kambing bukan manusia dan manusia bukan kambing, dan sebangsanya.
    • Kreativitas Bertanggungjawab - Kalau manusia destruktif terhadap alam, itu artinya manusia sudah destruktif terhadap dirinya sendiri.
    • Kurikulum Berbasis Ketakutan - Apa gunanya punya gelar sarjana kalau dapatnya cuma gara-gara takut nggak bisa kerja? Apa gunanya...