<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Menjawab Catatan Pinggir Nick Wiratmoko</title>
	<atom:link href="http://satria.anandita.net/menjawab-catatan-pinggir-nick-wiratmoko.str/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://satria.anandita.net/menjawab-catatan-pinggir-nick-wiratmoko.str</link>
	<description>I&#039;m going nowhere!</description>
	<lastBuildDate>Tue, 07 Sep 2010 16:32:53 -0500</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Neil</title>
		<link>http://satria.anandita.net/menjawab-catatan-pinggir-nick-wiratmoko.str#comment-2416</link>
		<dc:creator>Neil</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 18 Sep 2009 06:40:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satria.anandita.net/?p=266#comment-2416</guid>
		<description>Sat...

Ini sebuah project menarik di Emory University, melakukan transformasi komunitas (kampus) untuk mengatasi masalah-masalah perbedaan ras (dan barangkali bisa berimplikasi pada sikap terhadap kelompok-kelompok minoritas). Ini bisa menjadi bahan belajar bagi Satya Wacana yang sejak berdirinya sudah mengadopsi semangat menghargai keragaman latar belakang dalam membangun satu komunitas penggerak perubahan.

http://www.changemag.org/Archives/Back%20Issues/March-April%202008/full-Disenchantment-to-Dialogue.html</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sat&#8230;</p>
<p>Ini sebuah project menarik di Emory University, melakukan transformasi komunitas (kampus) untuk mengatasi masalah-masalah perbedaan ras (dan barangkali bisa berimplikasi pada sikap terhadap kelompok-kelompok minoritas). Ini bisa menjadi bahan belajar bagi Satya Wacana yang sejak berdirinya sudah mengadopsi semangat menghargai keragaman latar belakang dalam membangun satu komunitas penggerak perubahan.</p>
<p><a href="http://www.changemag.org/Archives/Back%20Issues/March-April%202008/full-Disenchantment-to-Dialogue.html" rel="nofollow">http://www.changemag.org/Archives/Back%20Issues/March-April%202008/full-Disenchantment-to-Dialogue.html</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Neil</title>
		<link>http://satria.anandita.net/menjawab-catatan-pinggir-nick-wiratmoko.str#comment-2398</link>
		<dc:creator>Neil</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 23:44:25 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satria.anandita.net/?p=266#comment-2398</guid>
		<description>@all

Perenungan tentang jati diri manusia Satya Wacana tampaknya perlu juga memerhatikan dimensi-dimensi sosiologis-antropologisnya. Kita tidak bisa tolak kenyataan kekayaan latar belakang dari manusia riil Satya Wacana, di luar konsep creative minority. Apa arti menjadi warga Satya Wacana ketika seseorang seperti saya yang berasal dari Kupang, punya orang tua suku campuran, termasuk punya darah Jawa.. atau barangkali yang murni Papua, misalnya... dan sebagainya... ada di tengah-tengah orang dengan ragam latar belakang.

Sejak Satya Wacana berdiri, 2 identitas penting hendak diembannya. Kata pak RMS Gultom, saat menerima mandat dari Yayasan, pak Noto dititip pesan untuk mengembangkan Satya Wacana dengan ciri keIndonesiaan dan keKristenan. Bagi saya ini, sebuah kesadaran konteks yang luar biasa, sejak berdiri. Oleh karena itu, warga Satya Wacana, mulai dari mahasiswanya, sejak awal memang sudah datang dari berbagai tempat dalam rentang gugusan pulau-pulau Nusantara.

Namun, ketika datang dengan identitas yang ragam, apakah masyarakat Satya Wacana adalah cuma sekedar komunitas orang dengan ragam latar belakang yang kebetulan kumpul di Salatiga? Tentu tidak salah hanya sekedar menjadi masyarakat plural, masing-masing dengan identitasnya. Itu satu kekayaan. Namun, kalau keragaman itu diikat oleh kenyataan keIndonesiaan dan keKristenan tadi, maka bayangan saya adalah terjadinya transformasi identitas. Satya Wacana adalah sebuah melting pot. Oleh karena itu, salah satu misi Satya Wacana adalah mencari dan menjadi satu model masyarakat yang demokratis etc. Namun, pergumulan tentang hal ini tidak ada belum sampai pada satu titik kesadaran yang tinggi akan identitas bersama plus identitas diri sendiri yang ragam tadi. Mungkin kawan2 senior seperti mas Nick bisa nanti berefleksi dari pengalaman lampau untuk memberi perpektif bagi kita tentang arti Satya Wacana dalam konteks ini.

Namun, ketika tadi saya katakan kita belum sampai pada satu titik kesadaran yang tinggi, saya berefleksi dari fenomena gesekan-gesekan antar etnis, misalnya, di Satya Wacana dan antara warga Satya Wacana dengan penduduk lokal Salatiga. Ini menunjukkan kegagalan2 transformasi diri. Di saat yang sama, misalnya mahasiswa melalu LK setiap tahun buat Expo Budaya atau apapun namanya sekarang yang mencoba untuk membangun kesalingmengertian secara kultural. Namun, aktivitas ini baru sampai pada level presenting our unique identities, masing-masing dengan atribut budayanya. So what kalau kita ini masing-masing seperti ini dan itu?

Satu model pikir berkaitan dengan transformasi itu saya kira bisa kita pinjam dari Prof John Titaley soal transformasi identitas keIndonesiaan yang notabene adalah makro-kosmos-nya Satya Wacana. Tinjauan pak John jelas berada pada konteks relasi agama - negara/bangsa sehingga beliau membayangkan bahwa, misalnya, saya yang Kristen ini bukan lagi seorang Kristen yang seolah-olah tidak pernah kenal dan paham saudara-saudara beragama lain sehingga identitas keKristenan saya ya sebuah identitas keKristenan yang asali, saat saya belum pernah kenal dan bersentuhan dengan mereka yang Muslim, Hindu, Budha, dst. Namun, pemahaman identitas keKristenan saya seharusnya, dalam kacamata ini, akan atau telah mengalami transformasi ketika saya ada bersama dan hidup dalam interaksi dengan mereka yang berbeda dari saya.

Nah, itu yang saya kira satu hal yang perlu menjadi perhatian kita dalam kacamata memahami dan membangun identitas manusia Satya Wacana. Ini harus termanifestasi dalam jargon yang digunakan Satya Wacana, tidak terpisahkan dalam ritual organisasi, dalam pola pikir yang menjauhkan diri dari bentuk-bentuk sikap dan perbuatan yang primordial, dan sebagainya. Itu adalah dan harusnya menjadi identitas kultural Satya Wacana yang setiap orang paham dan melaksanakannya dalam kehidupan hari-hari.

Ini tentu tantangan yang cukup sulit, walau tentu perjalanan membangun identitas seperti ini pasti kait mengait dengan identitas sebagai creative minority, misalnya. Kalau para institutionalists yang menggunakan istilah institutional entrepreneurs, mereka membayangkan orang2 seperti itu adalah orang2 yang kakinya berpijak pada titik-titik persinggungan berbagai identitas yang di dalamnya memuat banyak logika. Jadi, misalnya, ada logika hidup orang Papua. Ada logika pergaulan orang Dayak. Ada logika sasi orang Maluku. Macam-macam. Nah, keberadaan kita di sebuah komunitas plural harusnya membuat kita biasa hidup atau &quot;nyaman&quot; di tengah2 keragaman logika dan memungkinkan kita untuk bisa meramu logika-logika berbeda untuk bertemu dan menghasilkan logika hibrid. Kemampuan menghasilkan &quot;resep-resep&quot; hidup baru dari hasil percampuran itulah yang memungkinkan para creative minority untuk punya jawaban atau respon terhadap fenomena kemungkinan kemandegan sejarah. Jadi, kenyataan yang plural sebetulnya menguntungkan kita untuk menyemaikan konsep creative minority atau institutional entrepreneurs dengan lebih baik, menurut saya.

Namun, kita sudah 53 tahun di 2009 ini. Masalah-masalah empiris soal identitas primordial tetap belum selesai. Dulu ketika saya mahasiswa dan berhadapan dengan proses pemilihan rektor, ada muncul statement seperti, &quot;Kali ini rektonya jangan orang luar Jawa lagi..&quot; Statement serupa misalnya muncul tahun ini di Scientiarum, memlesetkan UKSW sebagai Universitas (yang dipimpin oleh) Konco Saking Wetan. Well, sentimen2 yang sebetulnya menabrak kesadaran identitas yang dibangun Satya Wacana sejak mula-mula masih tetap subur, paling tidak di alam bawah sadar kita yang siap sewaktu2 muncul dalam berbagai ekspresi.. ya misalnya kekecewaan calonnya kalah atau dan sebagainya. Jadi, tantangan untuk membangun identitas baru ini tentu rumit. Namun, bagi saya, kita harus mampu mengatasi ini, kalau tidak proyek pembangunan Satya Wacana sebagai sebuah komunitas baru yang mau menjadi contoh akan gagal total. OK, saya harus akui bahwa secara tidak sadar, non formal, pasti sudah terjadi proses2 transformasi. Namun, saya bicara sebuah kesadaran yang eksplisit, karena Satya Wacana jelas membangun pengakuan-pengakuannya pun secara eksplisit.

OK, mari pikirkan aspek ini juga.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@all</p>
<p>Perenungan tentang jati diri manusia Satya Wacana tampaknya perlu juga memerhatikan dimensi-dimensi sosiologis-antropologisnya. Kita tidak bisa tolak kenyataan kekayaan latar belakang dari manusia riil Satya Wacana, di luar konsep creative minority. Apa arti menjadi warga Satya Wacana ketika seseorang seperti saya yang berasal dari Kupang, punya orang tua suku campuran, termasuk punya darah Jawa.. atau barangkali yang murni Papua, misalnya&#8230; dan sebagainya&#8230; ada di tengah-tengah orang dengan ragam latar belakang.</p>
<p>Sejak Satya Wacana berdiri, 2 identitas penting hendak diembannya. Kata pak RMS Gultom, saat menerima mandat dari Yayasan, pak Noto dititip pesan untuk mengembangkan Satya Wacana dengan ciri keIndonesiaan dan keKristenan. Bagi saya ini, sebuah kesadaran konteks yang luar biasa, sejak berdiri. Oleh karena itu, warga Satya Wacana, mulai dari mahasiswanya, sejak awal memang sudah datang dari berbagai tempat dalam rentang gugusan pulau-pulau Nusantara.</p>
<p>Namun, ketika datang dengan identitas yang ragam, apakah masyarakat Satya Wacana adalah cuma sekedar komunitas orang dengan ragam latar belakang yang kebetulan kumpul di Salatiga? Tentu tidak salah hanya sekedar menjadi masyarakat plural, masing-masing dengan identitasnya. Itu satu kekayaan. Namun, kalau keragaman itu diikat oleh kenyataan keIndonesiaan dan keKristenan tadi, maka bayangan saya adalah terjadinya transformasi identitas. Satya Wacana adalah sebuah melting pot. Oleh karena itu, salah satu misi Satya Wacana adalah mencari dan menjadi satu model masyarakat yang demokratis etc. Namun, pergumulan tentang hal ini tidak ada belum sampai pada satu titik kesadaran yang tinggi akan identitas bersama plus identitas diri sendiri yang ragam tadi. Mungkin kawan2 senior seperti mas Nick bisa nanti berefleksi dari pengalaman lampau untuk memberi perpektif bagi kita tentang arti Satya Wacana dalam konteks ini.</p>
<p>Namun, ketika tadi saya katakan kita belum sampai pada satu titik kesadaran yang tinggi, saya berefleksi dari fenomena gesekan-gesekan antar etnis, misalnya, di Satya Wacana dan antara warga Satya Wacana dengan penduduk lokal Salatiga. Ini menunjukkan kegagalan2 transformasi diri. Di saat yang sama, misalnya mahasiswa melalu LK setiap tahun buat Expo Budaya atau apapun namanya sekarang yang mencoba untuk membangun kesalingmengertian secara kultural. Namun, aktivitas ini baru sampai pada level presenting our unique identities, masing-masing dengan atribut budayanya. So what kalau kita ini masing-masing seperti ini dan itu?</p>
<p>Satu model pikir berkaitan dengan transformasi itu saya kira bisa kita pinjam dari Prof John Titaley soal transformasi identitas keIndonesiaan yang notabene adalah makro-kosmos-nya Satya Wacana. Tinjauan pak John jelas berada pada konteks relasi agama &#8211; negara/bangsa sehingga beliau membayangkan bahwa, misalnya, saya yang Kristen ini bukan lagi seorang Kristen yang seolah-olah tidak pernah kenal dan paham saudara-saudara beragama lain sehingga identitas keKristenan saya ya sebuah identitas keKristenan yang asali, saat saya belum pernah kenal dan bersentuhan dengan mereka yang Muslim, Hindu, Budha, dst. Namun, pemahaman identitas keKristenan saya seharusnya, dalam kacamata ini, akan atau telah mengalami transformasi ketika saya ada bersama dan hidup dalam interaksi dengan mereka yang berbeda dari saya.</p>
<p>Nah, itu yang saya kira satu hal yang perlu menjadi perhatian kita dalam kacamata memahami dan membangun identitas manusia Satya Wacana. Ini harus termanifestasi dalam jargon yang digunakan Satya Wacana, tidak terpisahkan dalam ritual organisasi, dalam pola pikir yang menjauhkan diri dari bentuk-bentuk sikap dan perbuatan yang primordial, dan sebagainya. Itu adalah dan harusnya menjadi identitas kultural Satya Wacana yang setiap orang paham dan melaksanakannya dalam kehidupan hari-hari.</p>
<p>Ini tentu tantangan yang cukup sulit, walau tentu perjalanan membangun identitas seperti ini pasti kait mengait dengan identitas sebagai creative minority, misalnya. Kalau para institutionalists yang menggunakan istilah institutional entrepreneurs, mereka membayangkan orang2 seperti itu adalah orang2 yang kakinya berpijak pada titik-titik persinggungan berbagai identitas yang di dalamnya memuat banyak logika. Jadi, misalnya, ada logika hidup orang Papua. Ada logika pergaulan orang Dayak. Ada logika sasi orang Maluku. Macam-macam. Nah, keberadaan kita di sebuah komunitas plural harusnya membuat kita biasa hidup atau &#8220;nyaman&#8221; di tengah2 keragaman logika dan memungkinkan kita untuk bisa meramu logika-logika berbeda untuk bertemu dan menghasilkan logika hibrid. Kemampuan menghasilkan &#8220;resep-resep&#8221; hidup baru dari hasil percampuran itulah yang memungkinkan para creative minority untuk punya jawaban atau respon terhadap fenomena kemungkinan kemandegan sejarah. Jadi, kenyataan yang plural sebetulnya menguntungkan kita untuk menyemaikan konsep creative minority atau institutional entrepreneurs dengan lebih baik, menurut saya.</p>
<p>Namun, kita sudah 53 tahun di 2009 ini. Masalah-masalah empiris soal identitas primordial tetap belum selesai. Dulu ketika saya mahasiswa dan berhadapan dengan proses pemilihan rektor, ada muncul statement seperti, &#8220;Kali ini rektonya jangan orang luar Jawa lagi..&#8221; Statement serupa misalnya muncul tahun ini di Scientiarum, memlesetkan UKSW sebagai Universitas (yang dipimpin oleh) Konco Saking Wetan. Well, sentimen2 yang sebetulnya menabrak kesadaran identitas yang dibangun Satya Wacana sejak mula-mula masih tetap subur, paling tidak di alam bawah sadar kita yang siap sewaktu2 muncul dalam berbagai ekspresi.. ya misalnya kekecewaan calonnya kalah atau dan sebagainya. Jadi, tantangan untuk membangun identitas baru ini tentu rumit. Namun, bagi saya, kita harus mampu mengatasi ini, kalau tidak proyek pembangunan Satya Wacana sebagai sebuah komunitas baru yang mau menjadi contoh akan gagal total. OK, saya harus akui bahwa secara tidak sadar, non formal, pasti sudah terjadi proses2 transformasi. Namun, saya bicara sebuah kesadaran yang eksplisit, karena Satya Wacana jelas membangun pengakuan-pengakuannya pun secara eksplisit.</p>
<p>OK, mari pikirkan aspek ini juga.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Sylvaline Homer</title>
		<link>http://satria.anandita.net/menjawab-catatan-pinggir-nick-wiratmoko.str#comment-2397</link>
		<dc:creator>Sylvaline Homer</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 12:06:24 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satria.anandita.net/?p=266#comment-2397</guid>
		<description>thnks buat om theo, yang uda bersedia share tulisan ini. sekali lagi, mase ttg &#039;sendi-sendi&#039; penting dari uksw...yang gak pernah berhenti u/ dibahas.

terkait dengan creative minority, saya sih mikirnya simple aja...setelah tau banyak hal, apa yang bisa saya kembangkan u/ papua (sebagai alumni uksw-yang mengilhami prinsip minoritas yang berdaya cipta). karena, seperti yang di utarakan oleh martin luther king, sesuatu menjadi benar..bukan karena BANYAK ORANG yang melakukannya. karena, YANG BANYAK itu belum tentu yang tepat.

saia semakin mencintai uksw :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>thnks buat om theo, yang uda bersedia share tulisan ini. sekali lagi, mase ttg &#8217;sendi-sendi&#8217; penting dari uksw&#8230;yang gak pernah berhenti u/ dibahas.</p>
<p>terkait dengan creative minority, saya sih mikirnya simple aja&#8230;setelah tau banyak hal, apa yang bisa saya kembangkan u/ papua (sebagai alumni uksw-yang mengilhami prinsip minoritas yang berdaya cipta). karena, seperti yang di utarakan oleh martin luther king, sesuatu menjadi benar..bukan karena BANYAK ORANG yang melakukannya. karena, YANG BANYAK itu belum tentu yang tepat.</p>
<p>saia semakin mencintai uksw :)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Johan Tambotoh</title>
		<link>http://satria.anandita.net/menjawab-catatan-pinggir-nick-wiratmoko.str#comment-2396</link>
		<dc:creator>Johan Tambotoh</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 12:04:57 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satria.anandita.net/?p=266#comment-2396</guid>
		<description>Bisakah saya mengartikan bahwa komunitas yg masuk dalam &quot;Creative Minority&quot; adalah kumpulan orang2 berkualitas dalam bidangnya masing2 dengan segala inovasi dan kreativitas yg tanpa henti?

Jika benar demikian maka sistem yg mampu menjadikan orang2 berkualitas adalah suatu keharusan, terutama bagi UKSW.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bisakah saya mengartikan bahwa komunitas yg masuk dalam &#8220;Creative Minority&#8221; adalah kumpulan orang2 berkualitas dalam bidangnya masing2 dengan segala inovasi dan kreativitas yg tanpa henti?</p>
<p>Jika benar demikian maka sistem yg mampu menjadikan orang2 berkualitas adalah suatu keharusan, terutama bagi UKSW.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Theofransus Litaay</title>
		<link>http://satria.anandita.net/menjawab-catatan-pinggir-nick-wiratmoko.str#comment-2395</link>
		<dc:creator>Theofransus Litaay</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 12:04:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satria.anandita.net/?p=266#comment-2395</guid>
		<description>@ mas Nick: Nanti kita coba ya mas. Kalau saya pikir untuk dies natalis 2010 diterbitkan.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ mas Nick: Nanti kita coba ya mas. Kalau saya pikir untuk dies natalis 2010 diterbitkan.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Nick Wiratmoko</title>
		<link>http://satria.anandita.net/menjawab-catatan-pinggir-nick-wiratmoko.str#comment-2394</link>
		<dc:creator>Nick Wiratmoko</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 12:02:06 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satria.anandita.net/?p=266#comment-2394</guid>
		<description>Bung Theo, catatan ini menjadi penting untuk memberikan sebuah komentar tentang crative minority yang selama ini tidak cukup ruang mendiskusikan. Semoga dengan kontribusi seperti ini, dan juga catatan Bung Neil Rupidara masih akan menyusul komentar tentang &quot;Identitas Manusia Satya Wacana&quot;. Diskusi lewat note dan blog telah bergulir. Bagaimana kita mengantisipasi artikulasi crative minority atau identitas Satya Wacana pada masing-masing penggalan artikulasi Sejarah setelah Pak Noto, misalnya di era Pak Tarno, Pak Willy, Pak JOI, Bung John, Pak KHT? Apakah pemikiran untuk menggali penggalan identitas di zaman berbeda menjadi penting? Jika memang di antara beliau ada kesulitan dalam menyiapkan, apakah mungkin dibentuk smacam tim khusus untuk melakkan inverstugasi/wawancara? Kelompok mana yang memungkinkan untuk untuk memfasilitasi aliran diskursus seperti ini? Apakah dimungkinkan diluaskan arenanya di link kan ke Ikasatya?

Sekali lg, terima kasih atas pemikiran &quot;creative inority&quot;-nya</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bung Theo, catatan ini menjadi penting untuk memberikan sebuah komentar tentang crative minority yang selama ini tidak cukup ruang mendiskusikan. Semoga dengan kontribusi seperti ini, dan juga catatan Bung Neil Rupidara masih akan menyusul komentar tentang &#8220;Identitas Manusia Satya Wacana&#8221;. Diskusi lewat note dan blog telah bergulir. Bagaimana kita mengantisipasi artikulasi crative minority atau identitas Satya Wacana pada masing-masing penggalan artikulasi Sejarah setelah Pak Noto, misalnya di era Pak Tarno, Pak Willy, Pak JOI, Bung John, Pak KHT? Apakah pemikiran untuk menggali penggalan identitas di zaman berbeda menjadi penting? Jika memang di antara beliau ada kesulitan dalam menyiapkan, apakah mungkin dibentuk smacam tim khusus untuk melakkan inverstugasi/wawancara? Kelompok mana yang memungkinkan untuk untuk memfasilitasi aliran diskursus seperti ini? Apakah dimungkinkan diluaskan arenanya di link kan ke Ikasatya?</p>
<p>Sekali lg, terima kasih atas pemikiran &#8220;creative inority&#8221;-nya</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Theofransus Litaay</title>
		<link>http://satria.anandita.net/menjawab-catatan-pinggir-nick-wiratmoko.str#comment-2393</link>
		<dc:creator>Theofransus Litaay</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 11:57:18 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satria.anandita.net/?p=266#comment-2393</guid>
		<description>Dari tulisan lama berjudul &quot;merenungkan Creative Minority [Quo vadis academia?]&quot; yang saya tulis tanggal 11 Januari 11, 2007 jam 21:57 malam di Manila, yang waktu itu ditujukan untuk diskusi di milis Alumni UKSW.

Tulisan ini saya muat di sini untuk memperkaya diskusi yang dibangun oleh Satria Anandita dan kawan-kawan. Semoga bisa memperkaya.

Istilah Creative Minority sering disalahpersepsikan bahwa idiom ini mengacu kepada persoalan mayoritas-minoritas dalam hal kepemelukan agama di Indonesia. Sehingga memunculkan tafsiran akan kompleks inferioritas yang biasanya melanda kaum minoritas dari suatu masyarakat. Sehingga hal ini juga pernah dipertanyakan oleh beberapa orang dalam suatu seminar di kampus UKSW pada waktu lalu.

Namun sebenarnya idiom Creative Minority BUKAN dimaksudkan sebagai minoritas agama yang berdaya cipta, melainkan lebih dimaksudkan sebagai kelompok minoritas dalam struktur sosial di masyarakat yang berdaya cipta. Kelompok ini dalam Sosiologi kontemporer sering disebut sebagai Kelas Menengah, sedangkan oleh Dr Notohamidjojo diartikan sebagai minoritas yang berdaya cipta. Dalam pandangan sosiologis lain melihatnya sebagai bagian dari proses modernisasi yang menempatkan manusia pada tugas-tugas profesinya masing-masing (bandingkan dengan ”Division” menurut Durkheim).

Minoritas yang berdaya cipta adalah sekelompok orang yang karena kekuatan roh dan jiwanya, mampu menggerakkan massa yang pasif menjadi pelaku aktif dalam pembangunan. Mereka adalah bagian dari masyarakat yang terdidik secara akademik, memiliki kepemimpinan, dan aktif melakukan perubahan dalam masyarakat dimulai dari sekitar dirinya. Mereka tidak berada dalam tekanan ekonomi yang berat (kelas bawah) tetapi juga tidak memiliki segalanya (kelas atas). Sehingga mereka relatif mandiri atau otonom dari himpitan ekonomi maupun dari kepentingan mempertahankan sumber-sumber ekonomi.

Menurut Arnold Toynbee (1889-1975), yang karyanya dikutip oleh pak Noto, Creative Minority adalah inti dari runtuh atau berkembangnya suatu peradaban. Toynbee melakukan penelitian terhadap 21 pusat-pusat peradaban dunia (kemudian dikembangkan menjadi 23) yang sudah runtuh atau masih bertahan, kemudian hasilnya diterbitkan dalam multi seri bukunya berjudul &quot;A Study of History&quot; dimana kesimpulan di atas muncul. Oleh pak Noto, gagasan ini dikembangkan dengan idealisme bahwa jika para lulusan UKSW dapat melakukan perubahan
dalam masyarakatnya maka termasuk dalam Creative Minority.

Menurut tafsiran pak Noto, Creative Minority memiliki kemandirian yang tinggi. Tidak tergantung pada negara (mengekor negara), tidak juga menggantungkan diri kepada negara (dependen) bahkan tidak begitu saja tunduk pada apapun kata negara (submisif), tetapi aktif mencari jalan keluar bagi persoalan yang dihadapi dalam masyarakatnya. Jika sebuah masyarakat tidak memiliki orang-orang semacam ini, maka masyarakat akan mandeg, stagnan, dan mungkin runtuh karena yang akan terjadi ialah survival of the fittest dari yang kaya terhadap yang miskin tanpa adanya kelas menengah sebagai cricital group. Kelompok Creative Minority terwujud dalam kelompok-
kelompok profesional di masyarakat: pengusaha menengah, wartawan, dosen, pengacara, akuntan, guru, dll.

Richard E Berg-Anderson menjelaskan, bahwa dalam bukunya Arnold Toynbee mengemukakan bahwa &quot;Civilizations arise not because of genetically superior individuals (there are none) or because of favorable geographical environment, but because of a creative response by a minority of individuals to a situation of special difficulty.” Selanjutnya Toynbee menulis, “ A civilization grows and progresses when the responses to external difficulties are internal and spiritual, rather than external and material.” Oleh karena itu, menurut Toynbee, “A civilization breaks down and disintegrates when the creative minority fails to exercise it’s creative power, leading to a withdrawal of the allegiance of the majority, a loss of social unity, and a failure of self-determination.” Toynbee menggunakan istilah Civilization (peradaban) yang memiliki dimensi nilai moral maupun nilai material.

Toynbee dalam menulis karya-karyanya menolak pandangan Oswald Spengler (The Decline of the West) yang melihat demokrasi sebagai sebuah kelemahan ketimbang kekuatan dan merindukan tokoh pemersatu yang kuat untuk menyatukan masyarakat (pandangan semacam ini kemudian melahirkan Adolf Hitler yang kemudian dicerca oleh Spengler dan Spengler masuk black list Nazi). Spengler memandang peradaban sebagai organisme yang hidup yang lahir, tumbuh, tua dan mati.

Menurut Toynbee, dalam sebuah peradaban, living organism bukanlah peradaban itu sendiri melainkan manusia yang berada di dalamnya dan membentuk populasi dari masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu, intinya ada pada bagaimana orang-orang dalam masyarakat itu membangun peradabannya.

Toynbee juga menolak pandangan Spengler yang memandang adanya &quot;siklus hidup&quot; peradaban. Menurut Toynbee skala waktu suatu peradaban adalah unik dan karena itu lebih bersifat open-ended. Yang menarik Toynbee menolak skenario epos kebangkitan peradaban dari tingkat primitif. Dalam pandangan Toynbee, Genesis dari suatu peradaban terjadi pada waktu masyarakat manusia dihadapkan dengan ukuran tantangan (challenge of scale) tertentu yang dimana yang oleh masyarakat sebelumnya tidak mampu diatasi dan oleh masyarakat yang sekarang bisa diatasi. Peradaban yang bertahan adalah peradaban yang tidak hanya mampu berhasil menjawab tantangan awal tetapi untuk itu juga mampu menjawab tantangan berikut yang lahir dari ditanganinya tantangan awal. Peradaban yang semacam ini disebut oleh Toynbee akan tumbuh menjadi peradaban yang dewasa dalam sejarah dunia (menurutnya hanya ada 23 peradaban yang semacam ini, sampai pada waktu karyanya ditulis).

Jawaban terhadap tantangan dilahirkan oleh satu &quot;Creative minority&quot; (suatu elite) dimana mayoritas (massa) akan secara sukarela mengikutinya setelah melihat cara mereka menjawab tantangan dan jawaban itu berhasil (proses ini disebut oleh Toynbee sebagai &quot;mimesis&quot;). Tantangan yang lahir kemudian, akan dijawab oleh elite yang berikutnya sedangkan yang lalu sudah mundur (baik secara sukarela maupun dipaksa oleh keadaan) dan hanya akan kembali kemudian ketika tantangan baru menuntut mereka mengambil peran Creative minority. Selama semua proses ini berjalan lancar, maka terjadi Growth.

Tentu saja Toynbee mengakui bahwa Growth bisa berhenti terjadi dan muncullah satu &quot;Time of Troubles&quot; karena elite yang ada berpuas diri dan tidak menangani tantangan baru atau sibuk dengan sisa-sisa kemenangan sebelumnya. Atau jika elite itu memandang bahwa hanya mereka yang sanggup menjawab tantangan berikutnya. Perpecahan akan datang pada saat massa mulai menolak untuk mengikuti teladan para elite dan elite ditempatkan pada posisi menggunakan kekuasaan untuk mewujudkan keinginannya sehingga bukan lagi menjadi &quot;creative minority&quot; melainkan &quot;Dominant Minority&quot; untuk meredam pemberontakan di antara para minoritas. Itulah awal dari Disintegration of the Civilization.

Diskusi selanjutnya akan lebih panjang lagi, karena menurut Toynbee &quot;dominant minority&quot; itu akan membentuk imperium (disebutnya &quot;universal state&quot;) tetapi tidak langgeng karena orang-orang yang terpinggirkan &quot;external proletariat&quot; dan yang dilarang untuk ambil bagian dalam &quot;universal state&quot; akan meningkatkan tekanan terhadap &quot;universal state&quot;. Sedangkan dari dalam, massa yang ada akan berbalik menjadi &quot;internal proletariat&quot; dibawah semangat agama (bukan politik) yang akan menjatuhkan &quot;universal state&quot; itu sehingga peradaban yang lama menjadi runtuh. Muncul tantangan baru, keruntuhan peradaban, yang membutuhkan respons dari &quot;creative minority&quot; baru dibawah semangat bersama (disebut universal church) untuk memulai Genesis dan Growth dari peradaban baru untuk menggantikan yang lama.

Pada tahun 1930an, dalam pengamatan Toynbee, hanya ada 5 peradaban dewasa yang tersisa: Barat, Kristen Ortodoks, Islam, Hindu India, dan Timur Jauh (Cina dan Jepang). Dari 5 ini hanya akan tersisa 3 peradaban dewasa, yang 2 memasuki Time of Troubles.

Keith Renninson membandingkan pandangan Toynbee dengan pandangan ahli filsafat Spanyol bernama Jose’ Ortega Y Gasset (1883-1955) yang pada tahun 1930 menyimpulkan dalam karyanya “The Revolt of the Masses” bahwa peradaban dipecah kedalam : the masses and creative minorities. Renninson mengutip Ortega, bahwa: “The prototype of the mass man is the technocrat or the specialist, the person who knows very well a small corner of the universe, but who is ignorant of the rest. The creative minority is a man of dynamic excellence. This man is a hero in that he exerts his will in service to values and goals that are larger than himself; he lives the noble, rather than the common life, in that he lives it as a discipline for which he constantly trains.”

Pada waktu pemilu Presiden AS tahun 2000, ada pendukung partai Demokrat yang menempatkan Gore dan kelompoknya sebagai bagian dari &quot;creative minority&quot; yang memperjuangkan tanggung jawab sosial, namun kalah melawan Bush yang membawa jargon tanggung jawab politik berbasis kekuatan adidaya militer.

Mungkin saya jadi terlalu jauh membandingkan dengan kasus Amerika, tetapi pertanyaan yang sama akan selalu menerpa setiap pemimpin, “What’s your legacy for the next generation?”. Termasuk pemimpin Satya Wacana.

Jika pada masa lalu Satya Wacana hadir dalam kancah pendidikan Indonesia dengan inovasi sistem SKS (yang belum dikenal dalam peraturan manapun di Indonesia), maka sekarang Satya Wacana menghadirkan sistem Trimester atau Trisemester yang merupakan penajaman (refining) dari SKS. Ini juga merupakan inovasi strategis. Pemerintah belum mengakomodirnya dalam peraturan pendidikan manapun di Indonesia.

Lalu kalau sekarang hasil-hasil inovasi itu mau dimatikan dari dalam UKSW sendiri dengan menakut-nakuti bahwa tidak diatur dalam peraturan pemerintah, maka jawabannya harus berbentuk pertanyaan “Masihkah kita mau menjadi Creative Minority? Bukankah kita harus melakukan pembaruan terhadap dunia dan bukan menjadi sama dengan dunia yang sudah terbukti gagal dalam membangun mutu pendidikan bangsa kita?”

Apakah kreativitas layak dimatikan dengan meminjam tangan negara?

UKSW adalah salah satu saksi kehadiran pelayanan Kristen dalam pendidikan di Indonesia. Relevansi kekristenan di Indonesia secara politik sangat kecil jika lembaga seperti UKSW tidak melakukan inovasi-inovasi yang mampu membawa perubahan positif bagi masyarakat. Oleh karena itu, UKSW perlu berinovasi secara terus menerus.

Dan oleh karena itu, sebaiknya setiap inovasi dari dalam tubuh UKSW tidak dimatikan di UKSW dengan pendekatan ancaman negara. Negara Indonesia saat ini sudah berada pada era yang lebih terbuka dan demokratis. Setiap inovasi akan diberikan perhatian dan Negara bisa diajak untuk ikut mengembangkan inovasi kita menjadi perubahan bersama. Itulah agenda kita yang lebih penting untuk dikembangkan.

Maukah kita menjadi ”creative minority” ?

Salam,
Theo Litaay
FH UKSW, Salatiga.
(3189045)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Dari tulisan lama berjudul &#8220;merenungkan Creative Minority [Quo vadis academia?]&#8221; yang saya tulis tanggal 11 Januari 11, 2007 jam 21:57 malam di Manila, yang waktu itu ditujukan untuk diskusi di milis Alumni UKSW.</p>
<p>Tulisan ini saya muat di sini untuk memperkaya diskusi yang dibangun oleh Satria Anandita dan kawan-kawan. Semoga bisa memperkaya.</p>
<p>Istilah Creative Minority sering disalahpersepsikan bahwa idiom ini mengacu kepada persoalan mayoritas-minoritas dalam hal kepemelukan agama di Indonesia. Sehingga memunculkan tafsiran akan kompleks inferioritas yang biasanya melanda kaum minoritas dari suatu masyarakat. Sehingga hal ini juga pernah dipertanyakan oleh beberapa orang dalam suatu seminar di kampus UKSW pada waktu lalu.</p>
<p>Namun sebenarnya idiom Creative Minority BUKAN dimaksudkan sebagai minoritas agama yang berdaya cipta, melainkan lebih dimaksudkan sebagai kelompok minoritas dalam struktur sosial di masyarakat yang berdaya cipta. Kelompok ini dalam Sosiologi kontemporer sering disebut sebagai Kelas Menengah, sedangkan oleh Dr Notohamidjojo diartikan sebagai minoritas yang berdaya cipta. Dalam pandangan sosiologis lain melihatnya sebagai bagian dari proses modernisasi yang menempatkan manusia pada tugas-tugas profesinya masing-masing (bandingkan dengan ”Division” menurut Durkheim).</p>
<p>Minoritas yang berdaya cipta adalah sekelompok orang yang karena kekuatan roh dan jiwanya, mampu menggerakkan massa yang pasif menjadi pelaku aktif dalam pembangunan. Mereka adalah bagian dari masyarakat yang terdidik secara akademik, memiliki kepemimpinan, dan aktif melakukan perubahan dalam masyarakat dimulai dari sekitar dirinya. Mereka tidak berada dalam tekanan ekonomi yang berat (kelas bawah) tetapi juga tidak memiliki segalanya (kelas atas). Sehingga mereka relatif mandiri atau otonom dari himpitan ekonomi maupun dari kepentingan mempertahankan sumber-sumber ekonomi.</p>
<p>Menurut Arnold Toynbee (1889-1975), yang karyanya dikutip oleh pak Noto, Creative Minority adalah inti dari runtuh atau berkembangnya suatu peradaban. Toynbee melakukan penelitian terhadap 21 pusat-pusat peradaban dunia (kemudian dikembangkan menjadi 23) yang sudah runtuh atau masih bertahan, kemudian hasilnya diterbitkan dalam multi seri bukunya berjudul &#8220;A Study of History&#8221; dimana kesimpulan di atas muncul. Oleh pak Noto, gagasan ini dikembangkan dengan idealisme bahwa jika para lulusan UKSW dapat melakukan perubahan<br />
dalam masyarakatnya maka termasuk dalam Creative Minority.</p>
<p>Menurut tafsiran pak Noto, Creative Minority memiliki kemandirian yang tinggi. Tidak tergantung pada negara (mengekor negara), tidak juga menggantungkan diri kepada negara (dependen) bahkan tidak begitu saja tunduk pada apapun kata negara (submisif), tetapi aktif mencari jalan keluar bagi persoalan yang dihadapi dalam masyarakatnya. Jika sebuah masyarakat tidak memiliki orang-orang semacam ini, maka masyarakat akan mandeg, stagnan, dan mungkin runtuh karena yang akan terjadi ialah survival of the fittest dari yang kaya terhadap yang miskin tanpa adanya kelas menengah sebagai cricital group. Kelompok Creative Minority terwujud dalam kelompok-<br />
kelompok profesional di masyarakat: pengusaha menengah, wartawan, dosen, pengacara, akuntan, guru, dll.</p>
<p>Richard E Berg-Anderson menjelaskan, bahwa dalam bukunya Arnold Toynbee mengemukakan bahwa &#8220;Civilizations arise not because of genetically superior individuals (there are none) or because of favorable geographical environment, but because of a creative response by a minority of individuals to a situation of special difficulty.” Selanjutnya Toynbee menulis, “ A civilization grows and progresses when the responses to external difficulties are internal and spiritual, rather than external and material.” Oleh karena itu, menurut Toynbee, “A civilization breaks down and disintegrates when the creative minority fails to exercise it’s creative power, leading to a withdrawal of the allegiance of the majority, a loss of social unity, and a failure of self-determination.” Toynbee menggunakan istilah Civilization (peradaban) yang memiliki dimensi nilai moral maupun nilai material.</p>
<p>Toynbee dalam menulis karya-karyanya menolak pandangan Oswald Spengler (The Decline of the West) yang melihat demokrasi sebagai sebuah kelemahan ketimbang kekuatan dan merindukan tokoh pemersatu yang kuat untuk menyatukan masyarakat (pandangan semacam ini kemudian melahirkan Adolf Hitler yang kemudian dicerca oleh Spengler dan Spengler masuk black list Nazi). Spengler memandang peradaban sebagai organisme yang hidup yang lahir, tumbuh, tua dan mati.</p>
<p>Menurut Toynbee, dalam sebuah peradaban, living organism bukanlah peradaban itu sendiri melainkan manusia yang berada di dalamnya dan membentuk populasi dari masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu, intinya ada pada bagaimana orang-orang dalam masyarakat itu membangun peradabannya.</p>
<p>Toynbee juga menolak pandangan Spengler yang memandang adanya &#8220;siklus hidup&#8221; peradaban. Menurut Toynbee skala waktu suatu peradaban adalah unik dan karena itu lebih bersifat open-ended. Yang menarik Toynbee menolak skenario epos kebangkitan peradaban dari tingkat primitif. Dalam pandangan Toynbee, Genesis dari suatu peradaban terjadi pada waktu masyarakat manusia dihadapkan dengan ukuran tantangan (challenge of scale) tertentu yang dimana yang oleh masyarakat sebelumnya tidak mampu diatasi dan oleh masyarakat yang sekarang bisa diatasi. Peradaban yang bertahan adalah peradaban yang tidak hanya mampu berhasil menjawab tantangan awal tetapi untuk itu juga mampu menjawab tantangan berikut yang lahir dari ditanganinya tantangan awal. Peradaban yang semacam ini disebut oleh Toynbee akan tumbuh menjadi peradaban yang dewasa dalam sejarah dunia (menurutnya hanya ada 23 peradaban yang semacam ini, sampai pada waktu karyanya ditulis).</p>
<p>Jawaban terhadap tantangan dilahirkan oleh satu &#8220;Creative minority&#8221; (suatu elite) dimana mayoritas (massa) akan secara sukarela mengikutinya setelah melihat cara mereka menjawab tantangan dan jawaban itu berhasil (proses ini disebut oleh Toynbee sebagai &#8220;mimesis&#8221;). Tantangan yang lahir kemudian, akan dijawab oleh elite yang berikutnya sedangkan yang lalu sudah mundur (baik secara sukarela maupun dipaksa oleh keadaan) dan hanya akan kembali kemudian ketika tantangan baru menuntut mereka mengambil peran Creative minority. Selama semua proses ini berjalan lancar, maka terjadi Growth.</p>
<p>Tentu saja Toynbee mengakui bahwa Growth bisa berhenti terjadi dan muncullah satu &#8220;Time of Troubles&#8221; karena elite yang ada berpuas diri dan tidak menangani tantangan baru atau sibuk dengan sisa-sisa kemenangan sebelumnya. Atau jika elite itu memandang bahwa hanya mereka yang sanggup menjawab tantangan berikutnya. Perpecahan akan datang pada saat massa mulai menolak untuk mengikuti teladan para elite dan elite ditempatkan pada posisi menggunakan kekuasaan untuk mewujudkan keinginannya sehingga bukan lagi menjadi &#8220;creative minority&#8221; melainkan &#8220;Dominant Minority&#8221; untuk meredam pemberontakan di antara para minoritas. Itulah awal dari Disintegration of the Civilization.</p>
<p>Diskusi selanjutnya akan lebih panjang lagi, karena menurut Toynbee &#8220;dominant minority&#8221; itu akan membentuk imperium (disebutnya &#8220;universal state&#8221;) tetapi tidak langgeng karena orang-orang yang terpinggirkan &#8220;external proletariat&#8221; dan yang dilarang untuk ambil bagian dalam &#8220;universal state&#8221; akan meningkatkan tekanan terhadap &#8220;universal state&#8221;. Sedangkan dari dalam, massa yang ada akan berbalik menjadi &#8220;internal proletariat&#8221; dibawah semangat agama (bukan politik) yang akan menjatuhkan &#8220;universal state&#8221; itu sehingga peradaban yang lama menjadi runtuh. Muncul tantangan baru, keruntuhan peradaban, yang membutuhkan respons dari &#8220;creative minority&#8221; baru dibawah semangat bersama (disebut universal church) untuk memulai Genesis dan Growth dari peradaban baru untuk menggantikan yang lama.</p>
<p>Pada tahun 1930an, dalam pengamatan Toynbee, hanya ada 5 peradaban dewasa yang tersisa: Barat, Kristen Ortodoks, Islam, Hindu India, dan Timur Jauh (Cina dan Jepang). Dari 5 ini hanya akan tersisa 3 peradaban dewasa, yang 2 memasuki Time of Troubles.</p>
<p>Keith Renninson membandingkan pandangan Toynbee dengan pandangan ahli filsafat Spanyol bernama Jose’ Ortega Y Gasset (1883-1955) yang pada tahun 1930 menyimpulkan dalam karyanya “The Revolt of the Masses” bahwa peradaban dipecah kedalam : the masses and creative minorities. Renninson mengutip Ortega, bahwa: “The prototype of the mass man is the technocrat or the specialist, the person who knows very well a small corner of the universe, but who is ignorant of the rest. The creative minority is a man of dynamic excellence. This man is a hero in that he exerts his will in service to values and goals that are larger than himself; he lives the noble, rather than the common life, in that he lives it as a discipline for which he constantly trains.”</p>
<p>Pada waktu pemilu Presiden AS tahun 2000, ada pendukung partai Demokrat yang menempatkan Gore dan kelompoknya sebagai bagian dari &#8220;creative minority&#8221; yang memperjuangkan tanggung jawab sosial, namun kalah melawan Bush yang membawa jargon tanggung jawab politik berbasis kekuatan adidaya militer.</p>
<p>Mungkin saya jadi terlalu jauh membandingkan dengan kasus Amerika, tetapi pertanyaan yang sama akan selalu menerpa setiap pemimpin, “What’s your legacy for the next generation?”. Termasuk pemimpin Satya Wacana.</p>
<p>Jika pada masa lalu Satya Wacana hadir dalam kancah pendidikan Indonesia dengan inovasi sistem SKS (yang belum dikenal dalam peraturan manapun di Indonesia), maka sekarang Satya Wacana menghadirkan sistem Trimester atau Trisemester yang merupakan penajaman (refining) dari SKS. Ini juga merupakan inovasi strategis. Pemerintah belum mengakomodirnya dalam peraturan pendidikan manapun di Indonesia.</p>
<p>Lalu kalau sekarang hasil-hasil inovasi itu mau dimatikan dari dalam UKSW sendiri dengan menakut-nakuti bahwa tidak diatur dalam peraturan pemerintah, maka jawabannya harus berbentuk pertanyaan “Masihkah kita mau menjadi Creative Minority? Bukankah kita harus melakukan pembaruan terhadap dunia dan bukan menjadi sama dengan dunia yang sudah terbukti gagal dalam membangun mutu pendidikan bangsa kita?”</p>
<p>Apakah kreativitas layak dimatikan dengan meminjam tangan negara?</p>
<p>UKSW adalah salah satu saksi kehadiran pelayanan Kristen dalam pendidikan di Indonesia. Relevansi kekristenan di Indonesia secara politik sangat kecil jika lembaga seperti UKSW tidak melakukan inovasi-inovasi yang mampu membawa perubahan positif bagi masyarakat. Oleh karena itu, UKSW perlu berinovasi secara terus menerus.</p>
<p>Dan oleh karena itu, sebaiknya setiap inovasi dari dalam tubuh UKSW tidak dimatikan di UKSW dengan pendekatan ancaman negara. Negara Indonesia saat ini sudah berada pada era yang lebih terbuka dan demokratis. Setiap inovasi akan diberikan perhatian dan Negara bisa diajak untuk ikut mengembangkan inovasi kita menjadi perubahan bersama. Itulah agenda kita yang lebih penting untuk dikembangkan.</p>
<p>Maukah kita menjadi ”creative minority” ?</p>
<p>Salam,<br />
Theo Litaay<br />
FH UKSW, Salatiga.<br />
(3189045)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Satria Anandita</title>
		<link>http://satria.anandita.net/menjawab-catatan-pinggir-nick-wiratmoko.str#comment-2392</link>
		<dc:creator>Satria Anandita</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 06:43:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satria.anandita.net/?p=266#comment-2392</guid>
		<description>@ Wit &amp; Neil: Sepakat pangkat empat dengan kata-kata Anda berdua. Dan trims buat Pak Neil atas penajaman perspektif yang kedua, serta terobosan pertanyaan-pertanyaan yang membuat saya berpikir lebih jauh. Saya batalkan poin kedua saya dalam surat untuk Nick Wiratmoko di atas. :)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>@ Wit &#038; Neil: Sepakat pangkat empat dengan kata-kata Anda berdua. Dan trims buat Pak Neil atas penajaman perspektif yang kedua, serta terobosan pertanyaan-pertanyaan yang membuat saya berpikir lebih jauh. Saya batalkan poin kedua saya dalam surat untuk Nick Wiratmoko di atas. :)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Neil</title>
		<link>http://satria.anandita.net/menjawab-catatan-pinggir-nick-wiratmoko.str#comment-2390</link>
		<dc:creator>Neil</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 05:21:59 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satria.anandita.net/?p=266#comment-2390</guid>
		<description>Friends,

Menerima rumusan2 Notohamidjojo juga bukan berarti tidak ada kerjaan lagi. Ini pandangan yang sangat keliru, menurut saya. Ambil contoh, jika kita terima rumusan profil lulusan UKSW atau salah satu rumusan misi atau atribut visi UKSW, membentuk angkatan pemimpin yang disebut creative minority, maka apa arti creative minority, misalnya, menurut kita di zaman sekarang (silahkan bertanya juga tentang konsep2 lain seperti universitas scientiarum, magistrorum et scholarium, menjadi radar, melakukan pengajaran, pelayanan, membela keadilan, dsbnya). Notohamidjojo meminjam istilah itu (creative minority) dari Arnold Toynbee yang menulis 12 volume &quot;A Study of History,&quot;  sebuah studi seputar maju mundurnya 21 peradaban besar di dunia. Saya belum pernah baca sendiri Toynbee dan berharap punya kesempatan membacanya, namun saya kira yang kita bisa terima adalah inti dari konsep, model atau orientasi utamanya dalam konteks yang diangkat, masyarakat dan perubahan. Masyarakat akan stagnan ketika tidak ada orang tertentu dengan karakteristik seperti creative minority itu menghembuskan angin perubahan. Jadi, konsep itu bukan sesuatu yang, misalkan, dikarang-karang semata. Memang sebagai konsep, atau label, ia pasti &quot;dikarang&quot;. Namun, ia diangkat dari realitas empiris yang menurut saya massif (bayangkan anda misalnya menstudikan 21 peradaban dunia). Meminjam istilah itu, pak Noto, menurut saya, diperhadapkan pada kondisi membayangkan mau apa Satya Wacana sesungguhnya setelah dia ada di bumi Salatiga, Indonesia dengan segala konteks dan tantangan di zaman lahir dan mulai bertumbuhnya. Apakah sekedar ada? Satya Wacana lahir karena misi yang diemban, paling tidak oleh sejumlah perancangnya, yang merefleksikan pergumulan orang Kristen atau gereja-gereja di zaman itu. Ingat, UKSW lahir sebagai Perguruan Tinggi Pendidikan Guru. Anda bisa membayangkan kira-kira mengapa demikian. Mengapa juga kemudian menjadi UKSW dengan 3 fakultas, bertambah dengan fakultas2 ilmu pasti alam dan seterusnya. Semua itu tumbuh sebagai respons kontekstual - historis, di atas visi dan dalam konteks misi yang diemban. Jadi, please tempatkan dalam peta yang luas, bukan masalah-masalah mikro internal UKSW semata, misalnya.

Lebih jauh, konsep serupa creative minority pun diangkat oleh para institutionalists dengan menyebut orang2 seperti itu sebagai institutional entrepreneurs. Saya kira, studi kepemimpinan secara umum menyebut mereka pemimpin, membedakannya dari bos, manajer, atau terserah anda mau sebut apa lagi. Sebutan bisa macam-macam, tetapi kita bertemu pada karakteristik utamanya, ketika mencari siapa penggerak majunya peradaban, organisasi, dan macam-macam. Yang jelas, ada ambisi Satya Wacana untuk bukan membebek he he he (karena itu jangan merasa menjadi bebek atau mau menjadi bebek). Saya sebut ambisi, tapi jangan maknai negatif. Bagi saya itu adalah respon iman, kalau sudah terima yang terbaik, apalagi yang harus kita buat? Duduk enak? Ongkang-ongkang kaki, di tengah tantangan atau masalah2 gereja, masyarakat, dan bangsanya? Well, bayangkan pergumulan iman seorang Notohamidjojo, yang tidak cuma memikirkan diri sendiri, termasuk keselamatan pribadi misalnya.

Lalu, kita ini hidup dalam dunia yang terus mewariskan banyak hal kepada kita, sejarah, ilmu pengetahuan, kebajikan, kebijaksanaan, dan macam-macam. Berterima terhadap sesuatu yang diwariskan dari masa lalu tidak berarti merendahkan martabat generasi penerus. Kita dan siapapun nanti punya tantangan zamannya sendiri dan menuntut kita merespon semampu kita. Jadi, mari kita fokus pada respon yang harus kita berikan hari ini pada persoalan, tantangan, atau peluang yang di depan mata kita, sambil mengingat apa mandat bagi kita sebagaimana yang diwariskan sejarah.

Kegagalan, kalau kesimpulannya demikian, Satya Wacana mewujudkan jati dirinya menjadi seperti yang dirumuskan Notohamidjojo bukan berarti dunia kiamat. Misalnya, tidak usah jauh-jauh, ketika kita bertanya konsep magistrorum et scholarium, bayangan Anda kayak apa sih universitas yang merupakan komunitas dosen - mahasiswa, apalagi yang diterangi pengakuan iman seperti semua orang sama di depan penciptanya? Apakah kita merupakan sebuah masyarakat keilmuan yang egaliter, humble, dalam segala aspek kehidupan akademik kita? Belum atau jauh sekali dari situ. Dalam konteks itu, rumusan Notohamidjojo ada dalam konteks pandangan visioner, sesuatu tentang masa depan, sekalipun berupaya diwujudkan pada zamannya. Orang misalnya jarang menjumpai dosen dan mahasiswa bisa bercakap serius atau santai di pinggir jalan, di cafetaria di zaman lalu. Namun, itu wajah normal UKSW, paling tidak pada orang-orang tertentu. Well, saya punya kesempatan berada di Stanford University, misalnya, salah satu universitas papan atas dunia. Saya makan siang di beberapa cafetaria-nya. Perwajahan dosen - mahasiswa bercengkerama seperti itu adalah hal biasa. Di dalam kelas barangkali pun mereka berdebat, itupun tidak aneh. Jadi, itu bukan mimpi, itu salah satu karakteristik perguruan tinggi. Namun, ketika Satya Wacana yang seharusnya berada dalam konteks &quot;makin menjadi&quot; setelah berproses sekian lama tahun hal seperti itu ternyata tidak makin menjadi tetapi muncul jejadian yang lain, marilah kita ajukan pertanyaan2, mengapa, apa yang terjadi, bagaimana terjadinya, kapan, dan barangkali pertanyaan2 yang bisa mengajak kita menganalisis, berefleksi, dan mencari respon kita terhadap deviasi itu. Namun, Notohamidjojo telah memberi kepada kita suatu wajah yang membuat kita bisa mengenal, &quot;oh itu UKSW!&quot;

Namun, saya tetap terbuka, bisa jadi kita datang dengan konsep atau model baru. Pertanyaannya, konsep atau model apa yang mau ditawarkan? Di atas dasar yang bagaimana ia dibangun. Orang dalam komunitas perguruan tinggi suka menguji sebuah konsepsi, proposisi, model, sebelum diterima. Dan, yang mengujinya pasti mendudukkan dirinya di atas sebuah model pikir yang sudah established, misalnya model jati diri UKSW versi Notohamidjojo, dalam konteks diskusi ini. Itulah kerangka institusional yang ada dan diterima, sebuah model baru pasti akan di-challenge untuk memenuhi syarat2 institusional. Karena itu, kalaupun ada sesuatu yang ditawarkan, akhirnya bisa jadi kita bertanya apa yang beda dari model yang lama? Apakah memang beda? Pertanyaan terakhir ini diajukan untuk mengingatkan kita, bahwa misalnya di dunia studi manajemen, ada banyak konsep/model ditawarkan, tetapi ketika dicari akar atau intinya ya sami mawon. Namun, industri manajemen tidak pernah berhenti me(re-)produksi konsep dan modelnya. Implikasinya, perusahaan2 gonta-ganti konsep bisnis-nya, model manajemen-nya dengan tools ini itu. Namun, ketika kita kritis bertanya, apa sih yang membedakan dirimu dari yang lain, jawaban orang kembali kepada karakteristik2 kunci tertentu yang memiliki sifat lintas waktu, tempat, walau dengan berbagai variasi2 di sana sini. Jadi, dalam cukup banyak, seolah-olah perubahan sangat cepat, fundamental, tetapi dalam banyak hal kita pada akhirnya membenarkan prinsip2 tertentu yang hampir bersifat everlasting. Dengan mengatakan itu, saya tidak bermaksud meniadakan &quot;revolusi&quot;2 dalam sejarah lho.

Jadi, semangat kita menantang konsep jati diri UKSW yang sudah established menuntut kita juga untuk kritis pada diri sendiri, cara pikir, sumber rujukan, dan sebagainya. Kritis untuk tidak sekedar melihat apa yang di permukaan, baju, atau kosmetik, tetapi melihat jauh ke dalam, mencari esensi-esensi. Nah, di situ saya menilai Satria sedang membongkar-bongkar yang esensi dan menantang sesuatu yang established, walau tentu kepadanya harus juga diajukan pertanyaan-pertanyaan kritis lanjutan.

Di situ, tantangan untuk Satria atau siapapun, misalnya, selanjutnya adalah, apa kira-kira model/gambaran/citra mental (visi) UKSW yang kalian bayangkan? Jika sampai saat ini kita baru sampai pada kritik kita tentang banyak hal yang tidak/kurang memuaskan di UKSW, atau pada tataran sangat abstrak kita tentang kesetiaan pada Tuhan, apa wujud empirik yang dibayangkan untuk Satya Wacana sebagai sebuah komunitas perguruan tinggi? Kita harus berangkat jauh ke  sana, karena kita berhadapan dengan realitas yang sangat konkret. Sekali lagi, yang kita pikirkan adalah sebuah model masa depan yang berangkat dari refleksi kondisi2 empiris kita hari kemarin, ini, dan barangkali hari esok. Universitas macam apa Satya Wacana yang kita inginkan? Komunitas yang relasi atau pergaulan antar komunitas yang macam bagaimana yang kita ingin lihat hari-hari? Misi apa yang harus diemban,  ketika kita ingin Satya Wacana eksis terus? Seribu satu pertanyaan bisa kita ajukan, untuk membangun model mental itu. Lalu, kesimpulan akhir kita bagaimana?

Tanggapan saya yang lain menyusul, Sat.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Friends,</p>
<p>Menerima rumusan2 Notohamidjojo juga bukan berarti tidak ada kerjaan lagi. Ini pandangan yang sangat keliru, menurut saya. Ambil contoh, jika kita terima rumusan profil lulusan UKSW atau salah satu rumusan misi atau atribut visi UKSW, membentuk angkatan pemimpin yang disebut creative minority, maka apa arti creative minority, misalnya, menurut kita di zaman sekarang (silahkan bertanya juga tentang konsep2 lain seperti universitas scientiarum, magistrorum et scholarium, menjadi radar, melakukan pengajaran, pelayanan, membela keadilan, dsbnya). Notohamidjojo meminjam istilah itu (creative minority) dari Arnold Toynbee yang menulis 12 volume &#8220;A Study of History,&#8221;  sebuah studi seputar maju mundurnya 21 peradaban besar di dunia. Saya belum pernah baca sendiri Toynbee dan berharap punya kesempatan membacanya, namun saya kira yang kita bisa terima adalah inti dari konsep, model atau orientasi utamanya dalam konteks yang diangkat, masyarakat dan perubahan. Masyarakat akan stagnan ketika tidak ada orang tertentu dengan karakteristik seperti creative minority itu menghembuskan angin perubahan. Jadi, konsep itu bukan sesuatu yang, misalkan, dikarang-karang semata. Memang sebagai konsep, atau label, ia pasti &#8220;dikarang&#8221;. Namun, ia diangkat dari realitas empiris yang menurut saya massif (bayangkan anda misalnya menstudikan 21 peradaban dunia). Meminjam istilah itu, pak Noto, menurut saya, diperhadapkan pada kondisi membayangkan mau apa Satya Wacana sesungguhnya setelah dia ada di bumi Salatiga, Indonesia dengan segala konteks dan tantangan di zaman lahir dan mulai bertumbuhnya. Apakah sekedar ada? Satya Wacana lahir karena misi yang diemban, paling tidak oleh sejumlah perancangnya, yang merefleksikan pergumulan orang Kristen atau gereja-gereja di zaman itu. Ingat, UKSW lahir sebagai Perguruan Tinggi Pendidikan Guru. Anda bisa membayangkan kira-kira mengapa demikian. Mengapa juga kemudian menjadi UKSW dengan 3 fakultas, bertambah dengan fakultas2 ilmu pasti alam dan seterusnya. Semua itu tumbuh sebagai respons kontekstual &#8211; historis, di atas visi dan dalam konteks misi yang diemban. Jadi, please tempatkan dalam peta yang luas, bukan masalah-masalah mikro internal UKSW semata, misalnya.</p>
<p>Lebih jauh, konsep serupa creative minority pun diangkat oleh para institutionalists dengan menyebut orang2 seperti itu sebagai institutional entrepreneurs. Saya kira, studi kepemimpinan secara umum menyebut mereka pemimpin, membedakannya dari bos, manajer, atau terserah anda mau sebut apa lagi. Sebutan bisa macam-macam, tetapi kita bertemu pada karakteristik utamanya, ketika mencari siapa penggerak majunya peradaban, organisasi, dan macam-macam. Yang jelas, ada ambisi Satya Wacana untuk bukan membebek he he he (karena itu jangan merasa menjadi bebek atau mau menjadi bebek). Saya sebut ambisi, tapi jangan maknai negatif. Bagi saya itu adalah respon iman, kalau sudah terima yang terbaik, apalagi yang harus kita buat? Duduk enak? Ongkang-ongkang kaki, di tengah tantangan atau masalah2 gereja, masyarakat, dan bangsanya? Well, bayangkan pergumulan iman seorang Notohamidjojo, yang tidak cuma memikirkan diri sendiri, termasuk keselamatan pribadi misalnya.</p>
<p>Lalu, kita ini hidup dalam dunia yang terus mewariskan banyak hal kepada kita, sejarah, ilmu pengetahuan, kebajikan, kebijaksanaan, dan macam-macam. Berterima terhadap sesuatu yang diwariskan dari masa lalu tidak berarti merendahkan martabat generasi penerus. Kita dan siapapun nanti punya tantangan zamannya sendiri dan menuntut kita merespon semampu kita. Jadi, mari kita fokus pada respon yang harus kita berikan hari ini pada persoalan, tantangan, atau peluang yang di depan mata kita, sambil mengingat apa mandat bagi kita sebagaimana yang diwariskan sejarah.</p>
<p>Kegagalan, kalau kesimpulannya demikian, Satya Wacana mewujudkan jati dirinya menjadi seperti yang dirumuskan Notohamidjojo bukan berarti dunia kiamat. Misalnya, tidak usah jauh-jauh, ketika kita bertanya konsep magistrorum et scholarium, bayangan Anda kayak apa sih universitas yang merupakan komunitas dosen &#8211; mahasiswa, apalagi yang diterangi pengakuan iman seperti semua orang sama di depan penciptanya? Apakah kita merupakan sebuah masyarakat keilmuan yang egaliter, humble, dalam segala aspek kehidupan akademik kita? Belum atau jauh sekali dari situ. Dalam konteks itu, rumusan Notohamidjojo ada dalam konteks pandangan visioner, sesuatu tentang masa depan, sekalipun berupaya diwujudkan pada zamannya. Orang misalnya jarang menjumpai dosen dan mahasiswa bisa bercakap serius atau santai di pinggir jalan, di cafetaria di zaman lalu. Namun, itu wajah normal UKSW, paling tidak pada orang-orang tertentu. Well, saya punya kesempatan berada di Stanford University, misalnya, salah satu universitas papan atas dunia. Saya makan siang di beberapa cafetaria-nya. Perwajahan dosen &#8211; mahasiswa bercengkerama seperti itu adalah hal biasa. Di dalam kelas barangkali pun mereka berdebat, itupun tidak aneh. Jadi, itu bukan mimpi, itu salah satu karakteristik perguruan tinggi. Namun, ketika Satya Wacana yang seharusnya berada dalam konteks &#8220;makin menjadi&#8221; setelah berproses sekian lama tahun hal seperti itu ternyata tidak makin menjadi tetapi muncul jejadian yang lain, marilah kita ajukan pertanyaan2, mengapa, apa yang terjadi, bagaimana terjadinya, kapan, dan barangkali pertanyaan2 yang bisa mengajak kita menganalisis, berefleksi, dan mencari respon kita terhadap deviasi itu. Namun, Notohamidjojo telah memberi kepada kita suatu wajah yang membuat kita bisa mengenal, &#8220;oh itu UKSW!&#8221;</p>
<p>Namun, saya tetap terbuka, bisa jadi kita datang dengan konsep atau model baru. Pertanyaannya, konsep atau model apa yang mau ditawarkan? Di atas dasar yang bagaimana ia dibangun. Orang dalam komunitas perguruan tinggi suka menguji sebuah konsepsi, proposisi, model, sebelum diterima. Dan, yang mengujinya pasti mendudukkan dirinya di atas sebuah model pikir yang sudah established, misalnya model jati diri UKSW versi Notohamidjojo, dalam konteks diskusi ini. Itulah kerangka institusional yang ada dan diterima, sebuah model baru pasti akan di-challenge untuk memenuhi syarat2 institusional. Karena itu, kalaupun ada sesuatu yang ditawarkan, akhirnya bisa jadi kita bertanya apa yang beda dari model yang lama? Apakah memang beda? Pertanyaan terakhir ini diajukan untuk mengingatkan kita, bahwa misalnya di dunia studi manajemen, ada banyak konsep/model ditawarkan, tetapi ketika dicari akar atau intinya ya sami mawon. Namun, industri manajemen tidak pernah berhenti me(re-)produksi konsep dan modelnya. Implikasinya, perusahaan2 gonta-ganti konsep bisnis-nya, model manajemen-nya dengan tools ini itu. Namun, ketika kita kritis bertanya, apa sih yang membedakan dirimu dari yang lain, jawaban orang kembali kepada karakteristik2 kunci tertentu yang memiliki sifat lintas waktu, tempat, walau dengan berbagai variasi2 di sana sini. Jadi, dalam cukup banyak, seolah-olah perubahan sangat cepat, fundamental, tetapi dalam banyak hal kita pada akhirnya membenarkan prinsip2 tertentu yang hampir bersifat everlasting. Dengan mengatakan itu, saya tidak bermaksud meniadakan &#8220;revolusi&#8221;2 dalam sejarah lho.</p>
<p>Jadi, semangat kita menantang konsep jati diri UKSW yang sudah established menuntut kita juga untuk kritis pada diri sendiri, cara pikir, sumber rujukan, dan sebagainya. Kritis untuk tidak sekedar melihat apa yang di permukaan, baju, atau kosmetik, tetapi melihat jauh ke dalam, mencari esensi-esensi. Nah, di situ saya menilai Satria sedang membongkar-bongkar yang esensi dan menantang sesuatu yang established, walau tentu kepadanya harus juga diajukan pertanyaan-pertanyaan kritis lanjutan.</p>
<p>Di situ, tantangan untuk Satria atau siapapun, misalnya, selanjutnya adalah, apa kira-kira model/gambaran/citra mental (visi) UKSW yang kalian bayangkan? Jika sampai saat ini kita baru sampai pada kritik kita tentang banyak hal yang tidak/kurang memuaskan di UKSW, atau pada tataran sangat abstrak kita tentang kesetiaan pada Tuhan, apa wujud empirik yang dibayangkan untuk Satya Wacana sebagai sebuah komunitas perguruan tinggi? Kita harus berangkat jauh ke  sana, karena kita berhadapan dengan realitas yang sangat konkret. Sekali lagi, yang kita pikirkan adalah sebuah model masa depan yang berangkat dari refleksi kondisi2 empiris kita hari kemarin, ini, dan barangkali hari esok. Universitas macam apa Satya Wacana yang kita inginkan? Komunitas yang relasi atau pergaulan antar komunitas yang macam bagaimana yang kita ingin lihat hari-hari? Misi apa yang harus diemban,  ketika kita ingin Satya Wacana eksis terus? Seribu satu pertanyaan bisa kita ajukan, untuk membangun model mental itu. Lalu, kesimpulan akhir kita bagaimana?</p>
<p>Tanggapan saya yang lain menyusul, Sat.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: petrus wijayanto</title>
		<link>http://satria.anandita.net/menjawab-catatan-pinggir-nick-wiratmoko.str#comment-2380</link>
		<dc:creator>petrus wijayanto</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 01:59:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://satria.anandita.net/?p=266#comment-2380</guid>
		<description>kalau makna &#039;satya wacana&#039; akan (hanya) mengikuti apa yang sudah dipaparkan oleh Pak Noto, sesuai dengan pemikiran beliau, ya sudah... nggak perlu didiskusikan lagi.. terima saja sebagai Notohamidjojoisme.

tapi itu khan &#039;katanya&#039; Notohamidjojo, yang mungkin masih perlu dikaji kembali, disesuaikan lagi dengan konteks yang mungkuin sudah berubah dibandingkan dengan ketika Pak Noto mengungkapkan pemikirannya... (karena Pak Noto sudah tiada, tetapi &quot;SATYA WACANA&quot; masih eksis hingga sekarang dan akan tetap ada di masa mendatang, entah sampai kapan)

tentang &#039;Katanya&quot; silakan baca http://pwijayanto.salatiga.biz/?p=355

(so.. pemikiran Satria dan teman-teman lain tetap perlu untuk semakin memahami SATYA WACANA dari berbagai sudut pandang)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>kalau makna &#8217;satya wacana&#8217; akan (hanya) mengikuti apa yang sudah dipaparkan oleh Pak Noto, sesuai dengan pemikiran beliau, ya sudah&#8230; nggak perlu didiskusikan lagi.. terima saja sebagai Notohamidjojoisme.</p>
<p>tapi itu khan &#8216;katanya&#8217; Notohamidjojo, yang mungkin masih perlu dikaji kembali, disesuaikan lagi dengan konteks yang mungkuin sudah berubah dibandingkan dengan ketika Pak Noto mengungkapkan pemikirannya&#8230; (karena Pak Noto sudah tiada, tetapi &#8220;SATYA WACANA&#8221; masih eksis hingga sekarang dan akan tetap ada di masa mendatang, entah sampai kapan)</p>
<p>tentang &#8216;Katanya&#8221; silakan baca <a href="http://pwijayanto.salatiga.biz/?p=355" rel="nofollow">http://pwijayanto.salatiga.biz/?p=355</a></p>
<p>(so.. pemikiran Satria dan teman-teman lain tetap perlu untuk semakin memahami SATYA WACANA dari berbagai sudut pandang)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
