Saya bukan penggemar setia tempe. Dulu memang sempat fanatik, tapi hanya sebentar. Dan sejak beberapa hari yang lalu, saya coba menggemarinya lagi.

Krisis ketahanan pangan yang menimpa Indonesia belakangan rupanya cukup menggelikan. Pasalnya, yang menjadi biang masalah adalah kelangkaan kedelai, komoditas yang sudah sangat merakyat di Indonesia dengan turunannya berupa tahu, tempe, kecap, susu kedelai, dan sebangsanya. Lonjakan harga kedelai di pasar internasional yang mencapai lebih dari 100 persen kini membuat banyak industri kecil perajin tahu tempe di Indonesia terancam gulung tikar.

Semua ini bermula ketika Amerika Serikat, Kanada, dan Brazil menciutkan areal pertanian kedelainya, hingga menurunkan produksi kedelai dunia sampai 30 persen. Belum lagi, permintaan kedelai untuk bahan baku bioetanol juga meningkat, sehingga ketersediaan kedelai untuk pangan semakin langka. Produksi tempe Indonesia yang selama ini bergantung pada kedelai impor pun akhirnya harus ikut merana karena kelangkaan bahan baku.

Di lain pihak, produksi kedelai domestik tidak bisa diharapkan karena terus mengalami penurunan. Selama ini, para petani enggan menanam kedelai karena untungnya sedikit, sedangkan untung yang sedikit ini disebabkan oleh harga yang murah dan produktivitas tanaman yang rendah.

Harga kedelai yang murah tak lain karena penghargaan masyarakat Indonesia yang rendah terhadap tempe (produk turunan utama dari kedelai). Mereka yang (merasa) kaya lebih suka melahap makanan-makanan nontempe karena tempe dianggap menurunkan gengsi. Padahal, stigma yang dipasangkan pada tempe selama ini jelas tidak sebanding dengan kandungan gizinya yang tinggi. Sedangkan produktivitas tanaman yang rendah adalah hasil dari kelalaian putra-putri terbaik bangsa untuk mengembangkan varietas-varietas kedelai unggul, yang dapat menaikkan kualitas dan kuantitas produksi.

Dari sini terlihat, bahwa penghargaan masyarakat Indonesia yang rendah terhadap pusaka kulinernya sendiri akhirnya menempatkan kedaulatan pangan bangsa ini ke dalam ancaman. Isi perut kita sekarang sudah bergantung pada bangsa lain, Saudara-saudara! Beras impor, kedelai impor, tepung impor, daging impor, apa lagi? Nanti, kalau untuk makan tempe pun terpaksa impor, orang se-Indonesia akan bersama-sama mengonyolkan diri. Tempe sudah kita klaim sebagai makanan tradisional Indonesia! Apa kita harus impor makanan tradisional kita dari negara lain? Mengimpor tradisi kita sendiri?

Di sana, pemerintah kita juga tidak berpangku tangan, melainkan telah dan sedang melakukan penanganan untuk meredam bencana ini. Kebijakannya dimulai dari penghapusan bea masuk untuk impor kedelai, hingga penggenjotan produksi kedelai domestik lewat panca usaha tani. Harapannya, peningkatan produksi kedelai domestik dapat mengatasi kelangkaan, yang pada gilirannya akan menurunkan harga.

Tentu saja, masih ada banyak kerikil di tengah jalan menuju penegakan kedaulatan pangan ini. Tantangan utama jangka pendeknya adalah memberikan edukasi kepada para petani untuk mempersiapkan lahan dan membudidayakan kedelai dengan optimal agar krisis kedelai dapat teratasi. Ini jelas butuh konsep pemberdayaan yang matang.

Sementara itu, selama masa ini, bersiap-siaplah untuk merindukan tempe! Tempe sudah menghilang dari sejumlah pasar tradisional. Jika bisa ditemui, pasti tebusannya mahal.

Kemarin malam saya diberitahu oleh seorang penjual nasi kucing, “Di Salatiga tempe belum langka, Mas. Cuma harganya memang naik, dari yang biasanya Rp 3.500 jadi Rp 5.000.” Ah, syukurlah ….

tapi di tempat ku gak heboh heboh amat masalah tahu tempe, malah tadi siang dan kemaren aku makan siang pake tahu sama tempe

ayahshiva’s latest post: (Mungkin Ini) Kesempatan Terakhir Saya

Salam kenal Mas STR

@ ayahshiva: Mungkin belum, Pak. :)

@ Aji: Salam kenal kembali, Pak! Hohoho …

wah ternyata tempe sudha jadi barang mahal yah?
tapi bisa jadi dengan begitu malah bikin tempe jadi makanan fav ntar mas. sapa tau?
:D

bedh’s latest post: Menjadi besar dengan Hati

@ bedh: Lho, harusnya itu tempe memang jadi makanan favorit karena kualitas gizinya. :D

bahan baku impor, hak paten diambil tetangga, kita hanya jadi konsumen. barangkali karena terbiasa dibilang negara kaya, semua pengennya tinggal beli aja… :D

Siti Jenang’s latest post: Keselarasan Dalam Ilmu Kejawen

antara tempe ma tahu gw paling suka tahu…tempe gk begitu..klo bisa dipinggirkan….tp yg terkenal emang tempe mulu…gak da mental tahu..yg da sok tahu..gk sok tempe…wehehehe… :)

Anno’’s latest post: Monumen ?Ground Zero?, Bali

Pasalnya, yang menjadi biang masalah adalah kelangkaan kedelai

Klo saya ndak salah denger…
Dulu kedelai di endonesia malah berlimpah berlebihan..

Eh, klo gak salah sih…

Praditya’s latest post: Milik Kami Berdua: Yang Lain Ngontrak!

@ Siti Jenang: Lha … Iya kali. Kena sugesti kita. :P

@ Anno’: :lol: Semua udah ada bagiannya masing-masing. :P

@ Praditya: Ya, mungkin dulunya duluuuuuu sekali, Bro. Hohoho! Soalnya, udah beberapa tahun ini pasar kedelai kita didominasi produksi USA. :)

ya mas sabar aja, kemaren pagi saya makan sama tempe dan tahu (dicampur). Dalam hati, saya berkata: mungkinkah ini yang tempe dan tahu ku yang terakhir??

nico kurnianto’s latest post: Download lagu di internet: ilegal atau legal? (sebuah opini)

hari ini makan tempe dan tahu bacem :D
senangnyaaaa

ancilla’s latest post: [whatever they said]

Siapa bilang tempe tak bergengsi, jangan salah, tempe kini yang sudah menjadi hak paten jepang harganya kalo dikurskan ke rupiah mencapai angka 20ribuan lhooo..

so, dasar indonesia yang tak pernah sadar betapa berharga dirinya sehingga lebih bangga dengan mengenakan atribut luar negeri ketimbang atributnya sendiri.. capek ah!

hahahahaha

gempur’s latest post: Hijrah Blog

oh ya, satu lagi, petani selalu terpinggirkan semenjak revolusi hijau dicanangkan di mana salah satunya adalah pola bertanam petani yang didikte dan dikuasai oleh negara dan kapitalisme global..

wah panjang ceritanya nih.. sesuk ae kalo mas STR bikin artikel tentang marjinalisasi petani.. hehehehehe

trus pemerintah menurunkan bea impor kedelai dari 10% jadi 0%? kenapa pemerintah sukanya grusagrusu? bertindak kalau udah kebacut, udah jelas2 kelangkaan baru deh intensifikasi atau apalah itu, trus menurunkan bea impor.
mau makan tempe aja kok mahal?

arri’s latest post: Hujan – Tangis

@ nico: Memang sabar kok. :)

@ ancilla: Saya jugaaa! :D

@ gempur: Lha yo makane itu, Pak. Indonesia ndak pernah merasa bangga sama atributnya sendiri, tapi kalo atributnya udah diopeni sama orang lain malah ribut, koyok kasus Malingsia iku.

Hohoho … Revolusi Hijau emang cuma akal-akalan aja. :mrgreen: Mbok njenengan aja yang nulis marjinalisasi petani. Atau jangan-jangan masih sibuk ngubek-ngubek kebebasan yak? :D

@ arri: Klasik itu, Mbak … Memang pemerintah sukanya grusa-grusu, tapi mungkin itu juga karena mereka udah kadung mumet mikir negara, jadi ya manusiawi lah kalo gitu (tapi ndak betul juga kayak gitu). Halah, aku kok jadi ikut mumet? :D

Tulisannya sebenarnya menarik, tetapi terdapat kesalahan logika pemikiran sebab-akibat.

Di awal sudah disebutkan bahwa kedelai saat itu harganya murah, beberapa negara produsen bahkan memilih untuk mengkonversi lahan kedelai (30%), ini terjadi juga di level domestik.

Khusus untuk paragraf yang ini nih:
Harga kedelai yang murah tak lain karena penghargaan masyarakat Indonesia yang rendah …
[...]
…yang dapat menaikkan kualitas dan kuantitas produksi.

–Bukannya benar jika begitu kalau pengembangan varietas selama ini memang tidak mendesak untuk dilakukan? Toh harganya murah meriah, permintaan sedikit (sesuai tulisan anda lho)… ngapain buang duit, waktu, tenaga untuk riset dan segala macamnya?
–”Mereka {merujuk ke masyarakat Indonesia pastinya} yang (merasa) kaya lebih suka melahap makanan-makanan nontempe karena tempe dianggap menurunkan gengsi”. Lha terus kalo begini kenapa harus bingung/concern dg masalah kedelai yg membumbung harganya? Toh ‘mereka’ gak suka makan tempe (menurut anda), ngapain ribut kalo tempe harganya mahal? Jangan -jangan maksudnya supaya SEMUA orang di Indonesia diharapkan suka tempe?

Untuk paragraf-paragraf selanjutnya, isinya menganjurkan usaha dari semua kalangan agar mengalokasikan sumberdaya untuk produksi kedelai.
–Percaya deh, jika suatu komoditas harganya tiba-tiba menembus langit, pasti ntar banyak produsen yang berusaha memproduksi komoditas tersebut.

Persoalan harga kedelai ini adalah masalah klasik supply vs demand. Dahulu supply relatif banyak (thdp demand) jadinya harga murah, sekarang perbandingannya mulai bergeser, jadinya harganya juga ikut bergeser.

BTW, nice blog. Terlebih anda masih muda…keep reading & writing.

Sebentar lagi akan muncul tempe import dengan merk tertentu dan pasti akan jadi komoditas pangan wah……..

Setahu saya, harga tempe di Surabaya nggak ada masalah.
Keluarga saya pun sering makan tempe yang kaya dengan protein ini.

Edi Psw’s latest post: Memilih Perabotan Rumah

gelem tak uncali tempe penyet suroboyo? :D

det’s latest post: Rahma Azhari: iseng berhadiah anak

kemarin ridu makan tahu.. seneng banget deh rasanya bisa makan tahu.. yang secara jarang banget yang jual kan akhir2 ini…

ridu’s latest post: Blog ini ?Naik Kelas?

@ Anon: Makasih banyak buat pemikiran kritisnya. Saya jawab ya. :)

–Bukannya benar jika begitu kalau pengembangan varietas selama ini memang tidak mendesak untuk dilakukan? Toh harganya murah meriah, permintaan sedikit (sesuai tulisan anda lho)… ngapain buang duit, waktu, tenaga untuk riset dan segala macamnya?

Justru karena tempe punya nilai jual rendah, di situlah riset dan sentuhan inovasi dibutuhkan untuk memberikan nilai tambah bagi tempe. Orientasi produksinya harus berubah dong, dari yang market driven oriented jadi innovation driven oriented (modern). Kalo nggak ada usaha seperti ini, tempe akan punah. Dan kalo tempe punah, itu jadi masalah, karena pada dasarnya orang-orang Indonesia butuh tempe.

Dan tolong baca lagi tulisan saya dengan cermat. Saya nggak pernah menulis bahwa permintaan tempe itu sedikit. Saya hanya menulis bahwa permintaan tempe untuk bahan baku bioetanol naik. Dan lagi, fakta menunjukkan bahwa permintaan akan tempe sebagai bahan pangan juga naik (beritanya di sini).

–”Mereka {merujuk ke masyarakat Indonesia pastinya} yang (merasa) kaya lebih suka melahap makanan-makanan nontempe karena tempe dianggap menurunkan gengsi”. Lha terus kalo begini kenapa harus bingung/concern dg masalah kedelai yg membumbung harganya? Toh ‘mereka’ gak suka makan tempe (menurut anda), ngapain ribut kalo tempe harganya mahal? Jangan -jangan maksudnya supaya SEMUA orang di Indonesia diharapkan suka tempe?

Lha masalahnya, mereka yang (merasa) kaya atau ndak suka tempe itu kan jumlahnya lebih sedikit daripada mereka yang suka tempe. Tapi, gara-gara mereka yang (merasa) kaya itulah stigma terhadap tempe menjadi sangat hina (masyarakat kelas menengah ke atas kan lebih gampang menyebarkan pengaruh). Dan stigma (penghargaan psikologis dan sosiologis) yang hina inilah yang akhirnya memberikan dampak negatif terhadap penghargaan tempe secara ekonomis (rendahnya harga).

Jelas, masalah ini bukan sekadar masalah klasik supply and demand. Ada nilai-nilai sosial budaya yang bermain di sini (dengan membentuk stigma). Dan nilai-nilai sosial budaya yang selama ini dipakaikan ke tempe tidak tepat (irasional).

Tempe sangat bergizi. Permintaan terhadap tempe juga semakin naik. Masyarakat Indonesia sebagian besar mengonsumsi tempe. Tapi, hanya gara-gara stigmanya hina, harga tempe ikut-ikutan terhina.

Kalau mau “menyelamatkan” tempe, tidak cukup hanya dengan menaikkan supply kedelai. Pemikiran irasional yang memberi stigma buruk terhadap tempe juga harus dikikis, sehingga tempe bisa mendapatkan penghargaan yang lebih proporsional secara psikologis dan sosiologis, yang pada gilirannya juga akan memperbaiki penghargaan tempe secara ekonomis.

@ best: Ya, mungkin.

@ Edi Psw: Masak sih, Pak? Wong dimana-mana harga tempe ngelunjak kok. Atau mungkin Surabaya udah bisa swasembada kedelai yak? :)

@ det: Endi?? *mangap* :D

@ ridu: Sama, Du. Aku tadi malem juga makan nasi kucing sama tempe tahu. Untung di Salatiga belum langka, cuma harganya aja yang naik.

disaat saya mulai menyukai tempe, eeee malah dia hilang … siyall

ojat’s latest post: Jalan-jalan Sabtu Ini

@ ojat: Wohohoho! Sabar, Bos. :)

tempe makanan murah meriah kaya akan gizi…… makanan tradisi indonesia….

Anang’s latest post: Tahu Tempe Riwayatmu Kini

@ Anang: Udah? Segitu doang? Ndak ada pidato ato ceramah nih dari Bapak SB (seleblog)? :mrgreen: *guyon cuk*

[...] jadi sok pemikir berat, mengutip topik artikel mas STR berkaitan dengan mental tempe, juga mengutip tulisan mas iman brotoseno, saya ndongeng pencekalan [...]

postingan ok tapi sy mau protes sama judul

kenapa mental tempe?!?

apakah tempe hrs dikonotasikan konotasi negatif?

didut’s latest post: Kampanye Tas Belanja (part 1)

Wah bener banget tuch,,, kasihan ya Indonesia padahal kita terkenal sebagai negri yang kaya raya, tapi kenyataannya banyak utang sana sini, bagaimana ya nasib anak2 muda dimasa yang akan datang, apalagi banyak anak2 muda yang mulai menggunakan narkoba, duh Negriku….

salam kenal ya saya mahasiswa dari Perguruan Tinggi Kedinasan yang mempelajari Kriptologi,
saya baru semester 3 (Tingkat II) nah biar lebih akrab kunjungin blog saya dan jangan lupa kasih komentarnya juga ya…

alamat blog saya kriptologi.wordpress.com

HIDUP MAHASISWA!!!!

Sandromedo’s latest post: Mengoptimalkan Kinerja / Kerja Windows XP

@ didut: Lha kalo sampeyan mikirnya gitu, ya silakan bertendensi sendiri. Saya sendiri nulis judul itu karena cuma itu yang keluar dari ingatan saya waktu nulis posting ini.

Btw, makasih pujiannya. :D

@ Sandromedo: Ha! Salam kenal juga! Wah dapet temen baru nih. Pasti anda mahasiswa Sekolah Tinggi Sandi Negara yang di Bogor itu kan? Hidup mahasiswa! *mahasiswa yang mana?* :D

*berharap salah satu menteri bapak membaca blog sampeyan, lalu membacaken postingan ini kepada beliau*

puput’s latest post: our coffee

@ puput: Saya ndak merasa punya menteri, Mbak. Saya ndak merasa pernah memilih soalnya.

[...] romantisme masa lalu, Indonesia juga masih punya tantangan yang lebih lantang menghadang di depan: kedaulatan pangan kita masih dilanda krisis! Namun demikian, ternyata para bos media lebih memprioritaskan seorang Soeharto, daripada masalah [...]

Post a comment