Menutup Pekan Kehidupan

Apa yang diajarkan sebuah akhir pekan kepada saya?

Kronologi akhir pekan termutakhir saya adalah sebagai berikut:

Sabtu bangun siang karena malam sebelumnya (hingga pagi) minum anggur sampai bodok, seperti sekarang. Begitu bangun dan cek hape ternyata ada SMS dari Adi Kriting. Isinya ajakan pergi ke Batang. Ke tempat seorang tuan tanah yang terkenal karena mengerahkan puluhan truk petani unjuk rasa ke DPRD Jateng setiap kali panen. Ada apa di sana? Adi menelepon.

Ada kongres petani Batang.

Lalu saya iyakan.

Saya tak tahu kenapa saya iyakan. Pokoknya iyakan. Kepala masih agak melayang. Agak melayang karena yang diminum anggur. Kalau yang diminum arak Solo, pasti kepala mau putus.

Tidak langsung bangun dari kasur. Saya nyalakan laptop dan buka Twitter, lalu latihan flirting dengan tiga perempuan. Setelah itu bangun dan mandi. Berjalan ke halte dan naik bus ke Semarang.

Sampai di Semarang jam setengah lima dan hari beringsut petang. Adi masih di kantor dan baru bisa menjemput jam enam. Saya putuskan menunggu dengan habiskan waktu di Java Mall untuk mencari buku Blues Merbabu dan dapat. Bertemu buku bagus Hurufontipografi dan ingin membeli. Kemudian sadar uang tak cukup.

Rasanya ingin muntah.

Batal membeli Hurufontipografi. Adi mengabarkan bahwa ia akan segera meluncur dari kantornya. Saya keluar.

Bersama Adi menuju angkringan Thamrin. Puas makan nasi kucing, kami ke Paragon. Ini kali pertama saya ke Paragon. Ditraktir Adi ngopi di J.CO dan agak canggung. Saat menghabiskan masa SMA di Surabaya saya tak suka ke mal karena minder. Minder karena tak punya duit. Saya bilang ini ke Adi. Dia bilang hidup perlu hedonisme. Saya setuju.

Sekarang saya ingin ganti “saya” dengan “aku”. Kuperhatikan perempuan-perempuan yang lewat. Kebanyakan pakai rok mini dan baju ketat. Tapi bagiku mereka telanjang. Aku bisa melihat roman selangkangan mereka. Aku ingin bermain dengan salah satu dari mereka. Tidak.

Semuanya.

Aku ingin belajar banyak soal hedonisme.

Aku kenal Adi Kriting alias Adi Demo di kampus. Dia kakak angkatan dari jurusan elektro. Aku jurusan sorga dunia. Kami beda sekitar sepuluh tahun. Sekarang dia wartawan Suara Merdeka. Dia menghiburku dengan beberapa kisah korupsi di Jateng. Sebelumnya, di Twitter, dia bilang dia menulis supaya ada orang masuk penjara.

Hiburan lain adalah Adi tak lulus kuliah. Dia bercita-cita sebagai peneliti. Tapi peneliti butuh sekolah tinggi. Jadi batal. Sebagai ganti, baru-baru ini seorang peneliti datang dari London untuk mewawancarainya soal kasus-kasus korupsi di Jateng. Dia pamerkan sebuah kartu nama. Ada logo Oxford di sebelah kanan atas. Yang mewawancarainya adalah orang Australia yang sedang mengerjakan disertasi di Inggris. Mendadak aku ingin pamerkan lingkar pergaulanku karena cuma inilah yang aku bisa. Haha.

Jadi kenapa Adi tak lulus kuliah?

Menurutnya karena terlalu sering demo. Karena demo, dia harus pusatkan perhatian untuk menggalang massa, mempengaruhi orang, mengontrol konflik, dan sebagainya. Tak ada waktu memikirkan kuliah. Dia berhadapan dengan tentara. Aku tak ingin berhadapan dengan tentara.

Aku ingin wanita.

Adi bilang dia malas pergi ke Batang. Tapi aku tetap pergi. Jadi dia beri aku uang saku dan mengantarku ke hotel Ibis untuk bareng beberapa aktivis dari Jakarta. Dia bilang semua aktivis itu kakak angkatanku. Lebih senior lagi. Aku perlu kenal mereka supaya gampang cari pekerjaan. Tapi aku sudah punya pekerjaan. Kalau begitu, untuk perkawanan saja. Pekerjaan bisa belakangan.

Ternyata salah satu dari gerombolan Jakarta itu sudah aku kenal: Otto dari ELSAM. Kami pernah berurusan karena dia pernah minta aku wawancara Arief Budiman soal Asmara Nababan untuk sebuah buku, dan aku pernah minta dia menulis pergulatan imannya untuk penerbitanku yang belum lancar. Aku berangkat ke Batang bersamanya.

Tidak selangsung itu.

Kami mampir dulu di Weleri. Menginap di rumah adiknya yang punya pembantu seksi. Belum sempat aku apa-apakan.

Agak siang kami berangkat ke Batang. Tunggu bus sambil diskusi soal rasionalisme. Otto bilang rasionalisme banyak dapat kritik dari posmodernisme. Aku bilang kritik terhadap rasionalisme tetap pakai rasio. Aku pintar, bukan? Memang. Memang tolol. Aku tidak mau ulangi tunggu bus sambil diskusi rasionalisme.

Batang panas sekali. Neraka jahanam. Surabaya lebih jahanam. Kami naik ojek beberapa puluh menit ke tempat tuan tanah. Tuan tanah ini kakak angkatan juga di kampus. Jurusan hukum. Jauh lebih senior lagi. Kubangga-banggakan kampusku karena bukan lagi kampusku. Kritik terhadap rasionalisme tetap pakai rasio.

Kami tiba di tempat tuan tanah yang suka demo kolosal itu. Kongres petani sudah masuk hari kedua. Ada dialog dengan salah satu pasangan calon bupati Batang. Tidak ada rok mini dan baju seksi. Lebih banyak jilbab dan keringat. Aku menonton sebentar lalu bosan.

Pergi ke dapur dan yang tersisa dari makan siang cuma nasi, tahu, dan ikan asin. Kumakan, lalu merokok. Kubaca tiga bab Blues Merbabu. Gitanyali berkisah tentang erotisme kanak-kanaknya terhadap sejumlah perempuan yang lebih tua. Aku juga punya. Terus kenapa?

Petang datang cepat. Kami undur dari kediaman tuan tanah dengan segera. Di bus ke Semarang aku ketiduran. Aku duduk paling belakang karena jarak kursi lain di depan terlalu pendek buat kakiku, sedangkan Otto pindah ke depan untuk menghindari angin dan goncangan. Waktu bangun, ada tubuh perempuan menyenggol-nyenggol lengan kiriku.

Perempuan itu remaja. Berjilbab. Kulihat parasnya istimewa, dan tubuhnya mengundang untuk dipegang. Dia asyik ngobrol dengan seorang laki-laki agak tua, gendut, hitam, dan serba meragukan, sambil terus bertanya, “Bapak dosen ya? Bapak dosen Arab ya?” Dan laki-laki sepertiga tua itu, sambil memelihara penasaran si gadis, terus-menerus menggelontorkan nasihat-nasihat optimistis kepada gadis yang tanpa henti mengeluh tentang hidup dan hidupnya itu.

Di Kendal gadis itu turun. Sebelumnya ia sudah minta nomor hape si laki-laki sepertiga tua dan mencatatnya di telapak tangan. Ia ingin menghubungi laki-laki itu suatu saat untuk konsultasi. Si laki-laki tak keberatan dan meninjau catatan nomor di tangan si gadis sambil mengelus-elusnya.

Sekarang aku ingin ganti “aku” dengan “saya”. Saya tahu Anda capek membaca tulisan bertele-tele ini. Saya juga. Apa hubungan antara minum anggur, bangun kesiangan, flirting via Twitter, buku-buku, angkringan, J.CO, perempuan-perempuan telanjang, mal, korupsi, peneliti, demonstrasi, pembantu seksi, rasionalisme, Batang, petani, calon bupati, nasi putih dengan tahu plus ikan asin, merokok, Gitanyali, remaja berjilbab, dosen Arab, dan aku? Apa arti ini semua?

Di skripsinya tentang Chairil Anwar, Arief Budiman mengutip sajak:

hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

“Yang ‘tetap tidak diucapkan’ oleh hidup ini,” kata Arief, “ialah rahasia dirinya.”

Barangkali hidup baru akan membuka rahasia itu sesudah kita menutup dirinya.