Merangsang Libido Belajar

Sudah saya katakan bahwa konsep “student-centered learning” itu pemanis bibir belaka. Asli lip service doang. Yang masih berlaku umum di dunia pendidikan kita adalah “teacher-centered learning”. Karena itu tidak usah heran jika ada pakar pendidikan yang omong bahwa mutu dunia pendidikan cuma bisa dibenerin kalau gurunya sudah bener duluan. Sedangkan murid, sekalipun digadang-gadang sebagai pemimpin masa depan, dalam prakteknya harus terima nasib sebagai pajangan ruang kelas sahaja.

Emang apa yang perlu dibetulkan dari guru Indonesia?

Kita semua tahu bahwa guru di Indonesia umumnya jelek-jelek. Jelek dalam arti harafiah dan kiasan. Berapa banyak guru Indonesia yang cantik? Di kampus saya dulu, fakultas yang paling miskin mahasiswa cantik (selain fakultas teknik yang didominasi cowok) rasanya adalah fakultas keguruan. Hmmm.

Dunia pendidikan butuh lebih banyak guru cantik karena kecantikan itu sedap dipandang. Orang bilang dari mata turun ke hati. Ini bagus buat pendidikan kita yang sudah tidak punya hati. Kalau jadinya dari mata turun ke hati, lantas turun ke bawah lagi? Hmmm. Saya belum certified untuk jawab pertanyaan itu. Dalam hemat saya pribadi, asalkan suka sama suka, dan murni tanpa paksaan, maka murid tentu boleh memacari gurunya.

Waktu SD saya punya guru bahasa Inggris yang oke punya. Bu Lily namanya. Orangnya baik, lembut, dan sangat cute. Kalau beliau mengajar, saya jadi terlalu bersemangat. Entah bagaimana dengan teman-teman sekelas. Saya tidak sempat perhatikan karena perhatian saya cuma buat Bu Lily seorang. Dengan perhatian penuh itulah saya merasa bahasa Inggris mudah dikuasai. Jangankan bahasa Inggris, semua bahasa pun, kalau yang mengajar seperti Bu Lily, rasanya gampang sekali. Bahasa cinta apalagi. Hmmm.

Beranjak SMP saya tidak punya guru cantik. Tapi nilai bahasa Inggris saya tetap baik. Saya duga karena pengaruh figur Bu Lily. Setiap ingat bahasa Inggris, saya ingat Bu Lily yang cantik. Dan rasanya sangat nyaman. Dalam rasa nyaman saya jadi lebih cepat belajar. Itu terjadi bertahun-tahun sampai saya kuliah. Saya tidak pernah dapat nilai jelek untuk bahasa Inggris. Seorang perempuan blasteran Italia-Jerman pernah menanyai saya, “Why your English is so fucking good?” Saya jawab, “Because I fuck well.” Hmmm. Percakapan ini tidak sungguh-sungguh terjadi.

Yang sungguh-sungguh terjadi adalah pada semester kedua kuliah saya ambil matakuliah mikroekonomi. Dosennya laki-laki, sudah tua, dan agak aneh. Saya tidak berminat sama sekali. Tapi dia punya asisten terlalu manis sehingga saya minta izin secara khusus untuk masuk kelas asistensi seminggu dua kali. Saya bilang saya suka isi waktu luang di kampus dengan kuliah. Padahal saya bohong besar. Saya lebih suka tidur karena saya tahu kelas kuliah dan asistensi isinya omong kosong belaka.

Gayung bersambut, kata berjawab. Mbak asisten yang manis itu mengizinkan saya ikut kelasnya seminggu dua kali. Waktu itu kelas asistensi sebenarnya diadakan tiga kali dalam seminggu. Andai jadwal yang ketiga tidak tabrakan dengan jadwal kuliah yang lain, saya pasti ikut asistensi mikroekonomi seminggu tiga kali.

Otak saya jadi encer kalau yang mengajar perempuan manis. Mikroekonomi isinya kebanyakan matematika dan saya benci matematika. Tapi di kelas asistensi mikroekonomi, segalanya jadi indah termasuk matematika. Mungkin karena pengaruh keindahan Mbak Risma, sang asisten, yang umurnya tiga tahun di atas saya. Hmmm. Saya ingat saya bahkan pernah membantu Mbak Risma mengoreksi kurva yang dia bikin sendiri di papan. Mbak Risma malu-malu karena perhitungannya keliru. Saya lebih malu-malu lagi. Malu-malu mau. Kami belum sempat berhubungan lebih jauh karena saya suka sembunyi-sembunyi kalau suka perempuan. Kabar terakhir yang saya dengar adalah tak lama setelah kelas asistensi itu Mbak Risma lulus dan bekerja di Jakarta. Sudah saya cari orangnya di Facebook dan belum ketemu juga. Emang kalau ketemu mau ngapain? Hmmm hmmm hmmm.

Yang saya coba katakan di sini adalah libido bisa dialihkan menjadi hasrat belajar. Dalam psikologi, pengalihan ini disebut sebagai sublimasi. Sublimasi adalah pengalihan hasrat yang terlarang secara sosial menjadi tindakan yang lebih bisa diterima orang lain. Karena saya masih SD dan Bu Lily sudah bersuami, hampir mustahil saya bisa pacaran dengan beliau. Cinta saya adalah cinta terlarang. Hmmm. Maka yang saya lakukan adalah belajar bahasa Inggris sebaik-baiknya supaya bisa dapat nilai bagus. Karena nilai saya bagus, Bu Lily jadi sayang sama saya. Hmmm.

Ceritanya hampir sama dengan Mbak Risma. Saya malu-malu karena masih mahasiswa tingkat satu. Tapi pada dasarnya saya memang pemalu. Saya merasa lebih pantas kalau perempuan menyatakan cinta lebih dulu dan saya pasrah sahaja. Apalagi ini zaman emansipasi. Sesungguhnya, saya sudah coba menyatakan cinta saya lewat bahasa mikroekonomi. Lewat koreksi kurva dan ikut kelas asistensi seminggu dua kali. Sayang nggak nyambung. Hahaha.

Indonesia perlu lebih banyak guru cantik. Dan guru-guru yang belum cantik sebaiknya mulai mempercantik diri. Tapi kita tahu bahwa cantik itu relatif. Kalau jelek, itu baru absolut. Jadi, cantik yang seperti apa?

Saya kira butuh lebih dari sekedar kecantikan untuk mengajari saya yang anti-rokok menjadi perokok. Atau mengajari saya yang benci matematika (dan geometri) untuk main rubik. Toh ada juga perempuan yang berhasil. Mana mungkin saya tidak selesaikan itu rubik kalau bonusnya saja ciong? Kuncinya terletak pada komunikasi yang persuasif dan, kalau perlu, seduktif. Hmmm hmmm hmmm.

Dalam hemat saya, guru perlu punya kecantikan luar dan dalam. Yang “dalam” ini bukan sekedar yang ada di balik pakaian dalam. Yang “dalam” yang saya maksud adalah yang selama ini kita sebut sebagai inner beauty. Guru perlu punya kepribadian yang menarik dan itu bisa kelihatan dari caranya berkomunikasi. Paras cantik dan baju seksi juga bagian dari komunikasi. Di Indonesia, persoalan tambah rumit karena guru-guru kita yang umumnya jelek itu sudah terbiasa datang dengan muka ditekuk, cepat sekali marah, otoriter, dan semua hal yang sanggup membangkitkan mortido murid.

Mortido adalah lawan dari libido. Mortido adalah hasrat merusak. Dan karena hasrat ini terus diproduksi oleh guru-guru yang jelek, maka jangan heran kalau di kelas muncul banyak anak nakal. Di kelas sendiri kenakalan ini tidak diberi tempat, bahkan direpresi, sehingga murid cenderung menyalurkan mortidonya tanpa kendali di luar sekolah.

Mortido perlu diimbangi dengan libido. Dan libido tidak melulu soal seks. Dalam pengertian yang lebih luas, libido adalah hasrat bersenang-senang. Murid senang lihat gurunya cantik dan ganteng. Lebih senang lagi kalau bisa berkomunikasi dengan cara yang fun.

Contoh komunikasi yang fun adalah Wimar Witoelar. Dia mengaku bahwa dulu dia sering minder karena tubuhnya tambun dan rambutnya kribo. Tapi karena dia punya komunikasi yang oke punya, siapa hari ini yang nggak terpesona nonton acara bincang-bincangnya Wimar? Acara bincang-bincang itu bagian dari pendidikan juga. Pendidikan publik. Wimar menulis di akun Twitter-nya, “Saya ga mau mengubah pendapat orang yang sudah punya pendirian, tapi mau berbagi perspektif pada siapa saja. Dalam suasana sejuk.” Bandingkan pernyataan ini dengan tabiat guru-guru kita yang suka memaksakan kebenarannya sendiri.

Andai semua guru kita seperti Wimar Witoelar, saya yakin muridnya bakal cerdas-cerdas. Tapi kita tahu guru-guru kita bukan Wimar. Dan kita juga tahu guru-guru kita tidak secantik Zooey Deschanel, atau seganteng Bradley Cooper. Usaha merangsang libido belajar murid lewat figur guru ada batasnya.

Batas ini bisa dihapus kalau kita mau buang jauh-jauh “teacher-centered learning” dan terapkan “student-centered learning” secara penuh. Caranya? Biarkan murid belajar apa yang mereka senangi dengan cara yang mereka senangi pula. Biarkan dorang jadi otodidak abadi. Susah amat.