Muntu

Di tangan Bu Atin, sebatu muntu bisa lebih berguna dari laptop di tanganku. Selama muntunya masih bergerak melumat bumbu lotek di cobek, anak-anak Bu Atin masih bisa sekolah dan kuliah. Sementara laptopku, hampir tak ada yang kukerjakan bersamanya selain mendengarkan musik, menonton bokep, dan menulis notes di Facebook.

Dulu Bu Atin adalah teller bank, yang kehilangan pekerjaan saat krisis moneter, lebih dari satu dekade lalu. Karena berdagang lebih halal ketimbang memaling ayam, maka ia pilih merintis usaha warung lotek di depan kampus UKSW. Berkat pengalamannya di bank itu, Bu Atin terbiasa berhitung dalam nominal jutaan. Jika totalan, harga seporsi lotek standar bisa mencapai lima juta perak, sementara segelas es teh cukup satu juta saja.

Warungnya selalu ramai pesanan. Setiap kali datang, para pelanggan sudah terbiasa mendapat nomor antrean sepuluh dari belakang. Bahkan, kalau datang menjelang akhir Jumat siang, beberapa pelanggan harus menunggu lotek Bu Atin sampai Senin pagi, karena sudah kehabisan. Dalam kurun waktu sehari, lotek Bu Atin terjual antara seratus hingga seratus lima puluh porsi.

Agar tidak terlalu lama menunggu atau kehabisan, beberapa pelanggan biasanya menginden lotek lewat SMS. Ada pula yang booking dengan datang langsung ke warung, kemudian pergi untuk kembali. Namun, jika waktu sedang longgar, mengantre lotek Bu Atin punya keasyikan tersendiri; bisa menonton yang sama-sama antre, yang sedang makan, atau yang lewat depan warung.

Kalau yang jual?

“Yang jual nggak butuh ditonton,” kata Bu Atin. “Yang jual butuhnya kamu makan terus bayar.”

Bu Atin biasa menanyai para pendatang terkait kustomisasi lotek yang dipesan. Mau pakai lombok berapa? Lontong atau nasi? Bakwan satu atau dua? Jika masih ada special request lain, Bu Atin dengan sigap melayani.

Pada bulan puasa, makan lotek Bu Atin dipercaya tidak membuat puasa batal. Sebabnya, ada lebih banyak manfaat ketimbang mudarat. Mengonsumsi lotek Bu Atin dapat mengenyangkan perut, menyehatkan badan, sekaligus menggerakkan roda perekonomian rakyat di sektor riil lokal.

Mungkin itulah sebab mengapa pendatang warungnya terdiri dari berbagai macam golongan. Dari Slankers sampai dangduters, pribumi sampai foreigners, semua cinta lotek Bu Atin. Warung lotek Bu Atin adalah ruang publik yang egaliter, dinamis, interaktif, sekaligus plural lagi multikultural. Dan semua itu berawal dari gerak muntu di tangan.