“Dan aku melihat: sesungguhnya, Anak Domba berdiri di bukit Sion dan bersama-sama dengan Dia seratus empat puluh empat ribu orang dan di dahi mereka tertulis nama-Nya dan nama Bapa-Nya.”
~ Wahyu 14:1 versi Terjemahan Baru
Mars bisa disebut sebagai “lagu kebangsaan” sebuah kelompok. Satya Wacana, sebagai “sebuah kelompok akademis”, punya Mars Satya Wacana, yang sering dinyanyikan saat momen-momen “penting” macam wisuda, penerimaan mahasiswa baru, upacara dies natalis, dan sebagainya.
Mars Satya Wacana memuat beberapa pesan seperti “hiduplah garba ilmiah kita”, “mengabdi Tuhan, Gereja, dan Bangsa”, “proklamasikan Kerajaan Surga”, “bela keadilan”, “bela kebenaran”, “pantang mundur, maju perkasa”, “bina negara Hamba Allahnya”, dan “amalkan hikmat Pancasila”.
Kata Kamus Besar Bahasa Indonesia, “garba” artinya “perut (rahim)”, dan “ilmiah” adalah “bersifat ilmu”. Garba ilmiah (almamater) yang hidup adalah yang senantiasa “melahirkan” ilmu-ilmu baru.
Kata “ilmu” sendiri artinya “pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang (pengetahuan) itu”. Dalam konteks universitas, pengetahuan yang dimaksud baru bisa “lahir” dari garba ilmiah kita jika ada aktivitas riset.
Mahasiswa Satya Wacana juga punya kewajiban untuk ikut “memproklamasikan Kerajaan Surga” bersama almamaternya. “Salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi kan pengabdian masyarakat. Kalau kita mengimani itu dengan iman Kristen, maka itu bisa jadi pernyataan Kerajaan Allah di masyarakat,” kata Sutarno ketika saya telepon. Konkretnya? “Ya mahasiswa bisa saja kan ikut mendukung pemerataan ilmu pengetahuan di masyarakat.”

Lagu Mars Satya Wacana ditulis oleh Sutarno, mantan rektor kedua Satya Wacana. “Yang pasti setelah tahun 1964, setelah saya mengajar di Satya Wacana,” kata Sutarno. Sutarno sendiri menjabat rektor mulai tahun 1973 sampai 1983. Saat dia bergabung dengan Satya Wacana, jabatan rektor masih dipegang Oeripan Notohamidjojo.
Tapi Sutarno tak menulis mars ini sendirian. Dalam “byline”, tertera pula nama Notohamidjojo dan Usadi Wiryatnaya (keduanya kini telah almarhum). Notohamidjojo ikut menciptakan lirik, sedangkan Usadi kebagian aransemen. “Jadi, saya bikin suara satunya, Pak Usadi bikin komposisinya untuk empat suara,” kata Sutarno. Dalam komposisi Usadi, suara satu adalah sopran, suara dua alto, suara tiga tenor, dan suara empat bass.
“Kalau lirik, saya semua yang nulis, Pak Noto cuma menambah satu kalimat, yang seingat saya ‘Hamba Allahnya’. Jadi, setelah selesai saya tulis, saya berikan Pak Noto dan beliau memberi koreksi dengan menambah kalimat tersebut,” kata Sutarno.
Kalau begitu, bagaimana kata lirik yang “asli”?
Nana nanana nana nanana …. Sambil bersenandung pelan, Sutarno mencoba mengingat-ingat.
Bina Negara, Bangsa, dan Gereja …. Inilah lirik mars sebelum dikoreksi Notohamidjojo.
“Lalu kenapa diganti jadi ‘Hamba Allahnya’?” tanya saya.
“Karena di bagian atas kan gereja sama bangsa sudah disebutkan, jadinya cuma ngulang-ulang aja,” jawab Sutarno.
Tentang penggunaan kata “Allah” pada lirik tersebut, saya lantas teringat perdebatan tentang “Allah-Yahweh” yang menghangat akhir-akhir ini.
Pada 17 Juli 2008, Pendeta Yeremiah Leonard menggugat Lembaga Alkitab Indonesia ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Kuasa hukum Yeremiah, Januard Tampubolon, mendasarkan gugatannya pada Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Pasal 1365. Penggunaan kata “ALLAH” dan “TUHAN” dalam Alkitab versi Terjemahan Baru — untuk mengganti nama Yahweh, tuhan orang Israel — dianggap perbuatan melawan hukum, “merugikan” umat Kristen di Indonesia, karena membuat mereka tak lagi mengenali nama Yahweh, tuhan mereka.
Yeremiah Leonard adalah satu dari sekian orang yang termasuk dalam “gerakan pemulihan nama Yahweh”. Gerakan ini mungkin telah berlangsung sejak 1980-an. Ia tak terorganisasi, tapi gaungnya cukup keras, terutama setelah gugatan terhadap LAI tersebut.
Saya tahu mengenai gerakan ini dari Petrus Wijayanto. Dia bilang, gerakan ini tidak sama dengan Saksi Yehova, yang dulu sempat dilarang oleh rejim Orde Baru. Saksi Yehova tidak mengakui Yesus sebagai Tuhan, melainkan hanya seorang utusan. Tapi orang-orang yang sepaham dengan Petrus Wijayanto dan Yeremiah Leonard, mengakui Yesus sebagai Tuhan.
Wit, demikian Wijayanto biasa dipanggil, adalah dosen Fakultas Ekonomi. Dia juga pengelola situs web GK Ministries. Di situsnya, Wit menaruh banyak tulisan soal kekristenan. Ada yang soal Yesus mati hari Rabu (bukan Jumat). Ada yang soal kesalahan-kesalahan redaksional Alkitab versi Terjemahan Baru. Ada pula yang soal orang Kristen tak bisa kena santet.
Tapi, yang paling gres, ya soal Allah-Yahweh.
Saya tanya pada Wit, kenapa penyebutan nama Tuhan penting untuk dibahas. Wit memberi satu ayat sebagai jawaban, Mazmur 91:14. Pada ayat ini tertulis, “Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku.”
“Aku” pada ayat ini merujuk pada tuhan orang Israel, Yahweh.
Wit menolak menggunakan kata “Allah” untuk memanggil Yahweh. Baginya, “Allah” bukanlah kata sebutan biasa. “Allah” adalah nama pribadi tertentu, yang bukan Yahweh. “Tuhannya orang Islam,” kata Wit.
Belakangan, saya bicara dengan seorang teman yang beragama Islam, Yodie Hardiyan namanya. Saya tanya dia, “Siapa tuhanmu?”
“Allah, Allah SWT,” jawabnya.
Setelah berpikir sebentar, saya melanjutkan, “Lalu, siapa nama Allah-mu?”
Yodie malah balik tanya, “Sekarang gini Sat, bapakmu namanya siapa?”
“Budiono,” jawab saya.
“Terus, kalo misalnya aku tanya, ‘Siapa nama Budiono-mu?’, kamu jawab apa?” tanya Yodie lagi.
Saya tak bisa menjawab. “Nah, kalo gitu sama. Kamu nggak bisa tanya siapa nama Allah-ku. Allah ya Allah,” tegas Yodie.
“Itu tidak benar,” kata Sutarno di ruang tamu rumahnya, 26 November 2008, ketika saya tanya soal pemahaman orang-orang seperti Wit. “Waktu saya di Dewan Gereja-gereja se-Dunia, orang Arab Kristen panggil Tuhan ya Allah,” katanya. Sutarno bilang, hal ini berlaku pada orang-orang Arab Kristen di negara-negara Arab — seperti Palestina dan Libanon. Sejak dulu sekali, mereka sudah memanggil Yahweh dengan sebutan “Allah”.
Bagi Sutarno, “Allah” adalah kata sebutan yang diserap dari bahasa Arab, sinonim “Ilah” (Arab), “Elohim” (Ibrani), “God” (Inggris), “Elah” (Aram), “Theos” (Yunani), dan bukan nama diri yang merujuk kepada pribadi tertentu. Orang Islam pakai kata ini, orang Kristen juga bisa.
Sutarno lantas beranjak dari tempat duduknya, meninggalkan saya sendiri di ruang tamu. Dia masuk ke sebuah ruangan. Tak sampai setengah menit kemudian, dia keluar sambil membawa sehelai kertas kosong. Setelah duduk kembali, Sutarno mulai menulis. Dia hendak menjelaskan sejarah “Yahweh” dan “Allah” pada saya. Dia bilang, ini untuk menambah pengetahuan saya.
“Jadinya malah ‘katekisasi’ sama saya ya kamu, Satria?” kata doktor teologi lulusan Belanda itu, setengah bercanda.
Sutarno menerangkan, kitab-kitab pada Perjanjian Lama ditulis dalam bahasa Ibrani.
“Tahu berapa lama nulisnya?” tanya Sutarno. Dia menyela tulisannya dan melihat saya.
Saya bilang tidak. “Proses penyelesaiannya itu sekitar 1.400 tahun,” kata Sutarno, sambil kembali menulis.
Mulai ditulis sejak jaman Musa, Perjanjian Lama baru “disahkan” pada abad I Masehi. Kitab-kitab itu ditulis oleh banyak penulis, dengan menggunakan banyak sekali naskah sumber, yang terbagi dalam empat golongan: Yahwist (Y), Elohist (E), Deuteronomist (D), dan Priester (P). Dalam kitab-kitab itu pula tuhan orang Israel dikenal dengan tiga istilah: Elohim, Adonai, dan YHWH.
Menurut Sutarno, padanan Elohim adalah Allah, God, dan Theos. Sedangkan Adonai padanannya adalah Tuhan, Lord, dan Kurios. Elohim pun punya beberapa “variasi”, seperti El-Shaddai, El-Elyon, dan El-Olam.
Sumber Yahwist selalu menyebut tuhan orang Israel dengan YHWH. Tapi, karena ini nama Tuhan dan dianggap sakral, orang-orang Israel tak boleh menyebutkannya. “Setiap kali ketemu ‘YHWH’, mereka selalu bacanya ‘Adonai’,” terang Sutarno. Yang boleh menyebut Yahweh hanyalah Imam Besar.
“Imam Besar, karena kedudukannya, dianggap suci. Jadi mendapat keistimewaan,” kata Sutarno.
Sutarno juga menyebut padanan dalam budaya Jawa untuk menjelaskan kebiasaan ini. Dalam budaya Jawa, kita tak boleh memanggil orang yang dianggap terhormat hanya dengan nama saja — harus dengan sebutan atau predikat tertentu, seperti Bapak, Paduka, dan sebagainya.
“Adonai” adalah kata Ibrani untuk menyebut tuan (majikan) atau tuhan. Dalam kitab Keluaran diceritakan, adonai orang Israel menyatakan nama dirinya kepada Musa di atas Gunung Sinai dengan frasa “ehyeh asyer ehyeh”. Alkitab versi Terjemahan Baru LAI menulis frasa ini sebagai “Aku adalah Aku”. Tapi Sutarno menyebut terjemahan frasa tersebut dengan “Aku ada yang Aku ada”. Seorang “miliser” Besorah Online memberikan frasa “Aku akan ada yang Aku akan ada”.
Ehyeh asyer ehyeh lantas ditulis dengan tetragrammaton YHWH (huruf Ibrani hanya mengenal konsonan). Agar dapat diucapkan, YHWH divokalisasi dengan vokal kata “hayah” (bentuk selesai dari “ehyeh”) yang artinya “ada”. Ehyeh sendiri berarti “akan ada”. Karena aturan bahasa, vokal “a” yang kedua berubah jadi “e”, hingga YHWH diucapkan dengan kata “Yahweh”.
Yahweh lalu dilogatkan dalam beberapa bahasa hingga jadi Yahwah (Arab), Jehovah (Inggris), Yehuwah (Jawa), Jahowa (Batak). Karena kata ini adalah nama, ia tak diterjemahkan.
Tapi ada pula teori lain.
YHWH juga biasa divokalisasi dengan vokal kata “adonai”, hingga menjadi “Yahowah”.
“Bahwa YHWH menjadi Yahweh itu sebenarnya juga tidak jelas benar asalnya,” kata Sutarno. Menurutnya, karena huruf Ibrani hanya terdiri dari konsonan, dan kata “YHWH” sudah berusia ratusan tahun — sedangkan selama itu tak banyak orang yang mengucapkannya — maka pengucapannya yang semula pun sudah tak diketahui lagi dengan jelas.
“Karena itu, penyebutan nama Yahweh itu sendiri belum tentu benar,” kata Sutarno. “Makanya, daripada salah menyebut, lebih baik tidak menyebut.”
“Lha kalau Tuhan waktu itu bilangnya ke Musa ‘ehyeh asyer ehyeh’, lalu ditulis orang Ibrani pakai aksara ‘YHWH’, kenapa YHWH itu nggak dibaca ‘ehyeh asyer ehyeh’ aja Pak? Kenapa mesti pakai Yahweh?” tanya saya.
Sutarno tak punya jawaban. Dia justru ikut setuju kalau YHWH diucapkan “ehyeh asyer ehyeh”.
Sutarno beranjak lagi dari kursinya. Dia masuk ke ruangan yang tadi. “Sekarang yang soal Allah ya,” katanya saat kembali sambil membawa sehelai kertas kosong.
Sutarno memulai penjelasannya dari Nuh.
“Nuh punya tiga anak: Sem, Ham, dan Yafet. Nah, Sem ini menurunkan bangsa Aram, yang kemudian jadi nenek moyang Abraham,” kata Sutarno.
Abraham punya dua anak, Ishak dan Ismail. Ishak adalah nenek moyang bangsa Ibrani, sedangkan Ismail nenek moyang bangsa Arab. “Karena itu, orang Arab dan orang Ibrani disebut bangsa Semitik, bangsa keturunan Sem,” kata Sutarno.
Dalam perkembangannya, dua bangsa ini mengembangkan bahasa dan budaya (termasuk agama) mereka masing-masing. Namun, karena masih serumpun, ada kesamaan-kesamaan pada bahasa mereka.
Kata Sutarno, bangsa Aram menyebut tuhannya dengan kata “elah” yang kemudian jadi “elaha”, bangsa Ibrani dengan kata “el” yang kemudian jadi “elohim”, dan bangsa Arab dengan kata “ilah” yang kemudian jadi “allah”. Jika yang dimaksud adalah Tuhan, kata “allah” ditulis dengan huruf awal kapital: “Allah”.
Allah sendiri, menurut Sutarno, berasal dari gabungan “al” dan “Ilah”. Al sepadan dengan “the” dan Ilah sepadan dengan “God”. Maka, al-Ilah (yang kemudian, kata Sutarno, disingkat jadi Allah) itu berarti “the God”.
“Kata ‘Allah’ tidak bisa dikatakan hanya ‘milik’ Islam,” kata Sutarno. Dia lebih sepakat kalau kata itu adalah milik orang Arab.
Hampir tiga jam saya berdiskusi dengan Sutarno, dari jam delapan pagi hingga sebelas siang. Setelah “kuliah 3 SKS” itu usai, saya pamit.
Dari rumah Sutarno di Perumsat Kemiri, saya langsung menuju salah satu laboratorium komputer di lantai satu Perpustakaan Pusat. Di sana Petrus Wijayanto telah menunggu.
Ketika bertemu, saya menyampaikan pendapat-pendapat Sutarno kepadanya. Wit lantas memberi saya beberapa referensi tambahan. Ada video, ayat Alkitab, sebuah buku kecil yang dia tulis sendiri, dan sebuah paper karangan Pendeta Teguh Hindarto dari Nafiri Yahshua Ministry, Kebumen.
Dalam buku kecilnya, Wit tetap ngeyel bahwa Allah adalah nama diri, bukan kata sebutan yang dapat diterjemahkan. “Orang Muslim di seluruh dunia akan menyatakan hal yang sama, ‘There is no God but Allah.’ Bagi orang Muslim kata ‘Allah’ tidak dapat digantikan dengan kata apapun. Tidak ada kata apapun yang setara dengan Allah. Orang Muslim di Amerika, misalnya, akan mengatakan ‘My Lord is Allah’,” tulis Wit.
Wit juga melampirkan artikel Yakub Sulistyo yang dimuat di harian Wawasan pada 8 Januari 2008. “Allah itu nama tuhannya umat Islam, buktinya umat Islam di Amerika jika sembahyang akan mengucapkan ‘Allahu akbar’ bukan ‘God akbar’,” tulis Yakub dalam artikelnya.
Yakub Sulistyo adalah Gembala Sidang Gereja Pimpinan Rohulkudus Surya Kebenaran di Ambarawa. Situs web gereja ini dapat dilihat di alamat www.suryakebenaran.org.
Yakub menjelaskan bahwa kata “Allah” tak berasal dari “al-Ilah”.
“Ilah bisa dimasukkan alif lam karena ilah adalah gelar atau sebutan, sedangkan Allah itu tidak bisa karena nama pribadi. Contoh : Ustaadzun guru laki-laki, bisa dimasukkan alif lam, sehingga menjadi al-ustaadzu, tetapi Fatimah tidak bisa ditulis menjadi al-Fatima karena Fatimah itu nama pribadi atau nama orang,” tulis Yakub.
Dari video yang diberikan Wit, saya mendapati bahwa salah satu majalah Islam di Indonesia, yakni Sabili, pernah memuat artikel berjudul “Allah dan Elohim?” pada 30 Januari 2004. Salah satu subjudul artikel itu bertanya, “Siapakah Allah?”
“Secara etimologi,” tulis penulis artikel itu, “kata ‘Allah’ (Arab = terdiri dari alif, lam, lam dan ha’ dengan tasydid sebagai tanda idgham lam pertama pada lam kedua). Kata ‘Allah’ adalah ghairu musytaq (tidak ada asal katanya dan bukan pecahan dari kata lain), karena kata ini tidak bisa diubah menjadi bentuk tatsniyah (ganda) dan jama’ (plural). Demikian pula, kata ini tidak dapat dijadikan mudhaf.”
Penulis artikel itu mengambil kesimpulan, “Karena itulah maka kata ‘Allah’ tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apapun. Maka terjemah ‘Allah’ menjadi God (bahasa Inggris) atau Tuhan (bahasa Indonesia) adalah tindakan yang batil. Karena God bisa diubah menjadi bentuk jama’ (Gods) dan Tuhan bisa diubah menjadi bentuk jamak (Tuhan-tuhan). Sedangkan ‘Allah’ tidak bisa diubah menjadi bentuk jamak.”
Video pemberian Wit juga mengutip macam-macam buku untuk mengatakan bahwa “Allah” adalah nama, bukan kata sebutan.
Pada Buku Pintar Tentang Islam yang ditulis Syamsul Rijal Hamid tertulis, “ALLAH adalah Tuhan pencipta alam semesta ini. Banyak bangsa di zaman kuno telah mengenal Tuhan pencipta alam semesta, tapi dengan nama berbeda-beda. Bangsa Yunani mengenal dengan nama Zeus, bangsa Yahudi dengan nama Yahweh, bangsa Persia dengan nama Mazda, dan bangsa Arab sejak sebelum datangnya Islam pada abad ke-7 mengenalnya dengan nama Allah.”
Pada Ensiklopedi Islam yang ditulis Cyril Glasse tertulis, “Kata ‘Allah’ merupakan sebuah nama yang hanya pantas dan tepat untuk Tuhan.”
Pada Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad SAW yang ditulis Kiai Haji Moenawar Chalil tertulis, “ALLAH : Nama DEWA yang disebut-sebut suku QURAISY, bangsa ARAB, bersama-sama dewi AL LATA dan dewi AL UZZA.”
Pada Konflik Islam-Kristen yang ditulis H. Sudarto tertulis, “Orang Kafir Quraisy menyembah dewa yang bernama ALLAH. Bagi Islam Tuhan sesungguhnya bernama ALLAH. Lalu orang barat menganggap umat Islam itu musrik (pagan) karena menyembah ALLAH. Orang Islam menjelaskan bahwa yang mereka sembah bukan ALLAH masyarakat Purba.”
Pada Keberagamaan yang Saling Menyapa yang ditulis Mohammad Sabri tertulis, “’Allah adalah nama dewa yang paling banyak disebut. Tetapi fungsi-Nya didelegasikan atau diambil alih oleh dewa-dewa lain yang lebih kecil.”
Pada Agama-agama Manusia yang ditulis Huston Smith tertulis, “Jin-jin padang pasir itu sama sekali tidak punya arti dalam pencarian ini, namun satu dewa sungguh mempunyai makna mendalam dalam pencarian ini. Dewa ini bernama Allah dan disembah penduduk Mekkah bukan sebagai satu-satunya Tuhan, tetapi bagaimanapun sebagai dewa yang luar biasa. Sebagai pencipta, penganugerah tertinggi, dan penentu nasib semua manusia, dewa ini dapat menimbulkan perasaan keagamaan yang benar-benar serta pengabdian yang tulus.”
Kutipan-kutipan yang saya tulis di atas hanyalah sebagian. Video pemberian Wit memuat banyak sekali kutipan.
Paper karangan Pendeta Teguh Hindarto menjelaskan sejarah penggantian nama Yahweh dengan kata “TUHAN” dan “ALLAH” pada Alkitab bahasa Indonesia.
Agama Islam masuk ke Nusantara pada dua tahap. Tahap pertama berlangsung sekitar abad VII-VIII dengan perantaraan para pedagang Arab. Sedangkan tahap kedua berlangsung sekitar abad XIII dengan perantaraan para pedagang Gujarat yang dipengaruhi mistik Persia.
Portugis baru membawa agama Katolik masuk ke Nusantara tahun 1512, sedangkan Belanda tahun 1596. Keduanya membawa misi “gold, gospel, and glory” yang akhirnya mendasari kegiatan mereka di Nusantara.
Setelah masuk, Belanda mendirikan kongsi dagang bernama Vereenigde Oostindische Compagnie pada 20 Maret 1602, yang akhirnya bangkrut pada 17 Maret 1798 karena kesulitan finansial. Setelah VOC bangkrut, pemerintahan Hindia Belanda dipegang kembali oleh Kerajaan Belanda.
Pada 1629, Albert Corneliz Ruyl (seorang pegawai VOC berpangkat Onderkoftman), menerjemahkan Injil Matius dari bahasa Yunani ke bahasa Melayu. Dalam penerjemahan ini, kata “Theos” diubah menjadi “Allah”, kata “Iesous” menjadi “Yesus”, “Christos” menjadi “Christus”, dan “Abraam” menjadi “Ibrahim”.
Tahun 1733 dan 1879 terjadi penerjemahan lagi. Kali ini “Iesous” diubah menjadi “Isa” dan “Christos” menjadi “Al Masih”. Sedangkan “Theos” tetap diterjemahkan menjadi “Allah”.
Karena sejak awal nama Allah telah dipakai sebagai translasi Theos dan Elohim, maka Lembaga Alkitab Indonesia yang baru berdiri tahun 1954 memutuskan untuk tetap memakai Allah, dengan pertimbangan bahwa pemakaiannya telah lama diterima umum dan Allah tidak dipahami sebagai nama diri.
Tapi sejak awal pula, kata “JEHOVAH” telah dipakai untuk translasi nama Yahweh. Tahun 1839, P. Janz menerjemahkan nama Yahweh ke dalam logat Jawa dengan transliterasi “JEHUWAH”. Di Tanah Batak, Zendeling Rinsje memakai “Djahoba”. Di Nias, dipakailah “Jehofa”. Sedangkan Melchior Lejdecker menggunakan “HUWA” untuk Yahweh dan H. G. Klinkert memakai “HOEWA”, “JEHOEWA”, “TOEHAN HOEWA”, dan “Tuhan HOEWA”.
Ketika konferensi para penerjemah Alkitab berlangsung di Jakarta tahun 1952, ditetapkan bahwa nama “HUWA” ditiadakan dan diganti menjadi “TUHAN”. Alasannya mengacu pada disertasi doktoral H. Rosin, dosen Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, di Universite de Geneve — bahwa tetragrammaton YHWH tak dapat diucapkan (unpronounceable).
“Renungkan,” tulis Teguh Hindarto dalam paper-nya, “LAI tetap mempertahankan penggunaan nama Allah dengan alasan nama itu telah dipakai sejak Ruyl, Lejdecker, Klinkert serta Bode. Anehnya, mengapa nama Yahweh yang telah dituliskan sejak masuknya Portugis ke Indonesia, tidak dapat dipertahankan?”
“Jika empat huruf YHWH tidak dapat diucapkan, mengapa para penerjemah diatas, bahkan penerjemah dalam bahasa daerah sudah menggunakan nama Jehovah, Jehowa, Hoewa atau Huwa? Logiskah jika Musa, Ishak dan Yakub serta leluhur Israel tidak dapat mengucapkan nama Yahweh, padahal mereka berkomunikasi dengan Sang Pencipta secara audible? Jika naskah Kitab Suci berbahasa Ibrani dapat diterjemahkan dalam berbagai bahasa, mengapa nama Yahweh tidak dapat dituliskan? Bagaimana mungkin ada bahasa yang tidak dapat diterjemahkan dan ditransliterasikan? Dengan alasan apa Sang Pencipta memberitakan namaNya yang abstrak??” tulis Hindarto lagi.
Tahun 1940, terbit Kitab Perdjanjian Baharoe yang diterjemahkan dari bahasa Yunani ke bahasa Melayu oleh British and Foreign Bible Society, National Bible Society of Scotland, dan Nederlandsch Bijbelgenootschap. Kitab ini merupakan revisi Wasiyat yang Beharoe, yang terbit pada 1896.
“Pada kata pengantar kitab terbitan tahun 1940, terlampir pandangan komite penyalin yang menuliskan pandagannya pada tahun 1939 di Sukabumi. Dalam kata pengantar tersebut, ada empat hal yang menarik untuk dicermati,” tulis Teguh Hindarto.
Pertama, keterlibatan asisten Melayu beragama Islam dalam komite penyalin. “Maka bagi maksud itoe, sedia ditetapkanja pada akhir tahoen 1930 soetaoe Comite Penjalin di Soekaboemi, yang sedang mengerdjakan salinan baharoe itoe dibawah pimpinan…dan berganti-ganti doea oerang assistant Melajoe djati dari tanah Melajoe….”
Kedua, kesukaran dalam penerjemahan dan kebutuhan untuk “koreksi tanpa batas”. “Maka ta’dapaat tiada pembatja telah paham akan kesoekaran Comite Penjalin itoe mengadakan persatoean bahasa bagi pengertian yang am. Oleh sebab itoe djoega dipinta kepada pembatja yang insaf akan mengingatkan segala toentoetan terdjemahan yang sukar itu.”
Ketiga, penggunaan “Allah” sebagai nama Tuhan. “Karena ma’na Toehan menoeroet perasaan orang Arab dan orang Melajoe djati ialah Allah. Demikian djuga menurut djalan bahasa Arab dan logat Melajoe djati, adalah perkataan Allah itoe boekanja sedjenis nama yang dinamakan, seperti pada perasaan disebelah barat tentang perkataan God. Oleh jand demikian maka perkataan Allah yang bersamboeng dengan koe, moe, nja, dengan toedjoean poenja, itoe bersalahan dengan perasaan orang Melajoe yang diloear golongan Keristen.”
Keempat, ketergantungan proses penerjemahan pada bahasa Arab Melayu. “Kadang-kadang penjalin terpaksa menggoenakan bahasa Melajoe, sebab tiada ada kata Melajoe djati yang boleh mensifatkan pengertian ataw toedjoean nas asli dengn sebetul-betulnya.”
Teguh Hindarto menutup paper-nya dengan kesimpulan bahwa fakta historis dan etimologis membuktikan nama Allah bersumber dari dunia Arab pra-Islam. “Upaya menghubungkan akar kata Allah, dengan istilah El, Eloah dan Elohim dalam tradisi semitik, masih menimbulkan pro dan kontra yang belum final,” tulisnya.
Lantas sampai kapan pro-kontra itu mencapai final?
“Beberapa teman saya yang ‘netral’ menyatakan, ‘Lho, apa to keberatan tidak lagi menggunakan Allah, kalau memang kata itu kontroversial?’ Saya jawab, ‘Ya karena mereka hamba Allah!’ Teman saya cuma senyum-senyum,” kata Wit.
“Sebetulnya, silakan saja kalau orang-orang itu mau pakai Yahweh,” kata Sutarno. “Yang penting, jangan memaksa orang lain untuk mengikuti mereka.” Sutarno keberatan dengan gugatan hukum Yeremiah Leonard terhadap LAI, karena keputusan hukum sifatnya memaksa.
Bagaimana dengan Universitas “Kristen” Satya Wacana sendiri? Masih ingin jadi “hamba Allah” atau “hamba Yahweh”?
Yang harusnya diurusi adalah..
Urusan hati org Kristen dan ALLAH..!!!
Bukan panggilannya…
yan penting hati anda berpaut pada ALLAH yang benar
ALLAH yang tertulis dalam Alkitab bukan kitab manapun!!
Itu sudah cukup!!
Benar2 sudah ada damai sejahtera dgNya atau belum??
itu deh yang rasanya harus di urusi oleh org Kristen…
Jadi, menurut kamu, panggilan Tuhan bukan hal yang penting?
Lalu bagaimana dengan Mazmur 91:14? Pada ayat ini tertulis, “Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku.”
Lalu siapakah nama Tuhan yang tertulis dalam Alkitab Kristen? Dan benarkah jika oknum ilahi itu disebut dengan kata “Allah” atau “ALLAH”?
Etin, untuk kasus ini, supaya netral, kita diskusi pakai kata “Tuhan” saja untuk menyebut sesembahan orang Kristen. Kalau kamu pakai kata “Allah” atau “ALLAH”, itu artinya sudah keluar konteks, karena justru kata itulah yang lagi jadi masalah di thread ini. :)
Nah…
Menjadi pertanyaan penting adalah:
APAKAH ORANG KRISTEN SUDAH BENAR2 MENGENAL SIAPA TUHANNYA & APA YANG MENJADI KEHENDAKNYA???
Yoh 10:14
Mengenal bukan saja berarti tau namanya tapi benar2 hidup dalam suatu persekutuan yang erat…
Ricko mungkin betul.
Mengenal bukan saja berarti tahu nama-Nya, tapi hidup dalam persekutuan yang erat dengan-Nya. Pertanyaannya, jika demikian, bisakah kita hidup dalam persekutuan yang erat dengan-Nya, kalau nama-Nya saja kita tidak tahu?
Atau selama ini kita hanya merasa bisa?
Yesaya 52:6 Sebab itu umat-Ku akan mengenal nama-Ku dan pada waktu itu mereka akan mengerti bahwa Akulah Dia yang berbicara, ya Aku!
Allah tidak pernah ada dalam Bible, baca: http://gkmin.net/?p=126
Etin, untuk kasus ini, supaya netral, kita diskusi pakai kata “Tuhan” saja untuk menyebut sesembahan orang Kristen. Kalau kamu pakai kata “Allah” atau “ALLAH”, itu artinya sudah keluar konteks, karena justru kata itulah yang lagi jadi masalah di thread ini.
coba baca “Seminar nama Allah” di http://gkmin.net/?p=130
Hmmm… saya seorang Kristen dan seorang yang yakin telah menyembah Tuhan yang benar dan berkuasa itu. Selama ini saya panggil dia sebagai Allah, Tuhan, God dan rasanya dia tetap mendengar panggilanku dan tidak tersinggung atau marah atas panggilan itu. Bahkan, Kristus mengajarkan saya memanggilnya, Bapa. Lalu mengapa harus kita menyoal nama dan bukan hakekatnya? Ingat, ketika Yesus memanggilnya Bapa, maka Yesus pun telah dituduh (oleh mereka yang mengeramatkan nama Tuhan tetapi justru tidak mengenalnya dengan sungguh) sebagai telah melacurkan nama TUHAN yang keramat itu. Siapa-kah seorang manusia yang berani menyebutnya Bapa, pikir orang-orang itu? Ibarat dalam bahas kita kini, “Sombong dan lancang benar orang ini, kami yang telah lama mengenalnya (belajar melalui kitab dan peraturan) pun memanggil namanya yang kudus dengan penuh ketakutan, kenapa dia lancang memanggilnya Bapa?” Oleh karena itu, pantas-lah (menurut versi pandang seperti itu) Yesus dihukum mati dengan cara paling hina, penyaliban, karena telah menista nama TUHAN. Padahal, sesungguhnya yang digerogoti (dan bahkan diluruskan) adalah pemahaman manusia tentang Tuhan, bukan eksistensi sang Tuhan itu sendiri. Tidakkah kita belajar dari peristiwa itu??? Siapakah yang lalu kini berani menglaim bahwa pemahamannya adalah yang paling benar???
Ingat, Tuhan tidak bisa dibatasi oleh kemampuan manusia yang terbatas itu. Dalam sejarah Alkitab pun sang Tuhan itu telah (sedang dan akan terus) menyapa orang-orang dari bangsa-bangsa lain. Kepada Hagar dan Ismail misalnya, juga kepada orang-orang di luar bangsa Israel. Bangsa yang diturunkan oleh Ismail adalah Arab, yang mengenal Tuhan yang pernah menyapanya itu sebagai Allah. Benarkah lalu Allah yang pernah disaksikan Alkitab telah menyapa Ismail itu adalah Allah yang berbeda dengan yang menyapa kaum keturunan Israel yang mengenalnya sebagai Yahwe? Kalau sama, lalu mengapa kaum keturuan Ismail itu cuma mau menyapa Tuhan itu dengan ALLAH dan kaum keturunan Ishak cuma mau menyapanya dengan YHWH, sepertinya sebuah pertandingan? Memangnya Tuhan yang maha kuasa itu berhenti pada klaim mereka para manusia fana?
Lagipula, benarkah itu nama diri? Kalau benar, maka dari mana nama YHWH diterjemahkan = LORD = TUHAN sekalipun ikut huruf besar semuanya? Kalau nama James dibaca Jeims oleh si bule, lalu di daerah saya dibaca sebagian orang dengan Ja-mes (seperti adanya) ya itu masih tetap nama yang sama. Atau kalau di bagian tertentu nama John, menjadi Johan, Ivan, Johanes, atau sejenisnya ya masih juga bisa dimengerti. Atau Jacob, Jakub, Yakobus, etc. Namun, YHWH menjadi TUHAN? Kalau begitu, berarti doa kita selama ini salah sasaran dong. Tetapi mengapa dalam keyakinan yang saya yakin benar itu doa saya tetap didengarnya? Apakah ada allah yang lain yang menjawab saya? Saya kira tidak!!!
Saya bukan ahli bahasa (Ibrani, Arab, etc), bukan juga ahli agama atau kitab suci, bukan ahli sejarah Timur Tengah, tetapi logis dimengerti jika dalam bahasa Ibrani, kata Allah sulit untuk ditemukan. Dari bacaan2 tertentu kita dapat tahu bahwa kitab-kitab yang menyusun Alkitab itu telah diajarkan dan diterjemahkan ke banyak bahasa sebelum dia dibukukan menjadi satu, Alkitab. Para ahli bahkan menganggap kondisi ini (telah diajarkan dan diterjemahkan ke berbagai bahasa) sebagai baik untuk menjadi sumber pengecekan kebenaran isinya secara ilmiah (soal konsistensi isi dari sumber yang beragam), bukan untuk sekedar mengekalkan nama atau istilah, yang oleh bahasa berbeda diucapkan berbeda. Jadi, dengan nama yang beragam itu (YWHW, LORD, TUHAN, ALLAH, etc.) manusia Kristen ragam bahasa ternyata tetap menyembah Tuhan yang sama. Jadi, mestinya kita tidak memersoalkan namanya, sebutlah dengan berani dan yakin, ia mendengar.
Namun, bagi saya, lucu juga jika Tuhan dianggap seperti manusia dan disetarakan dengan manusia, diberi nama. Budaya (dan bahasa) manusia lalu telah mengikat Tuhan, sebuah hakekat yang adikodrati, sebuah pribadi yang melampaui eksistensi, budaya, bahasa manusia. Lebih celaka lagi kalau sampai ada yang mau menglaim dirinya paling benar tentang Tuhan yang tadi tidak bisa dibatasi oleh kemanusiaannya manusia. Tuhan telah dipenjara oleh manusia!!! Lalu, bagaimana kita menyimak, “Biarlah segala yang bernafas memuji Tuhan.” Lalu, apakah binatang juga harus menyebut namanya YHWH? Jelas binatang tidak berbudaya manusia, bahkan tidak beragama. Namun, dalam keyakinan bahwa sang Tuhan pencipta itu-lah pencipta segala makhluk dan seisi dunia ini, lalu pada tataran mana ucapan biar segala yang bernafas/hidup itu memuji Tuhan hendak kita pahami? Bagi saya, jelas binatang-binatang tidak akan pernah memanggilnya YHWH atau ALLAH atau TUHAN, walau kekuasaannya mengatasi mereka dan merekapun tunduk dan memujinya. Karena itu cuma ada dalam bahasa Ibrani dan Arab kita kenal YHWH dan ALLAH dan karena itu tidaklah tepat kita tabrak lari pukul rata ke semua bahasa dan tempat. Jadi, janganlah kita manusia membuat perangkap kita terhadap Tuhan yang maha kuasa itu.
Penerjemahan resmi Bible saya kira dilakukan dari bahasa aslinya (untuk menjaga otentisitas?) walaupun studi atas terjemahan ke berbagai bahasa menyebutkan substansinya tidak bergeser dan karenanya diyakini Alkitab berisikan kebenaran-kebenaran yang telah diceritakan kembali oleh manusia. Dan karena itu, bagi saya, pantas saja tidak ada kata Allah (sebagaimana bahasa aslinya), karena penerjemahan itu diambil bukan bahasa Arab, tetapi Ibrani ke Inggris. Yang adalah yang kita kenal itu ya God, Lord, Father. Penerjemahan ke bahasa Indonesia saya duga menggunakan di samping referensi bahasa asli, juga merujuk kata-kata sepadan dalam bahasa lain sehingga kata Allah, Tuhan muncul. Jadi, kalau kita menyoal bahwa di Bible tidak ada kata Allah ya pada hakekatnya ya memang sudah begitu. Tapi, coba ambil Alkitab versi bahasa Arab, pasti isinya Allah semua. Bahkan, ada klaim pihak muslim bahwa nama asli Tuhan adalah Allah(lihat: http://www.answering-christianity.com/allah2.htm). Catatan: ini situs berisi tulisan kelompok muslim dan karenanya saya tidak bersepakat tentang kesimpulan mereka tentang Yesus, yang bagi saya menyelewengkan tafsiran dan bukti-bukti hanya untuk membenarkan keyakinannya, kan tidak perlu begitu. Jika mereka/kelompok muslim tidak percaya Yesus sebagai Tuhan ya sudah, tidak usah membuat kesimpulan yang pada hakekatnya menyerang keyakinan orang lain dan/atau sebaliknya mengumumkan kebenaran keyakinan diri sendiri. Tidak perlu lah yang beginian, imanilah dan jalankanlah apa yang diajarkan kepadamu sebagai yang baik. Gitu saja kok repot. Psstt… gak tahu ya dia bahwa dari tulisan-tulisan sejarah kuno yang paling akurat adalah tulisan-tulisan yang menyusun Alkitab? Dari sudut waktu penulisan, relasi penulis dengan apa yang ditulisnya, kondisi yang tidak menguntungkan untuk menulis sebuah kebohongan, etc.
Bagi saya, akhirnya, betapa mudah soal nama ini lalu menggiring kita ke arah absolutisme yang mematikan! Memang agama yang dianut secara membabi buta bersifat mematikan, baik kalangan Kristen maupun oleh Islam. TUHAN atau ALLAH telah diklaim secara sepihak hanya miliknya sendiri, padahal sang Tuhan itu berkuasa penuh atas manusia dan segala isi dunia ini dan tidak bisa dibatasi oleh sekedar pengakuan seseorang atau sekelompok manusia. Namun, benarkah ia cuma mau namanya disebut YHWH atau ALLAH secara eksklusif? Terlepas dari sejarah penamaan itu hadir dalam konteks sejarah Israel yang merupakan suatu bangsa yang hidup dengan jenis bahasa-nya, tapi apakah Tuhan cuma sekedar nama itu?
Pernahkan kalian mendapatkan jawaban dari dia langsung? Bagi saya tidak! Tetap saya panggil dia Tuhan, Allah, Bapa, Lord, Father, dan ia tetap saja menjawab pergumulan-pergumulanku, walau tidak selalu seperti yang kuminta. Artinya, ia tetap mengenalku sebagai anaknya, sekalipun kupanggil dia dengan ragam nama. Saya tetap mengenal dia sebagai dia, walaupun sapaan yang saya pakai bisa disalahkan oleh orang tertentu. Dan, dia sudah pasti mengenalku. Di samping karena dia-lah pencipta, juga karena keyakinan iman, “Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau.” (Yer 1: 5)
Karena itu, menurut saya sederhana saja, jangan-lah penjarakan Tuhan. Tuhan kita bukan Tuhan kaku versi perjanjian lama. Di dalam Kristus kita tahu siapa yang kita sembah dan karena itu yakini itu dan terlebih dari itu lakukan apa kehendaknya. Dengan cara itu, engkau memuji namanya.
Pernahkan kalian mendapatkan jawaban dari dia langsung? Bagi saya tidak!
Pernahkah anda tanyakan secara langsung?
(saya ada teman-teman yang ‘bertanya secara langsung’ dan MERASA mendapat jawaban langsung, dan sekarang mantap menggunakan nama Yahweh (bukan Allah), tapi ‘kesaksian’ ini tidak akan dapat dijadikan dasar argumentasi.)
Bagi saya.. ketika saya memilih nama YHWH (bukan Allah), itu saya MEMANG tidak sedang berbicara tentang Tuhan HAKIKAT, tapi Tuhan SYARIAT, yaitu syariat “Kristen”, sebab jelas dalam Kitab Keluaran ada ditulis..“… itulah namaku selama-lamanya dan sebutanKU dari generasi ke generasi….”
Kalau saya sedang bicara tentang Tuhan HAKIKAT, saya harus keluar dari frame kristen, dan saya tinggalkan agama Kristen, artinya tidak ada Yesus di sana, tidak ada hari Sabat, tidak ada Paskah, tidak ada “dosa asal”, bahkan tidak ada surga dan neraka, sebab dosa asal dan lain-lainnya itu ada dalam ‘frame’ iman Kristen.
Seperti halnya Buddha dalam Lamkara Sutra, mengajarkan: “Kebenaran sesungguhnya tidak pernah dikotbahkan oleh Sang Buddha,sebab seseorang harus menyadarinya di dalam dirinya sendiri”.
Jadi.. menurut saya, pertanyaan “Nama Tuhan Satya Wacana” menjadi relevan, karena Satya Wacana adalah universitas “Kristen”, yang mestinya tunduk pada “syariat” Kristen.
Dalam doa Bapa Kami, Yesus mengajarkan… Bapa kami yang ada di surga dikuduskanlan namaMu…
bukan …. dikuduskanlah Engkau…
Lha namaNya (nama Bapa) siapa? Tuhan yang tidak bernama? (apa Yesus sedang tidak memahami hakikat Tuhan — yang tidak bernama–, kok bilang namaMu?
Jelas di Kitab Yesaya 64:8 Tetapi sekarang, ya YHWH, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu.
Siapa nama Bapa?
TUHAN kah?
Tuhan kah?
Bapa kah?
YHWH kah?
Allah kah?
Elohim kah?
Eloah kah?
Kurios kah?
Theos kah?
Gusti kah?
Sang Hyang Widhi kah?
Debata kah?
Tetemanis kah?
Mungkin pengalaman religius teman-teman itu mengatakan demikian, itulah keyakinan mereka. Saya kira fine2 saja, walau tidak setiap pengakuan demikian harus diterima mentah-mentah. Mengapa? Cukup banyak orang mengatakan menerima suara Tuhan bahwa kiamat akan datang pada waktu tertentu dan ternyata pada waktu yang mereka umumkan atau bayangkan tidak terjadi. Jadi, be careful dengan yang beginian. Kita pun diminta untuk menguji apa yang kita dengar atau lihat dalam konteks yang supernatural seperti itu.
Saya sendiri memang tidak pernah bertanya soal itu, Siapakah namaMu? Saya memang merasa tidak perlu bertanya karena saya yakin saya mengenal dan menyebut namanya di dalam doa-doa dengan tetap menyapanya dengan banyak sebutan yang lazim diucapkan orang Kristen, khususnya di Indonesia. Sejak waktu tertentu saya merasa yakin bahwa apa yang saya minta, itu dijawabnya menurut waktu dan caranya. Jadi, di dalam keyakinan itu, saya percaya saya sedang berhubungan dengan Tuhan yang benar, sekalipun saya menyapanya dengan nama yang oleh teman-teman dianggap nama yang salah. Karena itu, kalau saya percaya saya telah dan sedang berhubungan dengan Tuhan yang benar dan ia telah menjawab saya sekalipun memanggilanya dengan nama yang ’salah’, maka bagi saya pikiran Tuhan bukan atau tidak pernah sama dengan pikiran manusia, misalnya dalam isu nama menurut tafsir terbatas kita pada ucapan Tuhan. Namun, saya pribadi memandang silahkan saja jika teman-teman yakin bahwa ia memang harus dipanggil demikian. Bagi saya, yang sangat fundamental adalah bahwa Tuhan saya itu Tuhan yang benar, yang hidup dan berkuasa penuh dan saya tetap akan memanggilnya Tuhan, Allah, dan Bapa karena ia mendengar sapaan saya.
Soal terjemahan-terjemahan dan rumusan-rumusan kalimat dalam Alkitab, bagi saya kita harus cukup hati-hati, apakah Tuhan itu pada hakekatnya menyoal nama atau sebutannya atau apa? Saya pribadi ragu dengan penyoalan nama dalam arti harafiah. Sekali lagi, saya bukan ahli di bidang itu namun dari beberapa literatur terkait sejarah kekristenan yang saya baca, sejumlah ahli menglaim ‘kesalahan-kesalahan’ tafsir dalam bahasa harafiah atau kata/bahasa tertentu telah memberi peluang tafsir bahasa yang berbeda (karena bahasa aslinya memiliki kemungkinan tafsir berbeda, ambil contoh kata “bisa” di bahasa Indonesia punya lebih dari satu makna). Peluang tafsir berbeda dan pada kenyataannya beberapa kata telah diterjemahkan dalam tafsiran yang sempit seperti itu akhirnya memunculkan tudingan-tudingan kontradiksi antara bunyi atau isi satu tulisan dibanding tulisan lain (misalnya antara kitab2 injil) yang dinilai mendelegitimasi kebenaran Alkitab atau kedudukan Alkitab sebagai sebuah referensi yang solid tentang hal-hal yang diceritakannya. Namun, ketika perujukan kepada bahasa asli dan peluang tafsir lain dimasukkan dijumpai netralisasi terhadap kontradiksi yang dituding atau bahkan terjadi penguatan atas kebenaran isi yang diungkapkan. Karena itu, saya kira saya pribadi harus berhati-hati dengan tafsir-tafsir. Namun, saya tidak bisa bicara banyak dalam hal ini karena memang bukan ahli.
Saya menilai bahwa selama ini yang menyoal nama adalah pertama kaum Yahudi dan kedua ya kelompok muslim. Kelompok Yahudi jelas berkeras dengan segala macam tradisi perjanjian lama-nya untuk mendelegitimasi ke-Tuhan-an Yesus, sampai hari ini. Tuhan mereka adalah Tuhan aturan yang namanya harus seperti ini dan harus disembah dengan cara begini dan begitu, di antaranya hanya imam-imam tinggi saja yang berhak menyebut nama Tuhan yang kudus itu. Seorang penganut agama Yahudi yang menjadi Kristen menyadari bahwa praktik begitu yang telah menjauhkan umat dari Tuhan. Ia sendiri mengaku dalam ajaran agamanya tidak diajarkan dan tidak boleh percaya Yesus karena penolakan pengakuan Yesus sebagai Kristus.
Kelompok Islam yang fundamentalis juga saya kira hampir sama. Rivalitas Kristen versus Islam dalam cara pandang yang konvensional dan miskin yang membuat satu menuding yang lain. Penolakan trinitas oleh kaum muslim, bagi saya, jelas hendak membuktikan bahan orang Kristen telah menyembah Tuhan yang salam. Mana ada Tuhan yang terdiri dari Bapa, Putra, dan Roh Kudus, mungkin begitu argumennya? Karena itu pernyataan tidaklah heran di internet penyoalan nama Tuhan antara YHWH versus ALLAH sangat sengit antara kelompok muslim (tertentu) versus Kristen (tertentu).
Pertanyaannya, mengapa harus terjebak di sana? Benarkah Allah islam yang adalah sang Tuhan itu? Benarkah YHWH itu yang sang Tuhan itu? Di situlah saya menilai kita penjarakan Tuhan. Yang berhak men-judge kebenaran eksistensialnya ya Tuhan itu sendiri. Jika kita percaya dia ada dan berkuasa, ya percayalah, berkomunikasilah dengan dia, tanpa menyebut orang lain salah karena menyebut namanya salah, misalnya. Jelas, dalam keyakinan kekristenan saya, saya berbeda pandang secara fundamental dengan islam soal Yesus sebagai Tuhan. Namun, tentu saya tidak berhak mengatakan yang disebut ALLAH oleh rekan muslim bukan-lah Tuhan yang berkuasa itu (rujuk pendapat saya soal sapaan Tuhan pada Ismail, ‘bapak’ bangsa Arab yang pada zaman itu jelas belum menjadi islam (Kristen dalam pengertian sebagai pengikut Kristus juga belum ada. Yang ada ya agama Yahudi yang pada suatu waktu menjadi sangat prosedural legalistik). Terlalu jauh saya katakan demikian, walau saya berani katakan mereka keliru jika tidak mengakui Kristus sebagai Tuhan karena keyakinan saya dan anggapan saya bahwa ‘wong dikasih jalan kog gak mau’.
Kembali, bahwa Tuhan yang telah disapa dengan banyak nama itu ternyata telah menjawab banyak orang, baik secara langsung maupun tidak langsung, melalui cara natural yang bisa dipahami manusia, maupun cara mujizat. Lalu, kenapa Tuhan yang mau diklaim bahwa namanya cuma YHWH dan tidak boleh nama lain itu mau menjawab? Ataukah, orang2 yang merasa doa dan pergumulannya dijawab Tuhan itu ternyata dijawab oleh tuhan-tuhanan?
Sama dengan eksklusivisme agama dan termasuk sebutan-sebutan tadi, kita terlalu jauh menjudge bahwa mereka kafir karena percaya pada tuhan-tuhanan. Jika benar tuhan-tuhanan yang telah menjawab orang-orang yang berdoa dengan sungguh walau menyebut nama tuhan versi lain, maka kita membenarkan bahwa ada banyak Tuhan. Tuhanmu berkuasa, dan Tuhanku juga. Apakah kita juga akan berharap tuhan – tuhan itu bertanding siapa yang benar-benar Tuhan atau siapa yang paling kuat?
Saya kira ada suatu kesalahan mendasar dalam cara pikir menyoal sekedar nama. Tuhan dipenjarakan, padahal pikiran manusia jelas tidak mencukupi untuk mengukur Tuhan. Karena itu, mari kita cukup bijak dalam hal ini. Jika itu keyakinan teman-teman, sama dengan keyakinan para petinggi agama Yahudi, sebagian muslim, ya sumonggo. Tapi, hendaknya kita tidak mengatakan kita-lah yang paling benar. Biar Tuhan yang pada waktunya memberlakukan kebenaran dan keadilannya. Tidak akan ada lagi perbantahan, siapa benar, adil tidak ketika waktunya tiba. Yang penting, imanmu dan perbuatan kasihmu.
@Neil,
Biar Tuhan yang pada waktunya memberlakukan kebenaran dan keadilannya. Tidak akan ada lagi perbantahan, siapa benar, adil tidak ketika waktunya tiba.
Sebagian tulisan saya dalam SIAPA TUHAN YANG ANDA SEMBAH? adalah demikian:
“Saya sekarang menyembah Tuhan Yahweh, bukan Tuhan Allah, dan jika ternyata (besok) sesungguhnya Yahweh dan Allah itu sama, maka saya-pun sudah menyembah Tuhan yang benar, dan ini lebih baik ….dari pada sekarang saya menyembah/memuji/berdoa kepada Allah (dan menganggap Yahweh dan Allah sama saja), ternyata, besok, sesungguhnya ternyata Yahweh dan Allah itu berbeda”.
juga:
Maka sebenarnya aneh memaksakan istilah “Yesus adalah Anak Allah”. Coba pikir baik-baik, perhatikan fakta sejarah, kata Allah populer pada abad 6 / 7 Masehi di Arab. Yesus lahir pada abad 1 Masehi di Israel, maka tidak masuk akal jika disebut Yesus adalah anak Allah. (hanya mungkin dengan pemaksaan makna terhadap kata ‘Allah’) Renungkan… Lebih masuk akal bila disebut Yesus adalah putra Yahweh. Yesus adalah putra Bapa. Yesus adalah putra Bapa Yahweh. Yesus bukan anak Allah.
Mengenai siapa sesungguhnya TUHAN yang benar, ALLAH atau YAHWEH? Jujur saja sekarang kita tidak tahu. Bisa jadi ALLAH yang benar, bisa jadi YAHWEH yang benar, atau mungkin juga kedua-duanya benar.
Yang jelas, karena saya orang Kristen, maka saya menganggap YAHWEH-lah yang benar. Saudara-saudara umat Muslim, pasti menganggap ALLAH-lah yang benar.
Klaim (anggapan) bahwa Yahweh yang benar atau sebaliknya ALLAH yang benar, tidak perlu menjadi pertentangan.
Solusinya sederhana, jika menganggap Yahweh yang benar, pilihlah Kristen, jika menganggap Allah yang benar, pilihlah Islam. Bahkan, jika menganggap tak ada yang benar, tidak perlu memilih Kristen maupun Islam. Agama adalah HAK ASASI.
Maka sebenarnya perlu dipertanyakan jika memilih beragama Kristen tetapi menyembah Tuhan Allah, atau Allah Bapa, atau Allah Yahweh.
oh ya.. jangan lupa:
Persoalan nama Tuhan, adalah salah satu persoalan yang seringkali dianggap ‘kecil’ oleh sebagian orang Kristen di Indonesia. Mereka berpendapat bahwa ada banyak ‘masalah’ lain dalam kekristenan yang perlu dibahas.
Penulis berpendapat: benar bahwa ada banyak masalah dalam kekristenan yang perlu dibahas, namun masalah nama Tuhan ini, tidak dapat diabaikan karena merupakan hal mendasar, yang akan menjadi pondasi bagi pemahaman selanjutnya tentang Firman Tuhan.
Masalah yang nampaknya perlu dibahas selanjutnya adalah bagaimana orang Kristen (Nasrani) dapat menyembah Bapa dengan benar; seperti yang dikatakan oleh Tuhan Yesus sendiri:
Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. (Yohanes 4:23)
Juga bagaimana umat Tuhan dapat memiliki Buah Roh (kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri – Galatia 5:22-23)
Dan kemudian (agar)… Kerajaan Sorga benar-benar dapat hadir di dalam kehidupan ini.
(ingat: Doa Bapa Kami yang diajarkan oleh Yesus)
selengkapnya ada di http://www.gkmin.net/gk/Siapa_yang_Anda_sembah.pdf
Membaca satu halaman plus bonus komen – komen’na bikin pusing untuk di baca sekali duduk.
Saya jadi inget kalimatnya Shakeaspeare yang sudah cukup banyak dikenal “What’s in a name?”, yang kemudian di bantah oleh bung Karno yang intinya nama itu penting dan bermakna (I forgot the exact wording).
Tapi bagi saya, itu hal yang sangat terlampau personal untuk diperdebatka mana yang seharusnya benar dan kurang benar. Bagi saya tidak begitu bermasalah, namun bagi orang lain nama bisa jadi sangat penting. Tapi satu hal, ini cara kita untuk memahami konsep sesuatu yang di luar batas kemampuan kita, zat dari segala zat.
Sudah ah… nantu ikut – ikutan puanjang…
@yos,
anda akan tidak pusing, jika pertama kali anda memahami dulu masalah NAMA dan SEBUTAN.
Selama ini perdebatan selesai khususnya mengenai “ALLAH” itu nama atau sebutan.
Kalau YHWH sebagai nama Tuhan “Kristen” sudah banyak yang mengakui, hanya yang beda adalah “kami” menyatakan YHWH tidak perlu disebut dengan ALLAH, “mereka” menyatakan boleh disebut Allah. Sehingga ada sebagian orang Kristen yang menyebut Allah Yahweh.
Bagi yang tidak membedakan NAMA dan SEBUTAN, seringkali mengatakan Yahweh itu ya nama ya sebutan, Allah itu ya nama ya sebutan. Bahkan ada pendeta yang mengatakan bahwa Elohim itu juga nama Tuhan. Pemahaman yang demikian ini, menurut saya “kacau balau”.
Jadi persoalannya di kata “ALLAH” itu, ‘kami’ menganggap Allah BUKAN dari Al-Ilah, mereka menganggap Allah itu dari kata Al-ilah.
Kami menganggap ALLAH itu NAMA, mereka menganggap ALLAH itu sebutan.
Argumentasi kami,
ALLAH = nama bukan sebutan, coba cek Al-Quran berbahasa Inggris, Jerman, Perancis dan lain-lain, tetap ditulis ALLAH. Kalau SEBUTAN akan berganti sesuai bahasa setempat, misalnya Bapak di Indonesia, menjadi Mister di AS/Inggris.
Trus.. kalau ALLAH itu sebutan, lantas apa siapa nama ALLAH-nya orang Islam? Allah yang tak bernama?
(sebagian orang Kristen, tidak peduli dengan hal ini, dan mengatakan, “nama Allah mereka, itu urusan mereka”)
Kalau allah itu dari al + ilah, berarti LAI sendiri TIDAK KONSISTEN menulis ‘allah’ (huruf kecil semua) yang berarti ilah, mestinya tetap ditulis ilah, bukan allah.
Oh ya.. LAI membedakan allah, Allah dan ALLAH, tapi apa kalau anda berdoa, akan bilang “Ya ALLAH yang buruf besar semua…”?
LAI juga membedakan Tuhan dan TUHAN, apa kalau berdoa, anda akan mengucap, “Ya TUHAN yang huruf besar semua…”
Silakan baca di http://gkmin.net/?p=127 juga di http://gkmin.net/?p=60
baca juga, misalnya: http://zenma.wordpress.com/2007/12/04/tuhan-kita-allah/
Selama ini perdebatan selesai khususnya mengenai “ALLAH” itu nama atau sebutan.
maksudnya belum selesai
Saya percaya sebuah nama sangatlah penting karena itu menunjukkan suatu KUASA.
Luk 1:31 Dalam sebuah pertemuan kudus antara Gabriel dan Maria, Gabriel memberi sebuah perintah untuk memberi nama bayi Maria itu YESUS. Bahkan hal yang sama dalam Luk 1:13, malaikat yang sama memberi perintah kepada Zakharia untuk memberi nama anaknya YOHANES.
Nah adakah perintah Malaikat itu ada dari dirinya sendiri atau perintah dari Sang Maha Agung TUHAN sendiri???
Jika saja TUHAN tidak memperhitungkan nama sebagai sesuatu yang penting bisa saja dia menyuruh Maria atau Zakharia “Terserah kalian beri nama siapa mereka yang penting bagus.”
Saya percaya TUHAN adalah TUHAN yang bernama. Sama seperti Tuhannya orang Islam bernama Allah, Tuhannya bangsa Yunani dulu bernama Zeus/Jupiter. Tuhannya orang Mesir Kuno bernama Ra. Malaikat saja punya nama, Gabriel, Mikhael, etc. Iblis aja juga punya nama Satan (dalam Alkitab) alias Lucifer.
Nama menunjukkan suatu pribadi, dan TUHAN adalah suatu pribadi sama layaknya seperti manusia (tetapi manusia bukan Tuhan).
Nah kita tidak mungkin bisa bersekutu lebih baik lagi dengan TUHAN maka kita harus benar-benar mengenal SIAPA DIA, pengenalan bukan saja masalah siapa nama-Nya, tetapi apa kehendaknya.
Secara duniawi saja, gak mungkin kan kita bisa bersekutu dengan orang yang kita tidak tahu namanya? apalagi bersekutu dengan orang2 yang tidak tahu apa keinginannya.
Setuju dengan mas Wit,
Akan ada saatnya manusia akan menyembah TUHANnya dengan ROH dan KEBENARAN. ROH berarti tidak ada lagi sekat antara manusia dengan TUHAN, tidak terbatas tempat, waktu, dan tata cara karena ROH hakikatnya tidak terbatas ruang dan waktu. KEBENARAN berarti TUHAN sendiri yang akan menunjukkan KEBENARAN yang mutlak dari DIA kepada kita dan KEBENARAN itu adalah FirmanNYA yang YA dan AMIN.
@sat:
Masalahnya sekarang sudah banyak orang yang terlalu percaya pada perasaannya. Hati nuraninya sudah terlalu dangkal. Lha wong ada manusia sampai hati membunuh sesamanya dengan mengatas namakan Tuhannya tetap fine-fine aja atau lebih merasa “LUAR BIASA”.
Persekutuan di dalam TUHAN bukan permasalahan bisa atau tidak tetapi adalah aku mau atau tidak mau. Masalah bisa atau tidak TUHAN sendiri yang memampukan (Waduh sok Theologis sekali,hehehehe…)
Ada kalanya disaat kamu merasa jauh dari TUHAN sebenarnya DIA ada disampingmu hanya saja KAMU GAK SADAR!!! Piye kuwi jal???
Saya percaya TUHAN adalah TUHAN yang bernama. Sama seperti Tuhannya orang Islam bernama Allah, Tuhannya bangsa Yunani dulu bernama Zeus/Jupiter. Tuhannya orang Mesir Kuno bernama Ra. Malaikat saja punya nama, Gabriel, Mikhael, etc. Iblis aja juga punya nama Satan (dalam Alkitab) alias Lucifer
jadi menurutmu, bagaimana jika orang Kristen memanggil Tuhannya dengan sapaan Allah? Apakah sedang menyapa Tuannya orang Islam?
Ricko, ada beberana inkonsistensi internal pendapatmu yang menunjukkan 1) ukuran manusia (nama) digunakan pada Tuhan (karena ia pribadi seperti manusia), 2) Tuhan bisa bertindak melampaui kemanusiaan manusia. Jadi, Tuhan ini hanya bisa ditangkap oleh perangkat-perangkat manusia (modern khususnya, nama misalnya) atau ia bisa mengatasi kefanaan manusia (dan makhluk lain) sehingga tidak bisa dipenjarakan oleh atribut2 kemanusiaan?
Catatan saya untuk Ricko dan Wit dan siapapun, be careful, jangan paksakan Tuhan hanya bisa dan boleh dimengerti dengan kemanusiaanmu yang terbatas itu.
Mas Wit, kalo menurut saya tentu aneh sekali kalau seorang Anak salah memanggil nama Bapaknya. Yang seharusnya nama Bapaknya Sulis malah dipanggil Patmo. Bisa2 pas anak itu hilang dan mencari bapaknya tetap gak bakal ketemu soalnya dia terus teriak2 panggil nama yang salah.
Makanya seorang anak harus benar2 tahu siapa bapaknya, apa namanya, bagaimana ciri2 bapaknya, apa yang bapaknya sukai atau tidak.
Sama seperti orang Kristen harusnya benar2 tahu dan mengenal Siapa TUHANnya, apa kehendakNYA, yang DIA suka dan DIA benci dan tentunya anak yang baik harus TAAT kepada BAPAKnya.
Nah kalo dari tadi kita cuma bahas masalah nama tapi gak pernah taat sama kehendakNYA. Sama aja dengan anak bebal udah tahu nama Bapaknya tapi gak pernah patuh alias durhaka.
Mengapa saya membedakan antara Tuhannya orang Kristen dengan Islam. Karena menurut saya kedua pribadi yang kita dan mereka sembah itu berbeda.
Kalau Tuhannya orang Kristen dan Islam sama, tentunya orang Islam juga akan percaya YESUS sebagai Tuhan dan Juru Selamat mereka. Karena TIDAK MUNGKIN TUHAN YANG SAMA AKAN MEMBERI PERINTAH YANG BERBEDA KEPADA UMATNYA apalagi sudah menyangkut KESELAMATAN.2 Tim 2:13 TUHAN itu Maha Setia dan tetap Setia dari awal sekarang dan selamanya, bahkan TUHAN tidak mungkin menyangkal perkataanNYA kan (Yoh 3:16).
Hal itulah yang saya IMANI.
Bang Neil,
benar memang secara manusiawi kita tidak bisa menangkap dan mengerti siapa itu TUHAN. Makanya TUHAN YAHWEH mengutus AnakNya YESUS untuk memperkenalkan siapa itu TUHAN yang benar bukan? Bagaiman beribadah yang berkenan di hadapanNYA, dan lain sebagainya. Yoh 5:37-47. Saya percaya tanpa YESUS maka pengenalan akan TUHAN tidak ada artinya. Silahkan saja kaum2 Intelektual menyelidiki dan memperdebatkan masalah NAMA TUHAN ini itu (Yoh 5:39), namun jika mereka tidak percaya dan datang kepada YESUS (Yoh 5:40) sama saja sia-sia usaha mereka. Nah mana yang mau kita pilih terus memperdebatkan nama, atau taat dan hidup dalam persekutuan yang erat bersama DIA?
Sejak awal saya ikut dalam diskusi ini saya hanya ingin menyampaikan: NAMA MEMANG PENTING TAPI LEBIH PENTING LAGI PERSEKUTUANMU DENGAN TUHAN YANG KAMU SEMBAH.
Hehehe, masalah memaksa nama sama sekali tidak. Jika anda masih mau tetap menyebut TUHAN dengan panggilan Allah tetapi hanya sebatas panggilan seperti seorang anak memanggil bapaknya ayah, papi, etc silahkan saja. Asalkan saja anda sudah mengenal siapa pribadi TUHAN anda yang sebenarnya.
Toh masih banyak juga orang Kristen yang menyebut Allah tetapi mukjizat tetap saja terjadi kepada mereka karena mereka mengenal betul siapa TUHAN yang mereka sembah. KESELAMATAN yang saya imani tidak berdasarkan percaya nama tapi percaya pada pribadi. YESUS sendiri di bahasa lain padanannya beda2 kan??? tapi masih tetap pribadi yang sama.
TUHAN itu bukan hanya sekedar nama tapi DIA itu adalah PRIBADI. PRIBADI yang bisa senang, sedih, dan murka sekaligus.
Kalau ada yang harus dikoreksi dari pendapat saya, silahkan. Saya sangat senang jika ada orang yang mengoreksi saya karena memang kebanyakan pendapat yang saya kemukakan adalah pendapat pribadi tentang apa saja yang saya yakini. Inilah KEBENARAN yang saya percayai hingga sekarang.
Saya ini masih manusia yang susah menginterpretasikan TUHAN yang MAHA KUASA.
Toh ini diskusi dengan kepala dingin kan? Kalau ada salah mari dikoreksi bersama-sama.
GOD BLESS US:)
hmm… lalu gimana dengan Yesus? Yesus adalah nama. Dan kalau nama Tuhan adalah Yahweh, berarti Yesus bukanlah Tuhan. dan kalau begitu, bukankah berarti kita harus menyembah Tuhan Yahweh, bukannya Tuhan Yesus??
fyi, saya orang kristiani, sehingga tentu saya melihat dari sisi kristen.
Menambah hangat diskusi (kepala tetap dingin lho Rick ha ha ha), YHWH itu kan 4 huruf Ibrani yang diterjemahkan ke dalam Alkitab bahasa Indonesia kita itu = AKU ADALAH AKU dan dari beberapa sumber huruf-huruf ibrani itu memang bermakna demikian, AKU ADALAH AKU (I AM WHO/THAT I AM), dengan beberapa kemungkinan tafsir yang masih serupa. Jawaban ini diberikan Tuhan ketika Musa tanya, siapa namanya, siapa nama Tuhan yang mengutus dia itu, kalau dia ditanya oleh orang Israel. Musa takut tidak diterima oleh orang Israel, Tuhan siapa lagi ini yang memerintah orang ini, saking banyaknya tuhan-tuhanan mereka?
Karena bukan ahli bahasa dan tafsir bebas, jika saya tanya seseorang tentang siapa dia dan dijawabnya SAYA YA SAYA, maka ini menunjukkan sikapnya bahwa “kamu harusnya kan tahu siapa saya, saya ya saya”, kenapa kamu tanya lagi. Aku kan Tuhan ayahmu, nenek moyangmu, Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, mengapa kamu tanyakan lagi??? I AM WHO I AM. Jadi, tampaknya itu jawaban yang bukan menunjukkan nama tetapi identitas atau hakekat yang telah dikenal oleh orang Israel. Sama juga dengan pertanyaan, mengapa kamu perlu bukti lagi? Tidakkah kamu percaya kepadaku? Jadi, siapakah Tuhan Allahmu yang kamu kenal dari Abraham, Ishak, dan Yakub? Ya AKU ini!!! Jawaban itu, saya tafsir demikian.
Jadi kalau tadi saya tanya orang itu “kamu ini siapa” (padahal saya sudah tahu siapa dia), lalu dia jawab SAYA YA SAYA, lalu apakah saya akan menamai dia SAYA YA SAYA? Saya kira sulit untuk itu terjadi. Namun, seperti itulah yang turun kepada kita sekarang, 4 kumpulan huruf yang berarti SAYA YA SAYA itu telah dijadikan sebagai nama dari Tuhan yang dikenal melalui Abraham, Ishak, dan Yakub. Dan, dalam berbagai penyebutan nama Tuhan dalam kitab-kitab, banyak kali kumpulan ini dirujuk untuk menyatakan sang Tuhan, bukan baal, bukan dewa-dewa tidak jelas, tetapi Tuhan (yang orang Kristen Arab katakan, Allah). Saya duga ini sebuah pemudahan penyebutan, tetapi orang tidak pernah tahu nama sesungguhnya sang Tuhan itu dan mungkin Tuhan itu memang tidak pernah menyebut namanya (karena SAYA YA SAYA, bukan dimaksudkan untuk mengatakan sebuah nama, tetapi makna, kamu tahu siapa saya).
Dalam keyakinan itu saya percaya tentang eksistensi Tuhan atau Allah. Ia tidak akan bisa dimengerti hanya dengan sekedar nama, tetapi sebuah pengenalan dalam dan melalui iman dan Abrahan, Ishak, dan Yakub telah mengenal Tuhannya melalui iman dan perkenanan Tuhan sendiri. Jadi, apakah nama? Tidak sekedar nama, tetapi pengenalan oleh hatimu. Ia sendiri mengenalmu dan menguji hatimu, apakah engkau percaya kepadanya.
@Vt
hmm… lalu gimana dengan Yesus? Yesus adalah nama. Dan kalau nama Tuhan adalah Yahweh, berarti Yesus bukanlah Tuhan. dan kalau begitu, bukankah berarti kita harus menyembah Tuhan Yahweh, bukannya Tuhan Yesus??
fyi, saya orang kristiani, sehingga tentu saya melihat dari sisi kristen.
anda melihat dari sisi kriten?
mestinya anda paham tentang TRINITAS (walau ada kontroversi tentang konsepsi Trinitas ini).
tadi pagi saya melamun, mengingat lagu yang dulu sering saya nyanyikan di gereja/persekutuan:
Allah kuasa melakukan segala perkara
Allah ku Maha Kuasa
Dia ciptakan seisi dunia atur s’gala masa
Allah ku Maha Kuasa
Seandainya lagu itu dinyanyikan oleh 2 kelompok anak-anak, satu kelompok anak-anak sekolah minggu, satu kelompok anak-anak pesantren. Mereka masih anak-anak dan belum dapat mengerti konsepsi tentang Tuhan. Mereka hanya menyanyikan saja.
bagiku…nama tuhan harus diperjelaskan lagi…
ada yang asli qo mau yang palsu…
Di Malaysia baru-baru ini diputuskan larangan penggunaan kata Allah untuk mengganti kata God oleh penganut agama Katolik. Sebelumnya, mereka telah diperkenankan menggunakan kata Allah sebagai terjemahan God. Jadi, keputusan baru itu menganulir keputusan sebelumnya.
Piye iki, kini kaum Muslim yang menglaim eksklusivitas penggunaan kata Allah dan melarang agama lain menggunakannya, dhi. Katolik. Lha kita kok malah melarang orang Kristen menggunakan kata Allah? Kasihan lah, itu hak orang untuk menggunakannya. Tuhan juga tetap mendengar doa orang Kristen Arab yang memanggilnya Allah. Jangan gitulah mbak Elin, mana nama yang palsu itu? Panggilah dia dengan hati-mu, bukan dengan nama pemberianmu. Aku adalah Aku (YHWH), itu bukan sebuah nama tetapi sebuah penegasan tentang eksistensi yang tidak bisa dibatasi oleh nama. Musa bertanya tentang nama atau jatidiri, tetapi dijawab dengan sebuah pernyataan eksistensial, Aku adalah Aku.
@Neil
Panggilah dia dengan hati-mu, bukan dengan nama pemberianmu. Aku adalah Aku (YHWH), itu bukan sebuah nama tetapi sebuah penegasan tentang eksistensi yang tidak bisa dibatasi oleh nama. Musa bertanya tentang nama atau jatidiri, tetapi dijawab dengan sebuah pernyataan eksistensial, Aku adalah Aku.
“Aku adalah Aku” (Ehyeh Asyer Ehyeh) lebih tepat menjadi “Aku ada yang Aku ada”, memang jawaban NYA yang menunjukkan eksistensiNya. Ketika dalam perkembangan selanjutnya Ehyeh Asyer Ehyeh itu menjadi YHWH, maka YHWH juga diartikan sebagai “Aku ada yang Aku ada”.
Yesaya 42:8 jelas ditulis: “Aku ini YHWH itulah namaKu….”
maka, ketika saya memilih memanggilnya Yahweh (YHWH) saya sedang memanggil NAMA-NYA sekaligus sedang mengakui EksistensiNya..
dan karenanya saya pilih memanggil Dia dengan YHWH.
dan ini “klop” ketika saya belajar kejawen, dimana pernah saya bertanya pada seorang yang saya anggap berpengalaman dalam olah spiritual..
(saya bertanya dalam bahasa Jawa, ini langsung saya Indonesia-kan)
saya bertanya: “siapa yang menggerakkan alam semesta ini Mbah?”
jawab: “sang kehendak”
tanya: “sang kehendak itu apa
jawab: “sang kehendak itu yang ada
orang ini tidak menganut agama tertentu, tidak pernah membicarakan tentang Tuhan (Gusti), tapi mengakui bahwa “ADA sesuatu” yang menggerakkan alam semesta ini.
saya menganggapnya orang ini memahami bahwa ada “DIA YANG ADA” .. “diatas sana..”.
saya comot ayat:
Yesaya 65:1 Aku telah berkenan memberi petunjuk kepada orang yang tidak menanyakan Aku; Aku telah berkenan ditemukan oleh orang yang tidak mencari Aku. Aku telah berkata: “Ini Aku, ini Aku!” kepada bangsa yang tidak memanggil nama-Ku.
Makin mantap saya menyebut YHWH.
Alkitab dengan jelas menyebut bahwa namaNya adalah YHWH (yang berarti (singkat) “Aku yang Ada” atau “Dia yang ada” itu). Alkitab tidak pernah menjelaskan bahwa namaNya adalah Allah.
Sedangkan “Allah”? artinya apa?
Silakan untuk beberapa teman yang kemudian memanggil “Allah Yahweh”.. silakan jika memahaminya demikian, tapi saya memutuskan meninggalkan kata Allah untuk menyebut “Dia yang Ada” itu..
Bagi saya, Allah cukup meragukan (silakan baca http://gkmin.net/?p=85 ), jadi karena meragukan, ya tinggalkan saja.. daripada kita bertahan dengan pembelaan.. “Allah yang saya maksud adalah…..” ya.. “itu khan yang anda maksud..”(SUBYEKTIF) tetapi.. “apa/siapa sesungguhnya Allah itu..” (OBYEKTIF).
Ketika tidak ada kata sepakat mengenai Allah, (apalagi jika kita mempelajari sejarah, asal mula kata Allah — yang ternyata hingga kini masih banyak beda pendapat..”dewa bulan”, “dewa air”, “salah satu berhala di mekkah”, “Al + ilah”, “Tuhan pencipta alam semesta”, “Tuhan yang maha kuasa”, dan lain-lain…) ya lebih baik saya tinggalkan…
Jika belajar sejarah… tidak ada yang tidak sepakat bahwa YHWH berarti “Aku yang ada” (dari sisiNya) atau “Dia yang ada” (dari sisi manusia)
Jadi.. saya menyebut YHWH, justru juga karena saya mengakui EKSISTENSINYA sebagai “YANG ADA”.
Mungkin komentar ini cukup untuk menjelaskan, disamping berbagai argumen yang hanya “masalah kata”.
Semoga anda semua tahu, bahwa pilihan saya atas “YHWH” (Yahweh) dan meninggalkan kata ‘Allah’ bukan sekedar masalah KATA-KATA atau masalah NAMA saja, tetapi justru juga karena pengakuan HAKIKAT-Nya. Dan menurut saya Kitab Suci sebenarnya sudah JELAS menerangkan HAKIKAT ke-ADA-an Nya.
Tetapi.. jika dengan menggunakan kata ‘Allah’ dan mengajarkan kata ‘Allah’ itu kepada anak-anak anda dan orang lain, bisa menjelaskan HAKIKAT ke-ADA-anNya, ya silakan saja…itu pilihan anda.
Cuma sekali lagi tolong diperhatikan, bahwa LAI membedakan ‘allah’, ‘Allah’ dan ‘ALLAH’.
Apakah anda akan berdoa, “Ya ALLAH yang huruf besar semua….” atau “Ya Allah, yang A-nya huruf besar…”.
Bagaimana jika anda ternyata mengucapkan doa: “Ya allah….” (allah huruf kecil semua).
Bagi saya, “lebih aman” tidak menggunakan kata allah/Allah/ALLAH.
Siapakah “DIA” yang kita maksud? Allah, ALLAH atau allah? (bunyinya sama saja…)
Ya…. seru …. saya menyampaikan yang sederhana saja, sebutan allah / Allah / ALLAH, masuk di bahasa Indonesia kan dari pengertian bahasa Arab. Hal ini bisa dipahami karena waktu itu Islam masuk lebih dahulu ke Indonesia, jadi taunya Sang Khalik/ Yang Ada disebut sebagai allah (mengadopsi dari yang ada lebih dulu ) . Saya Orang jogja bisa memahami hal ini , karena di jogja kalau kita panggil raja / ratu sebutannya sama yaitu gusti. Sewaktu saya menyebut Gusti untuk Kanjeng Ratu Hemas , tidak mungkin saya bermaksud memanggil Gusti untuk Yesus. Apakah sbg orang jawa dilarang untuk memakai Gusti / Pangeran ? Apakah tidak lebih hormat kalau kita memakai sebutan diawalnya untuk memberi makna lebih bagi pribadi yang kita sebut ? Jadi berdoa dengan TUHAN ALLAH BAPA yang kami sembah di dalam TUHAN YESUS KRISTUS sepertinya lebih hormat katimbang langsung mengucapkan YAHWEH atau YESUS.
Itu pikiran wong jowo lho mas,… GBU.
@wong jowo (yang benar “Jawa” Mas..)
Persoalannya ada di kata “Allah” itu Mas..
Kalau anda orang Kristen, saya harap anda tahu bedanya “allah, Allah dan ALLAH” (silakan periksa Alkitab)
apakah kalau diucapkan (suara) ada beda antara allah, Allah dan ALLAH.
Silakan cari dalam Kitab Suci, dimana ada petunjuk bahwa ALLAH itu = Bapa.
yang saya temukan adalah:
Yesaya 64:8 Tetapi sekarang, ya YAHWEH, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu.
Makanya.. nyebutnya: “Bapa Yahweh”, bukan “Bapa Allah” atau “Allah Bapa”.
atau ya cukup “Bapa” saja, tetapi Bapa yang dimaksud adalah YHWH, bukan Allah.
Anda ingin tahu beda Allah dan Yahweh?
Baca di http://www.deceptioninthechurch.com/allahyhwh.html
Ingin tahu persoalan pengembalian NAMA YAHWEH?
Baca di http://www.revelations.org.za/NotesS-Name.htm
ya, masih banyak website yang membahas persoalan itu.
saya juga wong Jawa Mas….
Shalom,
Apa yang dikatakan Pdt. Daniel Alexander (seorang missionaris yang mengabdikan hidupnya melayani Tuhan di Papua)?
Simak clipnya .. Gbu.
http://www.youtube.com/watch?v=Zsl2A_KfHgc
Saya dulu seorang muslim yang sangat kuat memegang doktrin Islam, dan kemudian Tuhan Yesus menjamah saya sehingga saya mengikut Yesus sejak tahun 2000.
Saudara2 ku umat Kristiani, perlu anda fahami bahwa bagi umat Islam adalah amat sangat penting menyebut nama Tuhan yang mereka sembah dengan benar.
Contoh nama ALLAH harus diucapkan “AWLOH”. Jadi saya memang sempat berfikir mengapa orang2 Kristen juga menyembah ALLAH tetapi menyebutnya dengan ucapan “ALAH”. Bagi umat Islam ini sangat dilarang karena dapat dianggap melecehkan nama Tuhan. Sehingga apabila orang2 Nasrani beranggapan bahwa ALLAH yang mereka sembah adalah sama dengan ALLAH yang disembah oleh saudara2 kita Islam maka anda bisa dikategorikan melecehkan nama Tuhan bagi umat Islam.
Setelah sekian tahun lamanya saya mencari dan mencari pengetahuan tentang nama Tuhan Sang Pencipta Alam Semesta ini, saya 100% sependapat dengan Mas Wit bahwa Yahweh itulah namaNYA sesuai yang tertulis di kitab suci Kristen aslinya.
Bahwa NAMA DIRI tidak dapat diterjemahkan.
Contoh :
Nama saya Tri Utomo, kemudian karena kehebatan prestasi saya dalam kejuaraan salah satu bidang olah raga serta merta orang Jakarta memuji muji nama saya dengan ” Hidup Tiga Utama….Hidup Tiga Utama……” ya semua orang tidak tahu siapa yang bernama “Tiga Utama” itu meskipun Tiga Utama itu berarti Tri Utomo ( bahasa Jawa ), dan yang lebih parah lagi saya tidak mengetahui kalau saya dipuji-puji orang Jakarta itu, pujian mereka tidak saya rasakan. Bahkan saya malah bergumam : ” Orang2 itu aneh, lha wong saya yang berprestasi yang dipuji kok orang lain yang bernama “Tiga Utama” itu. Saya malah penasaran kayak apa sih tampang orang yang bernama “Tiga Utama” itu? mau saya tantang dia!!!
Nah dengan berpegang perumpamaan tersebut diatas saya menjadi yakin bahwa
ALLAH yang disembah oleh saudara kita Islam adalah berbeda dengan Tuhan Chalik langit dan bumi yang diberitakan oleh kitab suci Kristen yang dengan jelas tertulis namaNYA sebagai YHWH.
Kalau Tuhan selalu meminta kita untuk menyembah, memuji, mengagungkan, memuliakan ” namaNYA ” maka apakah kita sudah benar melakukannya?
Bahkan kita malah meminjam nama lain yang tidak ada dalam kitab suci kita, sungguh ini mendukakan DIA.
Kalau ada yang berargumen bahwa dengan menyebut nama ALLAH kenyataannya diberkati melimpah, maka perlu difahami bahwa berkat-berkat duniawi tidak dapat dipakai sebagai tolok ukur akan kebenaran hubungan dengan Tuhan. Banyak manusia hidupnya berlimpah ruah meskipun mereka tidak mengenal Tuhan.
Ok untuk Mas Wit saya mendukung perjuangan anda meskipun banyak caci maki yang menyakitkan. Kebenaran itu akan tetap menjadi kebenaran.
Tuhan Yesus memberkati.