Ndobol Beol

Saya janji notes ini akan bikin Anda muntah. Jadi sebaiknya Anda berhenti membaca sampai di sini. Toh yang akan diceritakan cuma aktivitas beol beserta turunannya, yaitu feses. Istilah lazimnya: tai. :)

Sebagian orang menyebut beol sebagai “berak”. Kalau “boker”? Itu istilah prokem dari berak. Semula saya kira berak lebih kamusiah. Ternyata lema yang saya dapati di Kateglo adalah “beol”: v (cak) 1 buang air besar; 2 (ki) berkata-kata tidak benar; dusta.

Kalau mengikuti petunjuk Kateglo, maka bisa dibilang saya beol hampir tiap pagi. Ya buang air besar, ya berkata-kata tidak benar. Pagi-pagi sudah bohong lewat notes ini. Tapi beol yang saya maksud sekarang adalah BAB alias buang air besar (sebetulnya yang keluar lebih banyak padat dan agak liat). Kalau tidak tiap pagi, maka tiap hari. Hari ini, berhubung sudah tiga hari tidak makan dan tidak minum dalam rangka cari kesaktian, saya belum beol lagi. Kangen rasanya. Kok bisa?

Yang saya rasakan, lewat beol kita bisa belajar bagaimana melepas. Melepas apa yang pernah jadi bagian diri kita. Sesuatu (atau seseorang) perlu kita lepas karena memang harus dan sudah waktunya kita lepas. Saat menengok ke bawah kita sadar bahwa seenak dan semewah apapun yang kita makan di awal, wujud akhirnya selalu sama. Rasanya? Cobalah sendiri. Saya masih penasaran bagaimana jadinya kalau keluaran beol itu dimakan lagi. Apa wujud akhirnya masih sama?

Esensi beol adalah keikhlasan. Orang bilang yang penting BAB lancar. Saya ingin berhipotesis bahwa keikhlasan seseorang bisa kita ukur dari kualitas beolnya. Hehehe. Kualitas dan bukan kuantitas. Karena orang mencret pun bisa BAB (buang air besar betulan) puluhan kali dalam sehari.

Tiada yang tahu kualitas beol seseorang selain orang itu sendiri, saat dia benar-benar menghayati detik demi detik perpisahan dengan fesesnya. Konon semua hal bisa jadi spiritual bila disertai penghayatan. Andia, makan pun bisa jadi tindakan spiritual. Beol juga spiritual. Bercinta apalagi. Kita bisa mengerti bila ada orang yang mengaku bertemu Tuhan saat sedang beol, atau kaum Tantris yang menganggap persetubuhan sebagai ibadah, dan simbol-simbol seks bertebaran pada candi-candi Hindu di Jawa. Semua yang kita kerjakan sepenuh jiwa dan raga (tidak jiwa saja) adalah ibadah.

Karena semuanya ibadah, maka secara otomatis kita sudah beribadah setiap saat. Dimanapun. Kita tidak perlu lagi satu sesi dan tempat khusus untuk menyembah-nyembah Tuhan yang katanya ada di mana-mana. Kita bisa tinggalkan agama. Dan ini yang biasanya susah. Susah karena orang tidak ikhlas. Tidak rela meninggalkan agama karena dikiranya agama berisi kebenaran terakhir dan sempurna. Kalau dikaitkan dengan hipotesis saya tadi, coba cek apakah BAB kaum fundamentalis lancar-lancar jaya? Hehehe.

Sebagai makanan rohani, agama jelas-jelas kadaluwarsa. Isinya cuma konsep, pemikiran, diproduksi oleh manusia-manusia yang hidup ratusan hingga ribuan tahun jaraknya dari kita. Dan itulah yang terus-menerus dicekokkan pada kita di tengah realitas sosial yang terus berubah. Akibatnya tidak cocok dan tidak kompatibel. Ilmuwan bilang tidak relevan. Dan kita semua tahu pembusukan sosial terjadi di mana-mana. Indonesia adalah tempatnya korupsi berjamaah. Tempat dimana HAM diinjak-injak dengan sempurna.

Orang-orang agama selalu bilang bahwa agama mengajarkan kebaikan. Padahal untuk jadi baik tidak harus pakai agama. Agama bisa dilepas kalau orang ikhlas dan rela.

Tapi begitulah. Sudah makan makanan kadaluwarsa, BAB tidak lancar pula. Jadi penyakitnya dobel. Pertamanya keracunan, keduanya konstipasi alias sembelit. Bisakah kita memahami pembusukan sosial lewat analogi pembusukan tubuh? Ketahuilah bahwa apa yang kita sebut dengan “sosial” itu terdiri dari individu-individu yang bertubuh. Kalau tubuhnya sakit, maka individunya sakit. Sosialnya juga ikut sakit.

Kembali ke beol. Esensi beol adalah melepas. Melepas segalanya dan tidak cuma agama. Melepas beda dari menolak. Kita bisa saja stop beragama Kristen dan tetap kebaktian di gereja. Banyak orang melakukannya. Yang penting adalah kita tidak melekat. Tidak melekat pada ritual, tidak melekat pada syariat. Kita bisa melepas segalanya karena kita harus menyiapkan tempat bagi segalanya. Perut harus kita kosongkan supaya terisi makanan baru, yang segar dan tidak kadaluwarsa. Setelah itu kita beol lagi, kemudian makan lagi. Begitu seterusnya. Hidup adalah perjumpaan dan perpisahan.

Karena hidup adalah perjumpaan dan perpisahan, maka barangsiapa menolak kedua hal ini (atau salah satunya) akan mati selagi masih hidup, atau hidup setengah mati. Bertahun-tahun lamanya Siddharta Gautama menyiksa diri dengan menyepi untuk puasa dan meditasi. Yang dia dapat cuma setengah mati yang tak mati-mati. Pencerahan baru tercapai setelah dia kembali berjumpa orang dan dirinya sendiri. Hal yang sama terjadi pada Suryamentaram dan masih banyak lagi.

Banyak orang masih meratapi kepergian orang yang dicintai. Ini rasanya juga setengah mati. Seorang perempuan mengajari saya untuk menerima bahwa setiap orang ada masanya dan setiap masa ada orangnya. Hari ini dia, besok entah siapa. Mungkin juga bukan siapa-siapa. Kita lahir ke dunia seorang diri dan akan mati seorang diri. Hidup bukan pasar malam, kata Pramoedya Ananta Toer. Dan itu benar. Karena orang agama takut sendiri-sendiri, maka dikaranglah fantasi tentang sorga dan neraka dimana orang bisa senang dan sedih bersama selamanya. Orang agama sukanya keroyokan, sama seperti waktu mereka mengeroyok Ahmadiyah. Hehehe.

Karena hidup adalah perjumpaan dan perpisahan, mulai sekarang belajarlah makan dan beol dengan benar. Dengan penuh penghayatan. Berdoalah tidak hanya sebelum dan sesudah makan. Berdoalah selama makan. Dan berdoalah selama beol.

Berdoalah setiap saat.