Personal

Orangtua-anak

Untuk Bapak dan Ibu,

Tempo hari aku dengar dari Eyang bahwa, dalam pembicaraan telepon ketika di Salatiga, Bapak meminta Ibu untuk mengurangi kepadatan jadwal di luar rumah dan memberi porsi yang lebih besar untuk “memperhatikan” Evan, Arya, dan David, agar mereka tak menjauh seperti aku. Aku pikir ini langkah yang baik, tapi bisa jadi jelek juga. Bisa-bisa mereka bukannya mendekat, tapi malah lebih menjauh dari Bapak dan Ibu.

Aku membagi ruang privasiku ke dalam beberapa zona imajiner, yang mengatur sejauh mana orang-orang dapat mendekat dan berinteraksi dengan aku.

Zona pertama dan sekaligus terluar diisi oleh orang-orang asing dan kaum LGBT (lesbian, gay, biseksual, dan transgender). Keberadaan zona inilah yang menjelaskan kenapa aku sukar untuk bersosialisasi dengan mereka. Ini juga sebuah pernyataan tegas tentang orientasi seksualku. Sekadar komunikasi (diskusi dan debat) dan perkenalan mungkin tak masalah. Tapi aku tak akan mengijinkan orang-orang dari zona ini mendekat lebih daripada itu.

Zona kedua ditempati oleh teman-teman perempuan. Aku selalu tak bisa merasa nyaman jika bergaul dengan perempuan kebanyakan. Aku cenderung menjaga jarak, untuk menghindar dari segala macam “jeratan perempuan.”

Zona ketiga ditempati oleh teman-teman laki-laki. Aku merasa lebih mudah bergaul dengan laki-laki, karena aku rasa mereka tak punya kepentingan untuk “menjerat” aku. Jika ada seorang teman laki-laki berusaha untuk “menjerat,” berarti dia bukan laki-laki normal, dan karenanya aku akan menendang dia menuju zona pertama. Gampang kan?

Zona keempat dihuni oleh keluarga, beberapa sahabat laki-laki, beberapa sahabat perempuan, satu perempuan spesial, dan beberapa mentor. Keluarga adalah Bapak, Ibu, Evan, Arya, David, dan anggota keluarga besar Palihan dan Ringin. Sahabat laki-laki itu seperti Andre “Kambing” dan Yodie “Codot.” Sahabat perempuan adalah teman-teman perempuan yang sudah aku percaya tak akan memberi “jeratan” untuk aku (aku telah anggap mereka seperti saudara perempuan), seperti Eva “Bocil.” Perempuan spesial adalah perempuan yang telah dan sedang aku taksir. Mentor adalah guru-guruku yang benar-benar guru, seperti Johan Tambotoh, Petrus Wijayanto, Andreas Harsono. Kepada orang-orang inilah aku mampu mendekat, membuka diri, ngobrol banyak, dan bekerjasama.

Zona kelima dan sekaligus terdalam hanya boleh dihuni oleh diriku sendiri. Dari zona inilah aku membuat keputusan-keputusanku secara otonom, seperti kemana aku akan pergi, apa yang aku makan hari ini, dimana aku akan tidur, apa yang aku pelajari hari ini, bagaimana aku akan belajar, apa yang hendak aku tulis, dan lain sebagainya. Aku tak ingin hal-hal seperti ini dicampuri dan diintervensi oleh siapapun. SIAPAPUN!

Dulu, ketika aku masih di Surabaya dan ketika awal-awal kuliah di Salatiga, aku sering tak berdaya ketika Bapak dan Ibu melanggar privasi ini. Bagaimana aku bisa “melawan” kalian, sedangkan hidupku sendiri masih kalian tanggung? Padahal, sebenarnya aku sangat terganggu dengan dominasi kalian atas kehidupanku. Jadi, ketika akhirnya aku mampu bekerja dan menghidupi diriku sendiri di sini, aku baru benar-benar merasa bebas. Aku punya otonomi dan hak untuk mempertahankan otonomi tersebut. Aku ingin menunjukkan otonomi tersebut dan tak ingin seorang pun melanggarnya.

Tapi kalian tak kunjung mengerti. Meski aku sudah berdikari, kalian masih saja memasang dominasi itu dan mengintervensi keputusan-keputusanku (silakan diingat-ingat sendiri). Kadang kalian juga memainkan peran suportif dengan perhatian kalian. Ini semua bikin aku jengah!

Yang aku mau adalah kesetaraan! Tak ada yang di atas, juga tak ada yang di bawah. Aku menolak otoritas kalian, dan juga dukungan kalian atas kehidupanku, karena hal-hal itu tidak menciptakan kesetaraan.

Ketidaksetaraan adalah hal yang tak bisa aku terima secara logis. Aku jelas menolak anggapan bahwa ada orang yang diciptakan lebih tinggi, baik, dan mulia daripada orang lain, pun sebaliknya. Dan konsekuensi logis dari sikapku ini adalah penolakan terhadap hubungan orangtua-anak yang lagi populer sekarang, dimana orangtua dapat mengontrol anak di wilayah-wilayah tertentu.

Jangankan di semua wilayah, kontrol orangtua di sedikit wilayah pun aku tak setuju! Aku beranggapan, orangtua harus melepaskan kontrolnya sama sekali. Mendidik bukan berarti mengontrol, tapi memberikan masukan-masukan dan pertimbangan yang rasional secara demokratis kepada setiap keputusan yang diambil anak secara otonom. Itulah pendidikan! Ia mencerdaskan, bukan menumpulkan pikiran. Dan ini jelas tak bisa disamakan dengan “penjerumusan.” Orangtua baru layak disebut “wakil Tuhan” jika mereka berlaku demikian. Wong Tuhan (oknum yang mereka wakili) saja memberikan manusia kehendak bebas dan membiarkannya mengambil keputusan dengan otonom, kenapa orang-orang yang disebut “orangtua” sering mengebiri kehendak bebas tersebut dengan mengatakan klaim “kami adalah wakil Tuhan?”

Jika ada anak yang tak mau mendengarkan didikan dan jatuh ke dalam dosa? Ya biarkan saja. Itu jelas urusannya sendiri dengan Tuhan, dan ia akan menanggung segala konsekuensi atas keputusannya. Jika tidak demikian, lalu kapan ia akan menjadi dewasa? Setiap orang punya jalan hidup masing-masing yang harus dipertanggungjawabkan. Jalan hidup anak bukan menjadi tanggungjawab orangtua. Porsi orangtua adalah menyerahkan anaknya ke dalam perlindungan Tuhan melalui doa. Paling jauh, mereka hanya boleh memberi nasihat. Tapi bukan kontrol!

Tapi aku tak melihat bahwa kalian, Bapak dan Ibu, sepaham dengan pendapat ini. Oleh karena itulah aku lalu menjauh dan menempatkan kalian pada zona terluar dari privasiku. Aku merasa asing dengan kalian karena kalian tak mampu memahami pikiranku.

Waktu hari terakhir Bapak di Salatiga, aku kira Bapak sudah berhasil memahami sikapku. Aku senang ketika tahu Bapak ke Salatiga cuma untuk kepentingan pekerjaan di Jawa Tengah, bukan untuk menilik aku. Aku tak merasa terancam dan akhirnya dapat bercerita banyak mengenai kegiatanku di sini. Meski demikian, aku tetap mempertanyakan uang yang diberikan Bapak waktu itu, walau sebenarnya aku juga sedang butuh uang. Itu karena aku tak mau otonomi dan kebebasanku kembali “terbeli” seperti dulu.

Itu saja.

Posted by STR on Tuesday, 20 May 2008, in his Personal column.

There are 5 comments already. Say something!

ironmonger

Gravatar

Emang ada yang salah dengan kaum LGBT ya ??? mereka kan juga manusia.

Sent via Mozilla Firefox 2.0.0.15 on Thursday, 10 July 2008, at 10:44 AM.


STR

Gravatar

Mereka memang manusia. Tapi aku tak paham mereka. Itulah mengapa aku merasa asing terhadap mereka.

Sent via Mozilla Firefox 2.0.0.14 on Thursday, 10 July 2008, at 1:25 PM.


wow..
i am amazed being mentioned here..
thx so much..

anyway,, setuju ga kamu ama salah satu sajak tenar Khalil Gibran yang bicara tentang orangtua.
orangtua sebagai busur dan anak sebagai anak panahnya..
di situ kan juga dipaparkan peran, fungsi, dan kedudukan ortu terhadap anak2, menurut Kahlil Gibran tentunya…

dulu, c waktu aq muak2nya sama mamaQ.. aq sempet pingin nglempar sajak itu di depan mukanya supaya mamaQ berhenti seenak udelnya.
heheeeee…

Sent via Mozilla Firefox 2.0.0.16 on Tuesday, 12 August 2008, at 10:38 PM.


STR

Gravatar

Buat Eva,

Ya, aku tahu sajak itu. Sajak yang bagus. Dan isinya aku nilai benar. Gibran emang jenius.

Hmm …. Kalo aku Va, mungkin aku akan lebih cenderung menghindar. Aku mending minggat daripada menyerang orangtua. Capek, habis-habisin energi.

Sent via Mozilla Firefox 2.0.0.16 on Tuesday, 12 August 2008, at 11:00 PM.


mey

Gravatar

Love Ur parents

with there way to love u

Sent via Mozilla Firefox 3.0.5 on Wednesday, 24 December 2008, at 2:10 PM.


Leave a Comment

Perbaikan UKSW Dot Edu Lambat · SPPQT Angkat Suara Soal Salib Putih