Mengelola Bakat PNS: Belajar dari Sumba Timur

Saya bukan orang Sumba. Juga belum pernah ke Sumba. Tapi saya beruntung punya beberapa teman orang Sumba. Dari mereka saya mendapat banyak cerita. Salah satunya soal almarhum Umbu Mehang Kunda, bupati Sumba Timur dari tahun 2000 hingga 2008.

Belum pernah saya dengar kesaksian orang yang begitu positif tentang kepala daerah di Indonesia belakangan. Kebanyakan kepala daerah kerjanya cuma keluar-masuk penjara akibat korupsi sehingga pembangunan daerahnya terbengkalai. Umbu Mehang Kunda barangkali berbeda. Dari teman-teman kuliah di Salatiga, saya mendapat gambaran sosok Umbu Mehang sebagai bupati yang becus memimpin dan pro-rakyat. Umbu Mehang dipuji karena, misalnya, pembangunan infrastruktur jalan dan listrik yang pesat di kabupatennya. “Kalau bukan karena Umbu Mehang,” kata Fredy Umbu Bewa Guty, “mungkin Sumba Timur sampai sekarang masih gelap gulita.”

Go on »

Arief Dalam Hal Asmara

asmara nababan 207x300 Arief Dalam Hal Asmara“Orangnya terus terang, enak diajak omong, nggak main politik, apa adanya,” kenang Arief Budiman tentang Asmara Nababan. Selebihnya tidak banyak. Arief merasa kekaribannya dengan Asmara lebih cenderung intelektual ketimbang personal.

Arief masih ingat pertemuan pertamanya dengan Asmara, sekitar 40 tahun lalu di Balai Budaya. Waktu itu Arief adalah direktur Yayasan Indonesia. Ia mendapat satu ruangan kecil di situ sebagai kantornya. “Balai Budaya itu menjadi tempat diskusi-diskusi. Jadi di samping demo kita diskusi. Diskusi tentang Taman Mini misalnya. Nah, si Asmara sering datang. Dia tahu kita ada pertemuan-pertemuan, ngumpul, datang pribadi maupun datang kelompok. Kelompok kita nggak resmi. Siapa aja yang datang diterima.”

Go on »

Suprafasilitator

Hari ini saya mendapat dokumen yang menjelaskan bentuk kerangka kerja pengembangan masyarakat yang dipakai sebagai dasar kurikulum pengembangan fasilitator di Indonesia. Mau tahu isinya?

Pertama-tama dikatakan bahwa pengembangan fasilitator masyarakat harus fokus pada kebutuhan masyarakat untuk: pertama, dapat menerima perubahan positif; kedua, memahami penerapan acuan yang ditawarkan sebagai norma kebiasaan; ketiga, memungkinkan tertanamnya proses-proses efektif di masyarakat.

Go on »

Ateis

Aku seorang ateis. Ada yang bilang, ateisme dan agama adalah kebodohan yang sama dengan nama berbeda. Sebabnya karena mereka sama-sama tak berdasar dan berbukti—aku setuju. Aku memang bodoh karena mau percaya pada hal yang tak berdasar dan berbukti. Dan sebodoh-bodohnya aku, masih lebih bodoh orang yang mau baca tulisanku setelah tahu aku ini bodoh. Haha!

Sebagai ateis, aku bukan tidak percaya Tuhan. Aku cuma percaya Tuhan tidak ada. Tuhan adalah omong kosong. Dan karena cuma omong kosong, orang bisa omong apa saja soal Tuhan sementara Tuhan sendiri cuma diam. Yang cerewet adalah muka-muka agama yang sejak purbakala selalu khotbah bahwa Tuhan adalah ini dan itu, begini dan begitu.

Sering aku dengar orang bertanya, “Tuhan, agamamu apa?”

Dan Tuhan diam.

Go on »

Anggur Satu Malam

Kabar bahwa sahabatnya lulus hari ini tidak membuat hatinya senang. Ia sedih karena sejumlah alasan. Pertama mungkin karena sudah sifat manusia untuk lebih gampang menerima kegagalan orang lain daripada kesuksesannya. Orang selalu punya kecenderungan untuk bersaing, entah kenapa. Dan saingan mereka, biasanya, justru didatangkan dari lingkaran terdekat: keluarga, tetangga, teman. Dalam sejumlah hal tampak bahwa saudara bersaing dengan saudara, orangtua dengan orangtua, orangtua dengan anak, tetangga dengan tetangga, dan teman dengan teman; sampai muncul istilah “teman makan teman” untuk menunjuk praktik persaingan tak sehat. Kemenangan diperjuangkan seolah-olah dari persaingan itulah orang mendapatkan eksistensinya. Anak pintar selalu mendapat tempat lebih baik daripada anak bodoh. Dan sejak kepintaran mereka selalu diukur dengan angka, hampir setiap anak berlomba-lomba mendapatkan angka tertinggi, meskipun dengan cara-cara terendah. Dan hampir semua anak begitu. Dikatakan hampir semua karena nyatanya masih ada sejumpil anak yang, entah bagaimana, tahu bahwa kepintaran tidak bisa cuma diukur angka-angka. Apakah sebetulnya kepintaran? Dan bisakah ia diukur dengan angka? Kalau bisa, seberapa bisa? Seberapa tepat angka-angka itu menunjuk kepintaran yang tak berwujud?

Go on »