Pathology

Dr. Jake Gallo dan teman-temannya bukanlah mahasiswa kedokteran yang bodoh dan malas. Dalam salah satu program studi patologi paling prestisius di Amerika, mereka adalah kelompok mahasiswa terpandang. Mereka amat cerdas dan giat belajar. Mungkin terlampau giat, hingga pekerjaan laboratorium macam cek urin dan darah tak lagi menarik dikerjakan. Mereka ingin belajar sesuatu yang lebih.

Maka mereka berinisiatif. Berlima mereka sepakat membunuh orang secara bergiliran dengan cara semisterius mungkin. Jika tiba giliran Jake membunuh, maka adalah tugas keempat temannya untuk mengotopsi tubuh si korban dan menebak penyebab kematiannya. Setelah diotopsi, mayat para korban dibakar sampai habis di insinerator. Roda permainan ini tak akan berhenti sebelum ada yang berhasil membuat rekan-rekannya tak mampu menebak tepat metode pembunuhannya.

Suatu hari datang mahasiswa baru, Dr. Ted Grey. Ia lulusan Harvard dan baru saja pulang dari sebuah misi PBB di Afrika. Dalam waktu singkat, Jake berhasil menarik Ted masuk ke permainan kelompoknya. Ted melakukan pembunuhan pertamanya dengan ekspresi dingin, namun kegelisahan hebat mengerat malam harinya.

Tinggal jauh dari tunangannya dan terjebak dalam roda pembunuhan berantai, Ted pun terlibat perselingkuhan dengan teman sepermainannya, Dr. Juliette Bath, yang juga pacar Jake. Ketika Gwen, tunangan Ted, akhirnya memutuskan pindah ke New York untuk tinggal bersama Ted, Juliette tak dapat menyembunyikan rasa cemburu dari siapapun.

Jake marah besar. Maka saat tiba giliran Jake menyediakan bahan otopsi untuk permainan, ketiga rekannya terkejut dengan mayat Juliette yang terbujur di meja bedah. Kala mereka hendak memulai otopsi tanpa kehadiran Ted, ruang bedah itu tiba-tiba meledak. Namun esoknya, hanya ditemukan empat mayat di sana: Dr. Juliette Bath, Dr. Griffin Cavanaugh, dua lainnya tak teridentifikasi.

Jake lolos dari maut dengan keyakinan bahwa Ted adalah otak peledakan itu. Ketika Ted pergi ke kampus, Jake datang ke apartemen Ted dan membunuh Gwen.

Dalam suasana berkabung, Ted mendesak mentornya, Dr. Quentin Morris, untuk memberinya ijin mengotopsi mayat tunangannya. “Aku tak ingin siapapun menyentuhnya kecuali aku,” kata Ted. Adegan otopsi itu, diiring alunan lagu Bibo No Aozora-nya Ryuichi Sakamoto, adalah adegan paling romantis dalam filem ini.

Meski agak aneh, cara belajar kelompok pimpinan Jake Gallo menarik juga. Ada aforisma terkenal: To catch a thief, you have to think like a thief. Dan mungkin Jake menambahkan kalimat ini pada aforisma itu: The best way to think like a thief is being a thief. Dalam konteks patologi forensik, Jake dan teman-temannya ingin memahami penyebab kematian dengan melakoni peran sebagai penyebab kematian itu sendiri, dengan bertindak sebagai pembunuh. Ada semangat empirisisme yang besar di sini. Namun bagaimana pertimbangan etis-epistemologisnya, jika metode yang mereka pilih ternyata mengorbankan orang lain sebagai tumbal proses belajar itu?

Itu baru patologi forensik. Bayangkan jika ada sekelompok mahasiswa ekonomi yang — karena semangat empirisisme tinggi — sampai berpikir untuk memahami kejahatan Bernard Madoff dari bursa NASDAQ dengan mempraktikkan skema Ponzi di Bursa Efek Jakarta. Memang kedengarannya mustahil karena Madoff adalah sosok yang sukar disamai, namun siapa tahu? Di tingkat yang lebih tidak berbahaya, mahasiswa teknologi informasi yang belajar keamanan jaringan biasanya mendapat instruksi untuk membobol sistem keamanan tertentu. Untuk bisa jadi pengaman yang baik, harus tahu juga cara membobol yang jitu, bukan?

“Nggak ada noda, ya nggak belajar,” kata iklan sabun. Artinya, noda dalam proses belajar itu baik sekaligus lumrah adanya. Kebaikannya baru dipertanyakan ketika noda itu adalah noda darah dalam kasus Jake Gallo, maupun kerugian miliaran dolar dalam kasus Bernard Madoff. Mungkin ada yang menolak pendapat ini dengan bilang bahwa kejahatan Madoff tidak dilakukan dalam rangka pembelajaran. Namun saya tidak akan gubris penolakan itu karena, faktanya, dalam hidup ini kita terus menerus belajar. Dan justru hanya seorang pembelajar seumur hidup seperti Madoff-lah yang pada akhirnya bisa membobol sekuritas Amerika yang raksasa itu; bukan ekonom yang belajarnya cuma di bangku kuliahan.

Bisa ditanya lebih lanjut, apa sih dampak aksiologis yang diharapkan dari proses belajar seperti itu? Buat apa belajar patologi forensik serepot Jake Gallo, atau mahasiswa ekonomi yang berpretensi memahami Madoff dengan praktik skema Ponzi-nya? To catch the thief, menurut aforisma kita tadi.

Dengan memahami penyebab kematian, Gallo dapat membantu polisi memecahkan kasus pembunuhan rumit di New York. Dengan memahami Madoff dan skema Ponzi, orang bisa lebih waspada dan membangun sistem yang lebih kebal terhadap penipuan. Namun, seberapa besar sih kebutuhan untuk itu? Seberapa sering polisi membutuhkan bantuan Gallo? Seberapa sering kasus Madoff terjadi? Tidak ada yang tahu. Kasus Madoff baru sekali terjadi namun amat menghancurkan perekonomian. Ia mengambil peran dalam krisis keuangan dunia yang berlangsung sejak 2007 sampai sekarang. Sedangkan di dunia maya yang amat rawan pembobolan, rasanya ada banyak pembobol (cracker) yang akhirnya direkrut untuk alih profesi menjadi pengaman jaringan. Di sini, perhitungannya mungkin tak hanya perlu mencakup seberapa sering, tetapi juga seberapa besar risiko potensial.

Lagipula, siapa bisa jamin orang akan gunakan pengetahuannya melulu untuk kebaikan? Jake Gallo membantu polisi, tetapi juga membunuh Juliette dan Gwen. Orang yang memahami Madoff bisa membangun sistem yang lebih baik untuk kebaikan masyarakat, tetapi bukankah dia juga bisa jadi Madoff kedua — bahkan lebih jahat?

Bapak empirisisme, Francis Bacon, pernah mencetuskan, “Knowledge is power.” Sementara Lord Acton berpendapat, “Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.” Apakah itu berarti orang berpengetahuan cenderung korup sebagaimana orang berkuasa?

Apapun itu, pada akhirnya Ted Grey membalas dendam. Ia manfaatkan pengetahuannya setelah mengotopsi mayat Gwen, untuk mempraktikkan metode pembunuhan yang sama terhadap Jake Gallo. Bahkan lebih jahat.