Pagi yang indah di Salatiga. Sinar hangat matahari, daun-daun hijau pepohonan, kerikan cenggeret, dan kicauan burung. Udara sejuk dan kabut tipis selalu datang. Ini cuma suasana “standar” untuk pagi di sini, dan kebanyakan orang mungkin mengacuhkannya. Tapi ini pagi pertamaku di sini minggu ini. Aku selalu menikmatinya sehabis pelesir dari luar kota, terutama dari tempat-tempat panas macam Pati dan Rembang (apalagi Surabaya, dan Jakarta).
Kemarin aku, Romy, dan Arya berangkat dari Tayu sekitar setengah delapan pagi. Menumpang bus kecil dari Tayu ke Terminal Sleko, Pati, serasa naik kereta perang kuno. Kebut-kebutan, dan penuh “bunyi-bunyian”. Sopirnya seperti kehilangan udel. Wong jalanan bergelombang kok dia main tancap saja. Dua kernet di bibir pintu depan dan belakang juga teriak-teriak laksana Xena yang hendak mengganyang. Sesekali kernet di depan bersuit kencang, macam klakson mobil. Mungkin mereka baru sarapan, dan butuh ajang buang kenyang supaya kantuk tak meradang. Atau malah sebaliknya, liar karena kelaparan?
Sampai di terminal, kami langsung cari sarapan. Romy sudah kelaparan. Kami sepakat menggasak sega gandhul di sebuah warung, sekitar 50 meter dari pintu keluar terminal. Buat aku, gandhul di Terminal Sleko lebih enak daripada yang aku makan di Tayu, dua malam sebelumnya. Sedangkan buat Romy, gandhul di Tayu lebih enak. Tapi mana yang lebih enak itu bukan bahasan penting. Yang penting adalah Romy makan dua porsi, aku juga — sebetulnya mau tambah, tapi sedang dalam masa “diet”, diet duit. Hahaha …. Betul memang kata Ki Wagiman Danu Rusanto, makan itu paling enak kalau berlauk rasa lapar dan awak sehat.
Kami menyambung perjalanan sekitar setengah sembilan. Aku berhasil meyakinkan Romy dan Arya untuk tidak melewati Semarang, dan mengambil rute “alternatif” lewat Grobogan. Alasannya, Semarang panas dan banyak polusi. Aku punya kramadangsa yang benci dengan panas, dan benci sekali dengan polusi. Jadi, pemilihan jalur alternatif ini cuma dalam rangka nuruti karep, sebetulnya.
Maka menumpanglah kami di bus kecil jurusan Pati-Purwodadi. Purwodadi adalah kecamatan ibukota Grobogan. Udara di jalur alternatif ini jelas lebih sejuk daripada di Jalan Kaligawe, Semarang, yang penuh kabut debu dan asap kendaraan. Ketika di melintas di Kaligawe minggu lalu, aku ingat kata-kata Andreas Harsono dalam transkrip wawancara Agama Saya Adalah Jurnalisme. Sewaktu membandingkan penganut agama suku lokal yang biasa mukim di daerah pelosok (macam Kejawen dan Kaharingan) dengan penganut agama “impor” yang biasa mukim di kota (macam Kristen dan Islam), Andreas mengatakan bahwa “mereka kadang lebih khusyuk dalam beragama”. Mau potong pohon saja pakai ritual. Sebagian dari mereka “sangat dekat dan baik sekali dengan alam”. “Kalau orang Jakarta ini kan jahat sekali sama alam. Semua orang pakai mobil, semua pakai pendingin udara. Akibatnya, Jakarta tak layak ditempati 8 juta rakyat. Jakarta hancur. Akhirnya orang kena asma dan macam-macam lagi. Ini semua karena orang tidak beragama dengan baik,” begitu kata Andreas menurut transkrip itu. Aku ingat transkrip itu lagi saat melihat tumpukan sampah plastik di pantai Rembang. Inilah “polusi peradaban”.
Bus Pati-Purwodadi melewati Pegunungan Kapur Utara, pegunungan kapur yang lagi “terancam” gara-gara rencana pembangunan pabrik dan tambang kapur Semen Gresik di sana. Di beberapa titik, aku lihat penambangan sudah dilakukan. Pemandangan ini mengingatkan aku pada perjalanan dari Tayu ke Tawangrejo sehari sebelumnya. Di sana aku lihat dua gunung kapur kecil yang mirip Gunung Gajah Mungkur yang biasa terlihat kalau pelesir ke Kopeng. Gunung sebelah barat sudah habis ditambang hampir separuhnya, sedangkan yang timur masih utuh. Menurut Romy, sebuah perusahaan asing asal Korea telah membeli kedua gunung itu. Kami bertemu truk-truk pengangkut kapur. Jalanan rusak berat.
Keberadaan industri macam industri tambang, tentu saja, bisa ikut menopang perekonomian lokal, membuka lapangan pekerjaan, dan menyumbang rupiah buat Pendapatan Asli Daerah — di samping konsekuensi logis berupa kerusakan lingkungan hidup. Tapi yang bikin sedih, kadang sumbangan rupiah industri kepada PAD hampir tak punya efek buat kesejahteraan masyarakat setempat. Entah karena luncas kelola PAD, atau ketololan Pemerintah dalam negosiasi dengan investor, seperti kasus bagi hasil tambang emas Freeport di Papua. Yang jelas, masyarakat rugi dua kali. Rugi karena lingkungan hidupnya terlanjur rusak dieksploitasi, dan rugi karena tak mendapat kompensasi sepadan. Aku tahu ini cuma masalah umum yang sudah klise binti klasik. Tapi justru karena itulah kita mestinya mempertanyakan moralitas kita, kenapa hal semacam ini langgeng dari jaman sepur lempung sampai jaman montor mabur?
Apapun itu, tenaga motor bus telah menibakan kami di terminal Purwodadi saat menjelang tengah hari. Setelah buang hajat sembarangan di toilet umum, kami jalan ke luar terminal mencari warung es campur. Arya memesan es degan. Romy semula ogah minum, tapi lantas tergiur dengan degan pesanan Arya yang disajikan dalam butiran kelapa yang nyaris utuh. Kuah manis merah mudanya berkecipak ketika dihujani es batu. Aku bertahan dengan es campurku. Purwodadi terik sekali.
Semula aku mengira, dari terminal Purwodadi kami bisa mendapat tumpangan bus langsung ke Salatiga. Aku pikir bus jurusan Semarang-Salatiga yang melewati Gubug dan Kedungjati akan mangkal di terminal ini. Gubug adalah salah satu kecamatan di Grobogan, dekat Purwodadi. Kedungjati terletak antara Gubug dan Salatiga. Aku biasa menumpang bus ini jika hendak mengunjungi nenekku di Ringinkidul, salah satu desa di Gubug. Tapi perkiraanku salah.
Bus yang aku khayalkan ternyata tak mampir terminal Purwodadi, lewat pun tidak. Kami harus mencegat bus arah Semarang, dan turun di pertigaan Gubug-Semarang-Demak. Kali ini kami naik bus besar. Meski kernet bus ini tak seberisik kernet bus yang mengantar kami ke Terminal Sleko pagi sebelumnya, namun sopirnya lebih tak punya udel. Sasis bus bergemuruh bolak-balik lantaran sopir “tan-udel” itu menyasak jalanan busuk dengan kecepatan tinggi. Penumpang terkocok-kocok di dalam. Gogrok kabeh!
Begitu turun di Gubug, satu-satunya bus yang tersedia adalah bus kecil jurusan Semarang-Kedungjati — penuh pula dengan bocah-bocah berseragam yang baru bubaran sekolah. Aku dan Arya harus berdiri dan menekuk leher karena atap bus yang kerendahan, sedangkan Romy dapat tempat duduk duluan. Sial! Mana sih bus Semarang-Salatiga? Ketika minggu lalu ke Ringin aku juga susah mendapat bus ini. Jangankan yang langsung njujug Salatiga, yang mandek di Kedungjati saja sudah jarang bukan main.
Di perjalanan, aku sempat ngobrol dengan salah satu kernet bus yang berdiri di pintu belakang — yang ternyata tahu sedikit soal Konflik 94. Perawakannya terlihat masih muda, mungkin umurnya sekitar tiga puluh. Aku bilang kalau dua tahun yang lalu aku masih temukan bus Semarang-Salatiga (via Gubug-Kedungjati) melewati depan kampus Satya Wacana. Dia mengafirmasi, sembari menjelaskan bahwa waktu itu sebenarnya jurusan Semarang-Salatiga yang aku maksud sudah mulai tidak populer karena sepi penumpang. Orang yang mau ke Semarang dari Salatiga atau sebaliknya lebih suka naik rute via Bawen dan Ungaran. Alasan ekonomisnya gampang saja, jalur Bawen-Ungaran lebih pendek dan punya kondisi jalan lebih baik, sehingga ongkos perjalanan dalam bentuk waktu dan rupiah bisa lebih murah. Keunggulan jalur Gubug-Kedungjati hanya ada pada letaknya yang menyibak alas, sehingga ada pemandangan alam yang lumayan. Polusi tentu tak sebanyak jalur Bawen-Ungaran.
Menurut informasi si kernet, kini tinggal sedikit bus yang masih mau melayani trayek Semarang-Salatiga via Gubug-Kedungjati. Itu pun hanya pagi hari. Agak siangan, semuanya putar balik di Kedungjati. Cuma ada satu atau dua penumpang yang masih mau mengambil jalur ini untuk trayek Semarang-Salatiga. “Gak cucuk, Mas,” kata dia.
Di Kedungjati, kami turun dan langsung menyambar tempat duduk terdepan satu-satunya bus kecil Kedungjati-Salatiga yang lagi ngetem. Waduh, sumuk minta ampun di dalam bus. Rasanya seperti lagi sauna. Keringat bikin basah sekujur badan. Arya dan Romy memilih keluar dan menunggu sampai bus berangkat. Aku bertahan di dalam sambil merem-mereman, coba mengenakkan kramadangsa pada situasi yang tidak kepenak.
Angin silir baru terasa ketika bus mulai jalan. Leganya …. Kami sudah tiba di rute terakhir. Sejak sebelum masuk Purwodadi, Romy sudah menghitung perbandingan antara ongkos jalur “alternatif” ini (Pati-Purwodadi-Gubug-Kedungjati-Salatiga) dengan ongkos yang akan kami tanggung seandainya mengambil jalur “biasa” (Pati-Semarang-Salatiga).
Pati-Purwodadi ongkosnya Rp 10 ribu, Purwodadi-Gubug Rp 7 ribu, Gubug-Kedungjati Rp 4 ribu, sedangkan Kedungjati-Salatiga Rp 8 ribu. Total ongkos jalur “alternatif” ini adalah Rp 29 ribu per orang serta waktu tempuh sekitar 6 jam. Ternyata, ongkos duit untuk jalur “biasa” lebih murah Rp 13 ribu. Pati-Semarang cuma Rp 10 ribu, Semarang-Salatiga Rp 6 ribu. Waktu tempuhnya juga cuma sekitar 4 jam.
“Nek kene numpak patas lho, tetep luwih murah,” kata Romy.
Kami bertiga turun di daerah Turusan, Salatiga, sekitar jam tiga sore. Tapi, karena masih dalam rangka nguja karep, yang salah satu programnya adalah ngawula wadhuk alias menghamba pada “Dewa Usus”, kami tidak langsung pulang ke kos. Minum es jus buah di perempatan Kemiri Candi segar sekali ternyata.
Sayang memang James tak bisa ikut perjalanan ini karena musibah kemalingan di rumah Nurin, pacarnya. Andaikata dia ikut, maka posting ini mungkin akan lebih berwarna dengan foto-foto jepretannya. Aku menemui banyak sekali objek indah yang hanya bisa kulukiskan lewat kata-kata, secara kasar saja.
sayang blum ada alat yang bisa motret isi kepala manusia.
klo ada, mungkin aku bisa motret apa yang kamu liat sepanjang perjalanan.
termasuk motret pikiranmu. seandainya bisa, mungkin saat ini foto si “anu” yang muncul.hahahaha.peace!!
Waha…ha…ha…,
Perjalanan yang seru, he…,
btw, dietnya gimana Sat? gagalkah?
woaahhh .. ada beberapa bahasa jawa yang kurang bella pahami .. ^_^ hueheh
hmm .. sepertinya perjalanan yang menyenangkan .. sedikit memutar tapi banyak mendapat cerita dibalik panjangnya perjalanan .. =)
Ngawula wadhuk alias body mblending
Berarti kita masih sodaraan dung, aku cucunya eyang Basuki Probowinoto.