Pecinta Alam

Dulu, di sebuah kampus di kaki gunung, pernah ada perdebatan kecil soal pecinta alam dan penikmat alam.

Pecinta alam, katanya, harus dibedakan dari penikmat alam. Kalau penikmat alam hanya mendaki gunung, misalnya, maka pecinta alam mendaki gunung sambil bawa karung. Karung itu dipakai untuk mengangkut sampah-sampah peninggalan penikmat alam yang biasanya terserak di gunung.

Saya sendiri masih sulit membedakan pecinta alam dari penikmat alam. Karena cinta, sesuatu bisa jadi nikmat. Karena nikmat, sesuatu bisa jadi cinta. Bisa juga tidak.

Saya menikmati pendakian bersama orang-orang yang menyebut dirinya pecinta alam, meski tak harus membawa-bawa karung. Saya mencintai saat-saat mendaki bersama orang-orang yang dianggap sebatas penikmat alam, meski tak harus menyampah di gunung. Di antara semuanya itu, yang paling saya cintai dan nikmati adalah pendakian-pendakian yang saya lakukan sendiri. Di sini saya sadar, yang saya cintai dan nikmati ternyata adalah pendakiannya, momen-momennya. Alamnya sendiri, yang rencananya akan dicintai dan dinikmati, berhasil lolos sebagai misteri yang tak kunjung saya pahami sampai saat ini.

Mungkin itu sebabnya saya tak pernah masuk himpunan mapala, mahasiswa pecinta alam. Pernah sempat mendaftar, tapi undur diri karena lebih memilih tenggelam bersama pers mahasiswa. Di sana saya seperti menemukan alam saya sendiri. Alam yang belum habis juga saya mengerti. Paansi.