Personal

Berkuasa dari Liang Kubur

S

eorang jurnalis menuduh saya telah melakukan tindakan tidak etis setelah saya mempersoalkan gobloknya reaksi media massa dalam menyikapi kematian Soeharto. Dalam pandangan si jurnalis, adalah tidak etis mengumbar fakta negatif tentang orang yang sudah mati. Oleh karena itu, sekarang saya ingin mempertanyakan kembali perihal etika, khususnya etika jurnalisme, yang seharusnya melekat pada setiap lembaga yang mengklaim dirinya sebagai media massa, media yang menyuarakan suara rakyat!

Dalam jurnalisme, dewa yang disembah bernama Kebenaran. Dan ibu dari Kebenaran adalah Obyektivitas. Pendek kata, Kebenaran baru akan lahir apabila kita menghadirkan Obyektivitas dalam memandang sebuah fenomena.

Lantas, bagaimana caranya menghadirkan Obyektivitas? Cover both sides! Jika anda melihat sisi baiknya, maka anda juga harus melihat sisi buruknya. Dan setiap sisi yang dilihat juga harus sesuai dengan jumlah fakta yang ada. Itu baru obyektif namanya!

Ketika Soeharto mati, media-media massa memberitakan kematiannya dengan obyektif. Alhasil, kebenaran yang muncul adalah Soeharto benar-benar telah mati. Namun sayang, media-media massa, terutama televisi, kemudian bertindak terlampau jauh, dan akhirnya melanggar etika jurnalisme, yang selama ini selalu jadi atribut kehormatannya!

Wajibkah bagi media-media televisi untuk mengungkit kembali masa lalu Indonesia bersama Soeharto? Tentu tidak! Selain karena itu semua cuma romantisme masa lalu, Indonesia juga masih punya tantangan yang lebih lantang menghadang di depan: kedaulatan pangan kita masih dilanda krisis! Namun demikian, ternyata para bos media lebih memprioritaskan seorang Soeharto, daripada masalah pangan ratusan juta rakyat!

Ketika hendak membuat tayangan yang mengungkit masa lalu Indonesia bersama Soeharto, media-media televisi seharusnya sudah mempertimbangkan segala konsekuensinya. Apabila masih hendak menyiarkan, tentu harus tetap menjunjung etika jurnalisme, yang berarti membeberkan prestasi positif dan negatif Soeharto selama berkuasa. Tapi, kalau untuk membeberkan sisi negatif orang mati dirasa kurang layak bagi kepribadian bangsa Indonesia yang luhur, ya lebih baik tidak usah mengungkit masa lalu sekalian! Toh juga bukan hal yang wajib kan? Daripada akhirnya terjadi pelacuran jurnalisme seperti sekarang?

Tayangan-tayangan tentang masa lalu Indonesia versi Soeharto, yang digulirkan seluruh stasiun televisi di Indonesia tanpa henti saat ini, adalah upaya pembodohan terang-terangan terbesar yang pernah saya lihat secara langsung, selama 19 tahun kehidupan saya di bumi! Swasembada pangan, pendidikan murah, luasnya lapangan pekerjaan, dan sederet prestasi lainnya adalah doktrin yang terus dirajamkan ke otak masyarakat, hingga akhirnya masyarakat tiba pada kesimpulan bahwa Soeharto adalah presiden yang lebih baik daripada Gus Dur, Megawati, dan SBY! Padahal, ekonom manapun tahu bahwa semua prestasi Soeharto dibeli bukan dengan kerja keras, melainkan dengan utang luar negeri yang luar biasa besar, yang sekarang sedang kita tanggung bersama! Ini menunjukkan bahwa sebenarnya semua prestasi Soeharto itu bukan apa-apa karena dibangun dengan kepalsuan, yang akhirnya malah menjerumuskan kita sekarang!

Dan rupanya, pembodohan itu kini telah naik ke tingkat yang lebih gawat. Fraksi Golkar di DPR berencana mengusulkan agar Soeharto dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional. Ini gila! Apakah Indonesia layak memiliki figur pahlawan dengan atribut koruptor dan penjahat HAM, yang jasa-jasanya ternyata hanya dibeli dengan kepalsuan? Silakan jawab dalam hati!

Kenyataan yang paling mengerikan kemudian adalah bahwa pelacuran jurnalisme oleh media-media televisi dilakukan secara sadar dan sengaja! Pada sebuah artikel yang ditulis oleh George J. Aditjondro di harian Suara Merdeka tanggal 16 Januari 2008, terungkap fakta bahwa hampir seluruh stasiun televisi swasta di Indonesia ternyata dimiliki oleh keluarga dan kroni-kroni Soeharto!

Stasiun-stasiun televisi swasta yang memberitakan adegan-adegan pemaafan Soeharto itu, praktis dimiliki oleh keluarga dan kroni-kroni Soeharto. Jum-lah stasiun terbesar dimiliki oleh PT Media Nusantara Citra (MNC), anak perusahaan PT Global Medicom (d/h Bimantara), yang menguasai lima stasiun televisi swasta (RCTI, SCTV, TPI, dan TV Global) sebagian besar sahamnya milik Harry Tanoesudibyo. Di kalangan bisnis, Harry dikenal dekat dengan Siti Hediyati Haryadi (Titiek), putri kedua Soeharto, yang pernah jadi mitranya dalam bisnis pialang saham.

Sedangkan Bambang Trihat-modjo, putera kedua Soeharto, masih memiliki saham minoritas (12%) dalam PT Global Mediacom. Dandy Rukmana, seorang putera Siti Hardiyani Rukmana (Tutut), duduk sebagai komisaris PT MNC, sementara ibunya masih memiliki separuh saham PT TPI.

Beberapa stasiun televisi swasta berlingkup nasional, dimiliki oleh kroni-kroni Soeharto atau tokoh-tokoh DPP Golkar, partai politik yang paling getol memperjuangkan pemutihan kesalahan-kesalahan Soeharto.

Antv, milik keluarga Aburi-zal Bakrie, Menko Kesra yang juga pengusaha dan politikus Partai Golkar, dan Agung Lak-sono, wakil ketua umum DPP Golkar. Metro TV, milik Surya Paloh, ketua Dewan Penasihat DPP Golkar.

Trans7, milik kelompok Para Group milik Chaerul Tanjung dan ahli waris Jenderal (Purn) Rudini, serta kelompok Kompas Gramedia.

Sedangkan Lativi, yang tadinya milik Abdul Latief, juga seorang tokoh Golkar, kini sudah dibeli oleh Antv, yang di-pimpin oleh Anindya N Bakrie, putera sulung Aburizal Bakrie.

Sementara itu Indosiar, milik kelompok Salim, dimana ke-pentingan keluarga Soeharto diwakili oleh Sudwikatmono, walaupun ratingnya lebih rendah dari pada stasiun-stasiun televisi swasta yang tersebut tadi, juga menyanyikan simfoni yang sama.

Jadi, boleh dikata, wacana yang disebarluaskan ke khalayak pemirsa siaran TV swasta di Indonesia, yang dikuasai oleh keluarga dan kroni Soeharto, adalah simfoni pemaafan bagi Soeharto. Dalihnya adalah bah-wa jasa-jasa Soeharto jauh lebih banyak ketimbang kesalahan-kesalahannya.

Kesalingterhubungan ini kemudian dapat menjelaskan perilaku jalang media-media televisi. Para bos media, yang notabene adalah keluarga dan kroni Soeharto, sedang mencari aman! Jika proses hukum perdata Soeharto tetap berjalan, maka mereka-merekalah juga yang akan kena, karena mereka juga turut menikmati harta hasil jarahan Soeharto atas bumi pertiwi Indonesia! Oleh karena itulah, mereka berusaha mencuci otak masyarakat dengan tayangan-tayangan yang tidak berimbang sama sekali! Agar rakyat tidak protes! Agar rakyat memaafkan (baca: mengamnesti) Soeharto! Agar kepentingan ekonomi dan bisnis keluarga serta kroni Soeharto tidak terjamah! Agar keluarga dan kroni juga bisa tetap duduk di tempat terhormat sebagai orang-orang terdekat dari seorang pahlawan Soeharto!

Dengan semua yang telah terjadi, SBY harus kembali menarik garis tegas sebagai pemisah antara urusan akhirat dan urusan hukum. Ini sangat penting karena selama ini SBY sudah menunjukkan inkonsistensi dalam penegakan hukum untuk kasus korupsi Soeharto! Setelah meminta rakyat memaafkan Soeharto, ternyata SBY juga turut menghambat proses hukum kasus tersebut sebagai wujud pemberian maaf! Ini bahaya! Batas antara maaf yang ditujukan untuk Soeharto sebagai pribadi dengan maaf (baca: amnesti) untuk Soeharto sebagai terdakwa kasus korupsi sudah sedemikian kabur! Ini bisa jadi preseden buruk buat wajah yudikatif kita yang sudah busuk! Silakan baca referensi dari Mas Kopdang juga.

Saya kini berharap, supaya anda-anda semua bisa melihat permasalahan ini secara holistik. Pelacuran media-media televisi ini bukan sekadar isu etika dan kemanusiaan saja, melainkan juga memuat isu penegakan hukum dan kepentingan ekonomi yang tersembunyi! Kalau uang rakyat tidak kunjung kembali, padahal banyak orang miskin di luar sana, siapa yang tidak beretika? Siapa yang tidak berperikemanusiaan? Sekali lagi, jawab dalam hati!

Ada baiknya kita mengasingkan diri dari televisi dulu untuk beberapa saat. Juga memasang sikap waspada apabila menonton tayangan tentang Soeharto, karena simfoni pemaafan dan jasa-jasa Soeharto begitu syahdu didengungkan oleh televisi!

Mbah, ternyata setelah matipun kamu masih bisa mengendalikan media. Salut!

30 Januari 2008: Sebagai bonus, silakan baca artikel ini.

Posted by STR on Tuesday, 29 January 2008, in his Personal column.

There are 36 comments already. Say something!

Ehemmmmmmm..!!!!!
Rumahmu mana sat..????

minta di semur apa di sate..???kekkeke

*korek2 kuping*

Sent on Tuesday, 29 January 2008, at 3:41 PM.


paijan

Gravatar

Mas STR, tulisanmu di atas itu benar adanya dan itu sudah cukup mewakili pendapatku tentang soeharto. Di tengah-tengah” kegilaan” media massa , terutama televisi kemudian juga media cetak bahkan juga media internet, tulisanmu merupakan sesuatu yang langka. Tulisan dari seorang muda Indonesia yang masih berhati dan bermata jernih dalam menyikapi dan memandang sesuatu yang terjadi. Anda tidak terpengaruh oleh hipnotis yang terus menerus dilancarkan oleh media massa terkait tentang soeharto. Mudah-mudahan ketika suatu saat nanti Anda sudah mengenal “UANG” sikap Anda tetap konsisten dan tidak berubah menjadi ikut-ikutan “GILA”. Ada sedikit tambahan, ekspose besar-besaran tentang pamakaman orang Indonesia yang mati dan dibumbui puja-puji, sudah dua kali terjadi, yang pertama adalah ketika Tien Soeharto mati di tahun 1996. Saat itu umurmu baru 8 tahun, jadi mungkin Anda belum mengerti, sedangkan umurku saat itu sudah 30 tahun lebih. Saat itu aku juga muak menontonnya.

Sent on Tuesday, 29 January 2008, at 3:42 PM.


mulutmu harimaumu cak… hehe

Anang’s latest post: Sate Ayam Ponorogo

Sent on Tuesday, 29 January 2008, at 4:23 PM.


“Mbah, ternyata setelah matipun kamu masih bisa mengendalikan media. Salut!”

Protes, saya belum mati huahauahauahaua [becanda mas STR]

Lagu Lama Aransemen Baru
Media massa menjadi alat propaganda bukanlah barang Baru. Sejak jaman perang dunia pertama media massa sudah berperan dalam menyebarkan doktrin, opini dan propaganda yg tentunya membela sang penguasa media massa tersebut. Bohong atau tidak bohong berita yg di sampaikan tidak menjadi masalah yg penting pesan/makna yg dititipkan oleh sang penguasa sampai dan mengena ke masyarakat.

Jaman skrg ini cara tersebut masih efektif dilakukan. Apalagi media sudah berkembang pesat, dari radio, televisi. Mungkin masih ada yg ingat, bagaimana kita dulu selalu menyaksikan film di tv berjudul Pengkhianatan G 30 S/PKI setiap tanggal 30 september. Film yg membuat otak kita dicuci, film yg kalo saya bilang sadis [kemana lembaga sensor kita dulu?] dan memberitakan sesuatu yg belum tentu benar. Kenapa Media televisi tidak berani untuk tidak menayangkan? Ya karena itu tadi, ketakutan pada penguasa. masih ingat juga kita beberapa media cetak yg di bredel karena memberitakan kebusukan pemerintah pada saat itu.

ah… sudahlah itu hanya sebuah lagu usang yg tidak enak didengar oleh telinga kita, tapi itu adalah lagu usang yg sangat2 indah buat seorang penguasa sehingga harus dirilis ulang berkali-kali dan sesekali mengajak para arranger untuk mengubah sedikit nada didalamnya sehingga menjadi lebih enak untuk didengar dan dirilis ke masyarakat. Semua dikembalikan ke kita, apakah kita terlena dengan lagu itu sampai2 kita tertidur dengan damai ataukah kita akan mengatakan “ini lagu apa sih? kok tidak enak untuk didengar”

Mbah Sangkil’s latest post: Pilot Sableng

Sent on Tuesday, 29 January 2008, at 4:29 PM.


Kalau saya sich bahkan tidak tahu kalau pembangunan Indonesia ini hasil utang luar negeri. Karena saya tidak tahu maka saya tidak mau bicara mengenai benar salahnya pak Harto. Tapi seandainya benar dari utang, yang salah bukan utangnya! Tapi lebih ke penggunaan utang tersebut, apakah sudah digunakan sebagaimana mestinya atau belum. Itu yang saya bahkan tidak tahu. Kalau memang itu salah nya beliau, lalu apa lantas kita melupakan jasa beliau ketika berjuang dulu? Yang seharusnya kita benci adalah sikapnya (kalau itu betul), percuma kita salahkan orangnya! Banyak juga di antara kita saat ini yang bersikap sama! Contoh saja polisi, tentara, hakim..bahkan kita tidak pernah menyalahkan mereka dan yang lebih parah lagi bekerjasama dengan mereka. Sungguh kita tidak lebih dari Soeharto bukan? Intropeksi diri kita masing2. Gitu aja kok repot?

Nico kurnianto’s latest post: Senyum Sang Jenderal itu telah tiada?

Sent on Tuesday, 29 January 2008, at 4:47 PM.


det

Gravatar

sepakat dg prinsip dasar cover both side. Gak hanya tv, radio, koran, portal berita, tapi blogger juga harus berpegang pada prinsip itu sebelum njeplak lewat blognya. Jangan sampai mempergoblok rakyat yg sudah goblok ini dengan opini yg membabibuta. *ngelus2 kucing*

det’s latest post: Telepon ke Call Center IM-3 harus bayar

Sent on Tuesday, 29 January 2008, at 5:35 PM.


STR

Gravatar

@ all: Saya pamit dulu untuk istirahat. Saya sudah sedemikian muak dengan konstelasi yang ada, sehingga belum mampu merespon pendapat teman-teman semua. Ternyata, tulisan inipun juga masih belum bisa dipahami sebagaimana mestinya. Thanks.

Sent on Tuesday, 29 January 2008, at 8:45 PM.


grandong

Gravatar

SEPAKAT Boz..!!kenapa aku mundur jadi jurnalis ??tidak lain karena jurnalis ato apalah namanya hanyalah Anjing penguasa. jadi, hati-hati ketika kita mendengar or mbaca media karena isinya fitnah dan fitnah…harto..harto.. ente wis modar kok malah tambah tenar ya…maka sebagai balasannya ente jadi kayu bakar neraka. ha…ha…ha…

Sent on Tuesday, 29 January 2008, at 9:56 PM.


” Ternyata, tulisan inipun juga masih belum bisa dipahami sebagaimana mestinya ”

ini akibatnya jika tulisan sampeyan dibaca dengan kacamata empat dimensi :)

Sent on Tuesday, 29 January 2008, at 10:30 PM.


Banyak orang bilang mas pemerintahan soeharto Indonesia lebih berjaya dari presiden lain. Pada saat soeharto berkuasa, Indonesia pernah swasembada beras. sedangkan presiden yang lain hanya impor-impor saja. Padahal, swasembada beras pada era soeharto hanya bertahan 2-3 tahun, selanjutnya balik impor lagi. ya sama kayak presiden-presiden sekarang.

Ketika saya liat di tivi kok acaranya in memorial soeharto, selamat jalan jenderal, dll. semuanya hanya menayangkan kisah-kisah “baik” dari soeharto. memang gak fer. Media massa mempunyai pengaruh dan kesan yang amat kuat untuk merubah sikap para pemirsa/penonton/pembaca. Media bisa saja membalik dari yang baik jadi buruk, yang salah jadi benar, dan sebaliknya. mestinya media juga memperlihatkan sisi negatif dan positifnnya supaya masyarakat tau siapa sih soeharto yang sebenarnya…

mengenai kasus hukum soeharto, hukum adlah hukum.. kemanusian ya kemanusian.. jangan dicampur aduk. negara kita adalah negara hukum. tidak ada satu orang pun yang kebal hukum, kalo ada orang yang bersalah ya tetap dihukum..

Semoga negara ini masih menjunjung tinggi hukum…

Anas’s latest post: Selamat Jalan Jenderal Besar

Sent on Wednesday, 30 January 2008, at 7:06 AM.


saya pun melihat seakan pemirsa dibuat mengharu biru suasana, dari 24 hari pak Harto di RSPP sampai ke astanagiribangun, seakan masyarakat dibuat hanyut larut dalam kesedihan sang “pahlawan nasional” hingga mereka merasa bahwa DIA adalah orang baik..

cempluk’s latest post: Camping Keluarga Besar

Sent on Wednesday, 30 January 2008, at 10:17 AM.


Kami bangsa taklukan
Diperbudak di tanah moyang

Jangan minta kami untuk sadar
Kemerdekaan cuma bidaah besar

Enyah kau setan !!!
Lolonganmu tak kami butuhkan
Kami diLAHIRkan dari KEBOHONGAN
Kami diHIDUPi oleh KEBOHONGAN
Jangan pernah kau ambil dari kami
Karena hanya itu …
SISA SISA HAJAT UNTUK KAMI MAKAN

Huek Cuh mangan taine wong mati

tomy’s latest post: LAYUNG-LAYUNG JINGGA

Sent on Wednesday, 30 January 2008, at 10:26 AM.


perlu nya revolusi.
itulah mengapa media luar negeri lebih bebas mengatakan bahwa suharto adalah diktator bertangan besi. suharto sudah mati, tapi antek² yang menjadi kekuatan pendukung nya belum mati, bang Sat. dibandingnya dengan kasus pinochet, chile, kabarnya keluarga sepeninggal pinochet justru di tahan oleh pemerintahan sana. apakah pemerintahan kita berani? orang goblok pun tau itu tidak mungkin.
tangkap antek suharto dan sita harta nya. hidup rakyat!

puput’s latest post: Diantara

Sent on Wednesday, 30 January 2008, at 11:20 AM.


KEBENARAN HARUS DIBAYAR MAHAL MAS, THX SEMOGA ANDA SUDAH SIAP

Sent on Wednesday, 30 January 2008, at 12:06 PM.


salman

Gravatar

saya tidak menolak ketika ada orang yang mengatakan bahwa soeharto pernah berjasa besar buat Negeri ini…
saya juga tidak menolak jika soeharto dikatakan presiden yang berjiwa pemimpin (kenyataanya baru soekarno&soeharto yang punya jiwa peimpin sejati,SBY menurut saya belum terlihat)
TAPI sangat tidak masuk AKAL ketika kita hanya mengingat-ingat segala kebaikannya dengan tiba-tiba menganggap ia seolah-olah tidak pernah berbuat dosa…
Seharusnya Media mendukung pemerintah untuk mengusut tuntas kasus soeharto (setidaknya secara perdata saat ini) dan semua keluarga&kroni-kroninya(pidana&perdata) BUKANNYA menggiring opini publik untuk menganggapnya Pahlawan yang banyak berjasa (gak banget deh)seperti sekarang-sekarang ini.
urusan mengingat kebaikan serahkan aja pada individu Rakyat ini…

Sent on Wednesday, 30 January 2008, at 10:14 PM.


saya juga heran lihat bangsa ini, jelas dia adalah pemimpin yg buruk, bagaimana bisa sih memaafkan org yg MEMBANTAI bnyk org atas nama kekuasaan? gila!

stein’s latest post: Aman Tanpa Tukang Parkir

Sent on Wednesday, 30 January 2008, at 11:35 PM.


Opha

Gravatar

Kalo memang Kaisar Soeharto sampe jadi pahlawan Nasional, berarti benar adanya jika kita adalah Bangsa yang belum merdeka. Secara kita memang harus memberi penghormatan atas jasa2 kaisar kita itu, tetapi itu jangan terlalu berlebihan. karena disisi lain banyak sekali orang2 yang perlu kita hormati karena menjadi korban keganasan Kaisar kita itu.
Kita adalah produk dari sejarah kita sendiri. Ketahuilah jika kita berada pada kondisi sekarang, ini adalah berkaitan erat dengan masa lalu kita. artinya, Bangsa ini sedang terpuruk, adalah imbas dari sejarah panjang orde baru juga.
Ibarat seorang pencuci piring, itulah pemimpin2 bangsa sekarang ini. Setelah piring-piring itu selasai di buat “rayahan”, tinggal sampah dan sisa-sisa makanan yang harus dibersihkan.
Salut SAT, kamu brilian. Jaga stamina berpikirmu!!!

Sent on Thursday, 31 January 2008, at 11:26 AM.


setiap kali ingat rezim orba, ingatan saya selalu jatuh pada temen saya wiji thukul. dia tekah menjadi korban rezim orba. kasihan sama yu sipon dan anak-anaknya. kayaknya pers juga banyak yang kehilangan idealisme untuk “mendewakan” kebenaran, mas satria. umumnya mereka takluk pada hegemoni kekuasaan. takut kena bredel, kali?

sawali tuhusetya’s latest post: Dilema Peran Kaum Perempuan Pasca-Jawa

Sent on Thursday, 31 January 2008, at 9:32 PM.


wah yang saya denger malah semua media telah dibayar sama keluarga cendana untuk publikasi semacam itu sebelub pak harto mati. tapi klo kenyataannya seperti itu, gak usa pake nyogok deh.

semua yang ada di bangsa ini milik soeharto, anak dan kroni2nya. apa yang tidak dimiliki mereka? bahkan pikiran kita mau mereka kuasai… .

magma’s latest post: PERBEDAAN SOEKARNO DAN SOEHARTO MENJELANG AJAL

Sent on Thursday, 31 January 2008, at 9:42 PM.


Begini mas! media itu khan pemiliknya orang2 dekat eyang suharto, yo pantes lah kalo mereka memberitakannya.. gila lagi, yang paling menjengkelkan.. tulisan COURTESSY ASTRO waktu peliputan jenazah di rumah pribadi keluarga eyang, dan semua channel kudu beli hak tayang ke ASTRO.. busyet, orang meninggal masih bisa dijual pulak hak siarnya!

bahkan TVRI pun tak bisa mengaksesnya kecuali beberapa saat kemudian semua channel TV relay dari TVRI.. ehmmmm….

yo wis lah! gak usah emosi.. saya sendiri sebenarnya pengen marah dan muntah.. tapi mo apalagi.. hehehhe.. diikhlaskan saja.. hahahahahahaha

gempur’s latest post: Hijrah Blog

Sent on Thursday, 31 January 2008, at 10:01 PM.


Kartika NUR

Gravatar

I actually wanna close this case, and just forgive what Soeharto has done to this nation.

HOWEVER,
there’s always people who wont forgive him that easily. Just like what the Germans respond nowadays to Hitler. They’re ashamed of him. Eventhough Hitler’s regime has triggered to a super-advanced progress in Germany, many Germans still hate him. A killer is a killer. A robber is a robber. A boasting man is a boasting man. Nothing can bring back those innocent lives who were killed and cheated. Nothing. That’s why whoever he/she is, they should be punished.

Well, Hitler has killed himself. Good that at least he is no longer alive.
But Soeharto–he was supposed to be punished right after he was overthrown. But what happened was, as we all know, those law officers always cancel the court process, because of their so-called “courtesy”. They thought, Soeharto used to be a #1 and powerful man in this country, therefore they should respect him.
Well I’m not blaming the Indonesian’s culture of showing courtesy. But the thing is, those officers should have made exception for any crime cases. They should have shown their tiger teeth, even to Soeharto.
This is actually the point that I dont agree with. The fact that the law has been conquered by another power, is really shameful for me.

So what now, are we trying to blame Soeharto, or the error system in our law enforcement?

Sent on Friday, 01 February 2008, at 6:21 AM.


Yup, bener bgt. Sebenarnya nich hanya salah satu fakta betapa kebenaran dan objektivitas saat ini bukan segala-galanya. Demi keduniawian semata bisa menghalalkan sgala cara, termasuk juga media seharusnya jadi corong informasi yang bersifat netral.

Yach…… mungkin berawal dari tulisan blog seperti nich, bisa mengkampanyekan kebenaran dan objektivitas. :) Btw, q suka banget gaya tulisannya. Met kenal aza yach, buat STR……..

listiya’s latest post: Catatan kecil di suatu senja di Ruang Senat ITS (22 Januari 2008)

Sent on Friday, 01 February 2008, at 1:01 PM.


Blank"kon

Gravatar

Ngomong itu gampang !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Sent on Friday, 01 February 2008, at 5:48 PM.


pagi ini, mas, saya baca di Kedaulatan Rakyat tentang berita yang bikin saya cukup bahagia: tentang curhat seorang yang pernah jadi korban rezimnya suharto. dia bilang, yang mau ngangkat suharto jadi pahlawan berarti nggak tau penderitaannya

Pacarnya Zaskia Mecca’s latest post: Rambo IV

Sent on Saturday, 02 February 2008, at 8:24 PM.


makan tongkol

Gravatar

kya PKI yah ngomongnya….heran….negara komunis gak aja yang maju mas….lihat aja sendiri….sebutin kalo ada….
saya mah pilih suharto

Sent on Monday, 04 February 2008, at 4:33 PM.


[...] yang ada. Ternyata, melawan dan mematahkan hegemoni media massa memang tidak mudah, apalagi untuk masalah Soeharto. Walaupun fakta dan logika sudah terbeber, toh masih banyak orang lebih memilih untuk tetap percaya [...]

Sent on Wednesday, 06 February 2008, at 1:48 AM.


STR

Gravatar

@ SOEHARTO: Gang Buntu Nomer Ganjil! Semur sate ae!!

@ paijan: Makasih, Om. Semoga saja. :)
@ Anang: Ya to … Nyampah lagi to …

@ Mbah Sangkil: Mending denger lagune Kangen Band nek ngene.

@ Nico: Hei, Bung! Kalo ngomong, itu mikir dong! Mending kamu baca ulang tulisanku ini dan pahami betul ke arah mana pembahasanku. Aku nggak lagi ngomong untuk membenci Soeharto. Aku cuma ingin menunjukkan bahwa setelah dilakukan analisa rasional, Soeharto itu ndak layak untuk mendapatkan maaf (baca: amnesti) untuk kasus hukum perdatanya. Dan lagi, ngapain kamu bahas-bahas polisi dan tetek bengeknya, itu OOT tauk!

@ det: Lha menurutmu, di bagian mana aku ndak obyektif?

Sent on Thursday, 07 February 2008, at 1:35 PM.


STR

Gravatar

@ grandong: Saya sendiri juga jurnalis. Tapi, masih mencoba untuk jadi anjing buat kebenaran, dan tanpa kepentingan.

@ budi: OOT tauk.

@ Anas: Sepakat, Om.

@ cempluk: Tetep waspada, Bro!

@ tomy: Bangkit!!!

Sent on Thursday, 07 February 2008, at 1:39 PM.


STR

Gravatar

@ puput: Itu sudah!

@ NONAME: Halah! Ngomong apa to kamu?

@ salman: Iya, Bung.

@ stein: Memang semua sudah gila.

@ Opha: Makasih, Opha!

Sent on Thursday, 07 February 2008, at 2:50 PM.


STR

Gravatar

@ sawali: Lhah?? Pak Sawali kenal Widji Thukul to?? Kalo nggak salah, dulu dia pernah ngumpet di UKSW ini sewaktu diburon Orba. (ini kata seorang kakak angkatan saya)

@ magma: :D
@ gempur: Saya ndak akan emosi kalo kasus hukumnya ndak ditelantarkan. :D
@ Kartika NUR: My forgiveness is already at Soeharto’s hand, but it wouldn’t make me stop to sue him for his cases.

@ listiya: Salam kenal juga! :)

Sent on Thursday, 07 February 2008, at 3:07 PM.


STR

Gravatar

@ Blank”kon: Komen ngawur kayak anda justru lebih gampangan bin kacangan !!!!!!!!!!!!!!!!!!! :D
@ Pacarnya Zaskia Mecca: Oya? Bagus itu. :)
@ makan tongkol: Anda adalah orang yang goblok karena komen anda OOT. :)

Sent on Thursday, 07 February 2008, at 3:14 PM.


Aku suka kelugasan anda dalam menyebut pelacuran media massa. Tapi dalam menulis mengenai Soeharto, tampaknya anda masih ewuh pakewuh. Belum cukup lugas.

Tulisanmu sendiri sudah sangat bagus dalam usaha menyodorkan antitesis terhadap pandangan umum, yang cenderung mempahlawankan diktator yang membantai jutaan orang sebagai pijakan untuk naik ke singgasana kediktatorannya.

Mengenai adagium yang mengatakan : kalau orang sudah mati, kejelekannya jangan diungkit lagi; itu ajaran moral yang sangat baik dalam konteks personal-sosial. Dan disitulah salah kaprahnya masyrakat kita.

Mengungkap kejahatan-kejahatan Soeharto bukanlah dalam konteks persoalan pribadi, tapi terkait dengan tanggung jawab atas jabatan publik yang diembannya.

Soeharto yang kita bahas adalah Soeharto yang presiden, yang diktator, yang berlagak jadi raja, yang melakukan brain washing terhadap rakyat Indonesia selama puluhan tahun, yang bertanggung jawab atas kematian jutaan orang pasca G 30 S, yang bertanggung jawab atas raibnya Wiji Tukul temannya Pak Sawali, Soeharto yang meninggalkan bom waktu buat rakyat Indonesia…dstnya, dstnya.

Lanjutkan menulis kawan. Jangan patah semangat atau meraa terkepung oleh kebo-kebo itu.

M E R D E K A

Robert Manurung’s latest post: Soeharto, Pahlawan atau Penghianat Bangsa ?

Sent on Sunday, 10 February 2008, at 8:13 AM.


STR

Gravatar

@ Robert: Terima kasih banyak, Om!

M E R D E K A

Sent on Monday, 11 February 2008, at 11:59 AM.


Nice Job, Sat !!!!

Vyor’s latest post: Akses Web Service .NET dengan Java Swing

Sent on Wednesday, 20 February 2008, at 3:23 PM.


STR

Gravatar

@ Vyor: Kamu betul-betul mudeng ndak?

Sent on Wednesday, 20 February 2008, at 10:02 PM.


[...] yang ada. Ternyata, melawan dan mematahkan hegemoni media massa memang tidak mudah, apalagi untuk masalah Soeharto. Walaupun fakta dan logika sudah terbeber, toh masih banyak orang lebih memilih untuk tetap percaya [...]

Sent via WordPress 2.5.1 on Saturday, 10 May 2008, at 1:52 AM.


Leave a Comment

Guru Baik Gaji Murid · Tumpang Tindih Pembangunan