
eorang jurnalis menuduh saya telah melakukan tindakan tidak etis setelah saya mempersoalkan gobloknya reaksi media massa dalam menyikapi kematian Soeharto. Dalam pandangan si jurnalis, adalah tidak etis mengumbar fakta negatif tentang orang yang sudah mati. Oleh karena itu, sekarang saya ingin mempertanyakan kembali perihal etika, khususnya etika jurnalisme, yang seharusnya melekat pada setiap lembaga yang mengklaim dirinya sebagai media massa, media yang menyuarakan suara rakyat!
Dalam jurnalisme, dewa yang disembah bernama Kebenaran. Dan ibu dari Kebenaran adalah Obyektivitas. Pendek kata, Kebenaran baru akan lahir apabila kita menghadirkan Obyektivitas dalam memandang sebuah fenomena.
Lantas, bagaimana caranya menghadirkan Obyektivitas? Cover both sides! Jika anda melihat sisi baiknya, maka anda juga harus melihat sisi buruknya. Dan setiap sisi yang dilihat juga harus sesuai dengan jumlah fakta yang ada. Itu baru obyektif namanya!
Ketika Soeharto mati, media-media massa memberitakan kematiannya dengan obyektif. Alhasil, kebenaran yang muncul adalah Soeharto benar-benar telah mati. Namun sayang, media-media massa, terutama televisi, kemudian bertindak terlampau jauh, dan akhirnya melanggar etika jurnalisme, yang selama ini selalu jadi atribut kehormatannya!
Wajibkah bagi media-media televisi untuk mengungkit kembali masa lalu Indonesia bersama Soeharto? Tentu tidak! Selain karena itu semua cuma romantisme masa lalu, Indonesia juga masih punya tantangan yang lebih lantang menghadang di depan: kedaulatan pangan kita masih dilanda krisis! Namun demikian, ternyata para bos media lebih memprioritaskan seorang Soeharto, daripada masalah pangan ratusan juta rakyat!
Ketika hendak membuat tayangan yang mengungkit masa lalu Indonesia bersama Soeharto, media-media televisi seharusnya sudah mempertimbangkan segala konsekuensinya. Apabila masih hendak menyiarkan, tentu harus tetap menjunjung etika jurnalisme, yang berarti membeberkan prestasi positif dan negatif Soeharto selama berkuasa. Tapi, kalau untuk membeberkan sisi negatif orang mati dirasa kurang layak bagi kepribadian bangsa Indonesia yang luhur, ya lebih baik tidak usah mengungkit masa lalu sekalian! Toh juga bukan hal yang wajib kan? Daripada akhirnya terjadi pelacuran jurnalisme seperti sekarang?
Tayangan-tayangan tentang masa lalu Indonesia versi Soeharto, yang digulirkan seluruh stasiun televisi di Indonesia tanpa henti saat ini, adalah upaya pembodohan terang-terangan terbesar yang pernah saya lihat secara langsung, selama 19 tahun kehidupan saya di bumi! Swasembada pangan, pendidikan murah, luasnya lapangan pekerjaan, dan sederet prestasi lainnya adalah doktrin yang terus dirajamkan ke otak masyarakat, hingga akhirnya masyarakat tiba pada kesimpulan bahwa Soeharto adalah presiden yang lebih baik daripada Gus Dur, Megawati, dan SBY! Padahal, ekonom manapun tahu bahwa semua prestasi Soeharto dibeli bukan dengan kerja keras, melainkan dengan utang luar negeri yang luar biasa besar, yang sekarang sedang kita tanggung bersama! Ini menunjukkan bahwa sebenarnya semua prestasi Soeharto itu bukan apa-apa karena dibangun dengan kepalsuan, yang akhirnya malah menjerumuskan kita sekarang!
Dan rupanya, pembodohan itu kini telah naik ke tingkat yang lebih gawat. Fraksi Golkar di DPR berencana mengusulkan agar Soeharto dinobatkan sebagai Pahlawan Nasional. Ini gila! Apakah Indonesia layak memiliki figur pahlawan dengan atribut koruptor dan penjahat HAM, yang jasa-jasanya ternyata hanya dibeli dengan kepalsuan? Silakan jawab dalam hati!
Kenyataan yang paling mengerikan kemudian adalah bahwa pelacuran jurnalisme oleh media-media televisi dilakukan secara sadar dan sengaja! Pada sebuah artikel yang ditulis oleh George J. Aditjondro di harian Suara Merdeka tanggal 16 Januari 2008, terungkap fakta bahwa hampir seluruh stasiun televisi swasta di Indonesia ternyata dimiliki oleh keluarga dan kroni-kroni Soeharto!
Stasiun-stasiun televisi swasta yang memberitakan adegan-adegan pemaafan Soeharto itu, praktis dimiliki oleh keluarga dan kroni-kroni Soeharto. Jum-lah stasiun terbesar dimiliki oleh PT Media Nusantara Citra (MNC), anak perusahaan PT Global Medicom (d/h Bimantara), yang menguasai lima stasiun televisi swasta (RCTI, SCTV, TPI, dan TV Global) sebagian besar sahamnya milik Harry Tanoesudibyo. Di kalangan bisnis, Harry dikenal dekat dengan Siti Hediyati Haryadi (Titiek), putri kedua Soeharto, yang pernah jadi mitranya dalam bisnis pialang saham.
Sedangkan Bambang Trihat-modjo, putera kedua Soeharto, masih memiliki saham minoritas (12%) dalam PT Global Mediacom. Dandy Rukmana, seorang putera Siti Hardiyani Rukmana (Tutut), duduk sebagai komisaris PT MNC, sementara ibunya masih memiliki separuh saham PT TPI.
Beberapa stasiun televisi swasta berlingkup nasional, dimiliki oleh kroni-kroni Soeharto atau tokoh-tokoh DPP Golkar, partai politik yang paling getol memperjuangkan pemutihan kesalahan-kesalahan Soeharto.
Antv, milik keluarga Aburi-zal Bakrie, Menko Kesra yang juga pengusaha dan politikus Partai Golkar, dan Agung Lak-sono, wakil ketua umum DPP Golkar. Metro TV, milik Surya Paloh, ketua Dewan Penasihat DPP Golkar.
Trans7, milik kelompok Para Group milik Chaerul Tanjung dan ahli waris Jenderal (Purn) Rudini, serta kelompok Kompas Gramedia.
Sedangkan Lativi, yang tadinya milik Abdul Latief, juga seorang tokoh Golkar, kini sudah dibeli oleh Antv, yang di-pimpin oleh Anindya N Bakrie, putera sulung Aburizal Bakrie.
Sementara itu Indosiar, milik kelompok Salim, dimana ke-pentingan keluarga Soeharto diwakili oleh Sudwikatmono, walaupun ratingnya lebih rendah dari pada stasiun-stasiun televisi swasta yang tersebut tadi, juga menyanyikan simfoni yang sama.
Jadi, boleh dikata, wacana yang disebarluaskan ke khalayak pemirsa siaran TV swasta di Indonesia, yang dikuasai oleh keluarga dan kroni Soeharto, adalah simfoni pemaafan bagi Soeharto. Dalihnya adalah bah-wa jasa-jasa Soeharto jauh lebih banyak ketimbang kesalahan-kesalahannya.
Kesalingterhubungan ini kemudian dapat menjelaskan perilaku jalang media-media televisi. Para bos media, yang notabene adalah keluarga dan kroni Soeharto, sedang mencari aman! Jika proses hukum perdata Soeharto tetap berjalan, maka mereka-merekalah juga yang akan kena, karena mereka juga turut menikmati harta hasil jarahan Soeharto atas bumi pertiwi Indonesia! Oleh karena itulah, mereka berusaha mencuci otak masyarakat dengan tayangan-tayangan yang tidak berimbang sama sekali! Agar rakyat tidak protes! Agar rakyat memaafkan (baca: mengamnesti) Soeharto! Agar kepentingan ekonomi dan bisnis keluarga serta kroni Soeharto tidak terjamah! Agar keluarga dan kroni juga bisa tetap duduk di tempat terhormat sebagai orang-orang terdekat dari seorang pahlawan Soeharto!
Dengan semua yang telah terjadi, SBY harus kembali menarik garis tegas sebagai pemisah antara urusan akhirat dan urusan hukum. Ini sangat penting karena selama ini SBY sudah menunjukkan inkonsistensi dalam penegakan hukum untuk kasus korupsi Soeharto! Setelah meminta rakyat memaafkan Soeharto, ternyata SBY juga turut menghambat proses hukum kasus tersebut sebagai wujud pemberian maaf! Ini bahaya! Batas antara maaf yang ditujukan untuk Soeharto sebagai pribadi dengan maaf (baca: amnesti) untuk Soeharto sebagai terdakwa kasus korupsi sudah sedemikian kabur! Ini bisa jadi preseden buruk buat wajah yudikatif kita yang sudah busuk! Silakan baca referensi dari Mas Kopdang juga.
Saya kini berharap, supaya anda-anda semua bisa melihat permasalahan ini secara holistik. Pelacuran media-media televisi ini bukan sekadar isu etika dan kemanusiaan saja, melainkan juga memuat isu penegakan hukum dan kepentingan ekonomi yang tersembunyi! Kalau uang rakyat tidak kunjung kembali, padahal banyak orang miskin di luar sana, siapa yang tidak beretika? Siapa yang tidak berperikemanusiaan? Sekali lagi, jawab dalam hati!
Ada baiknya kita mengasingkan diri dari televisi dulu untuk beberapa saat. Juga memasang sikap waspada apabila menonton tayangan tentang Soeharto, karena simfoni pemaafan dan jasa-jasa Soeharto begitu syahdu didengungkan oleh televisi!
Mbah, ternyata setelah matipun kamu masih bisa mengendalikan media. Salut!
30 Januari 2008: Sebagai bonus, silakan baca artikel ini.





There are 36 comments already. Say something!