Pelatihan Jurnalisme Tak Berspanduk

Para redaktur Scientiarum dan Imbas bergaya di sela-sela waktu pelatihan. Dari kiri ke kanan: Satria Anandita Nonoputra, Indra Adhi Kurniawan, Bagus Ferry Permana, Bambang Triyono, Aqirana Adjani Tarupay, Yosia Nugrahaningsih, Parlindungan Joy Sagala, Septhyan Widyanto, Geritz Febrianto Rindang Bataragoa, Muhammad Yogi Firdaus Nasution.

Andreas Harsono. Rambut lurus di unyeng-unyeng kepalanya menantang gravitasi, sedangkan yang di bagian depan tiarap terbelah dua. Ia menyebut dirinya “Hoakiao dari Jember.” Ketika kuliah di Satya Wacana, ia mengambil jurusan teknik elektro. Namun setelah lulus, ia malah jadi wartawan. Ia mendirikan AJI (Aliansi Jurnalis Independen) sebagai tandingan PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) di masa Orde Baru. Ia juga ikut memprakarsai Komunitas Utan Kayu bersama Goenawan Mohammad. Dan kiprahnya di bidang jurnalisme pun mendapat Nieman Fellowship on Journalism dari Universitas Harvard — yang disebut para jurnalis sebagai penghargaan jurnalisme bergengsi di Amerika Serikat, nomor dua setelah The Pulitzer Prizes.

Saya sendiri beruntung bisa bertemu Andreas pada pelatihan jurnalisme di Kampoeng Percik, Salatiga, 10-13 Maret 2008. Pelatihan ini yang bikin Scientiarum dan Imbas, salah dua lembaga pers mahasiswa di kampus saya. Selama empat hari, saya mendapat suntikan ilmu sekaligus moral, dan “jalan terang.”

“Saya tidak melihat satu pun di antara kalian yang memiliki bakat menulis,” ujar Andreas pada para peserta pelatihan. Sehari sebelumnya, Andreas memang sudah membaca tulisan-tulisan yang kami kumpulkan sebagai pekerjaan rumah.

“Nggak apa-apa. Justru kalo gini kami jadi tahu kalo kami harus berlatih keras. Daripada nanti kami cuma merasa bisa dan nggak berlatih keras …. Malah kalah sama yang lain,” jawab saya, ketika dimintai pendapat oleh Andreas perihal pernyataan itu.

Andreas pun menyarankan para peserta untuk membuat blog pribadi. “Menulis di blog bisa jadi kesempatan baik buat berlatih,” nasihatnya.

Dalam silabus pelatihan, Andreas memasukkan resensinya yang berjudul “Sembilan Elemen Jurnalisme” sebagai bacaan untuk diskusi hari pertama. Resensi ini ditulis berdasarkan buku The Elements of Journalism karya Bill Kovach dan Tom Rosenstiel — Kovach adalah mantan kurator Nieman Fellowship on Journalism. Andreas sendiri kenal baik dengan Kovach.

Mendiskusikan elemen-elemen jurnalisme ternyata tidak cukup dua jam. Diskusi mentok di elemen keempat: independensi. Sisanya, peserta dipersilakan menggali sendiri.

Andreas juga mengajarkan peserta membuat sebuah tulisan yang seksi. Seksi ini analogi saja. Ibarat atlet, sebuah tulisan harus rendah lemak, maksudnya minimal jumlah kata-kata klise dan tak berguna. Tulisan juga harus hidup dan bertenaga, jadi harus ada deskripsi dan percakapan (monolog atau dialog). Jika tulisan banyak lemak dan tak bertenaga, “Orang akan bosen!” tegas Andreas.

Struktur karangan cukup susah buat saya. Ada piramida terbalik dan feature.

Andreas bercerita, “Kalau berita tentang kecelakaan, dulu itu ada berita gini, ‘Pada tanggal sekian, ada rombongan dari Salatiga ke Semarang. Mereka menyusuri jalan … bla bla bla panjang lebar … Akhirnya, rombongan ini mengalami kecelakaan di jalan.’ Jadi, setelah baca lama-lama, pembaca baru tahu kalo rombongannya kecelakaan.” Andreas dan peserta terkekeh.

Piramida terbalik menempatkan hal-hal yang paling penting di awal tulisan, berikutnya yang kurang penting di akhir. Jadi pembaca bisa tahu inti tulisan tanpa harus membaca sampai akhir.

Kalau feature beda lagi. Hal-hal yang menarik ditempatkan di awal dan akhir, sedangkan yang kurang menarik ditempatkan di tengah.

Feature cocok buat nulis opini,” terang Andreas.

Sebagai contoh, peserta diminta membaca The “Kemusuk Thug” Is Finally Dead, analisis yang ditulis Andreas Harsono untuk Inter Press Service.

Yang bikin saya susah adalah menentukan bagian yang penting dan menarik dari sebuah piramida terbalik dan feature. Tapi belakangan saya tahu kalau untuk berita, yang menarik adalah 5W+1H-nya. Sedangkan untuk opini, yang menarik adalah sudut pandang (harus fresh) dan kesimpulannya.

“Investigasi tidak disarankan buat wartawan kurcaci,” ujar Andreas, sebelum meninggalkan Percik. Yang ia maksud sebagai wartawan kurcaci adalah para peserta sendiri.

Saya maklum. Beberapa saat sebelum mengatakan itu, Andreas menunjukkan bagaimana ia mengerjakan A Lobbying Bonanza, sebuah laporan investigasi untuk International Consortium of Investigative Journalists di Amerika Serikat. Disiplin verifikasinya ketat. Setidaknya ada lima editor ikut menyunting naskah laporan dan memastikan bahwa semua yang tertulis adalah fakta. Fakta yang didapat secara legal. Padahal, kebanyakan wartawan kurcaci kurang dapat membedakan cara ilegal dan legal ketika menggalang fakta.

“Yang penting, kalian kuasai feature dan piramida terbalik itu dulu,” kata Andreas.

.

Saya ikut mengantar Andreas ke Bandara Ahmad Yani, Semarang, sebelum ia terbang pulang ke Jakarta. Dalam perjalanan, saya bertanya banyak hal. Salah satunya soal hubungan jurnalisme dengan mutu masyarakat. Kovach mengatakan bahwa semakin baik mutu jurnalisme, makin baik pula mutu suatu masyarakat.

“Itu karena informasi yang diterima masyarakat jadi semakin baik,” terang Andreas.

Semangat saya timbul. Saya bahagia.