Penangkal Dosa

Kebetulan itu ada. Dan ia hadir di kafe kampus kemarin, Rabu sore. Dengan kebetulan, Fredy mencetuskan ajakan untuk PA (pendalaman Alkitab) saat itu juga. Dan dengan kebetulan pula, ada satu Alkitab di tas saya.

“Mau bahas apa?” tanya saya.

“Apa saja. Dari Kejadian atau mana. Terserah,” jawab Fredy.

Nah, ini satu kebetulan lagi. Soalnya, dua hari yang lalu saya sempat baca satu renungan yang nyenggol-nyenggol kitab Kejadian. Saya pikir renungan itu layak saya bagi ke teman-teman. Maka bersukarelalah saya jadi pembicara dadakan.

Ajakan disebarkan. Setengah jam lagi ada PA di kantor Scientiarum. Dan teman-teman banyak yang tidak percaya. Risa, misalnya, tidak percaya kalau saya yang agnostik (dan agak ateis) bisa jadi pembicara untuk barang rohani macam PA. Ada juga yang tidak bisa ikut karena sedang kerjakan LPJ (laporan pertanggungjawaban) akhir Lembaga Kemahasiswaan. Saya bilang, oke, itu ibadah juga. Ibadahnya aktivis LK. Jangan sampai urusan rohani mengganggu urusan duniawi.

Akhirnya, yang hadir di kantor Scientiarum sore itu cuma saya, Fredy, Niel, dan Febri. Setelah memimpin doa, Fredy persilakan saya bicara.

Pertama-tama, biar tidak melanggar hak cipta, saya bilang dulu kalau renungan yang hendak saya bagi saya dapat dari blognya Berlin Sianipar. Nasnya terambil dari Kejadian pasal 3: cerita kejatuhan manusia ke dalam dosa.

Saya yakin kita semua sudah hapal cerita ini. Ular membujuk Hawa untuk makan buah pohon pengetahuan tentang hal yang baik dan jahat, tapi Hawa ngomong sama ular, “Tuhan bilang kalau kami makan atau sentuh buah pohon itu, kami akan mati.”

“Kamu tidak akan mati,” jawab si ular. “Kamu akan jadi seperti Tuhan, tahu mana yang baik dan jahat.” Hawa langsung percaya. Dia makan buah itu dan membaginya dengan Adam.

Jadi, kenapa Hawa percaya sama ular?

Mestinya kalau mau mikir sedikit, Hawa bisa tanya ke ular, “Kok kamu tahu aku nggak bakal mati? Kamu sendiri udah pernah makan? Mana buktinya?” Andai waktu itu Hawa lakukan itu, mungkin dia tidak akan sampai termakan bujukan ular dan jatuh ke dalam dosa.

Tapi Hawa tidak lakukan itu. Adam juga tidak. Mereka tidak terbiasa bersikap kritis dan bertanya. Waktu Tuhan bilang mereka akan mati kalau berani makan atau sentuh buah pohon itu, mestinya mereka tanya apa “mati” yang dimaksud sama Tuhan. Soalnya, kalau benar Adam dan Hawa itu manusia pertama dan belum pernah mati, harusnya kematian adalah barang asing buat mereka, dan mereka patut mempertanyakan kata-kata Tuhan. Apa itu mati? Kok makan buah aja bisa mati? Terus kenapa Tuhan bikin pohon yang buahnya mematikan? Tuhan pengen manusia mati? Kalau Tuhan nggak pengen manusia mati, kenapa Tuhan nggak tebang aja pohon itu?

Pesan moral cerita ini adalah: ketidakbiasaan bersikap kritis—bahkan kepada Tuhan—adalah awal mula kejatuhan manusia ke dalam dosa. Karena hanya dengan bersikap kritis itulah manusia bisa tahu mana yang benar dan mana yang tidak benar. Bujukan ular jelas menyesatkan. Tapi itu bisa terjadi karena Tuhan tidak kasih briefing yang cukup sama manusia untuk menghadapi tipu muslihat ular, dan—celakanya—si manusia juga tidak kepikiran buat minta. Andai waktu itu si manusia tanya sama Tuhan soal semua seluk-beluk pohon pengetahuan itu, pasti dia punya amunisi yang cukup buat mendebat ular. Nggak asal percaya.

Jadi, kenapa Adam dan Hawa nggak kritis?

Febri membagi cerita soal Habibie dan cucunya. Suatu hari cucunya yang masih kecil tanya sama si kakek: kenapa pesawat bisa terbang? Si kakek yang insinyur lulusan Jerman bingung. Bukan karena tidak bisa menjelaskan, tapi karena tidak tahu bagaimana menjelaskan hal itu dalam bahasa sederhana yang dimengerti anak kecil.

Saya tidak tahu apakah akhirnya Habibie berhasil menjawab cucunya, tapi cerita ini adalah contoh yang umum sekali. Anak kecil adalah golongan manusia paling kritis. Mereka banyak tanya. Tapi apa yang selama ini orang dewasa biasa lakukan terhadap pertanyaan-pertanyaan anak kecil?

Kebanyakan cuek. Mereka anggap pertanyaan itu mengganggu dan tidak penting, seperti anak kecil itu sendiri. Padahal, orang dewasa sering terganggu dengan pertanyaan anak kecil justru bukan karena pertanyaan itu tidak penting, tapi karena mereka tidak tahu bagaimana harus menjawabnya.

Padahal itu pertanyaan sederhana, yang cuma butuh jawaban sederhana. Kalau saya jadi Habibie, saya akan ambil layang-layang dan minta si cucu membawanya lari sampai bisa melayang. Dengan begitu, saya harap si cucu mengerti kalau dengan kecepatan dan sudut tertentu, udara bisa memberi daya dorong ke atas untuk benda apapun. Untuk pesawat, kecepatan itu diperbesar banyak kali dan sudutnya diperhitungkan secara rinci, sehingga daya dorong ke atas bisa cukup besar untuk mengangkat pesawat yang beratnya ton-tonan.

Anak kecil tidak butuh banyak teori. Orang dewasalah yang merasa butuh. Mereka paling jago kalau disuruh ngomong kapitalisme, sosialisme, feminisme, feodalisme, posmodernisme, poskolonialisme, dan semua orang kosong yang mbulet dan njelimet. Baik ilmuwan maupun orang-orang agama sukanya begitu. Mereka suka berpikir rumit, maka kehidupan hari ini jadi tambah rumit. Tambah semrawut dan tidak enak. Dan adakah yang mempertanyakan hal itu?

Anak kecil tidak malu bertanya, tapi orang dewasa suka malu bertanya karena kuatir dianggap tidak tahu apa-apa. Kuatir dianggap bodoh. Kuatir dianggap seperti anak kecil. Padahal Yesus justru bilang, belajarlah dari anak kecil. Kenapa? Karena anak kecil yang polos itu justru lebih kritis dari kita yang sudah merasa diri dewasa. Dan kalau kita bisa kritis seperti itu, kita tidak akan mengulang tragedi Adam dan Hawa!

Adam dan Hawa tidak kritis karena mereka diciptakan langsung dewasa. Orang dewasa biasanya suka merasa tahu dan karena itu jadi sok tahu. Kalau sudah sok tahu, jadi malas belajar. Kalau sudah malas belajar, jadi malas bertanya. Malas bersikap kritis. Pada saat itulah terbuka celah buat si ular.

Hari ini kita tidak boleh banyak bertanya. Kita tidak boleh mengkritik Alkitab dan tidak boleh mempertanyakan Tuhan. Agama tidak suka kita begitu, karena agama ingin agar kita meneruskan tragedi Adam dan Hawa untuk jatuh ke dalam dosa.

2 Comments

  1. Satria Anandita

    UNDANGAN: Rabu minggu depan, 4 Agustus 2010, akan diadakan lagi pendalaman Alkitab di kantor Scientiarum jam lima sore. Bagi teman-teman yang ingin hadir, silakan hadir. Acara ini terbuka bagi sivitas akademika UKSW dan umum. Tidak dipungut biaya atau yang sejenisnya. Konsumsi bawa sendiri-sendiri. Alkitab bawa sendiri-sendiri–nggak bawa juga nggak masalah.

  2. Nice.. :)

    Lucu juga ketika kepandaian seseorang sering diidentikkan dengan banyaknya istilah yang dipakai ketika ia bicara. Padahal seringkali apa yang terdengar hebat itu bisa diungkapkan dengan bahasa yang jauh lebih sederhana dan mudah dimengerti oleh orang awam sekalipun.

    Jack Trout dalam bukunya ‘The Power of Simplicity’ menohok golongan orang yang gemar memakai istilah-istilah yang jarang didengar orang awam yang sering disembunyikan di balik alasan ‘bahasa akademis.’ Orang-orang yang termasuk golongan ini biasanya berpendidikan tinggi, memiliki ego yang tinggi sehingga tidak mau disamakan dengan orang awam yang tidak berpendidikan tinggi.

    Para filsuf dan para sarjana adalah jagonya membuat masalah yang sederhana menjadi rumit bin ruwet. Status sebagai orang terpelajar begitu meniup kepala mereka hingga membesar seperti balon dan membubungkan mereka jauh ke awan-awan dan tak lagi menginjak bumi. Padahal kadang yang makalah mbulet yang mereka banggakan bisa disingkat lebih padat dan sederhana kalau saja mereka mau kembali menginjak bumi dan tidak menggenggam begitu banyak teori dalam toples permen mereka.

    Life is simple, but most of us make it complicated.

Leave a Comment




  • Recently Written

    • Indonesia Mencari BakatBakat apa? Yang bagaimana? Yang menghibur? Apa itu hiburan? Siapa yang berhak menentukan bahwa sesuatu...
    • Mencoba MengertiKehidupan adalah puisi. Bisa dibaca, tapi sulit dimengerti. Berbahagialah mereka yang mengerti arti kehidupan.
    • Penangkal DosaAndai waktu itu Hawa lakukan itu, mungkin dia tidak akan sampai termakan bujukan ular dan...