Pengantar Anatomi Scientiarum

Seperti judulnya, tulisan ini cuma pengantar. Pengantar akan membawa kita sampai kepada tujuan, kalau tidak kesasar. Tujuan dari pengantar ini adalah menjelaskan hubungan segitiga antara divisi-divisi Scientiarum: redaksi, bisnis, dan litbang. Supaya penjelasan ini tidak jadi ceramah, maka saya akan menempuh jalur penjelasan lain, yaitu cerita sejarah. Semoga tidak kesasar.

Omong-omong soal kesasar, saya jadi ingat bahwa masuknya saya ke Scientiarum sebetulnya juga bisa disebut sebagai kesasar. Persisnya, kesasar di jalan yang benar. Saya sebut “benar” karena di lembaga inilah saya baru merasakan sungguh-sungguh bagaimana belajar. Dan barangkali karena itu, setelah sekian lama, sulit bagi saya untuk bertobat ke tempat yang (menurut saya) salah: bangku kuliah.

Saya masuk UKSW tahun 2006 dan masuk Scientiarum sekitar Oktober 2007. Waktu itu pemimpin redaksinya adalah Bambang Triyono, mahasiswa FKIP angkatan 2000. Saya masuk dengan praktik nepotisme. Yang mensponsori adalah Wawan Suyatmiko, mahasiswa FSM angkatan 2000, yang waktu itu menjabat sebagai wakil pemimpin redaksi. Sebelumnya saya kenal Wawan karena kami sama-sama aktif di Gerakan Tolak Nuklir atau GeToN.

Saya masih ingat rapat perdana yang saya hadiri sore itu. Kami duduk mengitari satu meja besar di kafe Rindang, ngobrol sambil minum, ngemil, dan merokok. Bambang menyampaikan keinginannya untuk mundur dari kursi pemimpin redaksi. Alasannya, Scientiarum butuh regenerasi, perlu orang muda sebagai pemimpin. Bambang telah memimpin redaksi sejak 2005, membangkitkan organisasi ini dari koma sejak 2002.

Stok darah muda kami waktu itu terbatas. Cuma ada saya (FE 2006), Yosia Nugrahaningsih (FISIPOL 2006), dan Aqirana Tarupay (FTI 2005). Selain Bambang dan Wawan, anggota lainnya adalah Bagus Ferry (FTJE 2001), Geritz Febrianto (FP 2000), Maria Nunes (FISIPOL 2004), Yogi Nasution (FTJE 2001), dan Ferdinand Anaboeni (FTI 2004). Entah bagaimana, tanpa pemilu atau apa-apa, mereka memilih saya, dan sekonyong-konyong pula saya iyakan. Sore itu juga saya resmi menjadi pemimpin redaksi Scientiarum, menggantikan Bambang yang sembilan tahun lebih tua dari saya. Saya memang selalu agak ambisius untuk bisa memimpin, tapi diam-diam tidak percaya diri juga.

Waktu itu Scientiarum cuma terdiri dari satu divisi, yakni redaksi. Saya rasanya tidak pernah menanyakan sejarah divisi Scientiarum kepada Bambang maupun senior lain, namun saya duga sejak pendiriannya pada 1998 Scientiarum cuma punya divisi redaksi. Pemimpin redaksi menjadi ketua bagi seluruh anggota Scientiarum.

Dengan demikian, banyak sekali pekerjaan yang harus redaksi tangani. Mulai dari membuat proposal penerbitan, mengurus pencairan dana dari universitas, meliput, melakukan wawancara, riset data, menulis dan menyunting berita, mengatur tata letak, lalu mengirim berkas ke Semarang untuk dicetak. Kala itu Scientiarum menerbitkan berita dalam format tabloid. Setelah pencetakan tabloid rampung, kami melaksanakan distribusi ke penjuru kampus, para narasumber, dan jejaring organisasi. Kadang ada beberapa teman mahasiswa yang berbaik hati menjadi loper tabloid kami. Tabloid Scientiarum dibagi gratis.

Sejak bangkit tahun 2005, Scientiarum hidup sepenuhnya dari subsidi universitas, yang sebagian besar habis buat ongkos cetak. Dalam setahun, kami cuma melaksanakan tiga kali penerbitan. Bagaimana wartawan mau berkembang kalau meliput cuma setahun tiga kali?

Oleh sebab itu, pada Januari 2008, kami mulai merintis situs scientiarum.com sebagai sarana publikasi alternatif. Perintisan ini mendatangkan sejumlah manfaat. Manfaat pertama, kami bisa lebih sering mengumumkan berita dalam bentuk tulisan dan foto dengan biaya sangat murah. Saat itu pembangunan scientiarum.com cuma menelan Rp 100 ribu per tahun untuk sewa domain dan hosting. Rancangan situs kami buat sendiri karena memang tidak sulit.

Manfaat kedua, karena sifat scientiarum.com yang interaktif, muncul ruang-ruang diskusi baru atas berita-berita. Siapapun, mulai dari mahasiswa, pegawai universitas, hingga alumni yang berada jauh di luar negeri, bisa nimbrung untuk ngobrol, menyapa, dan berdebat. Kritik untuk UKSW, dan juga Scientiarum sendiri, bermunculan dan saya anggap itu baik. Uneg-uneg mengalir bebas dan lancar karena orang tidak perlu lagi menunggu empat bulan sekali untuk bisa menulis di Scientiarum.

Tentu saja ada kekurangan di balik manfaat-manfaat ini. Yang pertama, kami sudah terbiasa dengan rutinitas meliput empat bulan sekali. Tidak mudah menyesuaikan diri dengan kebutuhan berita yang muncul dari hadirnya situs baru. Maka perkembangan scientiarum.com terasa amat lambat. Untuk pemimpin redaksi yang punya harapan tinggi waktu itu, kelembaman ini menyebalkan sekali. Yang kedua, kami harus bekerja ekstra untuk mengawal uneg-uneg yang masuk lewat kolom komentar. Selalu ada orang-orang yang menulis komentar kasar dengan identitas samar. Komentar semacam ini, kalau dibiarkan masuk, biasanya akan menyulut keramaian dengan amarah hadirin forum. Dan begitu sebuah forum terbakar kemarahan, bisa dipastikan bahwa diskusinya bakal tidak sehat dan ditinggalkan orang. Dua kendala utama ini terasa berat di awal. Bagaimanapun, kami mengatasinya perlahan.

Selanjutnya, karena situs scientiarum.com mulai banyak dikunjungi orang, muncul manfaat ketiga, yaitu kesempatan menuai iklan elektronik. Di sinilah mulai muncul kesadaran bahwa redaksi tidak baik kalau cuma sendirian. Perlu ada divisi lain yang menemani. Divisi lain ini akan mengurus pekerjaan-pekerjaan seperti mengurus proposal penerbitan, manajemen iklan, manajemen keuangan, manajemen pemasaran, dan sebagainya. Redaksi cukup memusatkan perhatian pada mutu jurnalisme. Dalam buku Sembilan Elemen Jurnalisme, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel menganjurkan wartawan untuk tidak terlibat dalam bisnis agar tidak mengganggu independensi berita. Maka lahirlah divisi bisnis. Sebagai penengah antara bisnis dan redaksi, Bambang yang saat itu menjadi editor ditunjuk menjadi pemimpin umum pertama Scientiarum. Ketua organisasi ini secara keseluruhan bukan lagi pemimpin redaksi.

Belum banyak cerita yang bisa saya tulis soal divisi bisnis. Manajer bisnis pertama Scientiarum adalah Desta Venando, mahasiswa FISIPOL angkatan 2006. Nando masuk bersama Agung Nugroho (FISIPOL 2006), yang menjadi staf bisnis, sekitar Mei 2008 atas referensi Yosi.

Kendala utama yang langsung dihadapi waktu itu adalah bagaimana merumuskan bentuk divisi bisnis yang pas beserta mekanisme kerjanya. Tidak seorangpun di Scientiarum punya pengetahuan soal itu. Saya sendiri cuma berharap petak iklan bisa segera terjual agar Scientiarum punya pemasukan. Saya beri Nando beberapa referensi soal promosi iklan elektronik. Untuk hal-hal di luar itu, saya harap Nando punya solusi karena di bangku kuliah dia sudah belajar manajemen media massa. Kalau bingung, mestinya dia tidak kesulitan meminta bantuan dosen, karena saya tahu Nando bukan orang kuper di fakultasnya. Kalau segala cara telah ditempuh dan hasilnya tetap nol, rapat organisasi tidak pernah menutup penerimaan untuk hal-hal semacam itu, sehingga Nando selalu punya ruang bicara agar anggota lain mengerti. Setidaknya, begitulah harapan saya. Dan saya kecewa.

Sepanjang sisa tahun itu, pemasukan iklan dari scientiarum.com nihil tanpa penjelasan. Pada sisa tahun itu pula saya membawa Scientiarum bereksperimen dengan format majalah. Bisnis telah menyumbang satu iklan, desain dikerjakan serapi mungkin, dan berita disunting seteliti mungkin, tapi secara keseluruhan eksperimen itu adalah eksperimen yang gagal.

Penyebab utamanya adalah keterlambatan redaksi dari tenggat yang telah ditentukan. Mengapa terlambat? Karena jumlah berita yang masuk sangat kurang dari target awal. Ada reporter yang tidak menulis berita. Ada pula yang cuma menulis sedikit. Sebagai pemimpin redaksi, saya punya andil dalam kecelakaan ini. Demi melengkapi kekurangan berita, tenggat diundur beberapa hari. Pengiriman berkas ke Semarang terlambat.

Itu belum selesai. Kelambatan di Salatiga ternyata ikut merayap ke Semarang. Beberapa hari setelah berkas dikirim, percetakan menelepon saya. Format berkas yang kami bikin dengan Corel kacau balau saat akan naik cetak. Hari itu juga saya dan Ferdinand berangkat ke Semarang untuk memperbaiki segalanya.

Selang beberapa hari, cetakan majalah Scientiarum sebanyak dua ribu eksemplar tiba di kampus. Kami sudah terlambat sepuluh hari dari jadwal penerbitan semula: 30 November 2008. Karena tanggal itu adalah dies natalis UKSW, semula kami berencana untuk menjual majalah kepada tamu-tamu yang selalu memenuhi kampus pada hari itu. Tapi keterlambatan sepuluh hari sangatlah fatal. Bukan cuma karena tak ada banjir tamu lagi, kampus pun sudah mulai sepi karena ujian akhir semester hampir usai. Banyak orang juga bertanya, kenapa sekarang Scientiarum bentuknya majalah? Kenapa dijual lima ribu rupiah per eksemplar? Kalau ingatan saya tidak meleset, kami tidak berhasil menjual majalah lebih dari lima ratus eksemplar. Sisa yang tidak terjual lantas dibagi gratis sebulan kemudian.

Pemborosan sebegitu besar mestinya bisa dikurangi kalau saya mengambil keputusan tepat di Semarang. Di kantor percetakan, saya punya kesempatan untuk menimbang ulang keputusan mencetak majalah dua ribu eksemplar. Di Salatiga, kami memang telah sepakat mencetak dua ribu eksemplar, tapi kesepakatan itu dibuat atas perkiraan bahwa majalah akan terbit 30 November. Saat perkiraan meleset, keputusan perlu revisi.

Saya agak ragu waktu itu. Pertimbangannya: kalau jumlah eksemplar diturunkan, ongkos cetak keseluruhan memang lebih murah, tapi harga satu eksemplar akan lebih mahal. Saya juga tidak tahu apakah antara divisi bisnis dan pengiklan ada perjanjian soal jumlah eksemplar. Sementara, kalau jumlah eksemplar tetap pada kesepakatan awal, harga per eksemplar bisa dipertahankan pada angka lima ribu rupiah, sehingga harga jual sudah menutup ongkos cetak. Namun akhirnya bukan itu semua yang mendasari keputusan saya. Menjual dua ribu eksemplar majalah di kampus yang mulai sepi memang mustahil, tapi saya yakin Tuhan akan mengubah yang mustahil menjadi mungkin.

Di situ saya keliru.

Saya akhirnya memang tidak menyesal, cuma kemudian berpikir ulang: kalau waktu itu saya tidak percaya Tuhan, apakah pemborosan uang Scientiarum bisa lebih terhindarkan? Jawabannya: mungkin.

Kalau saya tidak percaya Tuhan, mungkin saya tidak perlu kesusu memutuskan. Mungkin saya akan meluangkan waktu sepuluh menit untuk menelepon Nando dan Bambang untuk meminta pertimbangan. Apalagi penentuan jumlah cetak butuh pertimbangan bisnis yang sehat. Mestinya penentuan ini ada di tangan manajer bisnis, bukan pemimpin redaksi. Tapi itu tidak saya lakukan. Saya kesusu, lantas kesasar. Kali ini ke jalan yang salah.

Perkembangan bisnis selanjutnya tidak saya ketahui dengan baik. Per Januari 2009 saya bukan lagi pemimpin redaksi. Saya mundur total dari organisasi dengan alasan capek. Yang menggantikan saya adalah Yoga Prasetya, mahasiswa FSM angkatan 2007 (sekarang FISIPOL 2008), yang masuk Scientiarum sekitar Maret 2008. Selang beberapa saat setelah Yoga menjabat, Leny Debora (FH 2006) masuk menggantikan Nando sebagai manajer bisnis. Dalam kepemimpinan Debora inilah geliat divisi bisnis mulai lebih terlihat. Petak iklan scientiarum.com mulai laku. Pengadaan logistik mulai lancar. Kerjasama dengan berbagai sponsor kegiatan mulai berjalan. Dan sebagainya. Memang belum optimal, tapi kepemimpinan Debora sudah memperlihatkan bahwa kemandirian finansial bukan hal yang mustahil.

Kenapa kemandirian finansial penting? Karena itu salah satu cara menjaga independensi dalam hal apapun: mulai dari operasional sampai dengan redaksional. Subsidi universitas memang tidak serta merta mendatangkan intervensi ke dalam organisasi, tapi kalau cuma mengemis subsidi kepada universitas, Scientiarum sulit berkembang, menjadi tergantung: tidak independen. Pada masa saya memimpin redaksi, saya tidak ijinkan redaksional diintervensi pertama-tama oleh manajer bisnis, kedua pemimpin umum sendiri, dan ketiga baru universitas.

Kenapa divisi bisnis tidak boleh mencampuri redaksional? Sebabnya: Scientiarum adalah organisasi berita, dan redaksi adalah yang menyediakan berita. Penyediaan berita butuh uang, dan bisnis adalah yang mengusahakan uang, entah lewat penjualan iklan, kerjasama, donasi, atau cara-cara lain yang dianggap halal. Kesuksesan pengusahaan uang ini sendiri sangat tergantung pada mutu berita bikinan redaksi. Ada banyak syarat penulisan berita bermutu di buku Kovach dan Rosenstiel, dan salah satunya adalah independensi redaksi. Karena itulah, meski bertindak sebagai penyedia uang, bisnis sebaiknya tidak mengintervensi kerja redaksi kalau mau bisnisnya berhasil. Hubungan unik kedua divisi ini, kalau dirumuskan dengan kalimat Fritjof Capra soal sains dan mistisisme, kira-kira jadi begini: redaksi tidak butuh bisnis, bisnis tidak butuh redaksi, tapi organisasi berita butuh keduanya. Adalah tugas pemimpin umum untuk menjembatani kepentingan dua divisi ini.

Tentang divisi litbang, saya agak lupa bagaimana kronologi pembentukannya. Pertengahan 2009, saya kembali masuk Scientiarum. Kali ini sebagai redaktur senior: cara lain untuk menyebut redaktur tua. Tidak ada hal spesial yang saya lakukan selama dianggap senior. Paling cuma bikin kelas kritik mingguan dimana kami saling ejek dan menertawakan kualitas tulisan masing-masing. Waktu itu pemimpin redaksinya masih Yoga, namun beberapa bulan kemudian ia turun, digantikan Daniel Pekuwali, mahasiswa Fakultas Pertanian angkatan 2008. Sebelumnya, James Filemon (FE 2006) juga sudah menggantikan Bambang sebagai pemimpin umum.

Pada masa kepemimpinan James inilah muncul ide pembentukan divisi baru untuk penelitian dan pengembangan (disingkat: litbang). Untuk penelitian dan pengembangan apa, saya lupa. Saya betul-betul tidak ingat apa alasan Scientiarum memerlukan litbang waktu itu. Mungkin cuma ikut-ikutan karena lembaga pers mahasiswa lain banyak yang punya litbang, sama seperti media massa umum komersial. Saya tidak ingat persis.

Yang saya ingat adalah: James berhasil menarik masuk kembali Febri yang waktu itu sudah keluar. Febri diberi posisi sebagai kepala puslitbang (pusat penelitian dan pengembangan) pertama Scientiarum. Kerjanya, seingat saya, mengorganisir pelatihan jurnalisme mingguan, terapi kelompok menulis, dan menyediakan data statistik soal kinerja redaksi. Selebihnya saya tidak tahu. Deskripsi kerja formal tentu bisa ditemui dengan membaca statuta Scientiarum, tapi belakangan saya malas baca yang begituan. Oleh sebab itu, saat tampuk komando pemimpin umum pindah dari James ke Sheila Paemdong (FTI 2008), dan saya ditugaskan membantu kepala puslitbang yang baru, Filipus Septian (FTI 2006), saya merumuskan sendiri pandangan saya tentang apa dan bagaimana divisi litbang:

Kalau mau jadi wartawan, masuklah redaksi. Kalau mau jadi pebisnis, masuklah bisnis. Kalau mau jadi orang gila, masuklah litbang.

Saya sebut “gila” karena potensi pekerjaannya yang tidak terbatas. Lihat saja namanya: penelitian dan pengembangan. Apa yang bisa diteliti? Apa yang bisa dikembangkan? Rasanya semuanya. Sebagai permulaan tahun ini saja, litbang sudah ditugasi untuk mengurus pengembangan scientiarum.com, pusat data dan informasi seputar UKSW dan Salatiga, ikatan alumni Scientiarum, mengorganisir pelatihan untuk redaksi, bisnis, dan litbang sendiri, merawat ingatan organisasi (salah satunya dengan menulis pengantar ini), dan masih bisa ditambah lagi. Saya jadi berpikir kalau “litbang” ini sebenarnya cuma nama lain dari “pembantu umum”. Tepatnya, pembantu serba umum.

Sebagai divisi pembantu, tentu saja tugasnya membantu memecahkan problem divisi redaksi dan bisnis. Dan pasti kami bantu selama kami bisa membantu. Dengan membantu, anggota litbang juga ikut belajar. Dengan belajar, kami merasa senang. Itu saja.

Jadi, seperti judulnya, tulisan ini cuma pengantar. Pengantar akan membawa kita sampai kepada tujuan, kalau tidak kesasar. Tujuan dari pengantar ini adalah menjelaskan hubungan segitiga antara divisi-divisi Scientiarum: redaksi, bisnis, dan litbang. Sudah sampaikah, atau malah kesasar?