Penting dan Menarik

Aku menulis untuk memberitahu pembacaku sesuatu yang aku anggap penting dan menarik. Penting karena terkait dengan kehidupan sesehari. Menarik karena sifatnya unik, nyeleneh, punya hubungan maknawi tersembunyi antara satu hal dengan yang lain, atau sekadar memenuhi selera pikirku. Sulit untuk menulis sesuatu yang menarik saja, atau penting saja.

Bukan, ini bukan karena doktrin Sembilan Elemen Jurnalisme, yang bilang wartawan harus menulis hal penting dengan menarik dan relevan. Ini adalah proses alami penentuan besar alasan kenapa aku menulis, dan melakukan pekerjaan yang lain, seperti mandi, makan, bergaul, kuliah, belajar, dan lain sebagainya. Orang iseng kebanyakan terkesan jayus.

Aku memang bukan manusia rasional seratus persen. Aku suka iseng tanpa alasan. Tapi aku sulit menulis hanya gara-gara iseng. Jika alasan tak cukup kuat, personal drive tak akan cukup besar untuk menyelesaikannya hingga titik terakhir. Berbunga Tidur Donna contohnya, dan sejak itu, aku tak pernah berhasil selesaikan satu tulisan pun!

Hidup selama sebulan ini hampir tak menarik dan tak penting. Hampir tak ada cerita yang layak ditulis hingga selesai. Orang-orang yang aku temui. Film-film yang aku tonton. Kelas kuliah yang aku hadiri. Beberapa aktivitas baru di luar kampus. Semuanya terlihat abu-abu, bahkan cenderung hitam-putih. Apa yang terlihat berwarna mungkin hanya kemandekanku ini (aku menuliskannya sekarang), dan mungkin satu minatku terhadap the so-called “educonomics”. Facebook terlihat seolah-olah berwarna, dan bikin ketagihan. Tapi residunya cuma rasa capek dan kecewa jika menoleh kembali pada kenyataan.

Akhirnya, penyiksaan datang, ketika aku hendak fokus pada warna-warna, namun abu-abu dan hitam-putih mendera.