
asih untung aku bisa jalan kaki ke kampus siang ini, tanpa tertabrak ataupun menabrak, dan mendapati kantor Scientiarum kosong melompong. Meski sempat ada kunjungan (baca: gangguan) beberapa orang, akhirnya aku bisa juga menulis posting ini dengan tenang (baca: sendirian) di sini.
Bagiku, komputer adalah psikolog terbaik. Papan tutsnya bisa bicara dari hati ke hati, sekalipun tanpa percakapan audibel. Meski dia tak mungkin ikut merasakan, tapi dia bisa tahu maksudku. Radiasi monitornya membiarkan aku memastikan hal itu. Manusia mana bisa begitu? Aku sudah coba beberapa orang, tapi yang aku dapat cuma prejudice dan “judice“.
“Kamu kenapa cuti (kuliah) Sat?” tanya satu perempuan imut berdarah Jawa padaku, sekitar seminggu yang lalu. Sepertinya dia melihat formulir kuning yang tergeletak di meja kantor Scientiarum.
Aku jelaskan pada perempuan itu, aku belum bisa beradaptasi dengan suasana belajar yang super kaku di kelas kuliah — bersama dosen-dosen yang terlalu banyak bicara abstrak, tapi minim pengalaman empirik. Pada nomor ketiga Marhaen, satu media bulanan yang diterbitkan sekelompok orang Indonesia di Jerman pada masa Orde Baru, ditulis demikian, “Yang juga bukan benih unggul ialah orang yang pidatonya abstrak2, ‘ilmiah tinggi’. Ia tahu bahwa ada yang berpendapat: ‘Makin abstrak dan tidak mengerti, makin ilmiah.’ Ia puas karena merasa dikagumi oleh orang2 itu.”
Kalau dosen jaman sekarang terlalu banyak bicara abstrak, apa kata dunia?
Aku jauh lebih nyaman belajar sendiri, seperti saat ini, dengan jurnalisme. Aku bisa bebas berpikir, membaca, diskusi, dan menulis. Untuk sekarang, yang aku inginkan cuma belajar. Aku tak berharap punya uang triliunan. Aku tak berharap punya pacar sempurna. Aku tak berharap punya kuasa sebesar Tuhan. Aku cuma mau belajar!
Dan kalau aku kuliah, aku tak bisa belajar!
“Ya udah, kalo gitu kamu keluar aja dari UKSW,” kata perempuan itu.
Keluar? Dari UKSW? Ide itu sama sekali ngawur buat pengecut macam aku. Tanpa lembaga pendidikan tinggi bernama Universitas Kristen Satya Wacana, aku akan kehilangan dua aset besar: afiliasi dan sarana belajar. Namun dengan kuliah, aku pun akan kehilangan dua aset besar: fokus dan kebebasan belajar. Maka akan lebih mudah bagiku untuk tinggal di ranah abu-abu: tetap jadi mahasiswa, tapi tak kuliah. Dan aku rela bayar Rp 450 ribu per semester untuk cuti ini!
Hei, mahasiswa itu hak dan kewajibannya belajar kan? Ketika kuliah tak lagi mampu memenuhi dua hal itu, salahkah aku jika meninggalkannya?





There are 8 comments already. Say something!