Journalism

Perjuangan PERS Melahirkan Krisma

Surabaya, 16 Juni 2008

Apa yang aku ceritakan di sini bukanlah hal untuk menghina, mengintimidasi, atau menjatuhkan pihak lain.

Apa yang aku tulis tidak semata-mata didramatisir untuk membuatnya menarik. Karena aku yakin, yang kami rasakan lebih dari ini.

Apa yang kami alami tak sebanding dengan apa yang sudah tertulis di sini.

~ Lala

Akhirnya. Itu kata yang tepat untuk mengungkapkan perjuangan PERS (julukan bagi jurnalis di sekolah kami) melahirkan majalah Krisma tahun ini. Entah mengapa majalah itu disebut Krisma. Kreativitas siswa SMA? Kritik dan saran siswa SMA? Kritik masyarakat? Kristian Marvy (nama salah satu teman kami sesama PERS, yang akhirnya jadi model cover Krisma tahun ini)?

Apa arti sesungguhnya tak ada yang tahu. Yang kami tahu, Krisma adalah puncak karir para jurnalis. Media tempat menyampaikan apa yang kami tahu. Mengungkap apa yang belum pernah terjamah. Menyingkap sesuatu yang tersirat, tersurat, namun tak tersorot. Menurut kami, itulah arti Krisma.

Dalam sejarah jurnalistik, sejak zaman penjajahan sampai zaman mamamia, para kuli tinta selalu dihina dan diremehkan. Tapi justru merekalah yang membuka mata setiap kita. Tanpa mereka, mungkin sampai sekarang kita masih hidup dalam dunia yang berkacamata. Ditutup-tutupi dan berlagak buta.

***

Tanganku gatal ingin menceritakan langkah demi langkah perjuangan PERS “melahirkan” Krisma. PERS sangat bersemangat ingin segera mengedarkan Krisma tahun ini. Jauh berbulan-bulan sebelum kenaikan kelas, PERS mempersiapkan konsep, mengolah data, survey, wawancara, hunting foto, mendesain, semuanya dilakukan dengan terperinci dan matang. Kami senang dengan pekerjaan kami, berkeliling Surabaya mencari berita, berlomba mencari foto yang paling bagus, mewawancarai banyak orang …. Kami suka semua ini!

Tapi jalan kami tersendat-sendat. Dari awal, sekolah — yang katanya sarana yang selalu mendukung siswa berkarya — justru menghalang-halangi dan mempersulit kami. Dari mengurus proposal, mengganggarkan dana, survey, dan persetujuan dengan percetakan, yang seharusnya adalah kewajiban dan wewenang sekolah, semuanya kami lakukan. Sendiri.

Baiklah! Demi Krisma, kami rela melakukan itu semua. Walau akhirnya kami harus rela waktu kami tersita, ketinggalan pelajaran di sekolah, kehilangan setiap waktu istirahat di sekolah, mengeluarkan uang bensin untuk wira-wiri, kami tak keberatan, sama sekali. Ambisi telah mengalahkan ego setiap kami. Namun sekejap semangat dan jerih lelah kami selama ini berubah jadi kesal dan air mata ….

Sebenarnya, ini adalah cerita lama. Sekolah — sekali lagi, yang katanya selalu mendukung siswa berkarya — justru menjadi kerikil-kerikil tajam dalam perjalanan kami. Berkali-kali kami tersandung bahkan njelungup mencium tanah. Kami, yang seperti anak yatim piatu yang kehilangan arah, terluntang-lantung bingung bagaimana harus melangkah. Kami tak tahu apa-apa. Yang akhirnya begitu kami sadari, kami telah dibodohi. Kami seperti bola sepak di pertandingan Euro Jerman lawan Kroasia. Dilempar-lempar (masih mending dilempar, mungkin kata yang tepat adalah “ditendang-tendang”) dari satu orang ke orang lain, seakan-akan mereka lepas tanggungjawab dan tak mau berurusan dengan kami.

Kalau ada yang bertanya, bagaimana dengan pembina? Sebenarnya, bu RN juga belum bisa jadi pembina yang baik buat kami. Kami tak pernah diarahkan, beliau hanya memberi semangat dan pengertian. Walaupun begitu, kami sangat respek pada beliau. Paling tidak, beliau tidak menghalang-halangi kami, tut wuri handayani, hanya di belakang memberikan semangat dan dorongan.

***

Begini detailnya, untuk mencetak majalah Krisma, kami disediakan sejumlah dana yang sudah teranggarkan dari RAPB sekolah. Jumlahnya sangat besar, mengingat banyaknya angka nol yang mengikuti salah satu bilangan ganjil, bahkan jumlahnya berlebih untuk menerbitkan Krisma. Janji itu diumbar saat awal tahun ajaran. Namun tiba-tiba, bagian tata usaha menyebutkan dana yang dapat digunakan hanya separuhnya. Kami pontang-panting, rencana yang sudah kami persiapkan dari awal, kami ubah total. Jumlah halaman, banyaknya artikel, kami tekan jumlahnya agar dana kami cukup untuk mencetak Krisma. Kami sudah mencari banyak percetakan. Kebanyakan dari mereka menganggap kami bercanda, main-main. Karena dana tersebut, jauh dari cukup untuk mencetak Krisma. Kami down.

Pernah, suatu kali, di kelas, aku berdebat dengan seorang guru sejarah di sekolah kami, sebut saja pak BD. Beliau adalah guru yang sangat dihormati para siswa. Dulu tapi. Sekarang, wibawa dan sahajanya di mata anak-anak menurun, bahkan mungkin tak ada. Entah mengapa, mungkin “terkontaminasi” oleh kepala sekolah, sebut saja pak DG, yang secara ilegal menjadi kepala sekolah abadi di sekolah kami. Haha.

Dalam debat itu, aku mempertanyakan nasib PERS yang sudah berjerih lelah, dalam kebingungan, dihina, dibodohi pula. Aku sangat emosi, bahkan aku sempat menghina sekolah ini. Pak BD selalu berusaha mengelak, memutarbalikkan hinaan yang aku lemparkan, bahkan memberi gelar pada jurnalistik, “organisasi terburuk yang pernah ada di sekolah.” Aku, mewakili teman-teman PERS, sangat tersinggung. Beliau juga marah karena kami seakan-akan tidak menganggap beliau sebagai koordinator ekstrakurikuler. Beliau tak tahu sebelumnya tentang masalah ini.

“Yang benar itu, kalau kamu ada masalah seperti ini, prosedurnya: dari siswa ke pembina, dari pembina ke koordinator ekstra, dari koordinator ekstra ke wakasek, dari wakasek baru ke kepala sekolah. Ingat prosedur itu! Kalian harus ikuti! Dan sekali lagi, SEKOLAH ADALAH TEMPAT BELAJAR, BUKAN TEMPAT BEKERJA! Jadi apapun yang kalian lakukan di sini fungsinya untuk pembelajaran!”

Kata-kata itu akan kuingat selama hidupku.

Selama debat berlangsung, aku sangat marah, walaupun hanya dalam hati, aku urungkan niat untuk “meledak” dan kutenangkan diriku. Debat tiga mulut antara aku, pak BD, dan Mutiara, ketua jurnalistik, begitu sengit dan alot. Teman-teman sekelas hanya bisa diam, entah kehilangan kata atau karena tidak mengerti.

Muak dengan celotehannya yang berdurasi panjang dan sama sekali tak menjawab pertanyaanku, aku memotong pembicaraannya dan bertanya, “Lalu apa solusi bapak?”

Tahu apa jawabannya?

“Ya terima saja. Jalani saja. Kalau dana tak mencukupi, Krisma tahun ini tidak usah diterbitkan.”

Apa kau bilang??

***

Jujur pada kepala sekolah kami, pak DG, dana yang diberikan tak cukup untuk membuat majalah. Pak DG berjanji pada kami untuk menanyakannya pada yayasan dan berusaha menaikkan dana yang ada. Selain itu, pak DG meminta jika dananya nanti sudah turun, majalah dibuat sebaik mungkin, karena Krisma mencerminkan citra sekolah.

“Krisma harus sudah jadi sebelum tanggal 13 Juni, karena tanggal itu penerimaan rapor kelas X dan XI,” pinta beliau dengan muka tenang.

Kami tak bisa tenang. Janji itu kami tagih setiap hari, pak DG selalu mengelak dan mengatakan, “Nanti saja, saya sedang sibuk.” Kami was-was karena deadline untuk menerbitkan Krisma tinggal sebulan lagi. Belum ada kepastian.

Akhirnya kepastian itu datang dan benar-benar sangat mengejutkan kami. Jumlah dana yang diberikan tidak dinaikkan tapi justru diturunkan!

Kampret!

Keputusan itu datangnya dari yayasan yang mengepalai sekolah kami. Ketika wakasek kesiswaan, pak HRI, memberitahukan hal itu pada kami, kami tak percaya. Pasalnya, hal tersebut belum diketahui oleh badan tata usaha, pembina, bahkan koordinator ekstra kami. Dan pernah sebelumnya, dalam kasus lain, wakasek itu membohongi kami dengan memberi keputusan yang datangnya dari mulutnya sendiri.

Tapi dugaan kami salah, mereka benar.

Sudahlah, kami lelah dengan semua ini. Kami — termasuk aku — sudah menyerah dan merelakan Krisma gagal terbit. Tapi satu orang yang masih tak rela. Mutiara, ketua jurnalistik kami. “Kenapa kalian gini? Kalian rela kerja keras dan usaha kita selama ini sia-sia?!” Matanya berkaca-kaca.

“Sudahlah Mut, relakan saja …”

***

Dalam keputusasaan itu, aku sudah sedikit melupakan Krisma. Aku mulai fokus dengan ujian akhir semester yang sebentar lagi datang. Aku ketinggalan pelajaran. Aku mulai stres karena aku tak paham. Aku berusaha mengejar ketertinggalanku itu.

Setelah ujian usai, kami kembali memikirkan Krisma. Masih adakah harapan Krisma akan terwujud? Jawaban itu datang. Seorang teman kami dari SMA tetangga, Bram, baru saja membuka bisnis percetakan. Karena masih dibilang baru, dia menyanggupi untuk mencetak dan mendesain Krisma seharga dana yang diberikan sekolah pada kami.

Bagaimana ekspresi kami? Biasa saja, ada sesuatu yang mengganjal kegembiaraan kami. Bisakah Krisma jadi hanya dalam waktu 2 minggu?

Bram mengangguk.

***

Spirit kami yang dulu pernah ada, kini bangkit kembali.

Kami bergerak cepat. Pak HRI menyuruh kami segera membuat proposal (lagi) dengan berbagai perubahan dan pembaruan. Apa yang beliau minta sudah ada di depan beliau beberapa jam kemudian. Beliau menandatanganinya dan akan menyerahkannya pada kepala sekolah. Tapi sayang, beliau tak ada di tempat. “Mungkin nanti sore,” kata salah satu tata usahawan.

Ada satu yang terlewatkan. “Pak, lalu bagaimana kalau percetakan tersebut minta uang muka? Padahal proposal belum naik dan uang belum turun,” tanya Mutiara pada pak HRI. Hanya dua kata yang keluar dari bibirnya yang berhias kumis tebal, “Nggak tahu!”

Kami bertanya pada salah satu tata usahawan yang cantik, “Bu, bagaimana kalau percetakan minta uang muka?”

“Wah, itu bukan wewenang saya. Tanya pak EKP.”

Seketika itu juga aku meralat perkataanku kalau ibu itu cantik.

Kami kembali ditendang-tendang, dari satu orang ke orang lain. Saat ini, kami ditendang ke pak EKP, wakil kepala sekolah bagian humas yang notabene adalah kerabatku sendiri. Aku memanggilnya “pakdhe.” Ternyata, hubungan kekerabatan juga tidak membantu masalah yang aku keluhkan. Justru pernyataannya lebih menyakitkan, “Lho, kamu kok tanya saya?! Saya nggak pernah ngurusi masalah kaya’ gitu. Kok bisa kaya’ gini?! Tahun lalu nggak begini. Mana saya tahu!!”

Kampret!!!

Kami tak tahan. Pihak sekolah sudah mempermainkan perasaan kami, diangkat tinggi-tinggi, lalu dijatuhkan hingga pecah berkeping-keping. Aku, Muti, Ufuk, dan Cabe segera keluar dari ruang wakasek, pintu terbanting. Seiring dengan bunyi gedubrak pintu, Muti berteriak, kecewa, air matanya menetes lagi. Kami tak kuasa, hanya kata-kata sumpah yang keluar dari mulut kami. Oh Tuhan, ampuni kami. Tapi kami sudah tak bisa membendung rasa kesal, apalagi Muti. Apa yang ada di tangannya dibanting, dialah yang paling tertekan.

Aku tak tega melihat Muti seperti itu, aku menghadap pak HRI.

“Pak, kami minta solusi, bukan kata-kata nggak tahu. Bapak sendiri yang minta kita ngelakuin ini semua, sekarang bapak cuma bisa bilang tidak tahu!” Air mataku hampir menetes.

“Itu bukan wewenang saya, coba kamu tanya sendiri besok ke pak DG. Beliaulah yang punya wewenang.”

Dari siswa ke pembina, dari pembina ke koordinator ekstra, dari koordinator ekstra ke wakasek, dari wakasek baru ke kepala sekolah.

Kata-kata itu kembali terngiang-ngiang di telingaku.

Belum sempat kuungkapkan kata-kata itu, Muti muncul di belakangku dengan muka merah sembab basah oleh air mata.

“Pak, kami sudah capek dengan semua ini. Kami sudah berusaha dan melakukan apa yang sekolah suruh, tapi justru ini yang kami dapat. Sudahlah pak, ini harddisk yang berisi artikel-artikel kami yang sudah jadi. Artikel yang kami buat capek-capek, sampai ketinggalan pelajaran. Semuanya ada di sini. Saya sudah nggak mau tahu, terserah apa yang bapak lakukan, sekolah mau nyetak majalah dimana, pokoknya tanggal 13 Juni Krisma sudah harus terbit 710 eksemplar fullcolor!” Rasa kesalnya bercampur air mata.

“Enaknya kamu bilang gitu! Kaya’ kamu raja …” kata pak HRI sinis.

Helooow!!! Justru selama ini sekolah yang bak raja. Cuma tinggal nyuruh-nyuruh siswanya, ngelakuin ini, ngelakuin itu. Katanya SEKOLAH ADALAH TEMPAT UNTUK BELAJAR, BUKAN UNTUK BEKERJA, justru siswanya diperbudak untuk melakukan yang bukan kewajibannya. Nggak salah ngomong tu pak?!

Ternyata dia belum selesai mbacot. “Kalau memang begitu, Krisma tahun ini nggak usah ada juga nggak masalah kan?”

Dhuaaar!!! Kata-kata itu bagaikan petir di siang bolong.

“Kalau Krisma nggak terbit, berarti sekolah TIDAK MENGHARGAI jerih payah siswa mengerjakan ini semua!” Mutiara yang bicara. I’m speechless.

“Kalau begitu, Krisma diterbitkan tahun depan saja juga nggak masalah kan? Kenapa kalian ngotot harus 13 Juni?”

“Karena pak DG yang minta.”

Pak HRI mingkem.

***

Kami keluar dari ruang itu, nggak tahan berlama-lama di dalamnya. Auranya negatif.

Muti masih menangis, rasa kesalnya makin menjadi-jadi. Aku tak rela membiarkan dia pulang naik bemo dalam keadaan seperti itu. Sabar Mut …

Aku, Ufuk, dan Cabe memutuskan untuk memberitahukan hal ini pada Tito (nama aslinya Kristian Marvy, yang akhirnya jadi model cover Krisma itu lo ….). Di jalan, kami bertemu Bram. Aku bingung, gimana harus mengatakan apa yang terjadi barusan dan membatalkan perjanjian kami. Lama aku bercerita, panjang kali lebar, setiap detailnya berikut alasan kami membatalkan perjanjian dengan Bram.

Ternyata, Bram juga punya cerita serupa. Majalah sekolahnya terlantar begitu saja. Artikel yang sudah dibuat hanya sekadar dikumpulkan tanpa maksud yang jelas. Singkat cerita, akhirnya dia sendiri yang maju ke kepala sekolahnya yang adalah seorang biarawati. Beliau terkejut. “Kamu itu siapa? Bukan kepala redaksi, wakil, atau anggota inti. Kamu hanya sebagai desainer grafis kok berani menghadap saya?”

Berkat kenekatannya, majalah sukses terbit. Mengapa kami tidak?

***

Esoknya, aku tidak masuk sekolah. Hari itu jadwal remidi, aku bisa bersantai di rumah … ternyata salah. Bu RN memintaku untuk segera ke sekolah, orang dari percetakan mau menghadap kepala sekolah dan aku harus ada di sana memberikan penjelasan.

What’s going on?

Ternyata, kepala sekolah mengundang Bram dan ayahnya untuk menghadap beliau, membicarakan pencetakan Krisma. Setelah negosiasi singkat empat mata antara pak DG dengan ayah Bram, aku dipanggil masuk ke ruangan kepala sekolah. Aku disuruh menjelaskan konsep majalah kepada Bram berikut sistem pengerjaannya.

Loh?!

“Berarti Krisma bisa segera terbit pak?”

“Ya, bapak sudah melakukan persetujuan. Mengenai masalah dana, biar sekolah yang urus.”

Ya memang …. Masa kita disuruh nalangi dana?! Males …. Masa bodoh, pokoknya Krisma bisa segera “lahir!”

Akhirnya, kami mulai bekerja. Bayangkan, hanya dalam waktu 12 hari, dihitung sejak tanggal 1 Juni, kami memulai proses mendesain dan mencetak Krisma. Kami punya konsep, Bram punya skill. Krisma dikerjakan kebut-kebutan.

***

Kami tak sabar ingin jadi yang pertama kali melihat “lahirnya” Krisma. Hasilnya sangat bagus (kata teman-temanku, kalau aku sih bilang masih kurang sempurna, tapi commonly great!). Kami membagikan Krisma ke kelas-kelas, menunggu apa respon mereka tentang Krisma tahun ini. Banyak yang bilang bagus, ada yang bilang kurang colorful, ada yang bilang lebih bagus dari tahun lalu (senangnya ….). Banyak juga yang protes kenapa muka-muka kami, anak jurnalis, banyak sekali nampang di sana. Maklum, narsisme para PERS ….

Whatever they said. Yang terindah bagiku adalah saat-saat aku melihat teman-temanku tertawa membaca humor Krisma, bangga sekaligus pamer fotonya nampang di Krisma, kebingungan mengisi “TTS Cinta Sekolah,” heboh karena menginginkan item-item fashion yang kami liput, dan keheranan menebak siapa yang jadi model cover Krisma tahun ini. Semua usaha, keringat campur cucuran air mata kami, semua terbayar sudah. Kami hanya butuh senyum dari setiap pembaca Krisma di seantero sekolah, bukan ucapan terima kasih dan rasa bangga dari kepala sekolah beserta antek-anteknya. Aku memalingkan muka ketika pak DG mengucapkan pujian dan terima kasih untuk para jurnalis.

Mungkin, di mata orang Krisma hanyalah majalah sekolah yang ecek-ecek dan dibilang cupu. Kemampuan kami di bidang jurnalistik hanyalah setetes air dalam samudera luas, pengalaman kami di bidang tulis-menulis masih seumur jagung. Semua ini baru merupakan awal dari kecintaan kami di bidang jurnalistik.

Krisma mengajarkan hal yang sangat berharga untuk kami selama ini, bahwa keinginan dan hasrat kami mungkin saja dihalangi, banyak ditemui jalan berlubang dan pintu yang tertutup. Banyak kata tidak mungkin, mustahil, sia-sia, gagal, cemooh, dan caci maki berserakan di jalan kami. Tapi selama kami memandang ke depan, tak memusingkan kerikil-kerikil tajam yang menusuk kaki kami dalam melangkah, apa yang kami inginkan tak hanya bisa dipandang, namun mampu diraih. Ternyata, setelah kami ditendang bertubi-tubi, jatuh sampai njelungup mencium tanah, “Gol Tangan Tuhan” berhasil kami cetak dengan sukses. Puncak karir kami telah tercapai, semuanya ada di tangan Tuhan, yang memberi kami kekuatan untuk terus melangkah.

Karena tak ada rajawali yang mampu terbang tinggi tanpa merasakan sakitnya jatuh berulang kali.

Posted by STR on Monday, 16 June 2008, in his Journalism column.

No comments yet. Say something!


Leave a Comment

Lembur Kronologi BP · Kronologi Korupsi Balai Pustaka di Salatiga