Plonco Lagi Sampai Mati

Cakep-cakep begini saya pernah jadi ketua OSIS waktu SMA. Jadi saya tahu bahwa yang namanya perploncoan di sekolah itu tidak ada gunanya. Emang apa gunanya senior pasang tampang serem terus bentak-bentak juniornya? Untuk melatih mental? Mental apa? Mental preman? Preman di Solo saja, saya tahu, kalau ngomong sangat halus dan sopan. Sedikit bicara banyak tikam.

Dan apa gunanya hukuman fisik macam jas-jus dan lari keliling lapangan? Kalau mau bikin fisik kuat-kuat, berikan latihan fisik teratur dan bukan hukuman fisik ngawur. Hukuman fisik itu sudah termasuk kekerasan. Kekerasan hanya berguna diajarkan di sekolah militer karena tentara harus pergi perang bela negara. Ini tidak termasuk tentara Indonesia yang cuma jadi begundalnya Freeport, dan suka nembakin rakyatnya sendiri di Papua.

Tugas bikin atribut aneh-aneh itu juga tidak ada gunanya. Saya sendiri menyesal pernah suruh adik-adik kelas saya pakai yang begituan. Padahal kalau busananya dibebaskan, umumnya dorang bisa tampil cantik, seksi, dan menawan. Satu-satunya tugas yang berguna dalam perploncoan SMA cuma tugas bikin surat cinta buat senior, karena saya bisa dapat surat paling banyak. Tinggal pilih mana yang paling manis dan gombal.

Ini tidak berarti bahwa masa orientasi pendidikan itu tidak penting. Di mana-mana yang namanya masa orientasi itu penting buat proses adaptasi. Yang tidak penting adalah perploncoan dan tugas bikin atribut norak binti kampungan. Kalau mau kasih tugas, bikinlah tugas yang merangsang kerukunan seperti buku tandatangan dan surat cinta buat senior. Surat cinta buat sesama junior boleh dipraktekkan di luar jadwal. Dijamin masa SMA jadi lebih indah bergairah, meski awalnya sedikit berdarah-darah. Hehehe.

Dan tentu hukuman fisik sudah waktunya dibuang. Ganti dengan ngobrol santai secukupnya. Jadi kalau si junior melanggar aturan, seniornya musti tanya baik-baik kenapa si junior melanggar aturan. Kalau alasannya ngawur, suruh saja kerja bakti di WC sekolah. Tapi kalau alasannya tepat, giliran seniornya yang disuruh kerja bakti. Senior dan aturan tidak selalu benar.

Tapi kita tahu bahwa senior OSIS suka berlagak seperti Tuhan. Aturan pertama: senior selalu benar. Kedua: kalau senior salah, balik ke aturan pertama. Ketiga: kalau si junior keberatan, silakan mengundurkan diri. Ketiga aturan ini asli pemikiran orang bego dan terbelakang. Dan kalau pemikiran model begini diterapkan sejak hari pertama masuk sekolah, gimana muridnya bisa pinter?

Makanya jangan heran kalau anak SMA sekarang kebanyakan bego-bego. Seniornya bego, juniornya lebih bego lagi. Semakin ke sini semakin bego. Sukanya sok jagoan dan tawuran. Kalau pacaran cenderung ugal-ugalan. Gitu-gitu dorang tetap diiklankan sebagai calon pemimpin masa depan. Fvck me.

Sudah saatnya perploncoan dihapuskan. Kita tidak butuh ploncoan senior karena setiap hari kita sudah diplonco oleh keadaan. Itulah ploncoan yang asli dan bukan buatan. Yang palsu adalah senior bertampang culun seperempat seram dan haus kekerasan. Kita tidak butuh itu lagi. Kita bukan calon begundal Freeport.