satria.anandita.net a finish line seeking

08/01/08

Political cost

Personal

Saya tidak suka melanjutkan ini, tapi saya merasa perlu bertanya kembali pada Pak Abdil hari ini.

Dan dia menjawab, “Saya tetap bermain elegan, Mas Satria. Saya tidak akan ikut-ikutan main kotor seperti mereka.”

Lha tapi yang soal minta sama DPRD untuk mempercepat proses pengangkatan wakil bupati?”

“Ya di situ kan saya bertindak sebagai rakyat. Saya minta kepada para wakil rakyat supaya saya segera diberi bupati untuk mengganti bupati lama. Karena dengan kekosongan seperti sekarang, kinerja wakil bupati jadi nanggung. Dimintai persetujuan juga nggak bisa karena bukan wewenangnya. Dilempar ke bupati, tapi bupatinya juga lagi dipenjara. Repot.”

Lha tapi Pak Abdil juga punya kepentingan kan, kalo bupati yang baru naik? Pak Abdil kan mengajukan diri jadi think tank wakil bupati yang sekarang? Nanti setelah wakil bupati jadi bupati, apa mereka (wakil rakyat) nggak ‘majeki‘ Pak Abdil untuk balas jasa?”

“Saya kira ndak. Kalo mau gitu, biasanya mereka mintanya langsung ke bupatinya sebagai political cost setelah terpilih. Pokoknya tenang saja. Saya tau kok yang ‘gitu-gitu.’ Dan saya akan jaga jarak. Saya sendiri jijik.”

Terpotong kata “pokoknya.” Percakapan pun pindah. Ganti membahas soal situs portal UKM Salatiga, yang rasanya harus melobi properti seorang dosen terlebih dahulu.


15 comments

political cost? agaknya ini bisa menjadi perbicangan menarik nih meski yang diungkap kasus lokal. kalo dipikir yak mas satia, ini hanya pemahaman awamku ajah, political cost itu jutru taruhannya lebih mahal. kenapa ndak? coba, lihat para elite, baik yang ada di daerah maupun yang di pusat. saya jadi teringat paulo freire. mestinya rakyat itu tak dijadikan objek mlulu, tapi perlu dijadikan sebagai subjek. harus menjadi entry point *halah* setiap kali kaum elte mengambil keputusan. tapi selama ini kan ndak begidu. mereka suka omong bahwa mereka bicara atas nama rakyat. rakyat yang mana? lha wong yang diperjuangkan hanya untuk kepentingan personal dan kelompoknya kok. rakyat di negeri ini hanya disanjung menjelang pesta demokrasi ajah. selebihnya, kalo ndak dijaikan objek ya diadu domba. itu hanya contoh betapa mahalnya political cost ituh bagi rakyat. Maaf kalo OOT mas satria. *halah*

sawali tuhusetya’s latest post: Pindah Rumah pada Awal Tahun


political cost atau enaknya disebut apa ya? ibarat sebuah pelumas untuk mesin kendaraan bermotor. kalo tanpa pelumas, dipastikan kendaraan akan ngadat dan mesin cepat aus. bukan begitu? ;-)
emang apa ada sejarahnya, politik tak mengeluarkan cost? jaman kerajaan kali ya?! ehmm, sulit ya demokrasi itu?! ;-)
gempur’s latest post: Sebelum Selebblog Menjadi Benar-benar Selebritis


Gravatar

STR
09/01/08

@ sawali: Wah, saya kok malah jadi punya pikiran anarkis yak setelah baca komen Pak Sawali. :D Kala perwakilan rakyat tidak lagi representatif untuk rakyatnya, maka (mungkin) jalan yang baik adalah bubarkan saja perwakilan itu. Mari kita mewakili diri kita sendiri-sendiri. Daripada gini, perwakilan yang enak, tapi rakyat yang nanggung cost-nya. Hidup nyamin enak yak (barangkali)! Ah, omongan saya kok malah jadi ngelantur gini … :(
@ gempur: Hmm … Political cost (mungkin) adalah ongkos yang dibayarkan untuk memperjuangkan kepentingan. Kepentingan siapa? Saya makin bingung.


Semua kan butuh biaya? Anak istri kan perlu makan, pakaian, tempat tinggal…..trus mobile mewah, hape mahal, perlu juga untuk refreshing sehabis kerja “serius” mikirn rakyat dengan sekedar dugem di diskotek atau belanja ke luar negeri sekalian uji banding :-D


Gravatar

STR
09/01/08

@ mr.bambang: Wah, udah pengalaman nih, Om? :D


Wew.. politik membuat hidupku sangat pusing.. kalo begitu kerahkan massa saja biar sekalian demo, mumpung kita diberikan kebebasan berpendapat juga kan??

ridu’s latest post: Pengamen Tajir


Gravatar

STR
09/01/08

@ ridu: Kerahkan massanya pake apa? Duit?! Money politic lage itu, Om!


Sekarang ini rakyat kita udah mulai ketularan yang namanya political cost! Bahkan seorang oknum penegak hukum tidak luput melakukan political cost.

Anas’s latest post: Dugaan Kartel SMS oleh Operator Seluler


Gravatar

STR
10/01/08

@ Anas: Penegak hukum? Emang Indonesia punya?


sekarang itu zamannya duit yang bicara….. yang laen nothing deh

Anang’s latest post: Bad Memories


Gravatar

STR
10/01/08

@ Anang: Emang duit punya mulut?!


hal semacam ini akan terus terjadi dalam sistem yang terlanjur korup seperti sekarang ini..

mau merubah? harus masuk ke dalam sistem. begitu sudah ada di dalam, eh malah ikut arus…. arus yang terlalu kuat untuk dilawan seorang diri..

harus ada niat yang kuat disertai dengan tindakan nyata dari semua pihak untuk merombak sistem akomodatif brengsek itu…

deteksi’s latest post: Selamat Tahun Baru 1429H


[...] ini bukan lanjutan yang kemarin. Ini cuma tulisan iseng karena hari ini saya libur dan lagi bisa mikir [...]


Gravatar

STR
10/01/08

@ deteksi: Masalahnya, siapa punya cukup niat?


[...] ini bukan lanjutan yang kemarin. Ini cuma tulisan iseng karena hari ini saya libur dan lagi bisa mikir santai. [...]


Leave a comment

Usaha kecil menengah berpolitik? · Untuk pembuat sekaligus penikmat bencana