Saya tidak suka melanjutkan ini, tapi saya merasa perlu bertanya kembali pada Pak Abdil hari ini.
Dan dia menjawab, “Saya tetap bermain elegan, Mas Satria. Saya tidak akan ikut-ikutan main kotor seperti mereka.”
“Lha tapi yang soal minta sama DPRD untuk mempercepat proses pengangkatan wakil bupati?”
“Ya di situ kan saya bertindak sebagai rakyat. Saya minta kepada para wakil rakyat supaya saya segera diberi bupati untuk mengganti bupati lama. Karena dengan kekosongan seperti sekarang, kinerja wakil bupati jadi nanggung. Dimintai persetujuan juga nggak bisa karena bukan wewenangnya. Dilempar ke bupati, tapi bupatinya juga lagi dipenjara. Repot.”
“Lha tapi Pak Abdil juga punya kepentingan kan, kalo bupati yang baru naik? Pak Abdil kan mengajukan diri jadi think tank wakil bupati yang sekarang? Nanti setelah wakil bupati jadi bupati, apa mereka (wakil rakyat) nggak ‘majeki‘ Pak Abdil untuk balas jasa?”
“Saya kira ndak. Kalo mau gitu, biasanya mereka mintanya langsung ke bupatinya sebagai political cost setelah terpilih. Pokoknya tenang saja. Saya tau kok yang ‘gitu-gitu.’ Dan saya akan jaga jarak. Saya sendiri jijik.”
Terpotong kata “pokoknya.” Percakapan pun pindah. Ganti membahas soal situs portal UKM Salatiga, yang rasanya harus melobi properti seorang dosen terlebih dahulu.



15 comments