Reign Over Me

Agak sukar menjelaskan filem ini, dan rasanya aku malah akan membuatnya kabur lewat ulasan ini. Jangan tanya kenapa, ini mungkin perasaanku saja. Aku sedang tidak yakin pada segalanya, tapi perasaanku bukan segalanya — filem ini juga.

Inti cerita filem ini ada pada usaha Alan, seorang dokter gigi di New York, yang membantu sahabatnya, Charlie, untuk sembuh dari semacam stres berat. Alan dan Charlie adalah teman sekamar saat kuliah kedokteran gigi. Usai kuliah mereka hilang kontak selama beberapa tahun, dan ketika mereka bertemu lagi, Charlie sudah amat berantakan.

Ia jadi berantakan setelah istri dan tiga putrinya tewas dalam kecelakaan pesawat pada insiden 11 September yang terkenal itu. Ia memilih menghanyutkan diri pada arus kesedihan dan segera tiba pada tepian disfungsi sosial. Di sana ia mengambang sendirian. Ia menolak melihat foto-foto istri dan tiga putrinya serta menolak bertemu mertuanya. Ia jadi alergi terhadap semua hal yang berkaitan dengan keluarganya. Charlie berusaha hilang dari tiap ingatan tentang masa lalunya.

Pada saat seperti itulah Alan menemukan Charlie. Disambungnya lagi persahabatan yang sempat putus, dan perlahan ia pun tahu beban mental sahabatnya yang bertingkah ganjil itu. Butuh cukup banyak kesabaran dan kesalahpahaman sebelum Alan berhasil membuat Charlie mau menjalani terapi dengan psikolog muda bernama Angela. Itu tampaknya bukan sesi konseling tersukses di dunia. Hingga akhir filem Charlie tetap saja berantakan.

Aku pribadi agak tertarik mencermati proses terapi Charlie dengan Angela maupun percakapannya dengan Alan. Secara naluriah, dua orang itu selalu terlihat berusaha mengorek masa lalu Charlie yang getir. Mereka minta Charlie mengingat dan bercerita. Setelah minggu-minggu lewat, Charlie hanya mau cerita sedikit pada Alan. Kemudian ia bungkam lagi.

“I don’t like remembering,” kata Charlie.

Ingatanku hinggap pada forum Kelompok Diskusi Interdisipliner di kampus, bulan Maret lalu. Waktu itu Volta sebagai pembawa makalah diskusi membeberkan pandangan-pandangan psikologis tentang bagaimana berdamai dengan masa lalu. Terapi adalah jawabannya, dan pandangan psikoanalisis merupakan salah satu pendekatannya. Psikoanalisis dalam tradisi Freudian selalu menoleh pada masa lalu.

Charlie adalah orang yang masih berseteru dengan masa lalu. Perseteruan jiwani yang tak kunjung usai inilah yang akhirnya bikin ia berantakan dan mengalami disfungsi secara sosial. Sebagai sahabat, Alan merasa wajib berbagi beban dengan sahabatnya. Sebagai psikolog, Angela merasa perlu tahu sebab musabab gangguan pasiennya. Maka wajar jika mereka banyak tanya soal masa lalu Charlie. Dua orang ini, sadar atau tidak, ternyata adalah penganut tradisi Freudian.

Psikoanalisis Freudian bukanlah yang paling benar dan manjur di muka bumi. Jika masa lalu pasien teramat pahit dan traumatis, kau hampir mustahil dapat mengorek remah-remah kisah itu keluar dari mulut pasienmu. Masa lalu seperti itu bergentayangan bagai hantu, dan manusia yang taat agama serta rajin merapal nama Tuhan sekalipun banyak tak berdaya menghadapi hantu itu. Itulah sebabnya Charlie tak mau mengingat-ingat masa lalunya.

Namun psikoanalisis Freudian bukanlah satu-satunya. Ada tradisi Jungian yang lebih optimistis dengan selalu menatap masa depan, harapan-harapan, serta potensi orang. Ada tradisi Buddhis yang memusatkan perhatian sepenuhnya pada masa kini. Dua tradisi ini, rasanya, bisa jadi sumber pendekatan alternatif ketika psikoanalisis Freudian macet.

Berani menengok masa lalu yang pahit dan menakutkan akan memberimu pengetahuan bahwa ternyata masa lalu tidaklah seseram yang kaupikirkan. Jika ia tak lagi menyeramkan, maka kau akan berhenti menguatirkan dan menggubrisnya. Jika kau berhenti kuatir, maka kau akan lebih tenang. Jika kau sudah tenang, kau akan mampu hidupi hidupmu hari ini dengan lebih normal. Di situlah kau tak akan lagi berantakan. Maka berhentilah kuatir karena masa lalu yang sudah silam. Masa lalu tak akan berubah setitik pun hanya karena kekuatiranmu yang terlampau besar.

Tetapi jika kau tak mau tengok masa lalu itu, ikuti kata Jung: lempar perhatianmu pada masa depan, dan tak usah pedulikan yang silam. Atau coba saran Buddha: hiduplah sepenuhnya di masa kini, dan tinggalkan masa lalu. Karena yang lalu sudah berlalu, dan yang baru sudah datang, tulis Paulus.

Charlie bersikap lebih normal ketika sedang bermain musik dengan Alan, atau ketika mereka sedang bermain video game, atau ketika mereka jalan-jalan, ketimbang saat Alan menanyakan masa lalunya. Charlie tak butuh mengingat masa lalu, ia hanya butuh pengalihan ingatan. Kau boleh anggap hal ini sebagai pelarian. Adakah yang salah dengan pelarian? Jika diam tak membuatmu merasa lebih baik, dan lari membuatmu lebih damai, kenapa harus diam? Hanya itu pilihannya jika kau tak bisa merasa damai kala diam.

Charlie mungkin akan berlari seumur hidupnya, mungkin tidak. Angela berkata, “I think that Charlie needs to find his own way. Not on our time, but on Charlie’s time.”