AYA SUKA MENGKRITIK, orang maupun sistem. Tapi apa jadinya kalau saya yang ganti dikritik?
Ketika mengkritik, saya terbiasa membesarkan ego. Mungkin karena sasaran kritik saya umumnya lebih besar, lebih tinggi, atau lebih tua. Ego bisa menambah rasa percaya diri. Saya juga menempelkan skeptisisme dan kecurigaan di jidat, untuk menjaga sustainability kritikan. Saya merasa kritik selalu bersumber pada ketidakpercayaan, pertanyaan, tiap celah kelemahan.
Kritik harus pedas dan keras. Maka muncul bumbu-bumbu emosi, yang melahirkan kata-kata “sekretaris botol (bodoh dan tolol),” “media massa goblok,” dan kawan-kawannya. Kritik yang lemah lembut dan sopan sama sekali asing buat saya. Bagaimana mungkin kritik yang lemah lembut dapat didengar orang? Penguasa mana yang akan terpecut kupingnya?
Salahkah semua ini? Mungkin. Saya tidak yakin saya benar.
Ketika mengkritik dengan cara-cara di atas jadi kebiasaan, maka egoisme, skeptisisme, curigaisme, dan emosionalisme juga jadi berurat berakar dalam diri saya.
Bilamana kritik datang, jelas ego saya yang kebesaran itu jadi gampang tersinggung. Ketersinggungan itu lalu saya tanggapi dengan emosi (karena terbiasa emosional), pikiran negatif (karena terbiasa curiga), dan keraguan akan kebenaran kritik (karena terbiasa skeptis). Keburukan-keburukan ini selalu ada di barisan terdepan garda pertahanan diri. Kritik saya anggap serangan.
Akibatnya? Saya sulit menerima kritik. Ini salah.
Jadi, saya putuskan untuk mengoreksi diri. Penempatan diri dengan ego besar jelas tidak tepat buat saya. Mungkin, peran pembantu, atau pelayan, lebih cocok untuk saya hayati supaya lebih bisa menerima kritik. Pelayan cuma punya hak untuk mempertahankan hak asasinya.
I’m your servant!
Terima kasih.



27 comments