satria.anandita.net a finish line seeking

25/03/08

Roman kritikan

Personal
S

AYA SUKA MENGKRITIK, orang maupun sistem. Tapi apa jadinya kalau saya yang ganti dikritik?

Ketika mengkritik, saya terbiasa membesarkan ego. Mungkin karena sasaran kritik saya umumnya lebih besar, lebih tinggi, atau lebih tua. Ego bisa menambah rasa percaya diri. Saya juga menempelkan skeptisisme dan kecurigaan di jidat, untuk menjaga sustainability kritikan. Saya merasa kritik selalu bersumber pada ketidakpercayaan, pertanyaan, tiap celah kelemahan.

Kritik harus pedas dan keras. Maka muncul bumbu-bumbu emosi, yang melahirkan kata-kata “sekretaris botol (bodoh dan tolol),” “media massa goblok,” dan kawan-kawannya. Kritik yang lemah lembut dan sopan sama sekali asing buat saya. Bagaimana mungkin kritik yang lemah lembut dapat didengar orang? Penguasa mana yang akan terpecut kupingnya?

Salahkah semua ini? Mungkin. Saya tidak yakin saya benar.

Ketika mengkritik dengan cara-cara di atas jadi kebiasaan, maka egoisme, skeptisisme, curigaisme, dan emosionalisme juga jadi berurat berakar dalam diri saya.

Bilamana kritik datang, jelas ego saya yang kebesaran itu jadi gampang tersinggung. Ketersinggungan itu lalu saya tanggapi dengan emosi (karena terbiasa emosional), pikiran negatif (karena terbiasa curiga), dan keraguan akan kebenaran kritik (karena terbiasa skeptis). Keburukan-keburukan ini selalu ada di barisan terdepan garda pertahanan diri. Kritik saya anggap serangan.

Akibatnya? Saya sulit menerima kritik. Ini salah.

Jadi, saya putuskan untuk mengoreksi diri. Penempatan diri dengan ego besar jelas tidak tepat buat saya. Mungkin, peran pembantu, atau pelayan, lebih cocok untuk saya hayati supaya lebih bisa menerima kritik. Pelayan cuma punya hak untuk mempertahankan hak asasinya.

I’m your servant!

Terima kasih.


27 comments

Gravatar

didut
25/03/08

sama-sama ….


wah, sama…saya juga susah menerima kritik krn itu kalo mengkritik orang saya hati2

nita’s latest post: TOMMY SUHARTO PERNAH MAMPIR DI SINI


diakui atau tidak, semua itu ada masanya… masa di mana orang sangat suka mengritik tapi tidak suka dikritik, kemudian akan mengalami pergeseran… dan menemukan titik keseimbangannya… ;)
seorang nabi pernah mengingatkan: “kritiklah dirimu sendiri sebelum mengritik orang lain”


Gravatar

STR
26/03/08

@ det: Ujaran nabi itu seperti bintang di langit. Itu panduan yang bagus banget. Sulit dicapai tapi wajib selalu dikejar. Trims.


[...] Ketika mengkritik dengan cara-cara di atas jadi kebiasaan, maka egoisme, skeptisisme, curigaisme, dan emosionalisme juga jadi berurat berakar dalam diri saya.[...]
jaman saya sekolah..saya hapal dan sedikit tahu ttg kosa kata itu…

sekarang berbalik..!!!!

lupa semua…hehheueue


lebih enak kritik singkong bos..
roman kritikan? itu lagunya dewa ya?

**dilempari kripik singkong segrangsing**

ndop’s latest post: Biografi Part II


Gravatar

NasKuc
26/03/08

Sat, kalo boleh aku memberi kata, egoisme, skeptisisme, curigaisme, dan emosionalisme yang udah berakar urat dalam diri kamu, tetaplah kamu lindungi dalam keseharianmu…

Aku suka senyum2 sendiri (baca: seneng. dudu wong edan yo) kalo ada orang yang masih punya emosi, ego bahkan curiga (tentu dengan batas “normal” yang berlaku). Orang-orang yang masih punya itu hidup dengan penuh warna, penuh dengan gejolak dag dig dug di dada, dan aku yakin, itu benar2 memecut otak untuk berpikir dan memelihara hati agar masih bisa terus mengetahui apa itu hitam dan apa itu putih. Hidup seperti berlian! Hidup menjadi lebih hidup.

Dampak sifat-sifat seperti itu pasti bukan cuma untuk kamu aja, tapi juga untuk orang lain. Tapi kita kan juga “zoon politicon”, memang ada korelasi satu dengan lainnya. Dengan catatan seorang saya, sifat-sifat ego,emosional de el el yang topcer adalah yang dampaknya kalo diitung2 pake persentase lebih banyak persenan faedahnya lah..dibandingkan yang ngrugiin…

Mungkin terlihat buruk orang yang memiliki sifat itu. Terlalu egois lah, terlalu emosional lah, de el el…tapi sat, hal itu lebih baik daripada sebuah situasi yang abu-abu, tanpa ego, tanpa curiga dan hidup seperti jalan diponegoro Salatiga, lurus-lurus aja. Itu mematikan saraf sat. Bisa-bisa kita mengatakan bahwa korupsi adalah hal yang wajar, pada saat kita berada dalam situasi abu-abu. Itu bisa!

*dan aku adalah seorang perindu pada saat aku masih memiliki sebuah situasi dimana aku bisa tahu apa itu hitam dan apa itu putih…


he he he he

ojhon’s latest post: Skeptisme : Ciri khas Auditor


fase mendeweasa dan menua mulai menjangkiti.. mudah-mudahan tak kebablasan… agar tercapai titik seimbang… :D


same with me, saya terbiasa mengkritik tanpa beban

tapi saya tak terbiasa dikritik

pram’s latest post: mY scHool,, mY jAiL


belajar dari AA Gym bagus sekali dia…
atau Yesus yang mengkritik dengan sangat pedas dan tepat untuk orang-orang yang memang perlu di kritik


ketika ada ular dibawah anda pasti anda yang diperingati bukan ularnya,sama saja ketika anda dikritik orang,itu karena pasti ada ketidakberresan dalam diri anda dan mungkin juga bisa berbahaya buat diri anda

rizk’s latest post: Welcome to the ICeTe Webblog


itulah bagian dari pembelajaran……

Masih ingat kan falsafah layang-layang..?? Hehehe…btw tks buat skin blog yang baru ya….

GBU

JT’s latest post: Marketing Ala Roy Suryo


kritik yang membangun akan menjadikan kita dewasa dalam pemikiran… :)
piye kabar mu cak ?

cempluk’s latest post: Menulis Itu Iseng atau Sekedar Curhat ?


Gravatar

dicky
29/03/08

OOT: Sat, gmana kabarmu kok jarang ketemu lg?


itu biasa bung. mananya juga darah muda (niru kata2 bang rhoma). ntar pasti berubah seiring berjalannya waktu (kayak lagu aja)

ma6ma’s latest post: NEGERI YANG (KATANYA) KAYA


Gravatar

STR
29/03/08

@ dicky: Baik-baik, Bro. Aku memang udah ndak kerja di Bistek lagi sekarang. :)


Gravatar

dicky
30/03/08

Ok sat pm YM ku ya (di bag “Mail” comment ini) :D


alo…

tks untuk tampilan baru di blogku ya.. Ya itulah hidup, saya kira Satria sudah harus mulai memikirkan “falsafah layang-layang” seperti yang pernah disampaikan Opha bbrp waktu lalu.

Teruskan perjuangannya Sat…

JT’s latest post: Marketing Ala Roy Suryo


sama….tapi klo yg kritik gw itu orgnya kayakx lebih jago gw terima ja..sampe gw buktiin dulu….

anno’’s latest post: Megahnya Masjid di Martapura, Kalsel


Lama tak mengisi Comment dan membaca Artikel ini bagus juga.Memang sebaiknya dan seharusnya setiap manusia harus begitu perlu mengktritik dan di kritik tanpa melihat ego tapi jangan terlalu merendah diri sampai harus menghayati peran pembantu/pelayan sebaiknya rendah hati ok!maju terusss…!!!

MCT’s latest post: MISS U BLOG


Menurut saya, dengan dikritik kita bisa memperbaiki. Karena bisa memperbaiki, kita bisa menjadi yang terbaik.

Edi Psw’s latest post: Polling: Tentang Alokasi Dana 30 Triliun


Wah…perenungan hidup yang baik! saya yakin ini tidak muncul dengan sendirinya. lets our business must go on!

Opha’s latest post: Kebangkrutan Identitas Intelektual


saat ini juga, aku sedang dimaki-maki oleh sebuah komentar dari Malaysia. Rupanya dia pendukung fanatik Mahathir, lalu nggak terima idolanya digambarkan kurang necis. Jujur, sempat mau kuhapus aja komentar itu, tapi jiwa demokrasi akhirnya menang. Komen itu aku “approve”.

Eeh ternyata malah jadi masalah bagi kalangan blogger tertentu di Malaysia. salah seorang di antaranya membujuk aku untuk “menyensor” komentar dari malaysia untuk menghindari blogku jadi ajang “perang” mereka.

Pusing deh…apa demokrasi itu memang begini ?

Robert Manurung’s latest post: Dari Medan Sampai Milan : Money Politics ?


hmm cerminan buat saya juga
sama-sama
terima kasih

tomy’s latest post: PEMBACAAN DALAM SEONGGOK TAI


memang susah sat…..
tapi ya….terus saja berusaha


saya sih tidak pernah masalah dengan kritik2 yang datang.
selalu saya cermati dan saya perhitungkan.
ditindaklanjuti bila benar, dibuang saja bila cuma dampratan orang sirik.

tapi, yang saya tidak sukai adalah saat mereka yang mengkritik saya berbuat lebih memalukan dari apa yang mereka nasehatkan.

sekian.


Leave a comment

Meningkatkan mutu jurnalisme · Dinas botol