Saya suka mengkritik, orang maupun sistem. Tapi apa jadinya kalau saya yang ganti dikritik?
Ketika mengkritik, saya terbiasa membesarkan ego. Mungkin karena sasaran kritik saya umumnya lebih besar, lebih tinggi, atau lebih tua. Ego bisa menambah rasa percaya diri. Saya juga menempelkan skeptisisme dan kecurigaan di jidat, untuk menjaga sustainability kritikan. Saya merasa kritik selalu bersumber pada ketidakpercayaan, pertanyaan, tiap celah kelemahan.
Kritik harus pedas dan keras. Maka muncul bumbu-bumbu emosi, yang melahirkan kata-kata “sekretaris botol (bodoh dan tolol),” “media massa goblok,” dan kawan-kawannya. Kritik yang lemah lembut dan sopan sama sekali asing buat saya. Bagaimana mungkin kritik yang lemah lembut dapat didengar orang? Penguasa mana yang akan terpecut kupingnya?
Salahkah semua ini? Mungkin. Saya tidak yakin saya benar.
Ketika mengkritik dengan cara-cara di atas jadi kebiasaan, maka egoisme, skeptisisme, curigaisme, dan emosionalisme juga jadi berurat berakar dalam diri saya.
Bilamana kritik datang, jelas ego saya yang kebesaran itu jadi gampang tersinggung. Ketersinggungan itu lalu saya tanggapi dengan emosi (karena terbiasa emosional), pikiran negatif (karena terbiasa curiga), dan keraguan akan kebenaran kritik (karena terbiasa skeptis). Keburukan-keburukan ini selalu ada di barisan terdepan garda pertahanan diri. Kritik saya anggap serangan.
Akibatnya? Saya sulit menerima kritik. Ini salah.
Jadi, saya putuskan untuk mengoreksi diri. Penempatan diri dengan ego besar jelas tidak tepat buat saya. Mungkin, peran pembantu, atau pelayan, lebih cocok untuk saya hayati supaya lebih bisa menerima kritik. Pelayan cuma punya hak untuk mempertahankan hak asasinya.
I’m your servant!
Terima kasih.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Duis placerat turpis quis mi mollis imperdiet. Integer luctus suscipit placerat.
1. didut
25/03/2008 06:20 pmsama-sama ….
2. nita
25/03/2008 09:35 pmwah, sama…saya juga susah menerima kritik krn itu kalo mengkritik orang saya hati2
nita’s latest post: TOMMY SUHARTO PERNAH MAMPIR DI SINI
3. det
26/03/2008 12:27 amdiakui atau tidak, semua itu ada masanya… masa di mana orang sangat suka mengritik tapi tidak suka dikritik, kemudian akan mengalami pergeseran… dan menemukan titik keseimbangannya… ;)
seorang nabi pernah mengingatkan: “kritiklah dirimu sendiri sebelum mengritik orang lain”
4. STR
26/03/2008 11:55 am@ det: Ujaran nabi itu seperti bintang di langit. Itu panduan yang bagus banget. Sulit dicapai tapi wajib selalu dikejar. Trims.
5. escoret
26/03/2008 01:58 pm[...] Ketika mengkritik dengan cara-cara di atas jadi kebiasaan, maka egoisme, skeptisisme, curigaisme, dan emosionalisme juga jadi berurat berakar dalam diri saya.[...]
jaman saya sekolah..saya hapal dan sedikit tahu ttg kosa kata itu…
sekarang berbalik..!!!!
lupa semua…hehheueue
6. ndop
26/03/2008 02:31 pmlebih enak kritik singkong bos..
roman kritikan? itu lagunya dewa ya?
**dilempari kripik singkong segrangsing**
ndop’s latest post: Biografi Part II
7. NasKuc
26/03/2008 07:54 pmSat, kalo boleh aku memberi kata, egoisme, skeptisisme, curigaisme, dan emosionalisme yang udah berakar urat dalam diri kamu, tetaplah kamu lindungi dalam keseharianmu…
Aku suka senyum2 sendiri (baca: seneng. dudu wong edan yo) kalo ada orang yang masih punya emosi, ego bahkan curiga (tentu dengan batas “normal” yang berlaku). Orang-orang yang masih punya itu hidup dengan penuh warna, penuh dengan gejolak dag dig dug di dada, dan aku yakin, itu benar2 memecut otak untuk berpikir dan memelihara hati agar masih bisa terus mengetahui apa itu hitam dan apa itu putih. Hidup seperti berlian! Hidup menjadi lebih hidup.
Dampak sifat-sifat seperti itu pasti bukan cuma untuk kamu aja, tapi juga untuk orang lain. Tapi kita kan juga “zoon politicon”, memang ada korelasi satu dengan lainnya. Dengan catatan seorang saya, sifat-sifat ego,emosional de el el yang topcer adalah yang dampaknya kalo diitung2 pake persentase lebih banyak persenan faedahnya lah..dibandingkan yang ngrugiin…
Mungkin terlihat buruk orang yang memiliki sifat itu. Terlalu egois lah, terlalu emosional lah, de el el…tapi sat, hal itu lebih baik daripada sebuah situasi yang abu-abu, tanpa ego, tanpa curiga dan hidup seperti jalan diponegoro Salatiga, lurus-lurus aja. Itu mematikan saraf sat. Bisa-bisa kita mengatakan bahwa korupsi adalah hal yang wajar, pada saat kita berada dalam situasi abu-abu. Itu bisa!
*dan aku adalah seorang perindu pada saat aku masih memiliki sebuah situasi dimana aku bisa tahu apa itu hitam dan apa itu putih…
8. ojhon
26/03/2008 11:31 pmhe he he he
ojhon’s latest post: Skeptisme : Ciri khas Auditor
9. gempur
27/03/2008 05:56 pmfase mendeweasa dan menua mulai menjangkiti.. mudah-mudahan tak kebablasan… agar tercapai titik seimbang… :D
10. pram
28/03/2008 11:15 amsame with me, saya terbiasa mengkritik tanpa beban
tapi saya tak terbiasa dikritik
pram’s latest post: mY scHool,, mY jAiL
11. DN
28/03/2008 05:55 pmbelajar dari AA Gym bagus sekali dia…
atau Yesus yang mengkritik dengan sangat pedas dan tepat untuk orang-orang yang memang perlu di kritik
12. rizk
28/03/2008 09:33 pmketika ada ular dibawah anda pasti anda yang diperingati bukan ularnya,sama saja ketika anda dikritik orang,itu karena pasti ada ketidakberresan dalam diri anda dan mungkin juga bisa berbahaya buat diri anda
rizk’s latest post: Welcome to the ICeTe Webblog
13. JT
29/03/2008 02:51 amitulah bagian dari pembelajaran……
Masih ingat kan falsafah layang-layang..?? Hehehe…btw tks buat skin blog yang baru ya….
GBU
JT’s latest post: Marketing Ala Roy Suryo
14. cempluk
29/03/2008 06:21 amkritik yang membangun akan menjadikan kita dewasa dalam pemikiran… :)
piye kabar mu cak ?
cempluk’s latest post: Menulis Itu Iseng atau Sekedar Curhat ?
15. dicky
29/03/2008 05:58 pmOOT: Sat, gmana kabarmu kok jarang ketemu lg?
16. ma6ma
29/03/2008 09:00 pmitu biasa bung. mananya juga darah muda (niru kata2 bang rhoma). ntar pasti berubah seiring berjalannya waktu (kayak lagu aja)
ma6ma’s latest post: NEGERI YANG (KATANYA) KAYA
17. STR
29/03/2008 11:28 pm@ dicky: Baik-baik, Bro. Aku memang udah ndak kerja di Bistek lagi sekarang. :)
18. dicky
30/03/2008 08:06 amOk sat pm YM ku ya (di bag “Mail” comment ini) :D
19. JT
30/03/2008 05:01 pmalo…
tks untuk tampilan baru di blogku ya.. Ya itulah hidup, saya kira Satria sudah harus mulai memikirkan “falsafah layang-layang” seperti yang pernah disampaikan Opha bbrp waktu lalu.
Teruskan perjuangannya Sat…
JT’s latest post: Marketing Ala Roy Suryo
20. anno'
30/03/2008 10:44 pmsama….tapi klo yg kritik gw itu orgnya kayakx lebih jago gw terima ja..sampe gw buktiin dulu….
anno’’s latest post: Megahnya Masjid di Martapura, Kalsel
21. MCT
31/03/2008 12:54 pmLama tak mengisi Comment dan membaca Artikel ini bagus juga.Memang sebaiknya dan seharusnya setiap manusia harus begitu perlu mengktritik dan di kritik tanpa melihat ego tapi jangan terlalu merendah diri sampai harus menghayati peran pembantu/pelayan sebaiknya rendah hati ok!maju terusss…!!!
MCT’s latest post: MISS U BLOG
22. Edi Psw
31/03/2008 05:52 pmMenurut saya, dengan dikritik kita bisa memperbaiki. Karena bisa memperbaiki, kita bisa menjadi yang terbaik.
Edi Psw’s latest post: Polling: Tentang Alokasi Dana 30 Triliun
23. Opha
02/04/2008 09:17 amWah…perenungan hidup yang baik! saya yakin ini tidak muncul dengan sendirinya. lets our business must go on!
Opha’s latest post: Kebangkrutan Identitas Intelektual
24. Robert Manurung
16/04/2008 12:11 pmsaat ini juga, aku sedang dimaki-maki oleh sebuah komentar dari Malaysia. Rupanya dia pendukung fanatik Mahathir, lalu nggak terima idolanya digambarkan kurang necis. Jujur, sempat mau kuhapus aja komentar itu, tapi jiwa demokrasi akhirnya menang. Komen itu aku “approve”.
Eeh ternyata malah jadi masalah bagi kalangan blogger tertentu di Malaysia. salah seorang di antaranya membujuk aku untuk “menyensor” komentar dari malaysia untuk menghindari blogku jadi ajang “perang” mereka.
Pusing deh…apa demokrasi itu memang begini ?
Robert Manurung’s latest post: Dari Medan Sampai Milan : Money Politics ?
25. tomy
18/04/2008 09:57 amhmm cerminan buat saya juga
sama-sama
terima kasih
tomy’s latest post: PEMBACAAN DALAM SEONGGOK TAI
26. hidayat
20/04/2008 12:32 pmmemang susah sat…..
tapi ya….terus saja berusaha
27. Eva "bocil"
31/07/2008 10:26 amsaya sih tidak pernah masalah dengan kritik2 yang datang.
selalu saya cermati dan saya perhitungkan.
ditindaklanjuti bila benar, dibuang saja bila cuma dampratan orang sirik.
tapi, yang saya tidak sukai adalah saat mereka yang mengkritik saya berbuat lebih memalukan dari apa yang mereka nasehatkan.
sekian.