
eorge Santayana, seorang naturalis asal Spanyol, pernah bilang, “Desain grafis itu surga kepribadian, keeksentrikan, kemurtadan, ketidaknormalan, kegemaran, dan kejenakaan.” Saya sepakat dengan Santayana, terutama setelah menengok Satiman edisi perdana, tempo hari. Kesannya narsis, nyeleneh, dan, pada beberapa halaman, mengundang simpul senyum, selain decak kagum. Saya sebut narsis karena edisi perdana itu menonjolkan profil para awak Satiman, profil-profil yang nyeleneh dengan keunikan masing-masing, kejenakaan masing-masing, dan kemampuan desain masing-masing. Lagipula, tajuk edisi itu sendiri Narsisme bukan?
Manusia itu butuh kebebasan berekspresi, butuh murtad terhadap aturan-aturan baku yang mboseni, butuh untuk menjadi tidak normal di tengah kenormalan yang menjemukan. Meski berisiko dicap aneh atau “gila,” namun pemenuhan kebutuhan-kebutuhan itu harus tetap diberi ruang. Tanpa kebebasan berekspresi, manusia justru bisa jadi gila!

Namun, berdesain grafis bukanlah pemenuhan hasrat berekspresi yang asal. “Seorang desainer tidak mulai dengan sebuah ide praduga,” kata Paul Rand, desainer grafis kondang asal Amerika, yang mendesain logo perusahaan International Business Machines, United Parcel Service, dan American Broadcasting Company. Menurut Rand, ide seorang desainer grafis haruslah hasil pemikiran subjektif dan objektif, karena hanya dengan demikianlah desainer grafis dapat menyatakan ulang (lewat simbol atau gambar) suatu masalah, untuk kemudian dicarikan solusinya.
Maka kehadiran Satiman jadi berarti. Satiman, dan beragam desain yang dimuatnya, bisa jadi saluran hasrat berekspresi. Namun dia juga bisa jadi saluran pesan konstruktif buat kemaslahatan masyarakat, baik di Universitas Kristen Satya Wacana maupun Salatiga Hati Beriman. Sukses buat Satiman!





There is one comment already. Say something!