Journalism

Satria Nonoputra Soal “Saya” dalam Berita

On 3/15/08 6:48 PM, “STR” <str@…> wrote:

Mas, saya ingin minta pendapat.

Segera setelah pelatihan usai, Febri bikin tulisan tentang hari terakhir pelatihan. Tulisan itu menggunakan kata “saya,” tapi tidak ada analisis yang masuk. Akhirnya tulisan itu saya muat ke web sebagai berita, bukan opini.

Tapi ada beberapa orang berpendapat bahwa berita tidak boleh menggunakan kata “saya.” Sedangkan berita yang ditulis Alfian Hamzah tentang TNI dan GAM di Aceh itu ada pakai kata “saya.” Atau Kejar Daku Kau Kusekolahkan itu bukan berita?

Apakah kata “saya” bisa dijadikan pembeda antara berita dan opini?

Menunggu jawaban Mas Andreas. Trims.

Satria

Jadi sampai kapan dunia ini terus berputar? Aku sudah nggak sabar!
http://www.orangmuda.com

***

—– Original Message —–
From: Andreas Harsono
To: STR
Cc: andreas harsono ; pantau-kontributor@yahoogroups.com ; ajisaja@yahoogroups.com
Sent: Saturday, March 15, 2008 8:11 PM
Subject: [pantau-komunitas] Satria Nonoputra soal ’saya” dalam berita

Dear Satria,

Pemakaian kata “saya” boleh-boleh saja dalam penulisan berita. Banyak organisasi media memang melarang pemakaian kata “saya” dan menggantinya dengan nama media bersangkutan. Alasannya? Si wartawan bukanlah “pihak pertama” namun dia “pihak ketiga.” Maka, kata “saya” berganti dengan nama Reuters, Times, AFP dan lain-lain. Kalau kolumnis, kata “saya” diganti dengan kata “penulis” alias pihak ketiga.

Namun sejak 1970an, pemahaman bahwa wartawan itu harus “objektif” dan karenanya menempatkan diri sebagai pihak ketiga, mulai bergeser dengan pemahaman yang lebih baik terhadap jurnalisme. Wartawan punya bias. Dia bukan orang yang bisa objektif.

Dia bisa bias agama, bias etnik, biasa kewarganegaraan dan lain-lain. Namun metode kerja si wartawan yang bias ini bisa objektif. Bukan wartawannya yang objektif namun metode kerjanya. Anda sudah belajar berbagai macam kriteria dalam tahap-tahap kerja jurnalisme. Maka kata “saya” pun dianggap lebih menerangkan transparansi kerja si wartawan daripada sembunyi di balik nama institusi –apalagi memakai kalimat pasif.

Kini kalau Anda perhatikan, misalnya, siaran BBC World Service, Anda akan lihat wartawan BBC memakai kata “saya.” Sebagai contoh, “Saya melihat bom meledak dari jarak 50 meter.” Kalimat begitu sering muncul dalam siaran BBC. Pemakaian kata “saya” ini dipakai pada struktur piramida terbalik. Ia juga dipakai pada feature, esai maupun narasi.

Anda sudah baca laporan Alfian Hamzah “Kejarlah Daku Kau Kusekolahkan” bukan? Disana kata “saya” dipakai buat menerangkan bagaimana Hamzah mendapatkan info yang dia sajikan kepada pembaca. Intinya, kata “saya” dipakai sejauh kata itu relevan buat menerangkan bagaimana si wartawan mendapatkan informasi. Dia juga harus dipakai secara selektif. Saya tentu tak menganjurkan pemakaian kata “saya” secara norak.

Anda bisa membaca buku Bill Kovach dan Tom Rosenstiel “The Elements of Journalism” untuk mendalami isu ini. Mudah-mudahan penjelasan singkat ini membantu. Terima kasih.


Andreas Harsono
Pantau
Jalan Raya Kebayoran Lama 18 CD
Jakarta 12220
Tel. +62 21 7221031 Fax. +62 21 7221055
Website www.pantau.or.id
Weblog www.andreasharsono.blogspot.com

***

Re: [pantau-komunitas] Satria Nonoputra soal ’saya” dalam berita

Saya juga setuju kata ’saya’ boleh digunakan saat memaparkan fakta. Kata ’saya’ menunjukkan inklusifitas pada fakta yang dipaparkan tidak sekedar ‘observer’ (pihak ketiga). “Observer” akan menempatkan dirinya menjadi semacam eksklusifitas seorang wartawan.

salam,
weka

Posted by STR on Saturday, 15 March 2008, in his Journalism column.

No comments yet. Say something!


Leave a Comment

Pelatihan Jurnalisme Tak Berspanduk · Meningkatkan Mutu Jurnalisme