Sebulan Ini

Sepulang dari “ceramah” jurnalisme di Jakarta, aku harus segera membereskan dua hal: Scientiarum dan kuliahku.

Di Scientiarum, aku berusaha merapikan manajemen organisasi. Selama ini, urusan redaksional dan bisnis masih campur aduk. Redaksi, selain mengurus konten publikasi, juga harus membuat proposal penerbitan ke kampus, penjualan iklan ke sponsor, dan hal-hal perbisnisan yang lain.

Aku, sebagai pemimpin redaksi, serasa mau pecah kepala. Mengurus konten publikasi bukan hal yang bisa dilakukan sambil lalu. Dengan jumlah sumber daya yang terbatas dan pengalaman yang masih minim, selama ini para staf redaksi sudah ngos-ngosan untuk menjamin kelancaran suplai informasi yang diberitakan. Jika masih harus mengurus proposal dan kawan-kawannya, aku yakin kami tak akan lama bertahan. Kami akan kecapekan.

Aku lalu usul pada rapat redaksi, yang digelar pertengahan Mei 2008, agar dibentuk divisi bisnis yang terpisah dari redaksi. Divisi bisnis inilah yang nanti akan mengurus semua proposal penerbitan, promosi, penjualan iklan, laporan keuangan berkala, dan sebagainya.

Aku juga usul untuk bikin satu divisi khusus untuk penelitian dan pengembangan (litbang). Bayanganku, divisi ini akan menangani kegiatan diskusi rutin Scientiarum (yang melibatkan sivitas akademika UKSW dan masyarakat), pelatihan jurnalisme (baik untuk mahasiswa UKSW secara umum, maupun para jurnalis Scientiarum secara khusus), proyek perpustakaan mini Scientiarum, dan pembuatan basis data dan pusat informasi (semacam Pusat Data dan Analisa Tempo) untuk kepentingan analisis kami.

Karena di Scientiarum tak ada pemimpin umum, seperti yang lazim di organisasi media massa, maka divisi redaksi, bisnis, dan litbang akan berdiri sejajar satu sama lain dan bertanggungjawab kepada Sidang Anggota, yang merupakan kolektivitas staf dari ketiga divisi.

Rapat redaksi menyetujui usulanku.

Rapat juga menyepakati bahwa Scientiarum harus punya satu perangkat sistem keorganisasian yang baik untuk mengatur segenap mekanisme organisasi dan kejelasan prosedur kerja.

Sekitar seminggu setelah rapat tersebut, divisi bisnis terbentuk. Vinsensius Desta Venando, mahasiswa komunikasi FISIPOL UKSW angkatan 2006, bergabung dengan Scientiarum sebagai manajer bisnis. Ia membawa serta Agung Nugroho, temannya satu jurusan dan satu angkatan, untuk mengurusi keuangan. Sendy, yang selama ini jadi tenaga tunggal administrasi redaksi, pindah ke divisi bisnis. Sendy akan tetap mengurus hal-hal birokratis yang berhubungan dengan pihak kampus.

Dengan masukan dari divisi bisnis inilah, tata letak web Scientiarum sedikit diubah. Beberapa lahan iklan dipindah, dan beberapa fitur ditambahkan. Aku sendirilah yang mengerjakan perubahan-perubahan tersebut, karena Scientiarum masih belum punya staf khusus untuk mengurusi pengembangan web.

Divisi redaksi juga kedatangan satu wartawan baru, Yoga Prasetya, mahasiswa jurusan kimia Fakultas Sains dan Matematika angkatan 2007. Sehari setelah bergabung, aku langsung minta dia untuk liput salah satu demo penolakan kenaikan harga BBM di Salatiga. Hasilnya lumayan. Pagi hingga siang dia meliput, malam berita sudah selesai ditulis, disunting, dan dipublikasi di web.

Dalam hal kecepatan, Yoga di atas rata-rata jika dibandingkan dengan wartawan Scientiarum yang lain. Hanya saja, menyunting laporannya adalah yang paling berat karena ia tak biasa menulis. Tapi aku yakin, Yoga akan cepat belajar.

.

Mencari orang untuk divisi litbang ternyata susah juga. Hingga kini, belum ada mahasiswa UKSW yang tertarik menjadi direktur litbang di Scientiarum.

Aku lalu mengusul kepada Sidang Anggota untuk membuat satu “bayi” baru bernama Jaringan Pengetahuan Satya Wacana. Jaringan ini akan berfungsi sebagai lumbung data dan pengetahuan, yang notabene adalah salah satu fungsi divisi litbang. Ini bisa jadi langkah awal pembentukan divisi tersebut. Aku pun menawarkan diri untuk menangani segenap usaha pembentukan JPSW, sehingga staf yang lain tak perlu tambah beban pikiran karenanya.

Sebenarnya, ide pembuatan JPSW pertama kali aku lontarkan kepada pihak rektorat dan beberapa dosen UKSW. Ide ini bermula dari kejengkelanku melihat peringkat Webometrics yang dirilis Januari 2008. Dari 17 nama universitas Indonesia yang berhasil masuk dalam daftar 5.000 universitas terbaik di dunia, UKSW tak sekalipun disebut. Ini terjadi karena UKSW tak pernah mengoptimalkan penggunaan teknologi informasi sebagai sarana pengelolaan informasi dan pengetahuan yang ada di kampus.

Desember 2007, aku pernah bersurat kepada pihak rektorat agar mulai melakukan pembenahan terhadap situs web resmi UKSW. Aku sampaikan pula beberapa rekomendasi konkret dan praktis untuk pengembangan situs tersebut. Tapi, respon yang aku dapat cuma surat ucapan terima kasih dan “janji” bahwa pembenahan akan segera dilaksanakan.

Realisasinya? Nol besar.

Situs web resmi UKSW hingga kini tak pernah berkembang jadi portal informasi yang sesungguhnya bagi kehidupan akademik di kampus. Ia setia dengan stagnasi sebagai papan pengumuman yang cenderung statis. Hanya pajangan.

Maksudku, jika JPSW telah terbentuk dan tumbuh menjadi situs besar (dengan sumbangan konten yang luar biasa banyak dari arsip pengetahuan UKSW), situs ini nanti akan mampu melakukan integrasi konten dengan situs web resmi UKSW (agar memperkaya konten situs resmi tersebut) untuk kepentingan perangkingan UKSW di Webometrics.

Jadi, selain untuk mengejar kemanfaatan akademis (dengan fleksibilitas pengarsipan dan diseminasi pengetahuan), membangun situs macam JPSW juga bisa memberi manfaat dari segi promosi, karena UKSW dapat berprestasi di ajang perangkingan internasional macam Webometrics.

Tapi sayang, rektorat tak dapat seresponsif yang aku harapkan. Mereka butuh rapat, rapat, dan rapat, dan rapat. Menurutku, mereka berjalan terlalu lamban. Padahal, infrastruktur untuk pembangunan JPSW telah disediakan oleh Johan Tambotoh, salah satu dosen yang dulu aku kontak soal ide JPSW. Tambotoh telah menyediakan domain satyawacana.net dan menyewakan tempat hosting selama satu tahun di Dapur Hosting, sebuah perusahaan penyedia jasa hosting di Jakarta. Inilah yang kemudian mendasari keputusanku untuk membawa JPSW ke bawah manajemen Scientiarum, yang aku nilai lebih fleksibel dan responsif.

Pada prinsipnya, Sidang Anggota tak keberatan dengan ide ini. Para staf hanya mengingatkan aku agar tetap berkoordinasi dengan rektorat jika aku akan memanfaatkan arsip pengetahuan UKSW. Mereka juga minta aku bikin sistem yang jelas soal kedudukan dan pengelolaan JPSW di bawah Scientiarum.

Situs JPSW sendiri telah aku selesaikan beberapa hari lalu. Seperti biasa, aku tetap setia dengan WordPress untuk mesin penggerak situs. Kini saatnya mencarikan konten dan sistem yang cocok untuk JPSW.

.

Semester ini aku terancam keluar dari UKSW. Ini karena aku telah lalai dua semester berturut-turut sebelumnya. Jika semester ini aku tak registrasi matakuliah, maka berakhir sudah status kemahasiswaanku. Padahal, untuk registrasi matakuliah semester ini, aku harus menyediakan uang untuk membayar kelalaian dua semester tersebut, serta uang registrasi dan uang SKS untuk semester ini.

Aku tak punya uang. Sejak Februari 2008, aku sudah tak lagi bekerja di Bistek. Tak lama setelah itu, aku juga berhenti dari PFPM, lantaran konsentrasiku tersedot habis di Scientiarum. Dan, tak hanya konsentrasi, tapi uang tabunganku sendiri juga sedikit banyak ikut terbelanjakan untuk kepentingan Scientiarum.

Ini sedikit konyol. Aku sendiri juga heran melihat semangatku yang lebih besar di Scientiarum daripada di PFPM. Padahal, di Scientiarum aku bekerja dengan bayaran yang relatif kecil. Staf redaksi Scientiarum hanya terima honor dari universitas sebesar Rp 200 ribu per 4 bulan (sesuai frekuensi penerbitan cetak, online tak diperhitungkan). Sedangkan di PFPM aku bisa terima Rp 600 ribu per bulan. Hahaha ….

Untungnya, Umbu Rauta, wakil rektor UKSW untuk bidang kemahasiswaan, tahu kesusahanku. Ia memberi rekomendasi pada bagian keuangan UKSW agar aku bisa registrasi matakuliah semester ini dengan dispensasi. Dispensasi ini hanya untuk memundurkan jadwal pembayaran, jadi bukan penghapusan kewajiban pembayaran. Aku harus tetap mencari uang agar bisa membayar utangku di UKSW.

Jadilah aku registrasi untuk matakuliah Produksi Iklan Cetak di FISIPOL. Aku sama sekali tak mengambil matakuliah di fakultasku (FE) semester ini, lantaran bosan.