Sejak Kapan Orang Merasa Butuh Pasangan Hidup?

Sejak Hawa diciptakan untuk Adam? Atau sebaliknya?

“Kenapa nanya gitu? Kamu takut nikah?” tanya seorang perempuan, kenalan saya. “Atau kamu takut hidup sendiri?” tanya diri saya sendiri.

Jawab saya: saya takut keduanya.

Kalau menikah dan punya anak, saya takut anak saya tidak beres (seperti saya), istri saya selingkuh (seperti saya), dan hidup miskin (seperti saya juga). Sedangkan, kalau hidup sendiri, saya takut kesepian (seperti sekarang) hingga akhir zaman.

Setiap pilihan punya risiko yang saya takuti. Dan ketakutan-ketakutan ini muncul atas dasar kelakuan saya sendiri saat ini. Jadi, kalau saya tidak beres, kenapa saya tidak ingin anak saya tidak beres? Kalau saya selingkuh, kenapa saya tidak ingin istri saya selingkuh? Kalau saya sekarang hidup miskin, kenapa saya tidak ingin keluarga saya miskin? Kalau saya sekarang sudah kesepian, kenapa saya masih juga takut kesepian?

Apakah ini tanda bahwa saya membenci hidup saya saat ini? Membenci diri saya sendiri?

“Jangan jadi seperti aku dulu,” kata para orangtua. Jangan jadi seperti bapak dulu, karena begini dan begitu. Jangan jadi seperti ibu dulu, karena begini dan begitu. Padahal, kalau dulu bapak dan ibu saya tidak begini dan begitu, mungkin situasinya akan beda, dan saya tidak ada. Saya ada sekarang justru karena bapak dan ibu saya dulu begini dan begitu.

Lalu?

Rasanya saya justru perlu bersyukur bahwa dulu bapak dan ibu saya begini dan begitu, karena dengan demikian sekarang saya ada. Kalau saya tidak ada, saya tidak bisa bersyukur. Dan kalau sekarang saya ada tapi tidak bersyukur, saya bisa jadi telah meniadakan diri sendiri. Mungkin ini sebabnya saya merasa ingin bunuh diri.

Karena tidak bersyukur.

Barangkali, bersyukur penting dalam segala hal. Saya perlu mensyukuri ketidakberesan saya karena dengan demikian saya bisa menghargai ketidakberesan orang lain. Saya perlu mensyukuri perselingkuhan saya karena dengan demikian saya jadi lebih mengenal perempuan. Saya perlu mensyukuri kemiskinan saya karena dengan demikian saya belajar mencukupkan diri.

Barangkali begitu.

Tidak mengubah keadaan, memang, karena bersyukur tidak sama dengan mengubah keadaan. Tapi saya merasa lebih tenang sekarang. Kalau masih harus pilih menikah atau terus melajang, saya akan pilih mana saja. Paling enak mungkin menikah, tapi status tetap jalang, eh, lajang. Hahaha.

Saya tidak lagi takut, karena sudah tenang.