
ua hari ini saya masuk kantor dengan mengenakan celana jins pendek. Saya rasa tidak ada yang salah, karena sebelum ini saya juga kadang mengenakan celana yang sama apabila sedang ngantor di Bistek. Namun rupanya saya kurang beruntung kali ini. Saya ditegur, dilarang, dan diancam dengan cara yang botol (bodoh dan tolol) oleh si sekretaris. Dan itu membuat saya naik pitam. Sangat naik pitam.
Sebenarnya, dua hari ini saya menyimpan celana panjang saya di dalam tas punggung hitam yang selalu saya bawa. Entah kenapa, mood saya sedang lebih nyaman untuk mengenakan celana pendek daripada celana panjang. Maka, jadilah saya berangkat ke kantor dengan mengenakan kaos, celana jins pendek, sandal gunung, dan tas punggung hitam. Saya cuma ingin bekerja dengan rasa nyaman, sama seperti sebelum-sebelumnya.
Sewaktu JT masih menjabat direktur di Bistek, tidak ada masalah dengan hal ini. JT sendiri hanya mengingatkan saya untuk mengenakan celana panjang apabila ada kunjungan dari pihak luar. Saya pikir, JT paham betul dengan yang namanya manajemen sumber daya manusia. Dia mempersilakan para mahasiswanya untuk bekerja dengan caranya sendiri, sekreatif, dan senyaman mungkin agar mereka bisa bekerja dengan produktif. Kompetensi/kemampuan lebih diutamakan daripada sekadar remeh temeh macam cara berpakaian dan absensi kerja.
Baru sebulan yang lalu JT beranjak dari kursi direktur. Manajemen Bistek kemudian dipegang sementara oleh dekanat Fakultas Teknologi Informasi, dan jabatan direktur dirangkap langsung oleh dekannya. Ya, saya paham bahwa sekarang Bistek sudah ganti penguasa, tapi perlakuan yang saya terima hari ini keterlaluan sekali menurut saya.
Si sekretaris bilang bahwa area Bistek adalah kantor dan di kantor harus berpakaian sopan.
“Sopan itu seperti apa? Menurutku, celana pendek ini aja sudah sopan!” timpal saya.
“Sopan itu ya bercelana panjang dan bersepatu!”
“Mana aturannya? Ada aturannya?”
“Di mana-mana itu kalau ke kantor ya gitu itu aturannya!”
“Kalo gitu, aku minta bukti bahwa di Bistek ini harus pakai celana panjang dan sepatu. Jangan cuma omonganmu thok lalu itu jadi aturan! Harus ada bukti tertulisnya!”
“Oke, nek gitu, besok tak mintakan surat peringatan dari Pak Danny (dekan)!”
Saya pikir, si sekretaris ini sudah gila. Bisa juga dia adalah orang botol (bodoh dan tolol). Kampus ini adalah wilayah demokrasi, bukan otokrasi! Dan di wilayah demokrasi, hukum yang mengikat adalah hukum tertulis yang dirumuskan secara bersama dan demokratis! Kalau memang ada peraturan tertulis yang mengatakan bahwa di Bistek harus mengenakan celana panjang dan sepatu, maka seharusnya dia tinggal menunjukkan peraturan itu kepada saya, dan saya akan menurut. Memintakan surat peringatan dari dekan yang sama tololnya itu sama saja dengan memindahkan otokrasi dari mulutnya ke mulut si dekan. Dan apabila ini yang nanti terjadi, maka saya juga tidak akan segan-segan mengatai si dekan dengan sebutan botol (bodoh dan tolol)!
Singkat cerita, si sekretaris itu kemudian mempertanyakan kewarasan saya. Dan saya membalasnya dengan mengatakan bahwa dia goblok karena argumen-argumennya tidak ada yang logis.
“Kamu itu dikontrak sama Bistek, jadi harus ikut peraturan yang ada di Bistek!” imbuh si sekretaris.
“Aku dikontrak Bistek cuma untuk mengikuti peraturan tertulis yang ada di Bistek, bukan mengikuti norma-norma orang Bistek (apalagi yang cuma omongan)!” skak saya.





There are 40 comments already. Say something!