
Satria Anandita Nonoputra et al.
Scientiarum
ulai tahun akademik 2007/2008 muncul istilah baru pada kalender akademik UKSW. Istilah trisemester/trimester yang sebelumnya dipakai, kini diganti menjadi semester. Adapun satu tahun akademik terdiri dari tiga semester, yakni semester ganjil, semester genap, dan semester pengayaan.
Alternatif model kalender akademik yang baru “mekar” menjadi tiga, yakni Model Biru untuk fakultas yang menyelenggarakan dua semester penuh 16 minggu ditambah semester pengayaan pada semester ketiga, Model Hijau untuk fakultas yang menjalankan tiga semester penuh 14 minggu (sama dengan sistem trimester sekarang), dan Model Kuning untuk fakultas yang menjalankan sistem paket dalam dua semester penuh 16 minggu ditambah semester pengayaan pada semester ketiga (hampir sama dengan model yang pertama).
Wakil Rektor I UKSW, sewaktu ditemui SA di kantornya pada tanggal 12 November 2007, menjelaskan bahwa dengan sistem kalender akademik yang baru ini, tiap-tiap fakultas bebas untuk menentukan waktu yang akan dipakai dalam kegiatan kurikuler masing-masing, apakah itu menggunakan dua semester ataupun tiga semester.
Masing-masing semester mendapatkan alokasi waktu selama 16 minggu. “Ini tidak menyalahi aturan dari Dikti karena rentang waktu yang diperbolehkan Dikti, untuk menyelenggarakan kegiatan kurikuler dalam satu semester, adalah 16 sampai 19 minggu. Nah, Satya Wacana mengambil batas minimumnya,” ujar Prof. Daniel Kameo, WR I UKSW.
Meski sudah mendapatkan persetujuan dari Dikti, UKSW masih belum boleh “bilang-bilang” ke universitas lain karena yang ditakutkan Dikti adalah universitas-universitas lain akan berbondong-bondong mengikuti jejak UKSW sebelum paham benar konsep dan filosofi dari sistem semester yang baru ini.
Dalam pelaksanaannya, semester genap dan ganjil akan dipakai penuh untuk penyelenggaraan kegiatan kurikuler, 14 minggu untuk tatap muka dan dua minggu untuk evaluasi, sedangkan penggunaan waktu pada semester pengayaan diserahkan kepada masing-masing fakultas. Fakultas yang memakai Model Biru/Kuning dapat memanfaatkan semester pengayaan untuk mengadakan kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler, yang dirasa dapat menunjang kemampuan akademik mahasiswa, seperti pelatihan-pelatihan soft skill, pertukaran mahasiswa, dan sebagainya, sedangkan fakultas yang ingin memakai Model Hijau dapat memakai semester pengayaan untuk tetap menyelenggarakan kegiatan kurikuler.
Penggunaan semester pengayaan pada Model Biru/Kuning dapat kurang dari 16 minggu, disesuaikan dengan kebutuhan dari kegiatan ekstrakurikuler yang diselenggarakan, tapi penggunaan semester pengayaan pada Model Hijau waktunya harus disetarakan dengan semester genap dan semester ganjil, yakni 16 minggu. Semester pengayaan juga wajib ditawarkan/diprogramkan oleh setiap fakultas, namun mahasiswa bebas memilih untuk mengikuti atau tidak mengikuti program yang ditawarkan dalam semester pengayaan.
Hal ini berimplikasi pada sistem registrasi (SIASAT) yang berlaku di UKSW. Registrasi dan adjustment matakuliah untuk Model Biru/Kuning dilakukan dua kali pada semester genap dan ganjil, sedangkan pada semester pengayaan, akan digunakan aplikasi SIASAT khusus (tanpa adjustment). Lain lagi dengan Model Hijau, yang registrasi dan adjustment-nya dilakukan tiga kali pada ketiga semester.
Untuk pelaporan hasil kegiatan kurikuler ke Dikti, agar format laporan dari UKSW bisa sinkron dengan format kewajiban pelaporan EPSBED, yang hanya mengenal format pelaporan dua semester dalam satu tahun akademik dengan jumlah SKS maksimum 24 SKS per semester, maka laporan hasil kegiatan kurikuler dari fakultas-fakultas Model Hijau sedikit “diotak-atik.” Caranya adalah dengan mengalokasikan sebagian dari jumlah SKS, yang diambil pada semester pengayaan, ke semester ganjil dan genap, tetap dengan patokan maksimum 24 SKS per semester atau 48 SKS per tahun. Menurut WR I, adanya patokan SKS maksimum ini membuat waktu kelulusan antara fakultas-fakultas Model Biru/Kuning dan fakultas-fakultas Model Hijau menjadi relatif sama. Dijelaskan pula oleh WR I bahwa sistem yang baru ini dimaksudkan untuk mendukung penjaminan mutu akademik yang dijalankan oleh PPMA (Pusat Penjaminan Mutu Akademik) UKSW, sebuah unit yang bertugas untuk menjalankan sistem manajemen mutu di UKSW. “Kita ingin lulusan-lulusan kita tidak hanya memiliki kemampuan akademik yang baik, tapi juga soft skill. Dan tiap-tiap fakultas bebas memilih, apakah kegiatan-kegiatan soft skill tersebut akan dilakukan secara intensif dalam satu semester, ataukah dipecah-pecah untuk disisipkan ke dalam setiap semester,” jelasnya.
Ketika hal ini dikonfirmasi SA ke Direktur PPMA, beliau mengatakan bahwa perubahan sistem ini hanyalah salah satu dari sekian banyak komponen dalam proses penjaminan mutu akademik. “Janganlah kita langsung men-judge bahwa proses penjaminan mutu akan dapat menjadi lebih baik hanya karena ada perubahan sistem,” kata Dr. Ferdy Rondonuwu, Direktur PPMA. Berbicara soal penjaminan mutu akademik di UKSW, PPMA sendiri lebih bertumpu pada aspek tabiat atau kebiasaan dari para akademisinya. “Sistem mau berubah seperti apapun, tapi kalau orangnya tidak terbiasa menghadapi perubahan, ya sama saja,” tambah Ferdy.
Kemudian Ferdy memaparkan pandangannya tentang penjaminan mutu yang berdasarkan pada proses. Menurutnya, asalkan proses pembelajaran benar-benar diperhatikan dengan baik, maka mutu akademik lulusan yang dihasilkan juga dapat ditingkatkan. “Kita treat mereka (mahasiswa — Red), beri bimbingan, dan lain sebagainya sesuai dengan kemampuan kita,” tuturnya.
PPMA pun mengaku sudah menyiapkan langkah-langkah konkret untuk tiga tahun ke depan perihal proses tadi. “Kita adalah salah satu dari sedikit universitas di Indonesia yang tahun ini terpilih sebagai pemenang Program Hibah Kompetisi Berbasis Institusi,” terang Ferdy. Program ini akan diturunkan ke dalam dua program utama dengan rancangan aktivitas membangun sistem manajemen mutu akademik berbasis teknologi informasi dan mengembangkan model pembelajaran berbasis e-learning (pembelajaran elektronik — Red).
Rencananya, dalam tahun pertama implementasi program ini, seluruh kegiatan PPMA akan difokuskan pada pembangunan sistem dan basis data utama tata kelola perguruan tinggi, yang meliputi administrasi, keuangan, kemahasiswaan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. “Database di UKSW ini masih terpencar-pencar. Yang administrasi ada sendiri. Yang keuangan ada sendiri. Yang kemahasiswaan juga. Perlu diintegrasikan dulu supaya bisa sinkron satu sama lain. Saya aja punya nomor induk dosen dobel kok!” tukas Ferdy. Dalam tahun kedua, selain terus mengembangkan sistem utama yang telah berjalan, PPMA juga akan mulai mengembangkan sistem pendukung bagi sistem utama tersebut. Di sini, penguatan dari sisi sumber daya manusia akan menjadi agenda utama. Sedangkan dalam tahun ketiga, PPMA akan mencoba mengembangkan kerjasama strategis antara Satya Wacana dengan universitas-universitas lain dan para pemangku kepentingan untuk mendapatkan umpan balik atau masukan yang dapat dijadikan evaluasi dan bahan refleksi dalam implementasi program ini.
Bagaimana tanggapan masing-masing fakultas?
FSP (Fakultas Seni Pertunjukan) adalah salah satu contoh fakultas yang adem ayem menghadapi perdebatan antara sistem trimester dan dwimester. Mas Kelik, Dekan FSP, menjelaskan bahwa bagi fakultasnya, apapun keputusannya, yang terpenting itu harus dijalani dan dievaluasi. Dan demi kenyamanan mahasiswa, sistem jangan terlalu sering berubah. Untuk urusan fasilitas, FSP sendiri masih merasa kurang, terutama pada lab media dan perpustakaan. Pernyataan sang dekan ini kemudian diamini oleh Kefas, mahasiswa FSP angkatan 2006.
Hal senada disampaikan oleh John R. Lahade, Dekan FISIPOL (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik). Beliau menyatakan bahwa bagi fakultasnya, ini persoalan manajemen, jadi yang terpenting adalah manajemennya.
FT (Fakultas Teknik) dan FBS (Fakultas Bahasa dan Sastra) nampaknya satu haluan. Mereka berencana untuk “pulang” ke sistem dua semester. Alasannya, menurut mereka, sistem trimester saat ini belum dapat dilihat keunggulannya. Selain itu, dengan sistem ini, mereka berharap baik mahasiswa maupun dosen dapat sama-sama memiliki waktu lebih untuk belajar, melakukan penelitian, dan meningkatkan kualitas materi pembelajaran.
Lain lagi dengan FTI (Fakultas Teknologi Informasi). Fakultas yang disebut-sebut sebagai “tren baru” di UKSW ini telah mantap meminang trimester. Namun, FTI juga masih harus berkutat dengan kacaunya sistem administrasi registrasi dan kurang memadainya fasilitas, dalam hal ini kelas dan lab. Dalam open forum internal yang dilakukan oleh FTI beberapa waktu yang lalu, terungkap bahwa di FTI sering ada jadwal kuliah yang saling bertabrakan serta jumlah mahasiswa yang overloaded dalam satu kelas kuliah. “Jika perbandingan fasilitas yang ada tidak sebanding dengan jumlah mahasiswa FTI, maka kemana sebenarnya uang fakultas?” tanya Christia, mahasiswa FTI angkatan 2004. Pertanyaan ini dijawab Dekan FTI, Danny Manongga, dengan pernyataan bahwa saat ini FTI sedang menyusun satgas untuk pembangunan laboratorium baru.
Laporan ini dikerjakan bersama Yosia Nugrahaningsih, Aqirana A. Tarupay, dan Wawan H. Suyatmiko.





No comments yet. Say something!