Semua Tergantung Orangnya

Kejadian ini sudah agak lama. Habis nonton filem Avatar di bioskop, teman-teman pada bilang kalau Stallon baru saja lulus sarjana. Wah, bagaimana rasanya? Enak? Enak, kata Stallon.

“Apanya yang enak?” tanya saya.

“Enak gak bayar uang kuliah lagi,” jawabnya.

Oh, saya pikir apaan. Ternyata cuma perkara uang. Tapi betul juga omongan Stallon. Berhenti bayar kuliah itu enak. Uangnya bisa dipakai buat keperluan lain yang lebih bermanfaat.

Bukan berarti kuliah tidak bermanfaat. Kuliah memang bermanfaat, tapi masih ada hal lain yang lebih bermanfaat. Waktu cukai rokok naik, mana ada mahasiswa demo Pemerintah? Tapi coba kalau uang SKS yang naik, Rp 10 ribu saja, pasti sudah pada demo di depan rektorat. Mahasiswa tidak keberatan bayar lebih buat rokok, tapi kalau buat kuliah, nanti dulu.

Mahasiswa tidak bodoh soalnya. Mereka bisa berhitung cost and benefit. Mereka tahu kalau uang yang mereka keluarkan untuk rokok sepadan dengan manfaat yang mereka dapat. Kalau hati susah dan stres gara-gara kuliah, merokoklah. Sedangkan kuliah? Sudah bikin stres, kebanyakan aturan, masih minta-minta duit mahasiswa pula. Sangat tidak manusiawi. Masih lebih mending pabrik rokok yang dicap kapitalis. Buruhnya disuruh-suruh, diatur-atur, tapi dibayar.

Janjinya, kan, kuliah bermanfaat buat masa depan. Tapi nyatanya, setelah lulus pun, masa depan belum tentu cerah. Yang sudah tentu itu cuma fakta bahwa cari kerja itu susah. Dan selembar ijasah tidak membantu banyak. Pernah dengar istilah “inflasi ijasah”?

Inflasi ijasah terjadi karena apa yang tertera di atas kertas ijasah tidak selalu mencerminkan yang sebenarnya. Ijasah memang bisa bikin kita tampak pintar, tapi ijasah tidak bisa bikin kita pintar. Kita bisa pintar kalau kita belajar. Dan selama kuliah, apakah kita belajar?

Kalau kita betul belajar, tidak mungkin ada yang namanya inflasi ijasah. Tapi nyatanya, kita tidak belajar. Waktu kuliah kita cuma diajari menghapal buku, mengejar nilai, menjilat dosen, dan mematuhi sistem. Dan itu semua bikin jenuh, kan? Kalau orang sudah jenuh, pelariannya bisa macam-macam. Bisa rokok, alkohol, pacaran, naik gunung. Tergantung orangnya.

Sama dengan pintar. Itu juga tergantung orangnya. Mau belajar apa tidak? Kalau memang punya semangat dan kemauan, belajar bisa dimanapun dan kapan saja. Kita tidak harus sekolah atau kuliah di tempat yang mahal-mahal. Lagipula, apa sih hubungannya mahal sama belajar? Pernah dengar ceritanya George Saa dari Papua? Ketika diwawancara Kompas karena habis menang kompetisi fisika di Polandia, dia bilang, “Uang sebenarnya bukan segala-galanya untuk maju. Selalu ada jalan untuk menimba ilmu.”

George sering bolos sekolah karena tidak punya uang Rp 3 ribu untuk naik angkot tiap hari. Makalahnya yang menang di Polandia ditulis cuma dengan bantuan internet. Coba kalau dia punya uang dan masuk sekolah tiap hari, apa dia masih bisa menang di Polandia?

Karena semua tergantung orangnya, berarti tidak tergantung sekolahnya, atau kampusnya. Sekolah dan kampus, kan, cuma bikinan orang. Kenapa sekarang malah orang jadi tergantung sama sekolah? Kalau nggak sekolah, berarti nggak belajar. Bukan begitu mestinya.

Ada atau tanpa sekolah, orang tetap bisa belajar. Dan sering justru orang tidak bisa belajar kalau di sekolah. Biasalah, sistem yang mekanistik mana cocok sama manusia yang organik? Akan selalu ada ketidakcocokan, dan itu menimbulkan ketidaknyamanan. Kalau sudah tidak nyaman, mana mungkin belajar? Dan, kalau sudah tidak belajar, mana mungkin pintar? Kalau sekadar dapat nilai bagus, masih mungkin, karena ada banyak siasat. Ahli siasat biasanya tumbuh subur di sekolah-sekolah.

Sekolah adalah penjara pikiran tersistematis. Karena itu saya bersyukur jika pendidikan bisa makin hari makin mahal. Kalau sekolah sudah terlalu mahal dan tak terjangkau masyarakat, maka orang-orang bisa bebas dari penjara pikiran.